Hamparan deposit bijih emas berupa sinter silika, hasil
pengendapan dari fluida panas bumi di Osore, Jepang

Mineral Ekonomi dari Panas Bumi

Tradisi lompat batu Nias di Bawomataluo, Nias Selatan. Foto: Deni Sugandi

Nias yang Meninggi Demi Harga Diri

13/04/2016 Comments (0) Resensi Buku, Resensi Buku, Uncategorized

Wisata Gunung Api dan Panas Bumi

Untitled-91
Untitled-91

Volcano & geothermal tourism: sustainable geo-resources for leisure and recreation

Dua titik kuning terang dilingkungi rona-rona merah dan kuning keemasan yang menghiasi lingkar kawah. Rona-rona itu terus menerangi sekitar kawah yang lambat-laun menggelap. Di atasnya, kepekatan malam masih memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh
gunung. Rona dan lekuk kawah ini menjadi ilustrasi jilid buku Volcano and Geothermal Tourism: Sustainable Geo-Resources for Leisure and Recreation yang disunting oleh sejoli Patricia Erfurt Cooper dan Malcolm Cooper.

Sebagaimana terbaca dari judulnya, buku setebal 400 halaman terbitan Earthscan pada 2010 ini mengulas dan membahas pemanfaatan berkesinambungan dari gunung api aktif dan dorman serta lapangan panas bumi untuk wisata (geotourism). Buku yang melingkupi isu-isu wisata yang sedang berkembang ini sekaligus memanfaatkan penelitian-penelitian berskala global yang berkaitan dengan gunung api, termasuk mengenai keseimbangan antara pengembangan wisata berkelanjutan dan manajemen risiko.

Sebagaimana yang dinyatakan kedua penyunting, kelahiran buku ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa, “Setiap tahun orang berbondong-bondong ke daerah gunung api dan panas bumi. Dengan lebih dari 1.500 gunung api aktif dunia, bagian yang atraksi ini adalah fenomena berbahaya dan tak terduga yang berkaitan dengan aktivitas gunung api” (Hal. xix).

Geomagz_V6N1_310316 single_090Selanjutnya, menurut kedua penyunting, “Wisata gunung api melibatkan eksplorasi dan kajian mengenai bentang alam gunung api dan panas bumi. Wisata gunung api juga mencakup kunjungan ke daerah gunung api dorman dan padam, yang sisa-sisa aktivitasnya menarik wisatawan minat khusus pada warisan geologi” (Hal. 3).

Selain itu, menurut Patricia Erfurt Cooper danMalcolm Cooper, ada beberapa alasan kedua fenomena kebumian itu mendapatkan popularitas yang sangat tinggi bagi pengembangan wisata. Pertama, wisata gunung api biasanya bersinergi dengan turisme lainnya seperti turisme mata air panas, ekoturisme dan wisata petualangan. Kedua, wisata gunung api mencakup beberapa kegiatan rekreasional spesifik seperti ski, hiking, trekking, dan kemping.

Ketiga, kemudahan akses ke daerah-daerah tujuan meskipun terpencil dan keterjangkauan biaya oleh para pengunjung. Dan keempat, meningkatnya minat pada lingkungan alam, yang tidak hanya mencakup biosfer atau ekosfer, tapi juga geosfer yang memiliki warisan alam yang mengagumkan serta dilindungi dalam cagar alam dan situs warisan dunia, baik sebagai geopark nasional maupun global (Hal. 4).

Kemudian, ada tiga kategori kelas kunjungan ke daerah wisata gunung api dan panas bumi, berdasarkan latar belakang informasi, pengetahuan, dan pengalaman para pengunjungnya. Ketiga kategori itu adalah tur sehari; ekskursi dan kunjungan lapangan; serta ekspedisi dan eksplorasi (seperti ke Nyiragongo, Kamchatka, Antartika).

Sementara tipe pengunjungnya adalah kelompok tur dan individu baik domestik maupun mancanegara; pasangan, keluarga, dan pensiunan; petualang dan pencari sensasi; ilmuwan, siswa dan mahasiswa; pendaki, trekker, pemain ski; pengunjung ulang (misalnya, pengumpul prestasi mendaki gunung); ahli geowisata dan ekotourisme; dan fotografer, penulis.

Adapun alasan-alasan yang menjadi motivasi para pengunjung wisata gunung api dan panas bumi adalah: tamasya, bagian dari agenda perjalanan, kegiatan senggang; mendaki gunung dan aktivitas umum di luar ruangan; ambisi dan rasa ingin tahu, fotografi; mengumpulkan informasi, penelitian lapangan; minat ilmiah, kajian, pendidikan; dan mengumpulkan percontoh batuan.

Mengenai objek kunjungannya sendiri, penyunting buku ini mengetengahkan sepuluh objek populer yang biasanya menarik minat pengunjung, yaitu: aliran lava aktif, letusan strombolian; geiser dan mata air panas; danau lava; danau kawah; kolam didih; fumarola dan lubang gas; kolam lumpur yang mendidih; sungai dan aliran berair panas; dan teras sinter. Di sisi lainnya ada potensi bahaya yang senantiasa harus diwaspadai oleh para pelaku wisata minat khusus ini, yaitu hujan asam; abu; balistik, bom, dan blok; emisi gas; Jökulhlaup (ledakan glasier); Lahar, longsoran tanah, longsoran lumpur; aliran lava; embun atau uap lava; aliran piroklastik; tefra, endapan jatuhan udara; dan tsunami.

Dalam praktiknya, pembahasan buku ini dibagi menjadi lima bagian berdasarkan pembagian wilayah, yaitu daerah Afrika, Amerika, Asia, Eropa, dan Oseania. Semua pembahasannya dicakup dalam 22 bab dan 19 studi kasus dengan beragam isu, yang mengetengahkan analisis wisata gunung api dan panas bumi dalam konteks-konteks yang penting dan menyelidiki kebijakan-kebijakan yang ada dan penting bagi manajemen risiko, agar kegiatan wisata alam berbasis geologi itu bisa berlangsung aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Untuk Indonesia, buku ini mengetengahkan dua lokasi wisata, yaitu Gunung Sibayak dan Gunung Anak Krakatau. Untuk Gunung Sibayak, David Newsome menulis “The Need for a Planning Framework to Preserve the Wilderness Values of Sibayak Volcano, North Sumatra, Indonesia”. Menurutnya, Sibayak “adalah situs wisata yang sering dipromosikan untuk dikunjungi dan berada di daerah wisata Sumatra Utara, dan menjadi salah satu gunung api yang paling mudah diakses di Indonesia dan dijangkau pulang-pergi sehari dari Medan”. Namun, di sisi lain, Sibayak tidak didukung oleh dukungan manajemen dan memerlukan biaya yang mendesak sekali untuk mengelola kegiatan wisata agar tetap berkesinambungan (Hal. 140).

Selanjutnya, Malcolm Cooper dengan tulisannya “Case Study: Krakatau, Indonesia, a Volcano with a History” menyatakan bahwa “Krakatau mempunyai
kesan yang sama bagi wisatawan gunung api dan petualangan sebagaimana pada Gunung Santorini atau Vesuvius. Krakatau dikenal sebagai gunung api dahsyat yang berasosiasi dengan jejak bencana besar dan para wisatawan hendak melihat kejadiannya, bila memungkinkan”. Dan sebagai kesimpulannya ia menyatakan bahwa, “Manajemen risiko (di Krakatau) terus berlanjut dan efektif melalui zona-zona ekslusi karena memang demikian keadaan gunungnya, namun mengenai operator perahu untuk tur dan pemancingannya belum diketahui” (Hal. 201).

Pada bagian VII yang hanya terdiri dari satu bab, Bab 22, kedua penyunting menyajikan 24 rekomendasi yang terkait dengan kegiatan wisata di gunung api dan lapangan panas bumi. Antara lain, Patricia Erfurt Cooper dan Malcolm Cooper menyatakan bahwa “Pengunjung ke daerah gunung api harus waspada pada bahaya potensial dan individual yang terkait dengan daerah tersebut”; “Pemandu tur harus terlatih untuk keadaan darurat dan harus memiliki pengetahuan geologi yang cukup untuk menaksir situasi bahaya yang dekat”; dan “Organisasi wisata dalam negeri yang mempunyai gunung api seharusnya meminta pedoman keselamatan internasional untuk diberikan kepada para pelanggannya. (Atep Kurnia)

Atep Kurnia, peminat kebumian, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>