Bentang Alam Kars Indonesia

Album Harmoni Keragaman Kars

Menyigi bumi

Menyigi Bumi, Menuturkan Kisah Diri

17/06/2012 Comments (0) Resensi Buku

Wasiat Sang Begawan Migas Pendaki Gunung

Migas dan Energi di Indonesia

Migas dan Energi di IndonesiaBuku setebal 430 halaman ini terbagi menjadi 31 bab. Buku yang tebal dan padat, baik dari sisi jumlah halaman maupun jumlah bab. Penulis mengaku di pengantarnya bahwa buku ini sebenarnya terbagi menjadi dua bagian, yaitu Analisis Kebijakan Migas (Bab 1 – 18), dan Permasalahan dan Analisis Kebijakan Energi di Indonesia (Bab 19 – 31). Sayangnya, pada bukunya sendiri, pembagian ini tidak dipisah dalam bagian khusus, tetapi langsung dibahas menerus dari Bab 1 hingga Bab 31.

Pada bagian pertama (Bab 1 – 18), buku membahas mulai dari prinsip-prinsip dasar tentang migas. Dimulai dengan bagaimana migas terbentuk, dieksplorasi, dan diproduksi; sampai pada perhitungan cadangan dan produksi migas, evaluasi keekonomian migas, serta bagaimana menganalisis risiko migas. Pada bagian ini pula dibahas sejarah perkembangan usaha migas yang cukup menarik. Kita menjadi tahu bahwa minyak bumi pertama ditemukan dengan cara pengeboran yang dilakukan oleh Kolonel Drake pada 27 Agustus 1859, sedangkan perusahaan minyak pertama dibangun oleh John D. Rockefeller pada 10 Januari 1870 dengan nama Standard Oil. Perusahaan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal hampir semua perusahaan besar industri migas dunia sekarang ini.

Pada bagian inilah sang begawan banyak berwasiat untuk perbaikan kondisi industri migas Indonesia. Beliau berkali-kali menuliskan bahwa kita harus selalu belajar dari sejarah. Pembelajaran dari sejarah juga termasuk bagaimana usaha migas Indonesia dibangun pertama kali melalui Pertamina, serta perkembangannya ketika terlibat dalam berbagai krisis energi, termasuk perannya di organisasi pengekspor minyak bumi OPEC. Belajar dari berbagai kasus dibahas pula, misalnya dari kasus LNG Tangguh, menanggapi dengan serius bahkan berkali-kali mengutip ide-ide pendiri pertama Pertamina Ibnu Sutowo, bahkan hingga kasus lumpur Sidoarjo (Lusi). Di sini pun, penulis dengan berbesar hati menyatakan agar dapat belajar dari cara pengelolaan migas negeri jiran Malaysia melalui Petronas-nya yang lebih berhasil, yandata bukug justru konsep bagi hasilnya (production sharing) dicetuskan pertama kali oleh Pertamina.

Pada bagian kedua tentang permasalahan dan analisis kebijakan energi di Indonesia (Bab 19 – 31), penulis berwasiat tentang bagaimana mencari solusi permasalahan kebijakan energi di Indonesia serta tujuan, sasaran, dan alternatifnya. Dalam kaitan ini, penulis menyatakan bahwa harga minyak sangat tergantung pada kondisi dan keputusan politik serta kepercayaan terhadap kondisi ekonomi negara. Dalam hal energi alternatif, penulis membahas apa, bagaimana, dan usaha seperti apa dalam pengembangannya, baik untuk panas bumi, gas metan batubara CBM, batubara sendiri, bahan bakar nabati (BBN: biofuel, biodiesel, bioetanol) yang permasalahannya terletak karena harga minyak rendah, harga BBN menjadi lebih mahal dari BBM, dan permasalahan pengembangan energi lainnya.

Ide substitusi minyak tanah oleh gas cair (LPG) telah jauh ditulis almarhum sebelum dilaksanakan walaupun pada awalnya sempat menimbulkan krisis pengadaan tabung gas. Namun beliau juga mengingatkan bahwa sekalipun LPG lebih murah daripada minyak tanah, harus disadari bahwa Indonesia tidak mempunyai cukup LPG untuk menggantikan seluruh minyak tanah. Solusinya adalah dengan gas kota, CNG (compressed natural gas), GTL (gas to liquid), gas metan batubara CBM, biofuel, bahkan briket dan gasifikasi batubara.

Pada bagian penutup, sempat-sempatnya sang begawan mengutip salah satu dialog dari film seri Harry Potter yang ditonton bersama keluarganya sebagai dialog yang menurutnya baik untuk perbaikan iklim permigasan Indonesia, “someday, you will have to choose between what is right and what is easy.” Pilihan migas kita adalah walaupun sulit tetapi berhasil di jangka panjang, atau mau gampang tetapi tidak kemana-mana (tidak berkembang). Dalam nafas yang sama, dikutip pula kalimat dari Yasadipura (kakek Pujangga Ranggawarsita), “sukailah kemudahan, takutilah kesulitan, maka tidak akan ada yang diperoleh.”

Buku tebal yang sangat bermanfaat terutama bagi mereka yang tertarik dan berkecimpung di dunia migas ini sayangnya tanpa melalui penyuntingan yang baik, atau bahkan mungkin tanpa penyuntingan sama sekali. Sebagian bab pada buku ini merupakan kumpulan makalah dari suatu keynote seminar dan kelihatannya dimuat persis apa adanya. Akibatnya tidak dapat dihindari pengulangan ide dan konsep pada beberapa bab yang berbeda. Kutipan berulang-ulang yang sangat mencolok dan cukup mengganggu adalah ide dasar bagi hasil (production sharing) yang bermula dari ide marhaenisme Soekarno dan kemudian dikejawantahan oleh Ibnu Sutowo. Alinea ini terulang berkali-kali bahkan hampir dengan gaya “copy paste”.

Namun, bagaimana pun, buku ini menjadi buku sangat penting untuk dunia migas Indonesia. Wasiat sang begawan migas yang merupakan seorang profesor di ITB yang hobby mendaki gunung, hingga wafatnya pun di puncak gunung yang dicintainya, patut kita simak.

Peresensi: Budi Brahmantyo (Dosen Teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>