M.T. Zen di ruang baca. Foto: Deni Sugandi

M.T. Zen Berbekal Pustaka Menjelajahi Alam

Refleksi
dari Peresmian
Museum Geopark
Batur, Bali

Refleksi dari Peresmian Museum Geopark Batur, Bali

03/06/2016 Comments (0) Langlang Bumi, Langlang Bumi, Uncategorized

Wangi Cengkih Ternate

Danau Laguna. Foto: T. Bachtiar.
Untitled-48

Danau Laguna. Foto: T. Bachtiar.

Pulau Ternate adalah Gunung Gamalama. Pulau penghasil cengkih ini identik dengan gunung ini yang menjadi titik pusatnya. Gunung api yang sudah puluhan kali meletus, melelerkan lava dan menyemburkan abu dan pasir itu, menyusun perlapisan yang saling bertumpuk antara batu pejal dan lahar yang membentuk lereng dan tubuh gunung. Begitu keluar dari Bandar Udara Sultan Babullah, kita akan langsung dihadapkan pada potongan-potongan batu pejal. Begitulah adanya, tubuh gunung
ini, sekelilingnya dilapisi material letusan gunung api.

Jalan raya yang dibangun mengelilingi pulau, rata-rata berada pada ketinggian 10 m dpl. melewati dan memotong material letusan Gunung Gamalama,
seperti memotong batuangus, aliran lava dari letusan bulan Maret 1737. Karena warna batunya yang gosong, masyarakat menyebut aliran lava itu batuangus. Aliran lava 279 tahun yang lalu itu, kini sebagian sudah ditata menjadi Taman Batuangus, sebuah upaya positif untuk menjadikan material letusan gunung api sebagai tujuan geowisata, menjadi laboratorium alam untuk pembelajaran dan pendidikan.

Batuangus. Foto: T. Bachtiar

Batuangus. Foto: T. Bachtiar

Di sinilah sejarah kolonialisme Nusantara oleh bangsa Eropa yang terpikat rempah-rempah bermula. Lingkungannya yang khas sebagai habitat flora dan
fauna, melalui Wallace, telah mewariskan pengetahuan yang penting. Sementara itu, masyarakat Pulau Ternate harus tetap sadar, bahwa Gunung Gamalama sang poros pulau gunung api ini, dapat meletus kapan saja. Namun, bagaimanapun, Ternate memang menantang untuk dikunjungi.

Gamalama dan Cengkih
Bila pulau ini dibagi dua dengan titik pusatnya Gunung Gamalama, maka bagian timur pulau sedikit lebih lebar, dengan bagian yang landainya lebih lebar Bagian pulau yang memiliki dataran yang landai dan lebih lebar, sekitar 2 km sampai ketinggian 100 m dpl., kawasan itulah yang paling banyak dihuni oleh masyarakat Ternate, terutama yang berada di bagian Selatan – Tenggara – Timur pulau, termasuk Kota Ternate yang berada di tenggara gunung ini. Selain relatif lebih landai bila dibandingkan dengan sisi pulau bagian barat dan utara, bagian selatan dan timur ini relatif lebih terlindung dari angin yang datang dari barat – barat laut, juga angin yang datang dari timur – tenggara, karena di bagian timur terhalang oleh Pulau Halmahera yang memanjang utara – selatan, yang pada masa keemasan rempah-rempah terkenal dengan nama Gilolo (Jailolo).

Wisata Cengkih. Foto: T. Bachtiar.

Wisata Cengkih. Foto: T. Bachtiar.

Dari perairan sekeliling Pulau Ternate, terlihat bentuk pulau ini sangat khas, dasarnya berupa lingkaran, sedikit landai di sekitar pantai, dan mengerucut di bagian tengahnya, terlihat seperti topi petani yang mencuat tajam ke arah puncak. Keseluruhan pulau seluas 92,12 km2 ini berupa pulau gunung api, tingginya 1.715 m dpl. Nama gunung yang menjulang menaungi pemukiman di sekelilingnya ini adalah Kie Gam Lamo, yang bermakna gunung di negeri yang besar. Gam Lamo, pengucapannya kemudian berubah menjadi “Gamalama” sampai sekarang, dengan pusat letusannya berada di puncaknya.

Secara geomorfologis, ciri topografi Pulau Ternate sebagian besar berupa gunung dan berbukit, dilapisi tanah yang relatif tipis karena dasarnya berupa aliran lava pejal dan lahar yang menyusun lereng gunung. Dengan tingkat kelerengan yang besar, kawasan ini idealnya menjadi kawasan konservasi dan zona penyangganya berupa hutan produksi dengan pohon keras seperti cengkih dan pala.

Di pulau gunung api inilah Kesultanan Ternate digagas. Semula hanyalah kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Gapi, yang mulai ramai pada awal abad ke-13. Kerajaan ini berpusat di Kampung Ternate, yang berkembang semakin besar dan ramai, sehingga penduduk menyebutnya Gam Lamo atau kampung besar. Pada mulanya, di pulau ini terdapat empat kampung yang dikepalai oleh seorang momole, kepala marga. Momole inilah yang pertama kali mengadakan hubungan dengan pedagang dari luar yang mencari rempah-rempah, seperti pedagang Arab, Jawa, Melayu, dan Cina. Kegiatan perdagangan di sini semakin ramai, ditambah sering adanya ancaman dari perompak, maka diadakanlah musyawarah atas gagasan dari para momole, untuk membentuk dan mengangkat seorang pemimpin sebagai raja. Pada tahun 1257, momole Sampalu terpilih sebagai kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272).

Benteng Tolluco. Foto: T. Bachtiar

Benteng Tolluco. Foto: T. Bachtiar

Ternate berkembang semakin besar. Nama “Ternate” pun jauh lebih populer daripada nama Gapi, sehingga secara lisan, nama kerajaan itu menjadi Kerajaan Ternate. Begitulah, dari semula sebuah kerajaan di pulau yang kecil, Ternate menjadi kerajaan yang berpengaruh di Hindia Timur. Kekuasaannya mencakup Maluku, Sulawesi Utara, Timur, dan Tengah, bahkan mencakup sebagian selatan kepulauan Filipina hingga Kepulauan Marshall di Pasifik.

Jalanan berkelok menanjak. Pohon cengkih menjulang, berbaris rapi di lereng gunung. Cengkihlah yang telah membawa Ternate ke puncak kejayaannya. Cengkih (Eugenia aromatica) dan pala (Myristica succadewa BL) tumbuh subur di lereng-lereng Gunung Gamalama. Dua jenis rempah, khususnya cengkih, membuat Pulau Ternate menjadi sangat terkenal dan menjadi rebutan pada abad ke-16. Bahkan, bila menyebut Maluku, seolah identik dengan lima pulau kecil di barat Pulau Gilolo (Halmahera), yaitu: Pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Kekayaan alam yang sudah menjadi sejarah bagi Maluku, bagi Ternate, maka dua jenis rempah itu, cengkih dan pala, diangkat menjadi bagian dalam lambang Kota Ternate, serta ikan pari di tengahnya, lambang pulau yang dikelilingi laut sebagai sumber kehidupan warganya.

Daya Pikat Rempah-rempah
Berjalan mengelilingi Pulau Ternate tidak akan lepas dari bayangan Gunung api Gamalama dan laut. Luas wilayah perairannya 41 kali lebih luas dari pada daratannya. Luas lautnya 5.457,55 km2, dan wilayah daratannya hanya 133,74 km2. Di utara, Pulau Ternate berbatasan dengan Samudera Pasifik dan perairan selatan Filipina. Di selatan dan barat berbatasan dengan Laut Maluku, dan di sebelah timur berbatasan dengan pantai barat Halmahera.

Cengkih Affo 2. Foto: T. Bachtiar Atas: Kasbi, gohu, sagu lempeng, pisang mulubebe, ikan bakar. Bawah: Pala. Foto: T. Bachtiar.

Cengkih Affo 2. Foto: T. Bachtiar Atas: Kasbi, gohu, sagu lempeng, pisang mulubebe, ikan bakar.
Bawah: Pala. Foto: T. Bachtiar.

Keniscayaan hidup di pulau gunung api, warga yang bermukim di sekeliling Gunung Gamalama, gunung api yang sangat aktif, harus pandai menjaga irama kehidupan, kapan dapat memanfaatkan keberkahan gunung dan laut, serta kapan harus menghindar bila gunung itu sedang membangun dirinya. Dinamika alam, letusan gunung api, guncangan gempa bumi, tak mungkin dapat ditolak. Itulah takdir alam, hidup di kawasan dalam belitan cincin api dunia. Manusialah yang harus pandai menimbang, bagaimana hidup dan membangun kehidupan di kawasan yang sangat rawan.

Ada 12 sungai di sekeliling Gunung Gamalama yang hulunya berada di sekitar puncak. Sungai-sungai inilah yang akan menghantarkan lahar bila terjadi letusan gunung yang henghebuskan debu dan pasir. Material letusan yang jatuh di lereng gunung akan segera turun bila hujan menyiram. Pemukim di sepanjang pinggiran aliran sungai, harus waspada bila hujan tiba.

Ternate sudah sangat populer sejak lama. Tertulis dalam berbagai catatan dan peta-peta perjalanan. Dalam catatan perjalanan Tome Pires, Suma Oriental, Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Francisco Rodrigues, tulisan dan petanya menjadi panduan untuk menuju Hindia Timur. Tome Pires menulis panjang tentang pulau penghasil rempah-rempah ini. “Kepulauan Maluku penghasil cengkih ini terdiri dari lima pulau. Pulau utamanya yakni: Ternate, dilanjutkan oleh Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Kelima pulau ini menghasilkan setidaknya 6.000 bahar cengkih setiap tahun – kadang-kadang bahkan 1.000 bahar lebih banyak, atau kadang juga 1.000 bahar lebih sedikit. Benar, bahwa 500 resi yang bisa membeli barang-barang di Malaka, dapat digunakan untuk membeli 1 bahar cengkih di Maluku. Di Malaka, pada saat penawaran tinggi, cengkih bisa dihargai 9 atau 10 cruzado setiap bahar-nya. Sedangkan pada saat penawarannya rendah, cengkih dihargai 12 cruzado untuk setiap bahar-nya. Ternate merupakan pulau utama dari kelima pulau lainnya….”

Dorongan untuk mendapatkan rempah-rempah, di daerah asalnya, karena perbedaan harga yang sangat menggiurkan, walau risiko dalam pelayaran yang memakan waktu berbulan-bulan dan sangat membahayakan. Sebagai contoh, dalam keterangan gambar di sebuah apotek yang menjual rempah-rempah tertulis, “Sepuluh pon pala seharga satu penny di Hindia Timur, di Inggris dijual dengan harga 50 shilling. Para apoteker meraup keuntungan besar dari bola-bola ramuan mereka, terutama selama wabah. “Aku akui pala-pala itu mahal,” tulis salasatunya, “tapi obat-obatan murah semahal kematian.” (Giles Milton, Pulau Run).

Perebutan pengaruh untuk mendapatkan rempahrempah di Hindia Timur ini penuh keserakahan, intrik, insiden, dan kebiadaban. Perang dan pembantaian menjadi hal yang dianggap seharusnya terjadi dalam persaingan untuk mendapatkan pengaruh agar mempunyai hak monopoli atas pembelian rempah-rempah. Bagaimana kebiadaban dilakukan antara Portugis dengan Spanyol, Portugis dengan Belanda, antara Belanda dengan Inggris, serta antara Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris terhadap penduduk di suatu pulau rempah-rempah di Hindia Timur, telah dikisahkan oleh banyak buku.

Sultan yang mempunyai hak monopoli dalam menjual rempah-rempah di daerahnya, keadaan sosial-ekonominya sangat kaya-raya, seperti yang digambarkan oleh Drake (1579) dalam laporannya. Drake menguraikan keadaan Sultan sebagai berikut: “Raja dilindungi payung yang berhiaskan emas. Demikian pula tutup kepalanya terbuat dari emas dijalin yang lebarnya kira-kira satu inci. Di lehernya memakai kalung emas murni. Kalung itu sangat besar dan dilipat ganda. Tangan kirinya berhiaskan berlian, zamrud, batu delima, dan turki. Semenara itu, tangan kanannya memakai sebuah cincin yang bermata batu turki besar dan sebuah cincin yang bermata berlian”.

Searah jarum jam: Benteng Kalamata, Benteng Kastela, Benteng Tolluco, Benteng Oranye. Foto: T. Bachtiar

Searah jarum jam: Benteng Kalamata, Benteng Kastela, Benteng Tolluco, Benteng Oranye. Foto: T. Bachtiar

Jejak Wallace dan Cengkih Afo
Pulau Ternate sangat terkenal pada saat itu, menarik naturalis Alfred R. Wallace untuk datang ke sana. Pada 8 Januari 1858, Wallace sampai di sana, dan menulis, “Dekat rumah saya ada benteng yang dibangun orang Portugis. Di bawah benteng terdapat dataran terbuka sampai ke pantai, dan di baliknya ada kota yang merentang kira-kira satu mil ke timur laut.”

Tentang kekayaan Sultan, Alfred R. Wallace menulis, bahwa sumbernya berasal dari: “Hasil perdagangan rempah-rempah yang dimonopolinya. Ternate dan jejeran pulau kecil ke selatan dengan batas Bacan, adalah daerah asal cengkih. Selain cengkih, Ternate juga menghasilkan pala yang bunganya didapat dari Irian dan pulau-pulau sekitarnya. Keuntungan yang didapat dari rempah-rempah sangat besar. Saudagar-saudagar memberi emas, perhiasan, dan barang-barang buatan Eropa dan India sebagai alat pembayaran.

Setelah orang Belanda datang, dan menanamkan pengaruh di Ternate, mereka berusaha mengambil alih perdagangan rempah-rempah. Untuk mencapai tujuan ini, Belanda menerapkan prinsip memusatkan perkebunan rempah-rempah di daerah-daerah yang langsung berada di bawah kekuasaan mereka. Agar hal itu dapat terlaksana, perkebunan dan perdagangan rempah-rempah di daerah-daerah harus dihapuskan. Tujuan ini dapat dicapai melalui perjanjian-perjanjian dengan raja-raja setempat untuk menghancurkan pohon rempah-rempah di daerah mereka. Sebagai imbalan, raja-raja tersebut mendapatkan perlindungan dari serangan Portugis.” (Alfred R Wallace, Menjelajah Nusantara).

Berjalan sedikit keluar Kota Ternate dan mendaki punggungan gunung, di sana akan menemukan wangi cengkih dan pala yang masih terjaga dengan baik,
dikelola oleh masyarakat dengan penuh suka-cita. Cengkih dan pala inilah yang pernah menjadi rebutan saudagar Eropa pada masa lalu. Sejarah cengkih masih tersimpan di lereng gunung, di sana terdapat cengkih affo 2, walau sebagian pohonnya sudah mulai mengering.

Wangi dan rasa cengkih yang dikunyah, pernah menjadi gengsi bagi bangsawan Eropa pada abad ke- 16-18. Komoditas inilah yang menjadi obat herbal di Eropa saat terjadinya wabah. Kini, cengkih dan biji pala sudah diketahui mempunyai banyak khasiat yang menyehatkan. Kini, daging buah pala yang selama ini dibuang sebagai limbah, sudah dimanfaatkan menjadi sirup pala, dan menjadi produk unggulan dari Kota Ternate yang bernilai ekonomi, sudah menjadi cendera mata.

Keraton dengan Latar Gunung Gamalama. Foto: T. Bachtiar.

Keraton dengan Latar Gunung Gamalama. Foto: T. Bachtiar.

Wisata, Kuliner dan Bahaya Gunung api Siang yang menyengat. Suhu udaranya rata-rata berkisar antara 23o – 32o C. Beristirahat sambil makan siang di Pantai Sulamadaha, pantai yang sudah dikelola menjadi tempat wisata. Di bawah naungan pohon, mencoba makanan khas Ternate adalah yang paling menyenangkan.

Sekeliling Pulau Ternate adalah laut. Berbagai jenis ikan bisa didapat dari perairan lautnya. Pulaunya berupa gunung api dengan lereng yang terjal, kurang air, menyebabkan tidak ada tradisi bersawah di sini. Lahan kering dijadikan kebun cengkih dan pala, sebagian lagi ditanami pisang mulubebe dan
kasbi/singkong. Di muara sungai terdapat sagu, yang kanjinya menjadi sumber makanan menjadi pupeda. Jadi, sangat beralasan bila kuliner Ternatebanyak memanfaatkan hasil laut, seperti ikan tuna dan cakalang. Paling cepat tersaji, bila ikan laut itu dipanggang, lalu dimakan dengan colo-colo. Karbohidratnya dari pupeda, pisang mulubebe, kasbi/singkong, atau sagu lempeng, baik sagu lombo (lembek), atau sagu karas (keras).

Makan pupeda dengan sumpit, dicelupkan di ikan kuah kuning, lalu menyeruput kuahnya. Pupeda itu kanji yang terbuat dari tepung sagu, tapi sekarang ada juga yang terbuat dari kanji kasbi. Selain ikan kuah kuning, ada masakan berbahan dasar ikan yang terkenal di Ternate, yaitu gohu, sejenis sasimi setengah matang, walau pun tidak semua rumah makan di sana menyajikannya. Gohu enak dimakan dengan rebus kasbi atau rebus pisang mulubebe, ditambah sayur garu dan gudangan.

Dari ketinggian, terlihat Kota Ternate terus berkembang, namun pengembangan wilayahnya sangat dibatas faktor alam. Kota ini merupakan pusat pemerintahan dan pusat perdagangan, terdapat pelabuhan samudra Ahmad Yani dan Bandar Udara Sultan Babullah, menjadi faktor penarik yang menyebabkan perkembangan penduduk Kota Ternate terus meningkat. Penduduk berdatangan dari Sulawesi, Ambon, Papua, Kalimantan, Jawa, dan Sumatera. Kepadatan rata-rata penduduk Kota Ternate mencapai 865 jiwa/km2 dengan laju pertumbuhan rata-rata 3%.

Dengan perkembangan penduduk yang pesat, maka pusat-pusat rekreasi bagi warga kota menjadi semakin mendesak untuk memberikan suasana nyaman bagi warga kota. Pusat rekreasi pantai, taman kota, menjadi tempat rekreasi yang banyak dikunjungi warga kota dan wisatawan. Tujuan wisata alam yang banyak dikunjungi adalah Pantai Sulamadaha, Taman Batuangus, Danau Tolire Jaha, Tolire Kecil, dan Danau Laguna. Ketiga danau alam itu berupa kawah hasil letusan gunung api tipe maar.

Pantai Sulamadaha. Foto: T. Bachtiar

Pantai Sulamadaha. Foto: T. Bachtiar

Singgah di Danau Tolire Jaha, di sana sudah banyak warung penjual goreng pisang dan kelapa muda. Danau maar Tolire Jaha terbentuk karena terjadinya letusan freatik yang dahsyat pada 5 September 1775, yang dipicu oleh gempa tektonik yang besar. Gempa itu telah memperbesar rekahan yang menjadi jalan terjadinya kontak antara panas dari intrusi magma dengan air tanah, yang mengakibatkan terjadinya letusan freatik kedua pada 7 September 1775. Lokasi letusannya persis di dalam bumi Desa Soelatakomi, sekitar 1,5 km sebelah baratdaya dari Desa Takomi sekarang. Peristiwa alam ini memakan korban 141 orang penduduk, yang hilang ditelan bumi. Letusan freatik di kaki Gunung Gamalama itu membentuk kawah bergaris tengah 750 m (bagian atas) dan 350 m bagian dasar, dengan kedalaman antara 40 – 50 m.

Jejak Sejarah dan Kearifan Maku Gawene Sekeliling Pulau Ternate banyak didirikan benteng pertahanan. Cengkihlah yang menjadi alasan bagi bangsa Barat untuk membangun benteng pertahanan, saksi, betapa cengkih menjadi komoditas yang sangatberharga yang dipertahankannya dengan segala cara, termasuk cara-cara yang keji. Sebelum bangsa-bangsa Eropa datang, sudah ada saudagar Cina dan Arab di Ternate untuk berniaga rempah-rempah. Portugis adalah bangsa Barat yang pertama datang di Ternate pada 1512 disusul Spanyol menyusul di Tidore.

Dalam catatan kolonial, di Pulau Ternate dibangun 12 benteng, termasuk Benteng Kalafusa, benteng yang dibuat dari kayu. Saat ini tercatat ada delapan benteng di Ternate, yaitu Benteng Oranje, Tolukko, Kalamata, Kastela, Kota Janji, Bebe, Kota Naka, dan Takome. Benteng Talang Ame dan Benteng Brogh tidak diketahui letaknya. Namun, hanya empat dari delapan benteng yang kini menjadi tujuan wisata sejarah, yaitu: Benteng Oranye, Benteng Tolukko, Benteng Kalamata, dan Benteng Kastela.

Peta digambar oleh: Roni Permadi

Peta digambar oleh: Roni Permadi

Jejak kolonial Portugis di Hindia Timur mulai tahun 1512 sampai tahun 1641, meninggalkan luka sejarah yang dalam, namun juga menumbuhkan jejak budaya yang kuat sampai saat ini, seperti dalam berbahasa. Banyak kata yang diserap dari bahasa Portugis, seperti: bandera (bendera – bandiera), pai (ayah – pai), mai (ibu – mai), patatas (kentang – batatas), kasbi (singkong – cassava), marsegu (kelelawar – morcego), capeu (topi – capeo), sapatu (sepatu – capatu – sapato), tuturuga (penyu – tartaruga), tempo (waktu – tempo), martelu (palu/martil – martelo), pombo (merpati – pombo), feneti (peniti – alfinete), seka (usap – seka), babengka (kue – bibingka), goropa (kerapu – garoupa), kartas (kertas – cartaz), pasiar (pesiar – passear), laguna (danau – laguna), calana (celana – chalana), bastiong (bagian benteng – bastian), dan masih banyak lagi.

Dari seberang lapangan yang luas, terlihat Keraton Sultan Ternate berdiri megah di atas Bukit Limau Santosa. Keraton ini dibangun di lahan seluas 44.560 m2 pada 1810, pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Ali. Bangunan keraton berbentuk limas segi delapan dengan dua tangga di sisi kanan dan kiri. Kondisinya masih utuh dan terawat baik. Di halaman keraton terdapat lapangan yang biasa dijadikan tempat upacara adat kesultanan. Di dalam keraton terdapat singgasana Sultan berwarna kuning keemasan. Di sekeliling ruangan tersimpan benda-benda bersejarah koleksi keluarga Sultan, seperti koleksi pakaian adat kerajaan, senjata perang, koleksi hadiah dari para penguasa Belanda dan Portugis.

Masyarakat Ternate, dari generasi ke generasi telah melewati perjalanan hidup yang sangat panjang, tinggal di pulau gunung api yang subur namun rawan dari ancaman letusan dan guncangan gempa. Hidup dalam keterbatasan alam telah melahirkan kearifan hidup serasi dengan alam, rukun dan damai hidup bermasyarakat. Keserasian hidup itu tercermin dalam semboyan yang tertulis dalam lambang Kota Ternate, Maku Gawene, mengandung makna untuk saling menyayangi, cinta kasih sesama manusia dan dengan seluruh makhluk Tuhan. (T. Bachtiar)

Penulis adalah anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>