Sutikno Bronto. Foto: Deni Sugandi.

Sutikno Bronto Dalam Haribaan Gunung Api

M.T. Zen di ruang baca. Foto: Deni Sugandi

M.T. Zen Berbekal Pustaka Menjelajahi Alam

07/04/2016 Comments (0) Profil, Profil

Udi Hartono Menguak Perut Bumi Indonesia

Profil Udi Hartono di ruang baca. Foto: Deni Sugandi
Profil Udi Hartono di ruang baca. Foto: Deni Sugandi

Profil Udi Hartono di ruang baca. Foto: Deni Sugandi

Indonesia adalah kawasan pinggiran lempeng paling aktif, yang berarti proses geologinya masih berjalan hingga kini. Salah seorang yang menguak proses geologi yang tetap berjalan itu adalah Udi Hartono, peneliti petrogenesa magma busur Indonesia dan profesor riset pertama di lingkungan Badan Geologi. Sejak 19 Februari 2016, profesor riset bidang petrologi ini mengajar di Universiti Malaysia Kelantan (UMK), di Kelantan, Malaysia.

Pada hari Senin, 6 November 2006, di Auditorium Geologi, Jl. Diponegoro 57 Bandung, Udi Hartono dikukuhkan sebagai profesor riset pertama di lingkungan Badan Geologi. Dengan orasi ilmiah berjudul Petrogenesa Magma Busur Indonesia dan Aplikasinya, Udi sebagai pemegang jabatan fungsional peneliti utama itu dikukuhkan oleh Ketua Majelis Pengukuhan, Lukman Hakim.

Gelar ilmiah tertinggi di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) itu tidak serta merta diperoleh Udi. Gelar itu konsekuensi dari konsistensi kinerja yang dilakukan oleh Udi selama puluhan tahun. Oleh karena itu, melihat jejak langkah Udi dariawal kariernya hingga kini barangkali akan menjadi semacam teladan bagi siapa saja yang akan meneliti kebumian Indonesia.

Udi adalah anak tunggal yang lahir dari pasangan Hadiwijono dan Siti Ngatiyah Suminah. Dia dilahirkan di Wates, Yogyakarta, pada 10 Desember 1948.
Pada tahun 1961, Udi menamatkan studi dasarnya dari Sekolah Rakyat Negeri di Wates, Yogyakarta. Selanjutnya, pada 1964 ia menamatkan pelajarannya di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Wates, Yogyakarta dan tahun 1967, ia lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri Wates, Yogyakarta. Mengenai perkenalannya dengan dunia geologi terbilang unik. Katanya, “Saat lulus SMA, yang terpikir oleh saya sejak SD bahwa sekolah itu adalah kedokteran atau elektro. Setamat SMA ada pengumuman di koran Kedaulatan Rakyat (KR), mengenai tujuh jurusan teknik yang baru dibuka di Universitas Gajah Mada (UGM). Nomor enamnya adalah teknik geologi sedangkan nomor tujuhnya teknik geodesi.”

Udi sedang mengumpulkan percontoh batuan saat penyelidikan di lapangan. Foto: Dok. Pribadi.

Udi sedang mengumpulkan percontoh batuan saat penyelidikan di
lapangan. Foto: Dok. Pribadi.

Setelah membaca pengumuman itu, Udi bertanya kepada kepala sekolah SMA ihwal geologi. “Kata kepala sekolah, geologi itu pertambangan. Nah, waktu itu saya ingat guru-guru SD suka menceritakan bahwa Indonesia kaya dengan bahan tambang, sehingga terpikir oleh saya untuk masuk geologi saja kuliahnya,” ujar Udi mengenang awal perkenalannya dengan jurusan geologi.

Dorongan hendak masuk jurusan kedokteran pun demikian besar dalam diri Udi. Ia pun sempat dua kali mengikuti ujian masuk ke kedokteran. Tapi keduanyagagal. Namun, saat ikut ujian masuk ke jurusan geologi UGM langsung diterima. Ketika itu ia merasa aneh. “Ini teknik tapi pelajarannya sedimentologi, erosi, dan lain-lain. Dari situ terasa, awalnya saya kurang senang di geologi. Namun, terus saja dijalani,” katanya.

Pada tahun 1976 Direktorat Geologi membuka lowongan kerja, dan berbekal ijazah sarjana muda, waktu itu Udi membuat dua lamaran, yang pertama ke DPMD (Direktorat Penelitian Masalah Djalan, PU) dan yang kedua ke Direktorat Geologi. Tetapi karena Udi menginap di rumah kakaknya di Jalan Katamso, Kota Bandung, yang dekat kantor Direktorat Geologi, ia datang terlebih dulu ke Jalan Diponegoro No. 57. Proses penerimaannya pun tidak terlalu lama. Katanya, “Sewaktu saya menunggu ada senior lewat kemudian lamaran saya dibawa ke Pak Hartono, waktu itu Kasubdit Pemetaan Geologi. Selang beberapa waktu, kakak kelas saya menyampaikan bahwa saya diterima.” Selanjutnya Udi menyelesaikan sarjananya pada 1978 dengan skripsi Geologi Daerah Kelino, Kabupaten Bojonegoro dan Madiun, Jawa Timur.

Pada tahun 1976 pula Udi menikahi Sri Ety Sofyati binti Chamami Moektirahardjo. Pasangan Udi-Sri dikaruniai empat orang anak, yaitu Anton Suryono Hadiputro, Esty Wulansari Hadiputro, Danang Pangaribowo Hadiputro, dan Eliza Kusumawardhani Hadiputro.

Saat pengukuhan sebagai profesor riset yang pertama dari Badan Geologi. Foto: Dok. Pribadi.

Saat pengukuhan sebagai profesor riset yang pertama dari Badan
Geologi. Foto: Dok. Pribadi.

Setelah diterima di Direktorat Geologi, Udi ditempatkan di Seksi Pemetaan. Di bagian itu, pertama kali ia ditugaskan untuk ikut memetakan Papua, karena saat itu, yaitu pada 1978, ada kerja sama antara Direktorat Geologi dengan Australia. Ia mengenang saat itu, “Waktu itu saya merasa berat, nervous sekali. Sebabnya belum pernah tahu kerja tim seperti apa dan tidak tahu daerahnya, apalagi bahasa Inggris saya yang pas-pasan.”

Pada tahun 1978 juga ia berhasil memperoleh gelar Sarjana Teknik Geologi, UGM, dengan skripsinya yang mengangkat ihwal petrologi, yaitu Genesa Breksi Vulkanik Gunung Tugel, Kutoarjo, Yogyakarta. Selanjutnya, selain di Irian Jaya, Udi ikut memetakan daerah Luwuk, Sulawesi, terus ke Jawa Timur, yaitu ke Banyuwangi dan Madiun. Demikian pula daerah lainnya.

Untuk mendalami ihwal pemetaan, ia pernah mengikuti beberapa kursus. Antara 1978-1979 ia mengikuti kursus Field Geology, Map Compilation and Report Writing yang diadakan oleh IAGMP. Selama empat bulan pada tahun 1984, ia mengikuti kursus remote sensing di AIT Bangkok, Thailand. Dan pada tahun itu pula, ia mengikuti kursus Geological Mapping and Report Writing di NSW, Australia.

Untuk mendalami ihwal pemetaan, ia pernah mengikuti beberapa kursus. Antara 1978-1979 ia mengikuti kursus Field Geology, Map Compilation and Report Writing yang diadakan oleh IAGMP. Selama empat bulan pada tahun 1984, ia mengikuti kursus remote sensing di AIT Bangkok, Thailand. Dan pada tahun itu pula, ia mengikuti kursus Geological Mapping and Report Writing di NSW, Australia.

Mula-mula, pada tahun pertama di sana Udi lulus kualifikasi, kemudian ia masuk program riset. “Orang lain mengambil ilmu terapan geologi, saya malah mengambil ilmu geologi umum, yaitu petrologi,” katanya. Di sela-sela belajarnya, Udi pernah mengikuti Ancient and Modern Volcanic Succession Course di Melbourne, Australia, pada tahun 1990, selama dua minggu.

Udi Hartono. Foto: Deni Sugandi.

Udi Hartono. Foto: Deni Sugandi.

Setelah kembali ke Indonesia, Udi kembali ke pemetaan. Di dunia pemetaan Indonesia itu, ia pernah memetakan, antara lain Geological Map of Irian Jaya, Indonesia, Scale: 1 : 1000.000 (1986), The Geology of Maar Sheet, Irian Jaya, Scale 1 : 250.000 (1989), Geologi Lembar Misool, Irian Jaya, Sekala 1 : 250.000 (1989), Geology of the Madiun Quadrangle, East Java (1992), Peta Geologi Lembar Jayawijaya, Irian Jaya, Sekala 1 : 250.000 (1995), dan Peta Geologi Lembar Padarincang- Anyer, Jawa, Sekala 1 : 50.000 (2001).

Mendalami Magmatisme Busur
Saat Udi kembali dari Australia, di Indonesia ada jalur peneliti yang digelar sejak awal tahun 1990-an. Oleh karena itu, ia masuk ke jalur itu. Mula-mula jabatan fungsional penelitinya adalah Ajun Peneliti Muda (1994). Kemudian berturut-turut Peneliti Muda (1996), Peneliti Madya (1998), Ahli Peneliti Muda (2000), Ahli Peneliti Madya (2002), Ahli Peneliti Utama (2004), dan Profesor Riset (2006).

Sebagai oleh-oleh yang dibawanya kembali dari Australia adalah pendalamannya perihal magmatisme di zona penunjaman (arc magmatism). Di balik kajian ini, menurut Udi, “Berlatar belakang, pertama karena disertasi saya memang mengenai hal itu, yaitu Petrologi dan Geokimia Gunung Wilis dan Lawu. Kedua, karena magmatisme di zona penunjaman itu masih banyak menimbulkan banyak perdebatan.”

Dalam orasi ilmiah Petrogenesa Magma Busur Indonesia dan Aplikasinya, Udi menguraikan asal-usul berikut konsekuensi adanya magmatisme di zona penunjaman. Orasi itu disarikan dari pengalaman penelitian Udi selama bertahun-tahun mengenai batuan vulkanik Kuater dari Gunung Wilis dan Gunung Lawu, batuan vulkanik Permo-Karbon di daerah Sumatera, batuan intrusi di Sintang, Kalimantan Barat, batuan vulkanik Pratersier dan Tersier di Kalimantan Selatan, serta Paleogen dan Neogen di Papua.

Adapun magmatisme busur menurut Udi adalah seluruh kegiatan magma hasil penunjaman lempeng samudra di bawah kerak bumi yang lain, baik kerakkontinen maupun kerak oseanik, yang umumnya membentuk busur yang dikenal sebagai busur vulkanik atau busur magmatik.

Bersama keluarga besar. Foto: Dok. Pribadi.

Bersama keluarga besar. Foto: Dok. Pribadi.

Katanya, “Magmatisme busur dapat terjadi di bawah laut atau di daratan, sumbernya dipengaruhi oleh berbagai komponen seperti mantel atas, kerak samudra dan atau kerak benua, dan prosesnya dapat berupa fraksinasi, asimilasi, percampuran lebih dari satu magma atau kombinasi dari berbagai proses itu. Proses petrogenesa itu juga akan sangat dipengaruhi oleh keadaan geologi atau perkembangan tektoniknya.”

Penelitian Udi menjelaskan mengenai variasi komposisi magma basal di dalam magma busur. Di sini ia menyatakan bahwa magma busur merupakan magma primer hasil peleburan selubung atau kerak bumi. Kedua, andesit kalk-alkali merupakan batuanyang mendominasi di daerah orogenik. Dan ketiga, komposisi kimia andesit menunjukkan bahwa batuan ini tidak mungkin diterangkan dengan hanya sebagai hasil peleburan baik selubung maupun kerak bumi.

Dari sisi geokimia, penelitian Udi menerangkan komposisi kimia andesit di daerah orogenik. Ia menegaskan bahwa fraksinasi-kristalisasi magma basal bukanlah satu-satunya proses penyebab variasi geokimia di dalam magma busur. Justru yang dijumpainya adalah asosiasi batuan andesit-dasit-riolit dan batuan plutonik yang ekivalen tidak berasosiasi dengan basal.

Dalam bidang ilmu kebumian, hasil risetnya selama bertahun-tahun itu menunjukkan empat hal penting terkait magmatisme busur. Pertama, mantel sebagai sumber magma dan pengaruh unsur kerak dalam magmatisme yang ditemukan dan disimpulkan Udi dari hasil penelitiannya terhadap batuan vulkanik Kuarter dari Gunung Wilis dan Gunung Lawu dan vulkanik Permo-Karbon di daerah Sumatra.

Kedua, kerak yang menunjam sebagai sumber magma, disimpulkan Udi dari penelitiannya terhadap batuan intrusi di Sintang, Kalimantan Barat. Ketiga, pengaruh tektonik terhadap genesa magma, beliau perjelas melalui hasil penelitiannya pada batuan vulkanik Pra-Tersier dan Tersier di Kalimantan Selatan dan Paleogen dan Neogen di Papua.

Hasil kajiannya di Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa perkembangan tektonik daerah Tinggian Meratus sangat mempengaruhi pembentukan magma Pra-Tersier dan Tersier di daerah tersebut. Sedangkan hasil kajiannya di daerah Papua antara 1978-1982 antara lain menyimpulkan bahwa dapat ditentukannya dua kegiatan magmatisme sebelum peristiwa tumbukan Tersier antara kontinen Australia dan Lempeng Pasifik.

Keempat, ada kaitan antara genesa magma dan mineralisasi emas dan logam dasar lainnya. Hasil penelitiannya mampu menjelaskan tentang prospek mineralisasi dan cebakan emas di daerah Gunung Meratus dan sekitarnya (Kalimantan Selatan), daerah Kelian dan sekitarnya (Kalimantan Timur), dan daerah Sintang dan sekitarnya (Kalimantan Barat).

Berdasarkan hasil studinya, Udi berkesimpulan bahwa di daerah Kalsel cebakan emas primer kurang potensial, karena proses hidrotermalnya sebentar dan terobosan Tersiernya hanya merupakan retas kecil 1-4 m yang tersingkap secara menyebar. Sementara tentang cebakan emas di Kelian dan sekitarnya, Udi berpendapat, “Sistem hidrotermal Miosen telah  diperpanjang waktunya akibat pengaruh kegiatan magma Plio-Plistosen. Lamanya waktu sistem hidrotermal akan mempengaruhi konsentrasi endapan bijih di dalam sistem endapan Kelian.” Akibatnya, di Kelian proses mineralisasi menghasilkan emas yang sangat ekonomis.

Untuk Sintang dan sekitarnya, Udi menyatakan daerah tersebut bukanlah daerah yang ekonomis untuk eksplorasi cebakan emas primer, karena batuan intrusinya berasal dari magma hasil peleburan sisa kerak Laut Cina Selatan, sehingga air yang dihasilkan akibat dehidrasi amfibolnya tidak cukup berarti untuk mengendapkan emas dalam jumlah yang ekonomis.

Oleh karena itu, penelitian Udi secara jelas mengindikasikan mengenai riset dasar petrologi berkenaan dengan busur vulkanomagmatik Indonesia
yang merupakan batuan dominan di dalam geologi Indonesia. Katanya, “Studi dan penelitian magmatisme yang bersifat mendasar bukan saja memberi sumbangan terhadap ilmu pengetahuan kebumian, namun juga merupakan informasi awal yang dapat dikembangkan menjadi penelitian terapan guna membantu industri terkait dalam mengembangkan eksplorasinya.”

Untitled-49Dunia Tulisan dan Jalan Mengamalkan Ilmu
Di dunia ilmu pengetahuan Udi berfilosofi bahwa kebenaran ilmiah tidak bebas nilai, tetapi kebenaran untuk menuju kepada Yang Mahabenar. Ini artinya
di dalam mencari kebenaran ilmu pengetahuan harus disertai tanggung jawab kepada Tuhan Pemilik Kebenaran Mutlak. Untuk menyebarkan pengalaman dan pemikirannya seputar ihwal yang ditelitinya, Udi terbilang produktif menulis. Hingga kini sudah ada lebih dari 50 karya tulis ilmiah yang ditulis sendiri maupun dengan penulis lain. Tulisan-tulisan ilmiahnya diterbitkan dalam bentuk buku, laporan, jurnal dan prosiding dalam bahasa Indonesia dan Dow, G.P. Brown, dan N. Ratman. Udi juga sedang mempersiapkan penerbitan dua buku karyanya, yaitu Magmatisme di Zona Penunjaman dan Penelitian Geologi.

Selain sebagai penulis, Udi juga menjadi penyunting buku geologi, antara lain The Knowledge of Indonesian Geology: Challenge and Utilization karya R. Sukamto (2000), Ofiolit di Sulawesi, Halmahera dan Kalimantan: genesa, alih tempat dan mineral ekonomi (2001), Selected Paper on the Geodinamic of the Indonesian Region (2001), Nilai Strategis Kawasan Kars di Indonesia karya Hanang Samodra (2001), Geologi Pegunungan Selatan Bagian Timur (2012), Geologi Sulawesi Tenggara (2013), dan mengumpulkan serta menyunting buku Magmatism In Kalimantan (2012).

Mengenai keterlibatannya pada dunia publikasi ilmiah, Udi pernah terlibat sebagai Wakil Ketua Dewan Redaksi Publikasi Khusus Puslitbang Geologi (2000-2004), anggota Dewan Redaksi Jurnal Geologi dan Sumber Daya Mineral (2000-2004), anggota Dewan Redaksi Bulletin of Marine Geology (2010- 2014), anggota dewan editor 30th Annual Convention of Indonesian Association of Geologist & 10th Geosea Regional Congress on Geology, Mineral abd Energy Resources (2001), dan anggota redaksi Prosiding Balitbang Energi dan Sumber Daya Mineral (2005).

Mengenai keterlibatannya pada dunia publikasi ilmiah, Udi pernah terlibat sebagai Wakil Ketua Dewan Redaksi Publikasi Khusus Puslitbang Geologi (2000-2004), anggota Dewan Redaksi Jurnal Geologi dan Sumber Daya Mineral (2000-2004), anggota Dewan Redaksi Bulletin of Marine Geology (2010- 2014), anggota dewan editor 30th Annual Convention of Indonesian Association of Geologist & 10th Geosea Regional Congress on Geology, Mineral abd Energy Resources (2001), dan anggota redaksi Prosiding Balitbang Energi dan Sumber Daya Mineral (2005).

Selain menulis, Udi aktif juga dalam pembinaan kader ilmiah dan organisasi profesi. Ia antara lain pernah memberikan kuliah umum Petrologi dan Geokimia Batuan di Daerah Busur (UGM, 1995), kuliah umum Arc Magmatism di Unhas (2004), UGM (2004), dan STTnas Yogyakarta (2005). Juga pernah pembimbing skripsi mahasiswa program S1 Universitas Gajah Mada, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta, serta membimbing tesis mahasiswa program S2 dari Universitas Padjadjaran Bandung. Puncaknya Udi pernah sebagai anggota Tim Penilai Pusat Penelti (2008-2014), mewakili Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Atas kinerjanya untuk kemajuan ilmu kebumian Indonesia, Udi dianugerahi penghargaan Satya Lencana Karya Satya XX pada tahun 2000 dari Presiden RI. Dan sebagai puncaknya, ia meraih gelar Profesor Riset pertama di lingkungan Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Penulis: Atep Kurnia Fotografer: Deni Sugandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>