Tiga-Menguak-69

Kuasa Alam atas Sistem Iklim Global

Pesona-Bumi-Dieng9

Pesona Bumi Dieng

13/04/2015 Comments (0) Resensi Buku

Tiga Menguak Tambora

Tiga-Menguak-71

Tiga-Menguak-70Akhir-akhir ini terbit banyak buku mengenai Tambora. Kenyataan ini tidak mengherankan karena sebentar lagi Tambora akan memperingati ulang tahun letusannya yang kedua abad pada bulan April tahun 2015. Di antara yang banyak itu, ada tiga buah buku dalam kurun 2012 – 2014 yang menonjol, yaitu karya Bernis de Jong Boers (2012), William dan Nicholas Klingaman (2013), dan Gillen d’Archy Wood (2014).

Dalam bahasa Indonesia sebuah buku yang merupakan terjemahan dari karya Bernice de Jong Boers telah diterbitkan oleh Penerbit Ombak di Yogyakarta pada tahun 2012. Terjemahan ini dipadukan dengan karya Helius Sjamsuddin dan dilampiri dengan tulisan sejarawan Universitas Indonesia Adrian B. Lapian tentang Krakatau. Buku setebal 118 halaman ukuran A4 ini telah berhasil memukau pembacanya dengan lebih dalam membahas dampak letusan dahsyat Tambora pada bulan April 1815. Sumber terjemahan disebutkan yaitu “Mount Tambora in 1815: A Volcanic Eruption in Indonesia and Its Aftermath” yang ditulis oleh Bernice de Jong Boers dalam Jurnal Indonesia yang terbit pada volume 60 tahun 1995. Tulisan kedua, judul aslinya adalah “Letusan Gunung Tambora tahun 1815: Caesure Sejarah”, terbit pada 2006.

Bernice de Jong Boers bercerita tentang dampak luas yang diakibatkan aerosol (abu gunung api) di Eropa dan daratan Amerika. Pada intinya dampak yang timbul adalah kelaparan yang menyebabkan perubahan tingkah laku manusia. Pada kondisi buruk itu wabah kolera menyebar dari Gangga di India ke seluruh dunia. Penulis kedua menekankan bagaimana letusan Tambora 1815 telah mengubah perjalanan sejarah, khususnya di Sumbawa. Hilangnya kerajaan dan munculnya kekuasaan baru dengan teritorinya yang berubah.

Tiga-Menguak-69Pada 2013 muncul buku The Year Without Summer: 1816 yang disusun oleh William dan Nicholas Klingaman. Secara panjang lebar, bahkan terasa bolak-balik, isinya menguraikan penderitaan dan kelaparan yang menimpa penduduk Eropa dan Amerika sebagai dampak letusan Gunung Tambora 1815. Udara dingin dan badai salju sepanjang tahun dari 1816 hingga 1818 telah menyebabkan kelaparan, kematian, keresahan sosial yang mendorong perubahan politik. diceritakan bagaimana penduduk Amerika merambah makin ke Barat dan menekan terus bangsa Indian. Negara ini segera mengalami malaise. Harga roti melambung dan perampokan yang merajalela di mana-mana. Semua peristiwa itu diungkap dari catatan-catan lama yang dahulu mungkin tidak menarik perhatian. Buku berukuran 24 x 16 cm dengan ketebalan 335 halaman ini diterbitkan oleh San Martin’s Griffin, New York. Karena berulang-ulang menceriterakan penderitaan, buku ini membosankan.

Tahun berikutnya (2014) terbit buku yang berjudul, Tambora, The Eruption that Changed the World” yang ditulis oleh Gillen d’Archy Wood. Buku 293 halaman dengan ukuran 24 x 16 cm ini diterbitkan oleh Princeton University Press. Buku ini berkutat lagi dengan penderitaan, dengan menambahkan cerita tentang penderitaan yang menimpa penduduk Cina di Yunan. Diceritakan bahwa sebuah keluarga menjajajakan anak bayinya di pasar untuk mendapatkan uang buat membeli makanan. Semua ini terungkap dari puisi-puisi kuno yang ditulis antara tahun 1816 sampai 1820. Pada musim yang terus-menerus dingin ini terpaksa penduduk Yunnan mengubah pola tanaman ke tanaman heroin yang lebih menguntungkan. Dampaknya adalah meningkatnya peredaran candu yang kemudian diberantas melalui perang candu. Buku ini juga membosankan karena berulang kali bercerita tentang penderitaan.

Tiga-Menguak-71Ada kelebihan buku ini jika dibandingkan dengan buku sebelumnya. Dalam buku ini dimunculkan pertanyaan atau tantangan akan kemungkinan merekayasa aerosol seperti dikeluarkan oleh Tambora untuk mengatasi global warming. Tambora mampu menurunkan suhu dunia hingga 30 selama 3 tahun. Apakah mungkin manusia meniru Tambora dengan menyuntikan aerosol ke stratosfera? Suatu pertanyaan yang mungkin akan dijawab setelah manusia terdesak pada waktunya nanti.

Sebelum menyadari bahwa letusan gunung api dapat mempengaruhi iklim bumi, sajak-sajak dan berbagai catatan tentang penderitaan, kelaparan, keresahan sosial, penyakit, migrasi besar-besaran orang Amerika ke arah Barat, malaise dan banyak hal lagi, tidak mendapat perhatian, dan berlalu begitu saja. Dengan dipastikannya bahwa letusan gunung api dapat mempengaruhi pola iklim dunia seperti dibuktikan oleh letusan Krakatau 1883, semua arsip tua itu diungkap kembali, bahkan dihubung-hubungkan dengan peristiwa letusan gunung api. Buku Tambora, The Eruption that Changed the World rupanya diilhami oleh buku-buku sebelumnya yang membahas Tambora seperti Volcanoes in Human History (2002) karya Jelle Zellinga de Boer dan Donald Theodore Sanders. Penerbitnya pun sama, yaitu Princeton University Press.( Adjat Sudradjat)

Penulis adalah guru besar vulkanologi, Universitas Padjadjaran 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>