Sampurno-53

Sampurno Membangun Negeri dengan Geologi

Adjat-Sudradjat-1

Adjat Sudradjat Tinggi Gunung Selaksa Karya

07/05/2014 Comments (0) Profil

Surono Berdiri di Cincin Api

Surono-22
Surono-22

Surono Berdiri di Cincin Api

Ketika banyak orang terkesiap oleh letusan gunung api dan berlarian menjauhinya, Dr. Surono hadir dan siaga di pusat bencana. Ia membaca gelagat bencana seraya menggugah warga sekitar agar siaga. Ia menyiasati bencana seraya menenangkan masyarakat. Ia tampil di Cincin Api seperti bentara yang menjaga gunung api sehingga banyak orang menyapanya Mbah Rono. Terdidik di bidang Geofisika baik di Indonesia maupun di Prancis, Surono terpanggil pula untuk mempelajari gunung api sejak bergabung dengan Badan Geologi. Baginya, hal terpenting dalam mitigasi adalah manusia itu sendiri, bukan teknologinya. Teknologi mitigasi yang canggih sekalipun, bakal sia-sia jika masyarakat penghuni daerah rawan bencana tidak melek bencana. “Ketimbang membahas mitigasi di hotel-hotel berbintang, lebih baik orang turun ke lapangan,” begitulah katanya. Itulah yang ia sebut “mitigasi tanpa dasi dan roti”.

Kamis malam, 13 Februari 2014, Gunung Kelud di Jawa Timur meletus. Gelegar dahsyat terdengar. Kilat-kilat berkelebat. Dentuman terus berulang. Kerikil dan pasir terlontar. Suasana  sangat mencekam. Letusan kali ini terasa sangat kuat. Letusan pertama terjadi pukul 22.50, disusul letusan pukul 23.30.

Sebelum Kelud meletus, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menentukan status Kelud. Pada 2 Februari 2014, pukul 14:00, PVMBG meningkatkan status gunung itu dari “Normal” ke “Waspada.” Delapan hari kemudian Kelud naik lagi statusnya. Pada 10 Februari 2014 pukul 16:00, Kelud dinyatakan “Siaga”. Rekomendasinya, masyarakat di sekitar Kelud dan pengunjung tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak dalam radius 5 km dari kawah aktif.

Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya, tanggal 13 Februari 2014 pukul 21.15, Kelud dinaikkan menjadi “Awas”. Masyarakat dan pengunjung di sekitarnya pun diminta menjauh dalam radius 10 km dari kawah aktif.

Selang 95 menit setelah itu, Kelud meletus. Abu letusan menyebar hingga jarak ratusan kilometer. Hujan batu sampai ke Pare, hujan kerikil sampai ke Wates dan Nganjuk. Abu yang menyebar membuat jarak pandang di sejumlah wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimnewa Yogyakarta menjadi terbatas. Penerbangan dari bandara di Jawa Timur dan Jawa Tengah pun dibatalkan.

Surono-23

Surono

Pemerintah cepat tanggap menghadapi bencana alam itu. Jum’at pagi, 14 Februari 2014, pemerintah mengadakan Rapat Terbatas di kantor Presiden. Saat membuka rapat, Presiden SBY menyatakan, “Agenda pertemuan kita pagi ini adalah kegiatan tanggap darurat yang mesti kita lakukan menyusul terjadinya letusan Gunung Kelud tadi malam sekitar pukul 22.50 WIB. Tadi saya sudah mendapatkan penjelasan dari Menteri ESDM beserta Dr. Surono tentang apa yang terjadi termasuk apa yang sudah dilakukan sebelum letusan tadi malam hingga sekarang dan ke depan termasuk situasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah utamanya sebaran abu yang menggangu penerbangan di zona itu.”

Memang, pada rapat hari itu, SBY mula-mula meminta keterangan Menteri ESDM dan Surono. “Oleh karena itu, rapat kita hari ini untuk pertamatama mendengarkan secara sekilas dari Menteri ESDM dan kemudian Pak Rono tentang situasi terkini dan apa yang bisa terjadi pada hari-hari kemudian sehingga tanggap darurat termasuk bantuan dan pelibatan Pemerintah Pusat itu tepat. Itu yang menjadi fokus dan agenda kita pada pertemuan hari ini. Panglima TNI masih ada di luar negeri, namun KSAD, KSAL, KSAU, dan KASUM saya hadirkan agar pelibatan TNI betul-betul sesuai dengan kebutuhan di lapangan, dengan demikian akan menyukseskan kegiatan tanggap darurat yang ada di lapangan.”

“Sebelum kita lanjutkan, seperempat jam yang lalu, Sekretaris Kabinet mengajukan draf Keppres untuk pengangkatan Dr. Ir. Surono menjadi Kepala Badan Geologi ESDM, sudah saya tanda tangani dan dengan tugas baru, Pak Rono jalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Pak Rono adalah tokoh yang memiliki pengetahuan sangat luas tentang kegunungapian di Indonesia, juga pakar vulkanologi pada tingkat internasional dan selama ini menangani semua ma

Surono-24

Menerima ucapan selamat setelah menerima Bintang Jasa Utama dari Presiden RI pada perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2011.

salah keerupsian termasuk erupsi gunung-gunung berapi dengan tugas baru ini langsung bekerja, langsung berangkat ke lapangan menjalankan tugas dengan baik, bersama tentu Kepala Pusat Vulkanologi yang ada sekarang Saudara Hendrasto, saya kira yang bersangkutan sudah ada di lapangan,” kata SBY.

Keputusan Presiden SBY itu sangat wajar. Surono yang saat itu menjabat sebagai Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, sebelumnya adalah Kepala PVMBG yang bertugas dari 2006 hingga 2013. Tentu saja Surono sangat kompeten menangani gunung api berikut bahaya letusan serta ihwal mitigasi bencana alam lainnya. Kepakaran Surono di bidang tersebut dikenal luas. Menteri ESDM Jero Wacik, sesaat setelah mengikuti Rapat Terbatas, menyatakan pendapatnya tentang Surono. Katanya, “Beliau ahli gunung api, sudah pengalaman luar biasa. Banyak sekali beliau ditempa oleh pengalaman mengurus gunung api di Indonesia dan juga sekarang menjadi pakar gunung api di dunia. Jadi kalau ada seminar gunung api di dunia, di Italia, di manapun biasanya Pak Surono selalu jadi salah satu yang diundang. Jadi penghargaan dunia kepada kepakaran beliau.”

Titian Karier
Sejatinya Surono adalah seorang ahli geofisika. Lelaki kelahiran Sidareja, Cilacap, Jawa Tengah, 8 Juli 1955, itu menyelesaikan studi S1-nya dari Institut Teknologi Bandung (1982). Untuk bahan skripsinya di Jurusan Fisika yang dimasukinya sejak tahun 1977 itu, ia menyusun penelitian seputar analisis data refraksi seismik dengan menggunakan metode Hagiwara, Masuda dan Kaneko.

Pada tahun ia lulus kuliah pula, Surono bergabung dengan Direktorat Geologi. Ia terpanggil menekuni kegunungapian setelah pengalamannya membawa seorang periset Amerika Serikat ke Gunung Galunggung, Jawa Barat, tahun 1982. “Saya masuk vulkanologi itu bukan tertarik pada ilmunya sebenarnya. Saya dulu calon dosen ITB. Begitu pada tahun 1982, saya diminta Pak Lilik Hendrajaya menemani kawannya dari Wisconsin ke Galunggung

Surono-25

Mendampingi para pejabat asing saat mengunjungi Gunung Tangkuban Parahu.

. Gunung tersebut waktu itu sudah meletus. Saya melihat bagaimana pengungsi begini-begitu. Di situ, saya tidak melihat gunung apinya, tetapi melihat orang-orang yang mengungsi, dan lain-lain. Dari situ, saya menyadari bahwa mitigasi bencana geologi apapun, subyeknya manusia, bukan ilmu, karena ilmu hanyalah alat,” ungkap Surono.

Untuk mendalami ihwal kegunungapian, kemudian, ia mengasahnya dari berbagai lembaga dunia, seperti dari Unesco (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan USGS (sebuah lembaga Survei Geologi AS).

Hingga tahun 1986, ia bekerja sebagai seorang staf Divisi Pengamatan Gunungapi. Setahun kemudian, ia punya kesempatan untuk melanjutkan studinya ke Grenoble University. Dari kampus yang ada di Prancis itu, ia memperoleh gelar D.E.A Mechanique Milieux Geophysique et Environment pada tahun 1989.

Kesempatannya untuk melanjutkan studinya kian terbuka. Terbukti, setelah lulus dari Grenoble University, Surono meneruskan studinya ke jenjang doktoral di Savoie University, Chambery, Prancis hingga selesai pada tahun 1992. Saat itu ia berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Etude de phenomenes physiques observes lors d’une intrusion magmatique: Cas du volcan Kelut et de la Caldaeira de Long Valley.

 Di tahun ketiganya kuliah di negeri Napoleon itu, Surono memboyong istri tercintanya Sri Surahmani yang dinikahinya saat Surono kuliah S1 dan yang memberinya dua orang putri, Amy Rahmawati dan Bestri Aprilia.

Sekembali ke tanah air, Surono dipercaya sebagai Kepala Vulkano Fisika antara 1993-2001. Setelah itu, ia menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana Geologi (2001-2006). Antara Agustus 2006 hingga Juli 2013 ia diangkat sebagai Kepala PVMBG. Selain mengawasi setidaknya 69 gunung api aktif di Indonesia, Surono juga harus memantau berbagai bencana dari gempa, tsunami hingga banjir bandang dan tanah longsor.

Selama bergiat menekuni gunung api Indonesia, Surono sering kali menulis dan menyampaikan pendapatnya terkait kegunungapian Indonesia pada forum ilmiah yang diikutinya di dalam maupun di luar negeri. Ia antara lain pernah menulis Eruption du volcan Kelut (Java East, Indonesia), de Fevrier 1990 Analyse preliminaire des observation geologiques et geophysiques (1991); Characteristic of volcanic earthquake proceeding the eruption of Kelut
Volcano, Indonesia, on February 10, 1990 yang disajikannya di Mainz, Jerman; Seismic precursors of February 10, 1990 eruption of Kelut volcano, Java(1995); “Risques volcaniques en Indonesie; le cas du Kelut (East Java)”, Volcanism and Natural Hazard in Indonesia Archipelago, Result and Perspectives (2001); “Landslide Hazard Mitigation in Indonesia,” dalam Volcanism and Natural Hazard in Indonesia Archipelago, Result and Perspectives (2001); dan High explosive 2010 Merapi eruption : evidence for shallow-level crustal assimilation and hybrid fluid
(2012).

Surono-26

Bersama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Surono menjelaskan perihal kebencanaan geologi.

Selain itu, antara tahun 2002-2007, Surono pernah terlibat penelitian dengan Michel Halbwachs dari Universitas Savoie, Prancis. Mereka berdua melakukan penelitian pada suara akustik dan suhu Gunung Kelud. Ia lalu menggunakan alat akustik yang bisa merekam suara frekuensi tinggi. Dasarnya sangat sederhana, Sarjana Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tertarik dengan bayi yang mampu mendengar suara sekecil apa pun. Padahal, suara itu tidak terdengar oleh orang dewasa. Alat akustik inilah yang diharapkan Surono mampu menangkap gerakan tubuh Gunung Kelud.

Dan pada tanggal 15 Agustus 2013, ia naik pangkat menjadi Eselon I dengan jabatan Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup. Di pundak Surono, berbagai persoalan seputar tata ruang dan lingkungan itu diamanatkan, untuk diperoleh solusinya yang jitu, guna memperlancar program-program di sektor energi. Akhirnya, Surono ditetapkan menjadi Kepala Badan Geologi sebagaimana disampaikan Presiden SBY pada 14 Februari 2014.

Mbah Rono Menangani Gunung Api

Surono-27

Memberikan keterangan pers ihwal letusan Merapi 2010 di BPPTK Yogyakarta.

Surono sangat berpengalaman menangani gunung api. Hal yang paling menonjol tentu saja saat ia menjabat sebagai Kepala PVMBG. Surono disibukkan dengan berbagai aktivitas yang terjadi di negeri ini. Dalam hal tersebut, ia mengaku bertanggung jawab pada naiknya status Gunung Kelud (2007), Sinabung (2010), Merapi (2010), Lokon (2011), dan Dieng (2011).

Pada 16 Oktober 2007, Surono bertanggung jawab menaikkan status Kelud menjadi “Awas”. Implikasinya penduduk dalam radius 10 km dari gunung harus menjauh, harus mengungsi. Meskipun akibat aktivitas tahun 2007 yang memunculkan kubah lava dan danau kawah nyaris sirna itu, pada akhirnya Kelud tidak meletus. Dan sejak 8 November 2007, karena aktivitas pelepasan energinya semakin berkurang, maka status Kelud diturunkan menjadi “Siaga”.

Untuk menangani aktivitas Kelud 2007, Surono rela menginap selama seminggu di pos pemantau aktivitas Kelud. Posisi Kelud yang berada di Jawa menjadi alasan utama karena rentan munculnya korban, jadi perhatian dunia. Begitu Kelud berstatus “Awas”, Surono datang lagi ke Kediri. Bahkan, supaya tidak kecolongan, ia memutuskan turun langsung ke Kelud. Tiap hari, ia terus berkoodinasi dengan seluruh ahli gunung api yang bertugas di pemantau.
Ia meminta pendapat masing-masing penanggung jawab gunung api dalam menentukan naik turunnya status.

Dari pengalaman menangani Kelud, Surono beroleh julukan Mbah Rono. Katanya, “Panggilan itu berawal dari Ibu Ani Yudhoyono pada 2007, saat terjadi letusan Gunung Kelud. Barangkali untuk membedakan dengan sekitar 11 mbah di sana yang rata-rata peramal. Tapi panggilan itu baru melekat kuat atau populer pada 2010, saat Presiden SBY di depan banyak media memanggil saya Mbah Rono. Saya tidak risi. Bahkan, di Sinabung, pun saya juga dipanggil Mbah.”

Surono-28

Diundang sebagai narasumber dalam acara “live” salah satu tv swasta.

Gunung Sinabung di Sumatra Utara meletus pada 27 Agustus 2010. Kemudian, pada 7 September 2010, gunung di Tanah Karo ini kembali metelus dan menjadi letusan terbesar sejak gunung ini aktif lagi pada 2010. Letusannya terdengar hingga jarak 8 kilometer. Debunya menyembur hingga 5.000 meter di udara dan menutupi sebagian Kota Medan. Surono menaikkan status Sinabung menjadi “Awas” setelah gunung api itu terlelap tidur lebih dari 400 tahun. Letusan 27 Agustus 2010 menyebabkan Sinabung berubah status dari gunung api Tipe B menjadi Tipe A. Sebanyak 12.000 warga di sekitarnya dievakuasi mendadak.

Kemudian, saat Gunung Merapi ditingkatkan statusnya dari “Siaga” menjadi “Awas” pada 25 Oktober 2010 pukul 06.00 WIB, Surono pun ikut bersiaga. Sejak 21 Oktober 2010, ia mengamati lekat-lekat gejolak yang terjadi di Merapi, hampir detik ke detik. Ia mengambil alih pemantauan dan mitigasi bencana yang sebelumnya dipegang BPPTK. Sejak saat itu seluruh data pemantauan instrumental dan visual Merapi diolah, diserap, dan dianalisisnya untuk mengambil keputusan-keputusan penting,khususnya terkait dengan keamanan warga di sekitar Merapi.

Memang, sejak berstatus “Waspada” pada September 2010, Merapi “bertingkah” aneh. Tahapan-tahapan letusan yang biasa terjadi seperti dilanggarnya sendiri. Oleh karena itu, Surono pun mengimbanginya. Merapi dinaikkan “Awas” pada 25 Oktober 2010, tanpa menunggu titik api berhenti. Keesokan harinya, Merapi meletus dahsyat. Ribuan orang bisa saja menjadi korban jika sehari saja status Awas terlambat dinaikkan. Kemudian Surono menarik jarak aman dari hanya 5 km dari puncak menjadi 10 km dan akhirnya 15 km dari puncak. Ratusan ribu orang pun mengungsi. Merapi kemudian mencapai puncak letusan pada 5-6 November.

Saat-saat letusan Merapi 2010, keterangan dan pendapat Surono sering dikutip berbagai media. Hampir setiap hari ia muncul di layar kaca, media online, radio, hingga media cetak. Setiap pernyataannya selalu menjadi acuan bagi liputan detik demi detik perkembangan gunung di perbatasan Jawa Tengah-Yogyakarta itu.

Demikian pula saat Gunung Lokon menunjukkan aktivitasnya pada 2011. Surono berada di balik keputusan dinaikkannya status Lokon pada hari Minggu 10 Juli 2011 dari “Siaga” menjadi “Awas”. Keputusan tersebut menyelamatkan ribuan jiwa, karena empat hari kemudian, pukul 22.45, gunung yang ada di Kawah Tompaluan itu meletus. Letusannya melontarkan material pijar, pasir, dan hujan abu mencapai 1.500 meter. Selanjutnya, letusan kembali terjadi pada Jumat dini hari sekitar pukul 01.30 dengan lontaran material vulkanik mencapai 600 meter. Letusan ini mengakibatkan ribuan warga di beberapa desa mengungsi ke Tomohon dan Manado.

Surono-29

Surono memberikan keterangan mengenai longsor di Cililin, Bandung Barat.

Kemudian ketika Sinabung meletus lagi bulan September 2013, meski Surono tidak menjabat lagi sebagai Kepala PVMBG, ia menjadi salah satu pakar yang ditugaskan menteri ESDM ke sana. “Begitu Sinabung meletus awal September, saya ditugaskan ke sana. Sejak 2010, saya sudah mengedukasi masyarakat di sekitar Sinabung lewat pendeta dan tokoh agama. Saya mengajak masyarakat Sinabung bersinergi dengan masyarakat Merapi. Mengundang mereka ke Jakarta di United Nation for Humanity Affair untuk berbagi pengalaman dan mendapat pembelajaran dari masyarakat Merapi,” ujar Surono.

Selain aktivitas kegunungapian, ia disibukkan pula dengan upaya mitigasi bencana geologi lainnya. Di antaranya, ia terlibat sebagai koordinator pemantauan lumpur Sidoarjo (2006), koordinator tim ESDM untuk gempa bumi Padang (2009), ikut terlibat dalam proyek Mitigate and Assess Risk from Volcanic Impact on Terrain and Human Activities (2008-2012), dan mempersiapkan Blue Print Strategi Pemantauan Gunungapi di Indonesia (Pengembangan Teknologi Pemantauan Gunungapi untuk Peringatan Dini Erupsi Gunungapi Tahun 2010-2014).

Mitigasi Tiada Henti

Surono-30

Mendampingi wamen ESDM yang berkunjung ke kantor PVMBG, saat Surono menjabat kepala pusatnya.

Kepulauan Indonesia merupakan bagian dari Cincin Api (Ring of Fire). Kecuali Kalimantan, hampir semua pulau di Nusantara dikelilingi oleh gunung api. Semuanya mencapai 129 gunung api yang masih aktif, atau 13% dari jumlah keseluruhan gunung api di dunia.

Di satu sisi, keberadaan gunung api, di Indonesia menurut Surono, sebenarnya berkah, karena material letusannya membuat tanah subur dan nyaman, serta air berlimpah. Karena itu, ada sekitar 4 juta jiwa masyarakat Indonesia bermukim dan beraktivitas di daerah rawan gunung api. Semua daerah di gunung api aktif memiliki produk unggulan. Contohnya daerah Karo dengan Sinabungnya memiliki jeruk Medan yang terkenal. Lembang jadi penghasil sayuran karena ada Tangkubanparahu, begitu juga dengan Garut yang terkenal dengan tomat dan jeruknya karena di sana ada Guntur dan gunung api lainnya. Belum lagi potensi energi panas bumi.

Namun, di sisi lainnya, gunung api berpotensi menimbulkan bencana kebumian, berupa letusan gunung api. Dalam hal ini, Surono berpendapat bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api harus mengalah dulu apabila gunung api tersebut menunjukkan tanda-tanda aktivitas bahkan meletus. Filosofinya, menurut Surono adalah living harmony with volcanoes (hidup harmonis bersama gunung api). Karena menurutnya, “Manusia tidak mungkin mengalahkan alam. Dan alam ini tidak hanya dapat didekati dengan sains. Karena alam itu berproses sehingga selalu berubah. Saya percaya termodinamika, bahwa letusan gunung api saat ini bergantung proses saat sekarang. Tidak harus sama dengan masa lalu. Kalau sama dengan masa lalu, mengapa gunung itu harus dipantau? Nanti juga akan begitu kan. Kalau alam seperti itu buat apa ada sains dan teknologi.”

Surono-31

Di tengah-tengah masyarakat, memilih jalan mitigasi tanpa roti dan dasi.

Untuk menghadapi gunung api aktif, menurut Surono, data dari pos-pos pengamatan gunung api (PGA) adalah lini pertahanan terdepan. Lini kedua ada di kantor Pusat Vulkanologi di Bandung (PVMBG). Selain itu, menurutnya, sistem peringatan dini yang dipasang harus disertai riset tentang karakter setiap gunung api. Riset itu penting, tetapi tetap harus berguna, harus bisa dipakai untuk mitigasi. Jangan sampai riset itu kesimpulannya masih kurang data dan perlu riset lanjutan. Namun, katanya, “Mitigasi tanpa riset itu ibarat orang buta menginterpretasi gajah. Riset memang penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana menyelamatkan manusia.”

Bila ada gunung api menunjukkan peningkatan aktivitasnya pada rangkaian Cincin Api Indonesia, Surono tampil seperti bentara yang menjaga gunung. Ketika banyak orang terkesiap oleh gunung api yang
“batuk-batuk”, kemudian berlarian menjauhinya, Surono hadir dan siaga di pusat bencana. Tenaga dan pikirannya dicurahkan untuk membaca gelagat bencana seraya menggugah warga sekitar agar siaga. Di saat-saat seperti itu, Surono akan tetap menerapkan prinsipnya, yaitu toleransi nol demi keselamatan jiwa manusia (zero tolerance for a safe life). Hal ini dibuktikannya saat terjadinya letusan Gunung Sinabung pada bulan September 2013.

“Pada September 2013, saya katakan kepada teman-teman di Karo agar siap-siap dengan kondisi letusan Sinabung. Ini maraton, bukan sprint. Dalam keadaan begitu, anda bukan sibuk membayangkan garis finish melainkan harus mengatur strategi, mengelola dan mempersiapkan tenaga untuk membuat tenang para pengungsi. Jangan terburuburu ingin melihat finish, karena anda akan habis duluan tenaganya. Peringatan dari siaga ke awas itu bukan untuk meramal kejadian letusan dan seberapa besarnya letusannya, tetapi itu adalah hak masyarakat untuk memperoleh perlindungan dari negara. Terus rekomendasi-rekomendasi itu pun hak masyarakat juga. Tolong dong hak masyarakat ini jangan pernah dilanggar. Ya, kan harus dilihat apa dan siapa yang membahayakan. Apa gunungnya atau orang yang membahayakan dirinya dengan melanggar haknya itu. Kan status Normal, Siaga, dan Awas itu merupakan hak gunung saat ia beraktivitas. Di sini teknologi hanya bisa mengetahui apa sih yang diinginkan gunung api itu. Selain itu, masyarakat juga harus mau dilatih dan dilindungi,” kata Surono.

Surono-32

Memberikan penjelasan kepada Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, di Jakarta Convention Center

Tentu saja, dalam hal ini, ia sangat mengedepankan peranan komunikasi dalam upaya mitigasi bencana geologi. “Saya berkali-kali mengatakan saya bukan subyek, tetapi masyarakat di sekitar gunung api itu yang menjadi subyeknya. Tetapi itu semua butuh komunikasi. Kalau menurut saya, bisnis dalam arti luas adalah komunikasi. Tanpa komunikasi sudah pasti bisnis gagal. Oleh karena itu, ketika pertama saya ditugaskan oleh menteri ESDM ke Sinabung, saya melihat satu hal. Waktu itu masih status Siaga. Tiga kilometer radius bahayanya. Pengungsinya ada 17 ribu. Padahal saya kan menangani Sinabung dari 2010. Saya gagal masuk melalui Pemda, waktu saya masih kepala PVMBG. Maka saya masuk lewat channel mana pun,” ujarnya.

Bulan Januari 2014, atas penugasan menteri ESDM, Surono datang ke Sinabung untuk melakukan sosialisasi. Di dalam satu ruangan ia dikepung oleh warga dari tiga desa. Ia bercerita, “Bapak-ibu tahu tidak mengapa daerah Karo sangat subur?” Tidak ada yang tahu alasannya. “Ingin tahu?” Ia mengatakan bahwa 800 tahun yang lalu Sinabung meletus kemudian abunya menyebar ke daerah Karo dan sekarang menjadi daerah yang sangat subur. Oleh karena itu, selama ratusan tahun kemudian manfaat Sinabung itu bisa dinikmati. Sekarang ini Sinabung akan memberikan kesuburan yang baru. “Dua puluh tahun ke depan bapak dan ibu akan menikmati kesuburan Sinabung. Tuhan menggunakan Sinabung untuk memberikan berkah kepada Anda. Adakah di sini yang berkeberatan dan mengeluh dan terangkan mengapa? Waktu itu tidak ada seorang pun yang mengacung protes. Anda tidak usah dulu pulang, karena rumah dan lahan sudah habis. Untuk apa pulang.” Saat akhirnya Surono menerima kabar ada yang meninggal di Sinabung, ia mengaku sangat heran mengapa setelah ia peringatkan masih jatuh korban.

Prinsip Surono yang mengedepankan toleransi nol memang sejalan dengan tugas pokok lembaga PVMBG yang bertugas melaksanakan penelitian, penyelidikan, perekayasaan dan pelayanan di bidang vulkanologi dan mitigasi bencana geologi.

Prinsip Surono di atas juga bersambungan dengan visi dan misi Badan Geologi, yang menjadi tempat bernaung PVMBG. Visi lembaga yang berada di Kementerian ESDM ini mengedepankan geologi untuk perlindungan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam wujud nyatanya, visi ini bertaut dengan misi mempromosikan geologi, mengungkap potensi sumber daya geologi, mengungkap potensi bencana geologi dan mendorong penerapan geo-sciences.

Selain itu, prinsip tersebut juga dilatari oleh rasa kasih-sayang yang mendalam yang tumbuh dalam diri Surono kepada sesama manusia. Oleh karena itu, ia mengatakan, “Ingat sains dan teknologi itu hanya tercipta dari pengalaman. Bagaimana saya bisa melampaui alam itu sendiri? Saya hanya bisa melakukan pekerjaan sesuai dengan batasan saya. Itupun dengan intuisi karena mempunyai pengalaman serta mencintai yang dikaji. Manakala tidak mencintai betul, tidak akan terasa klik dengan apa yang dikaji. Manakala ada suatu passion atau gairah untuk mencintai yang dikaji, maka terjadilah pencarian terus-menerus pada pertanyaan-pertanyaan yang muncul atas obyek tersebut. Pada saya, passion itu bukan hanya karena kegunungapiannya, melainkan bagaimana menyelamatkan nyawa manusia.”

Surono-33

Berpakaian khas Jawa, menaungi sang istri, dalam acara siraman pernikahan putrinya.

Oleh karena itu pula, demi kepentingan rasa cinta kepada sesama itu, Surono mengajak semua pihak yang terpaut dengan mitigasi bencana geologi untuk bekerja cerdas, cepat, dan berani. “Kalau cepat saja, tetapi tidak punya kecerdasan itu mirip badak yang kerjanya menyeruduk saja. Memiliki kecepatan dan kecerdasan tetapi tidak punya keberanian itu juga nothing. Jadi harus ada tiga landasan itu. Karena kalau kita terlambat, banyak orang bisa menjadi korban. Terus keberanian, anda tentukan 10 km ya harus dipatuhi 10 km,” katanya.

Atas dedikasinya untuk kemanusiaan, Surono mendapatkan beberapa penghargaan. Antara lain ia menjadi juara terfavorit pada kategori Sistem Peringatan Dini yang diselenggarakan Kementerian ESDM, 2008; memperoleh anugerah Parwata Reksa Utama dari Universitas Gadjah Mada, 2010; anggota kehormatan BPD PHRI, Yogyakarta 2010; Ganesha Widya Jasa Adiutama dari Institut Teknologi Bandung, 2011; anugerah Bintang Jasa Utama dari Presiden RI, 2011; Cendekiawan Berdedikasi dari Harian Umum Kompas, 2012; dan Satya Lencana Pembangunan dari pemerintah Indonesia.

Di balik penampilannya yang sederhana, Surono adalah sosok yang cerdas dan sangat humanis. Ia terbiasa bekerja keras, meski harus maraton selama sekian waktu tanpa jeda. Namun, ia tak pernah mengeluh. Itu semua dilakukannya demi keselamatan dan demi hajat hidup orang banyak, yang tentu membutuhkan informasi terkait dengan potensi bencana geologi yang bisa jadi mengancam mereka.

Masyarakat, menurut Surono, harus dipersiapkan sedini mungkin untuk menghadapi berbagai kemungkinan apabila terjadi bencana, termasuk skenario terburuk. Itu sebabnya pemahaman yang terus berkesinambungan kepada masyarakat harus senantiasa dilakukan, agar toleransi nol demi keselamatan jiwa manusia bisa terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, Surono lebih memilih sosialisasi yang tidak formal seperti di gedung atau hotel-hotel. Ia lebih terjun langsung ke lapangan, ke tengahtengah masyarakat. Di saat-saat demikian, Surono menunjukkan sikap akrab, tegas, terbuka, dan jujur. Ia memilih jalan mitigasi tanpa roti dan dasi. Ia terjun mengabdi di tengah cincin api.

Penulis: Atep Kurnia Pewawancara: Priatna, T. Bachtiar, Atep Kurnia Fotografer: Gunawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>