Adjat-Sudradjat-1

Adjat Sudradjat Tinggi Gunung Selaksa Karya

Dwikorita Karnawati-1

Dwikorita Karnawati, Memadukan Sosioteknika dalam Mitigasi Bencana

01/09/2014 Comments (0) Profil

Sujatmiko Berkah di Balik Batu Mulia

Sujatmiko-30
Sujatmiko-30

Sujatmiko Foto: Deni Sugandi

Cobaan datang silih berganti. Mulanya dari dunia kampus, pemetaan geologi,  kemudian terserak ke perminyakan. Diselang lontang-lantung, tetapi berbekal kesabaran dan kegigihan, akhirnya, Sujatmiko bertemu berkah di balik batu mulia.

Sore itu cuaca cerah. Laju kendaraan mengarah ke Jalan Pajajaran, Bandung. Kami hendak menuju ke galeri ahli geologi sekaligus ahli batu mulia, Sujatmiko. Di depan Jalan Pajajaran No 145, terpampang tulisan “Gem-Afia” dan “Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia”.

Di depan pintu, gundukan fosil-fosil kayu yang sudah keras membatu menyambut. Terlihat fosil kayu panjang, disimpan di tengah ruangan. Juga berbagai jenis batu berukuran besar nampak memenuhi galeri ini. Beraneka bentuk dan warna batu mulia terlihat. Sebagian dipajang dalam rak-rak kaca. Bangunan ini dijadikan ruang pameran, tempat konsultasi dan jualbeli batu mulia.

Tuan rumah mempersilakan kami memasuki ruangan yang nampaknya dijadikan kantor. Selama beberapa jam kami berbincang seputar aktivitas Sujatmiko sejak kecil, menempuh studi, bekerja, dan menekuni batu mulia sehingga berhasil mendirikan perusahaan “Gem-Afia”dan “Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia” ini.

Jalan Masuk ke Dunia Geologi
Nama lengkapnya H. Ir. Sujatmiko, Dipl. Ing. Sapaan akrabnya Miko dan dikenal di kalangan masyarakat batu mulia sebagai Mang Okim. Ia lahir di Pamekasan, Madura, pada 24 Oktober 1941. “Masa kecil saya lewati di pulau yang terkenal dengan garam dan karapan sapinya, sampai kelas 2 SMP. Pada tahun 1956, mengikuti orang tua pindah ke Surabaya, diterima di SMPN I Pa

Sujatmiko-31

Miko (jongkok paling kiri depan) bersama teman-temannya di SMAN 2 Wijayakusuma, Surabaya (1958). Sumber: Koleksi Sujatmiko

car. Lulus SMAN II Wijayakusuma Surabaya, melanjutkan studi di Jurusan Teknik Geologi ITB pada tahun 1960,” kenang Miko.

Keputusannya untuk belajar di dunia geologi karena terdorong oleh buku-buku yang dibacanya. “Saya masuk geologi itu karena terinspirasi oleh buku-buku Karl May yang saya baca ketika masih di SD. Waktu itu hanya 12 mahasiswa saja yang masuk ke jurusan geologi,” ujar Miko.

Namun, selama studi di geologi itu ia sering beradu argumentasi dengan kakaknya yang tertua. Kakaknya meminta Miko masuk jurusan kimia teknik karena gampang cari pekerjaan. Ibunya pun sering menangis, karena mengira yang dinamakan geologi itu pekerjaannya membelah batu untuk dibikin jalan. Yang jelas, menurutnya, waktu dia masuk ke jurusan geologi tahun 1960 itu, jurusan tersebut memang kurang diminati. Miko mengakui bahwa sebenarnya, ia bercita-cita masuk ke akademi militer. Namun, karena alasan kesehatan dan karena ia anak bungsu, maka Miko mengurungkan niatnya masuk ke dalam dinas kemiliteran.

Setelah masuk ITB, mula-mula Miko tinggal bersama kakaknya di Hotel Preanger selama setahun lebih. Waktu itu kakaknya menjabat sebagai Wakil Direktur Perusahaan Industri Angkatan Darat (Pindad), Bandung. Kemudian Miko mengikuti kakaknya pindah ke Jalan Dr. Rivai. Setelah dua tahun tinggal di sana, Miko kemudian pindah ke Plan Cisitu. Tidak berapa lama, ia diterima sebagai penghuni Asrama Barrac ITB selama 3 tahun (1963-1966).

“Saat kuliah di ITB, sampai tahun ke tiga, saya belum tahu mau ambil spesialisasi apa. Pak Zen (M.T. Zen – red) pernah meminta saya untuk menggeluti dunia vulkanologi, namun, akhirnya saya jadi asisten mikropaleontologi, membantu Pak Suyitno dan Pak Harsono,” kenang Miko.

Memasuki tahun 1965, saat terjadinya Gestapu, Miko sedang mempersiapkan skripsi mengenai struktur geologi di daerah Gunung Kidul, di bawah bimbingan Sukendar Asikin. “ Sejak tahun 1963, saya diangkat oleh Muslimin Nasution yang ketika itu menjadi Ketua Dewan Mahasiswa untuk menjadi Ketua Bidang Dakwah Islam. Sebagai rasa tanggung jawab, sehubungan dengan beredarnya isu adanya penyusupan paham komunis dalam organisasi mahasiswa, saya mengikuti masa percobaan untuk menjadi anggota CGMI. Setelah mengikuti beberapa kali pertemuan, saya jadi yakin akan kebenaran isu tersebut dan diam-diam meninggalkan organisasi itu”.

Meski demikian, karena pernah bersinggungan dengan organisasi terlarang, Miko kemudian diskors dari ITB selama setahun. Setelah mendapatkan rehabilitasi murni, Miko langsung mengikuti ujian sarjana dan lulus pada 11 Agustus 1967. “Selama musibah itu, alhamdulillah Pak Sukendar yang membimbing skripsi saya selalu membuka pintu
untuk konsultasi di rumah beliau yang asri, sehingga begitu direhabilitasi, saya bisa langsung mengikuti ujian,” ujarnya.

Dari Direktorat Geologi ke Dunia P

Sujatmiko-32

Miko dan Ai Mulyati 1967. Sumber: Koleksi Sujatmiko.

erminyakan
Pada tahun 1963, Miko diterima sebagai pegawai tugas belajar di Direktorat Geologi Bandung. Ia ikut membantu pemetaan geologi Tjia Hong Djin di daerah Subang. Itulah kali pertama Miko belajar kerja lapangan yang benar dari seorang dosen dan sekaligus ahli geologi idolanya.

Setelah empat tahun berstatus sebagai pegawai tugas belajar, Miko akhirnya lulus dari ITB pada tahun 1967. Tak hanya itu, beberapa bulan sebelum lulus, Miko bertemu dengan mojang Garut Ai Mulyati yang kemudian dinikahinya pada 22 Juni 1967 dan membuahkan tiga anak, yaitu Feni Kertikasyari, Mohamad Iman Santoso, dan Arinaka Trisuharno. Cucu Miko yang terbesar dari 5 cucunya telah lulus S-2 Universitas Parahyangan (Unpar) dan telah menyandang ijazah pilot komersial.

Selama masa kerja antara 1963-1973, Miko berhasil mempublikasikan hasil karyanya, yaitu Peta Geologi Bersistim Lembar Cianjur Skala 1:100.000 (Direktorat Geologi, 1972), Peta Geologi Regional Lembar Majene & Palopo Skala 1:250.000 (Direktorat Geologi, 1974), dan Peta Geologi Bersistim Lembar Leuwidamar Skala 1:100.000 (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1984).

“Peta geologi lembar Cianjur mendapat apresiasi langsung dari United States Agency for International Development (USAID) karena merupakan peta geologi bersistem pertama yang diterbitkan oleh Direktorat Geologi setelah Perang Dunia ke-2. Tadinya, Pak Sigit (Soetaryo Sigit – red) yang berminat memetakan lembar Cianjur itu, namun, karena kesibukan beliau sebagai Direktur Direktorat Geologi, akhirnya saya yang diberikan tugas memetakannya,” aku Miko.

Pemetaan lembar Cianjur dikerjakannya selama dua tahun, 1970 sampai 1972. Miko mengakui, “ Pengerjaannya tidak main-main, lho. Pengamatan geologinya sangat rinci, hampir seluruh sungai kecil dilintasi. Di dalamnya ada tiga sampai empat surveyor dan dua asisten geologi yang terlibat.”

Saat di Direktorat Geologi, Miko giat menulis di Berita Geologi. Ia yang pertama kali mengekspos endapan turbidit di kawasan Citatah. Ketika memetakan lembar Leuwidamar, Miko mengekspos hasil pengamatan arah sumbu fosil turritella dalam kaitannya dengan garis pantai di kawasan Lebak, Banten.

Ketika kesempatan melanjutkan studinya ke luar negeri tak kunjung tiba, Miko menerima tugas untuk diperbantukan dalam kegiatan eksplorasi minyak Total Indonesie di daerah Jambi selama enam bulan. Setelah kembali ke Bandung, dan mempertimbangkan masa depannya yang tidak menentu, akhirnya dengan perasaan sedih, pada 1973, Miko mengajukan surat lolos butuh dan keluar dari Direktorat Geologi. Tak berapa lama kemudian, Miko diterima bekerja di Total Indonesie Jakarta.

Di perusahaan minyak itu, Miko merasa sangat beruntung karena ikut terlibat dalam penelitian beberapa lapangan minyak penting di kawasan lepas pantai Kaltim dan bahkan menjadi well-site geologist-nya di awal-awal temuan lapangan minyak raksasa Handil di Delta Mahakam. Cadangan minyak lapangan ini ketika itu diperkirakan lebih dari 2 miliar barel dengan ketebalan endapan pasir di salah satu sumur bor-nya mencapai lebih dari 200-an meter.

Tahun 1974, Miko dipindahkan ke Total Balikpapan. Impian untuk dapat belajar ke luar negeri akhirnya terwujud ketika Total Indonesie mengirimnya bersama istrinya, tugas belajar ke Prancis di akhir tahun 1975. Setelah belajar bahasa Prancis di Lyon selama 7 bulan, Miko langsung menjadi mahasiswa S-2 di Institut Minyak Prancis IFP di Rueil-Malmaison, dekat Kota Paris.

Sujatmiko-33

Miko bersama sahabatnya, Ir. Djuri Rosidi dan Ir. Ramsi Ramelan, di halaman Kantor Direktorat Geologi Bandung (1970). Sumber: Koleksi Sujatmiko.

Pada tahun 1978 ia kembali ke Balikpapan dan empat tahun kemudian, 1982, dipercaya menjabat sebagai Kepala Departemen Geologi, membawahi sejumlah doktor Prancis dan banyak sarjana geologi Indonesia. Di saat-saat itulah Miko berperan aktif dalam penelitian lanjutan lapangan migas Total Indonesie, antara lain lapangan gas raksasa Tunu dengan perkiraan cadangan saat itu mencapai lebih dari 12 Triliun Cubic Feet (TCF). Saat di Balikpapan itu pula, Miko yang tak pernah diam, dipercaya menjadi ketua komisariat IAGI, ketua Ikatan Keluarga Madura, dan pengurus Paguyuban Warga Sunda.

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Dengan dalih security approach, rezim Orde Baru memecat Miko dengan alasan pernah terlibat dalam organisasi terlarang. Setelah tidak berhasil membela diri, dan setelah sempat dikarantina selama beberapa bulan, akhirnya Miko harus hengkang dari Total Indonesie dengan sanksi keras, yaitu dilarang menyentuh kegiatan migas. “Saat itu kami benar-benar hancur. Kami kembali ke Bandung dalam kondisi berantakan,” ungkapnya.

Bertemu Batu Mulia
Saat keluar dari Total Indonesie di akhir 1985, Miko sudah mempunyai tiga anak, Feni di SMA, Iman di SMP, dan Ari di SD. Iman dan Ari dititipkan ke tante mereka di Jakarta, dan Feni ikut Miko ke Bandung. Beruntunglah ia karena memiliki rumah hadiah pernikahan dari mertuanya yang bisa dijadikan tempat berlindung. Dengan cap pernah terlibat dalam organisasi terlarang membuat Miko bagaikan bara api. Banyak perusahaan enggan menerimanya bekerja. Agus Suparman, mantan atasan Miko di Direktorat Geologi, yang mula-mula memintanya untuk membantunya di Ingold, anak perusahaan Inco. Miko hanya memerlukan waktu beberapa bulan untuk dipercaya oleh kantor pusat Inco di Toronto, memimpin kegiatan eksplorasi emas di Kaltim yang melibatkan belasan ahli dari Direktorat Geologi. Hanya sayang, musibah kembali menimpanya. Dengan alasan yang sama, yaitu alasan security, Miko harus keluar dari lingkungan Ingold.

Perjuangan Miko untuk mempertahankan kehidupan dan eksistensinya tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas. Didukung oleh teman-teman lamanya, Miko sempat dipercaya sebagai konsultan dalam beberapa studi lapangan minyak, eksplorasi mineral, dan bahkan studi kelayakan industri semen di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah.

Akhirnya, guratan takdir membawanya ke dunia batu mulia. Ia sendiri mengakui bahwa bisnis batu mulia bermula secara kebetulan. Walau demikian, Miko sebenarnya telah berkenalan dengan batu mulia sejak lama. “Tanda-tanda ketertarikan saya pada batu mulia terjadi semasa SMA. Waktu itu, dalam kegiatan olahraga, saya menemukan sebuah batu cincin mirah siam yang tidak diketahui siapa pemiliknya,” ujar Miko.

“Ketika bekerja di Total Balikpapan,” sambungnya, “Saya sudah mulai mengoleksi batuan untuk kantor. Sampai sekarang, saya kira, koleksi saya satu rak penuh batu masih dipajang di kantor Departemen Geologi Total. Yang saya koleksi itu adalah batu gamping dan batu lempung warna-warni yang diperkirakan terbakar oleh gas metan. Fosil kayu dan mineral limonit saya kumpulkan juga saat itu.”

Sekembalinya di Bandung, untuk mengatasi rasa gundah-gulana dan kesepian, Miko memilih back to nature. Tahun 1986 misalnya, ia mengajak keluarganya berkelana ke tambang mangan Karangnunggal dan Pantai Cipatujah, Tasikmalaya. Waktu itu dia sempat mengamati dan memungut batu mulia yang berserakan di stanplat angkot Cikalong. Usai dari Tasikmalaya, ia mengajak anak-anaknya naik perahu pinisi ke kawasan Gunung Krakatau, mancing ikan, dan mendaki sampai ke puncak Anak Krakatau. Dalam kesempatan itu ia sempat mampir ke tambang emas Cikotok dan tambang opal di Lebak, Banten.

Pada tahun 1989, Miko diajak oleh Gunadi, rekannya di Aneka Tambang, untuk mencari tembaga alam di Bungbulang, Garut. Di sana ia bertemu dengan Ajengan Tosin, tokoh agama yang memperkenalkannya dengan beragam jenis fosil kayu. Itulah awal perjalanan hidup Miko di dunia batu mulia. Secara kebetulan, Miko ditawari seorang pengumpul batu, beberapa jenis batu Garut yang ketika itu harganya masih 300 rupiah perkilo. Tadinya Miko menolaknya karena tidak tahu mau diapakan.

Namun, setelah mendengar penjelasan 50-an truk bahan batu mulia dari Garut dibeli seorang pengusaha di Tangerang untuk diekspor mentah ke Taiwan, jiwa nasionalisme Miko tergugah dan langsung memesan satu truk. Pada pengiriman truk kedua, Miko baru tahu bahwa bahan batu mulia tersebut adalah apkiran dari pengusaha Tangerang dan harganya hanya 100 rupiah perkilo. Atas informasi itu, Miko pergi sendiri ke Bungbulang dan menemukan setumpukan batu mulia di rumah penduduk yang dibelinya dengan harga hanya 100 rupiah perkilo franko Bandung.

Setelah tiga truk batu mulia dimilikinya, ia mengakui tidak tahu cara memanfaatkannya. Namun, Miko tidak tinggal diam. Pengetahuan mengenai batu mulia terus digalinya, antara lain dengan membaca buku-buku batu

Sujatmiko-34

Miko dan tiga anaknya yang masih kecil, di puncak Gunung Anakkrakatau, ditemani oleh para awak perahu pinisi. Sumber: Koleksi Sujatmiko.

mulia yang dibelinya di Pasar Buku Bekas Palasari, Bandung. Miko juga banyak belajar dari orang-orang yang terlebih dulu memberdayakan batu mulia. Di sini, ia beruntung bertemu dengan Eem Sulaeman di Sukaraja, Sukabumi. Dari dialah Miko belajar cara memroses batu mulia menjadi produk perhiasan.

Mengenai peran Ajengan Tosin, Eem Sulaeman, sahabat dan pekerjanya, Miko menyitir pepatah Prancis. Katanya, “On a souvent besoin d’un plus petit que soi yang maknanya bahwa kita sering membutuhkan bantuan dari orang-orang yang lebih kecil dari kita. Merekalah yang selama ini banyak menolong saya, bukan orang-orang yang berkedudukan lebih tinggi dari saya. Saya amat berhutang budi kepada mereka!” Ibaratnya adalah seekor singa yang terjerat jaring pemburu, yang dibebaskan seekor tikus, bukan oleh gajah, singa, atau yang lainnya.

Antara Bisnis dan Konservasi
Roda kehidupan terus berputar, begitu pun dengan bisnis batu mulia yang diusahakan Sujatmiko. Berkah-berkah batu mulia pun mulai terkuak. Di saat kehidupannya mulai terjepit karena banyak berinvestasi di batu mulia, pada tahun 1993, salah satu koleksi batu mulianya akan dibeli Rp 100 juta oleh Probosutedjo. Namun, karena beberapa masalah prinsip, transaksinya batal.

Tak lama setelah itu, ia berhasil menjual koleksi lainnya seharga Rp 100 juta. Di tahun berikutnya, ia pun berhasil menjual batu mulia lainnya seharga Rp 45 juta. Kata Miko, “Kalau kita konsisten menekuni sesuatu dan selalu bertaqwa dan bersyukur, maka di saat kita merasa tidak berdaya lagi, insya Allah Tuhan akan menurunkan mukjizat-Nya.”

Untuk menampung sekaligus mengonservasi batu mulia yang banyak diekspor ke luar negeri, pada tahun 1994 Miko membeli tanah di Jalan Pasir Luhur No. 20, Desa Padasuka, Kecamatan Cimenyan. Tanah seluas 6.000-an meter persegi di Kabupaten Bandung itu ia jadikan lahan untuk mengonservasi ribuan ton batu mulia dari seluruh pelosok tanah air. Batu-batu mulia tersebut dipisahkan menurut daerah asalnya antara lain dari Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Lebak, Pandeglang, Purbalingga, Pacitan, Ponorogo, Solok Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Di antara batu-batu mulia itu banyak di antaranya yang berupa artefak batu prasejarah.

Pada tahun 1995, Miko mendirikan perusahaan yang diberi nama CV Gem-Afia dengan jumlah karyawan sekitar 30-an. Kata-kata “Gem-Afia” tersebut merupakan gabungan dari kata gem yang berarti batu mulia dan afia yang merupakan singkatan dari nama anggota keluarganya, yaitu istrinya Ai, dan ketiga putri-putranya, yakni Feni, Iman dan Ari.

Batu mulia Indonesia kemudian kian terangkat derajatnya. Di tangan Miko, bebatuan tersebut tidak hanya berhenti sebagai ornamen atau hiasan semata, melainkan dimuliakan dengan banyak cara lain, di antaranya yang bertautan dengan ihwal komunikasi. Pada 1997 sampai 2001, sebanyak 24 koleksi batu mulia Miko diabadikan dalam prangko Republik Indonesia seri khusus batu mulia. Batu mulia produknya bahkan ditempelkan sebagai hiasan di souvenir sheet sampul hari pertama.

Pada 2004, berkat konsistensi dan kegigihannya, batu mulia Indonesia kian berkibar di tangan Sujatmiko. Menteri Perindustrian dan Perdagangan saat itu, Rini Soewandi, sempat meresmikan Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia dan taman batu mulia yang dikelola Miko. Tempat mengonservasi batu-batu mulia di kawasan Pasir Luhur itu dilengkapi dengan bengkel pembuatan mesin dan workshop pelatihan batu mulia. Hingga kini, Miko telah sering kali menyelenggarakan pe

Sujatmiko-35

Penyerahan cenderamata untuk Menperindag Rini Soewandi seusai peresmian Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia (2004). Sumber: Koleksi Sujatmiko.

latihan kerajinan batu mulia yang mencakup 5 sampai 30 peserta dari berbagai daerah di tanah air.

Atas dorongan dan informasi Miko yang tidak suka melihat batu mulia Indonesia diekspor mentah tanpa nilai tambah, Menperindag Rini Soewandi kemudian mengirim surat kepada 15 gubernur ihwal batu mulia yang terancam habis karena dieksploitasi. Selanjutnya, Rini juga mengundang 21 bupati dalam pertemuan di kantor Depperindag dimana Miko diundang sebagai narasumber tunggal mengenai prospek dan permasalahan batu mulia Indonesia.

Implikasi dari rangkaian kegiatan itu dan atas saran dan masukan Miko, Menperindag Rini Soewandi kemudian menerbitkan Keputusan Menteri Nomor 385/MPP/Kep/6/2004 yang isinya mengenai larangan ekspor bahan-bahan mentah batu mulia khususnya fosil kayu. Keputusan tersebut langsung diumumkan oleh Presiden Megawati saat kunjungan resmi ke Rangkasbitung. Namun, Kepmen tersebut kurang disosialisasikan kepada para kepala daerah. Apalagi Presiden Megawati berikut para Menterinya lengser empat bulan kemudian, pada Oktober 2004. Akibatnya, kegiatan ekspor bahan mentah batu mulia tetap berlangsung, bahkan sampai saat ini.

Menurut Miko, “Potensi dan ragam batu mulia Indonesia terus bertambah dengan adanya temuan-temuan baru di berbagai pelosok tanah air.” Temuan yang cukup fenomenal antara lain opal di Lebak, Banten; krisopras di Garut selatan, Jawa Barat; krisokola kuarsa di Kepulauan Bacan, Maluku Utara; idokras di Solok Selatan, Sumatra Barat; giok nefrit dan idokras di Nagan Raya dan Gayo Luwes, Nanggroe Aceh Darussalam, dan lain-lain.

Sujatmiko-36

Miko memberikan pelajaran dasar tentang gemologi kepada calon pengrajin batu mulia dari kabupaten Jayapura (2014). Sumber: Koleksi Sujatmiko.

Tak Henti Mempromosikan Batu Mulia Indonesia
Semangat untuk terus memperkenalkan batu mulia Indonesia selalu membara di dada Sujatmiko. Untuk itu, ia sering menulis di media cetak maupun untuk kepentingan materi presentasinya seputar batu mulia. Tulisannya di media cetak mengenai batu mulia mulai muncul sejak 1991. Tulisan pertama dan keduanya berjudul “Batupermata Indonesia, Aset yang Hilang tanpa Inventarisasi” dan “Nasib Batupermata Garut, Emas di Negeri Orang, Batu di Negeri Sendiri”. Keduanya dimuat di HU. Pikiran Rakyat, edisi 15 April 1991 dan 18 Mei 1991. Sejak itu, tulisan-tulisannya sering kali menghiasi harian umum yang bermarkas di Kota Bandung itu.

Karya tulisnya juga dimuat dalam jurnal-jurnal ilmiah ihwal gemology antara lain “Opal from Banten, Indonesia, and its Varieties” dalam Journal of the Deutschen Gemmologischen Gesselschaft (September 2004, sebagai penulis pertama) dan “Chrysocolla Quartz from the Bacan Archipelago, South Halmahera Regency, North Maluku Province, Indonesia” dalam Journal Gemmology (2006, sebagai penulis pertama).

Tulisannya juga dimuat dalam buku Merahnya Batu Merah: Taman Jasper Tasikmalaya (2009, sebagai penulis dan penyunting) dan Misteri Batu Klawing, Jejak-jejak Peradaban di Purbalingga (2009, sebagai penulis dan penyunting). Tulisan-tulisan lainnya banyak yang berupa laporan valuasi, peninjauan, kajian dan reevaluasi batu mulia di tanah air.

Sebagai insan sosial sekaligus insan ilimiah, Sujatmiko berkecimpung di banyak organisasi. Ia aktif sebagai pengurus Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Sekretaris Jenderal Masyarakat Batu Mulia Indonesia (DPP MBI), Ketua Persatuan Penggemar Suiseki Indonesia (PPSI-Bandung), Ketua Masyarakat Batu Mulia dan Mineral (MBM Jabar), anggota Gemmological Association of Hongkong, Wakil Ketua Umum Bidang ESDM Kadin Jabar, Gubernur Rotary International Distrik Indonesia (2006-2007), Sekretaris Jenderal Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), Ketua Paguyuban Pensiunan Prospektor Geologi dan Tambang (PPPGT), Ketua Paguyuban Eks Bumi Barrac Indonesia (PBBI-ITB), dan beberapa organisasi lainnya.

Jejak langkah Sujatmiko menerakan sosok yang penuh kesabaran dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, sekaligus menampilkan profil yang selalu gigih memperjuangkan harapan dan citacitanya.

Dalam hal batu mulia yang menjadi pusat perhatian Miko selama ini, kita dapat melihat dua berkah sekaligus di balik batu mulia. Di satu sisi, ia berhasil mengonservasi dan mengangkat derajat batu mulia Indonesia, dan di sisi lainnya, dari berkah batu mulia itu pula, Sujatmiko dengan latar belakang kehidupan masa lalunya yang penuh goncangan, bisa berbisnis, meraih kesejahteraan hidupnya dan keluarganya.

Penulis: Atep Kurnia Pewawancara: Oman Abdurahman, Budi Brahmantyo, Atep Kurnia Fotografer: Deni Sugandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>