sukhyar-1

R. Sukhyar, Bentara Utama Sumber Daya Mineral Indonesia

Surono-22

Surono Berdiri di Cincin Api

28/01/2014 Comments (0) Profil

Sampurno Membangun Negeri dengan Geologi

Sampurno-53
Sampurno-53

Sampurno. Foto: Deni Sugandi

Selasa siang, menjelang tengah hari, 12 November 2013. Mobil hitam yang membawa kami memasuki kompleks perumahan di sekitar Dago, utara Kota Bandung. Mobil hitam berjenis mini bus ini memasuki jalan kecil, berbelok, dan berputar. Saat itu, kami tengah mencari rumah ahli geologi Sampurno. Setelah tanya sana-sini, akhirnya kami menemukan jalan yang benar. Ternyata Sampurno tinggal di Jalan Bukit Dago Utara II No 8.

 Setelah tiba di depan gerbang dan memijit tombol bel, Sampurno dan isterinya muncul dari balik pintu yang tertutup. Mereka menemui kami, menjabat tangan kami dengan hangat dan mempersilakan masuk. Ruangan dipenuhi buku-buku dan bebatuan. Kami diajak ke bagian belakang rumah, ke pelataran yang juga difungsikan sebagai garasi.

 Di sana, ada dua set kursi. Di sana-sini kehijauan tumbuhan terlihat, baik yang tumbuh di tanah maupun di dalam pot. Bebatuan beraneka ukuran dan warna terlihat. Perkakas sehari-hari dari daerah pedesaan terlihat pula. Kami memilih salah satu set kursi sebagai tempat kami berbincang dengan Sampurno, atau akrab disapa Sam.

“Ini koleksi pribadi dari Papua. Ini ada lobangnya, kalau sudah begini bisa cerita dari mana asalnya,” ujar Sam sembari menunjukkan koleksi bebatuannya yang dipernis mengkilat, ditata di meja-meja yang ada di sekitar garasi itu. Sam menunjukkan antara lain bebatuan dari Papua, Timor Leste, Tasikmalaya Selatan, dan Cilegon. Juga koleksi benda-benda kuno dari bebatuan dan barang-barang keperluan seharihari dari pedesaan.

Perbincangan pun dimulai, dengan ditingkahi suara kelotok yang tertiup angin dan sesekali ditimpali suara tekukur yang merdu terdengar. Dengan kenyamanan itu, tidak terasa perbincangan telah berjalan tiga jam lebih.

Dari perbincangan sekian lama itu, kami mencatat banyak hal yang dirasakan, dialami, dan dicitacitakan Sampurno setelah bergelut dan bergulat di dunia geologi. Latar belakang masa kecilnya serta awal mula ketertarikannya menggeluti dunia kebumian terungkap. Terbayang kekagumannya pada dosen-dosen geologi Belanda dan Eropa. Perkaitan geologi dengan pembangunan sebagai bentuk sumbangsihnya bagi perkembangan geologi di Indonesia.

Sampurno-54

Sampurno

Pandu ke Dunia Batuan
Sam lahir di Semarang, 2 Desember 1934. Ayahnya M. Koetojo dan ibunya Moendijah. Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas diselesaikan di tanah kelahirannya.

Sejak Sekolah Rakyat pada zaman penjajahan Belanda dan berlangsung selama tiga tahun, tumbuh rasa cintanya kepada cara guru-guru berpenampilan dan mengajar. “Waktu kecil, zaman SD Belanda sampai 3 tahun, saya itu suka mengamati guru-guru. Guru laki-laki suka pakai jas dan dasi, sementara guru perempuan suka pake kain kebaya. Sandalnya tinggi. Mereka sangat rapi dan disiplin terhadap waktu,” ujarnya mengenang.

Demikian pula ketika SMP dan SMA, Sam sangat mengagumi keluasan ilmu dan keterampilan cara menerangkan guru-gurunya. Katanya, “Guru SMP saya di Semarang, orang Cina, namanya Pak The. Waktu dia menjelaskan gunung dan segala macam itu kok dia tahu ya. Ada lagi yang memicu saya, guru sejarah di SMA Semarang. Terpikatnya karena cara mengajarnya yang serba tahu sampai rinci, misalnya mengenai Kerajaan Majapahit dan peran besar Gajah Mada.”

Saat itu pula, Sam bergiat dalam Pandu Rakyat Indonesia, atau Pramuka sekarang, yang digelutinya hingga tahun 1953. Dalam kepanduan itu, Sam dan kawan-kawannya sering mengadakan perjalanan ke luar daerah Semarang. Misalnya, ke Yogya atau Solo. Sering kali dalam kegiatan itu, Sam dan kawankawan hanya memakai sepeda, ikut truk angkutan, bahkan berjalan kaki.

Setelah lulus SMA, sebenarnya Sam belum tahu mau belajar apa dan ke mana. Namun, suatu saat ia membaca pengumuman BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) yang mengundang untuk belajar geologi. “Kemudian,” kata Sam, “Saya mendengar bahwa UI di Bandung (ITB) itu ada bagian sains yang dikembangkan Klompe menjelang tahun 1940- an. Lalu saya mendaftar, padahal waktu itu sudah terlambat. Namun, diterima saja. Karena masih jarang mahasiswa.”

Jadilah sejak tahun 1954, Sam tercatat sebagai warga kampus Ganesha pada Jurusan Geologi, Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA

Sampurno-55

Saat ekskursi Geomorfologi di atas Gunung Batu, Lembang, 1985. Foto: Agus Laesanpura.

), Universitas Indonesia (UI) Bandung. Selama kuliah, ia tinggal di Jalan Westhoff, dekat Rancabadak, Bandung. Saat itu pun ia sangat terpikat dan mengagumi dosen-dosen yang umumnya orang Eropa, terutama mengidolakan Th. H. F. Klompe (1903-1963).

“Saya terkesima dengan Klompe. Dia di Indonesia tapi kalau geologi itu orientasinya ke Prancis dan Jerman. Dia menceritakan stratigrafi, struktur, dan tektonik. Setiap kata-katanya menarik. Selain itu, dia sering membawa ekskursi, kadang-kadang naik kereta api sampai ke Yogya atau Situbondo. Jadi, pada Klompe, motif saya itu ilmu yang dikemukakan oleh dia mengenai dunia. Bagaimana orang ini sampai mengerti begitu, bagaimana caranya,” kenang Sam yang selama kuliahnya sangat menyenangi renang, bahkan pernah menjadi ketua Unit Renang ITB.

Menurut pikirannya, seorang ahli geologi perlu dapat berenang karena tempat kerjanya tidak hanya di gunung tetapi sering pula di sepanjang sungai, danau, atau bahkan di laut.

Selain Klompe, Sam mengagumi D. de Waard. Dosen bersuara dan bertulisan kecil ini meskipun ditakuti mahasiswa, tapi mau menjelaskan. Oleh karena itu, selama masa kuliah hingga kini, Sam berpegang pada pedoman bahwa, “Kita itu bagaimana caranya menyenangi ilmu dengan jalan kita mula-mula mengupasnya sendiri. Meskipun itu salah. Jadi dulu, ilmu geologi kita itu kita asah dengan menilai dosen. Dengan demikian, saya tahu bahwa untuk mencari ilmu kita harus mendekati sumber ilmu.”

Menjelang akhir perkuliahan, tidak ada ujian tulis, melainkan ujian lisan dalam bahasa Inggris. Saat itu, kata Sam, mahasiswa harus mengetuk pintu pintu ruangan Klompe bila hendak diuji secara lisan. Tentu, saat mengetuk si mahasiswa harus sudah menguasai betul materi perkuliahan, karena bisa saja Klompe meminta ujiannya hari itu juga. Selain itu, kata Sam, “Klompe melihat dulu sepatu dan cara berpakaian si mahasiswa. Kalau tidak rapi, pasti ditangguhkan ujiannya.”

Setelah lulus dari ITB sebagai sarjana muda, Sam ingin melanjutkan studi. Ia membayangkan hendak mempelajari Alpen seperti yang sering ia dengar dari uraian Klompe. “Dosen saya itu memberikan jalan yang harus say

Sampurno-57

Sampurno saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Geologi Populer, 2013. Foto: Deni Sugandi.

a ikuti, membukakan pintu. Pada saat saya meneruskan studi, Prof Klompe sudah pindah ke Thailand dan Malaysia,” ungkap penggemar musik keroncong ini.

Sam yang bertekad kalau ada tawaran ke Amerika tidak akan diambilnya itu, akhirnya memilih melanjutkan studi ke Italia atas beasiswa dari pemerintah Italia. Seminggu di negeri Leonardo da Vinci itu barulah Sam belajar bahasa Italia. Selanjutnya, ia memilih dan memilah universitas yang cocok dengan keinginan belajarnya.

“Saya mencoba-coba universitas di Italia Utara. Mula-mula, saya tanya konteks masing-masing geologi pada universitas yang bersangkutan. Mana daerah penelitiannya. Saya menemukan di Milan, aliran geologinya meyakini bahwa everything is sedimentation. Granit pun katanya dari sedimentasi dan ultra metamorfosis. Wah, jauh dari saya,” terang penyayang binatang ini.

Selanjutnya, Sam pergi ke selatan Italia. Ia menuju universitas yang ada di Kota Florence. Ia menemukan bahwa pengkajian geologinya mirip dengan studi geologi di Indonesia, karena samasama tidak menyebutkan bahwa batuan beku itu dari sedimen. Tapi letak Florence agak di selatan. Akhirnya, Sam memilih Padova yang ada di utara. . Di sana geologinya ada petrologi, mineralogi, geologi, dan paleontologi dengan ketua bidangnya masingmasing.

Antara tahun 1959 hingga 1962, Sam menjadi mahasiswa geologi pada Faculta di Scienze, Universitas Degli Studi, di Padova. Dari sana ia menggondol gelar Dottore in Scienze Geologiche (doktor ilmu geologi) dengan disertasi berjudul Studio Petrografico della zona di Contatto di Val San Valentino, Adamello.

Saat studi di Italia itu, Sampurno merasa kagum melihat karya Gb. Dal Piaz. Ahli geologi dan paleontologi Italia berkarya di bidang geologi teknik (e

Sampurno-56

Sampurno menjelaskan tentang karakteristik gerakan tanah di Cipeles, Sumedang, 1986, saat Ekskursi Geologi Teknik bersama mahasiswa Teknik Geologi, ITB. Foto: Budi Brahmantyo

ngineering geology) dalam pembangunan bendungan, jalan raya, geologi perminyakan, persediaan air, dan panas bumi. Kiprah Dal Piaz ini menjadi dorongan tersendiri bagi Sam untuk kian mendalami ihwal geologi teknik.

Setelah lulus, ia tidak segera kembali ke Indonesia. Sam diminta bekerja di sebuah perusahaan pertambangan yang ada di sana selama tiga bulan. Pekerjaannya menganalisa mineral logam dari pertambangan Ylojarvi dengan sinar pantul.

Batu untuk Membangun
Sepulang ke Indonesia pada tahun 1962, Universitas Indonesia (UI) Bandung telah berubah menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak 2 Maret 1959. Sam yang sebelumnya menjadi asisten dosen petrologi, kemudian mengajar di almamaternya itu. Mula-mula ia mengampu mata kuliah geologi ekonomi yang diajarkan oleh McDivitt dari Kanada. Setahun kemudian, pada tahun 1963, bersama rekan-rekan sejawatnya ia mulai merintis geologi teknik yang dikenal sebagai Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Geologi Teknik dan Lingkungan dan memimpin Laboratorium Geologi Teknik ITB.

Pada tahun 1963 pula, Sam mulai terlibat dalam penelitian untuk kegiatan pemugaran Candi Borobudur yang mulai dikampanyekan penyelamatannya pada tahun tersebut. Sesuai dengan keahliannya, Sam memfokuskan pengamatannya pada Candi Borobudur dari tiga hal penting. Pertama, keadaan tanah tempat berdirinya Borobudur yang meliputi struktur tanah, jenis, porositas, dan sebagainya. Kedua, bahan baku batuan untuk keperluan pemugaran. Ketiga, masalah penyediaan air untuk keperluan pemugaran serta proses pelapukan batuan candi.

Menurutnya, “Borobudur merupakan lambang kebesaran dinasti Syailendra dan keagungan agama Budha. Borobudur terletak pada suatu lingkungan yang sangat serasi antara alam yang keras seperti letusan Gunung Merapi dan kekerasan pegunungan Menoreh dengan alam yang indah dan subur, dan lingkungan binaan spiritual yang megah. Adapun masalah utama yang dijumpai sebelum Borobudur direstorasi adalah kemiringan dan melesaknya dinding candi di tingkat rupadatu, rembesan air dari dalam tubuh candi, dan pelapukan batu relief.”

Untuk bahan baku batuan untuk keperluan pemugaran Borobudur, Sam mencari-cari lokasinya. Mula-mula ia mendatangi Karangsambung dan menguji batuannya, tapi tidak cocok. Akhirnya, ia menemukan batuan berjenis andesit dari Gunung Mergi, di daerah timur Ungaran, Semarang. Penemuan itu dia buatkan laporannya dan kemudian dia usulkan ke Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasonal yang berkedudukan di Jakarta.

Melalui pertautannya dengan arkeologi itu pula, Sam bertemu dengan Dra. Sri Wuryani, ahli arkeologi jebolan Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Sri yang juga ikut meneliti Borobudur akhirnya menjalin kasih dengan Sam melalui tali pernikahan pada tahun 1964. Mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Vedy, Niya, dan Ista. Dari ketiga anak itu pasangan Sampurno-Sri Wuryani dianugerahi empat cucu laki-laki.

Atas dedikasinya untuk meneliti Borobudur antara 1962-1973, Sampurno menerima penghargaan dari Menteri P dan K Daoed Joesoef atas keterlibatannya dalam pemugaran Candi Borobudur. Bersama 27 orang lainnya, Sam menerima penghargaan itu pada 22 Februari 1983 di Yogyakarta.

Keterlibatannya dalam pemugaran Candi Borobudur itu bisa dikatakan sebagai titik balik dalam pemikiran dan karya Sampurno ke arah geologi teknik dan terapan. Ia menyatakan, “Kan dulu Indonesia dijajah Belanda yang dalam keilmuannya sangat teoritis. Kemudian ketika memasuki Pelita I, pola pikir semua orang Indonesia digiring ke arah pembangunan. Pola pikir tersebut juga mempengaruhi ilmuwan. Pertanyaan saya waktu itu, bagaimana dengan geologi? Waktu itu kan saya masuknya ke geologi umum, lalu ke petrologi. What next? Kalau hanya mengurusi teori batuan, tentu Indonesia tak jadi membangun. Jadi, saya harus tahu program pembangunan.”

Dengan demikian, Sam kemudian mengaitkan antara geologi dengan pembangunan. Untuk sampai ke sana, Sam mempelajarinya dan menganalisanya sendiri. Menurutnya, “Next-nya itu aplikasi dari batu, tanah, dan segala macam. Saya sampai harus mengajar di Jurusan Pertanian Unpad, mengusulkan pemetaan daerah transmigrasi, dan lain-lain. Pokoknya, menurut saya, kalau meneliti ruang untuk manusia itu haruslah applied.”

Karena ia yakin ilmu itu harus berkembang. Setel

Sampurno-58

Saat ekskursi Geologi Teknik bersama mahasiswa Geologi ITB ke calon lokasi Bendungan Jatigede, 1986. Foto: Budi Brahmantyo

ah mempelajari geologi umum, menurutnya, ahli geologi tertuju untuk mempelajari sektor-sektor geologi umum, misalnya struktur dan paleontologi, disertai aplikasinya. “Nah, saya tampilkan petrologi, yaitu menguasai batuan untuk engineering. Untuk bahan bangunan, jalan, pabrik semen, keramik, bahkan membuat pipa dari lava basal Gunung Tangkubanparahu,” ujarnya.

Sejak tahun 1970, ia turut menerapkan ilmu geologi dalam berbagai bidang pembangunan. Seperti geologi untuk bendungan, jalan raya, longsoran, pengadaan air bersih, pengembangan wilayah dan kota, serta lokasi pembuangan sampah padat. Apalagi di Jurusan Geologi ITB, Sam dipercayai untuk mengetuai Laboratorium Geologi Teknik dan Lingkungan atau dikenal sebagai Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Geologi Tata Lingkungan, pada tahun 1974.

Dalam kelompok yang kemudian berubah menjadi Kelompok Keilmuan Geologi Terapan (KKGT) sejak tahun 2005 itu Sam mengajak mahasiswamahasiswa dan sejawatnya, antara lain Deny Juanda dan Bandono untuk mengedepankan applied geology. Sam mengakui, “Saya meminta kawankawan untuk memfokuskan diri pada geologi teknik, kepada pariwisata yang ada kaitannya dengan geologi, kepada kesuburan tanah, bencana alam, air tanah.

Hal ini dapat dilihat dari rangkaian penelitiannya yang dilakukan dengan tema tersebut. Pada bulan November 1973 secara pribadi ia meneliti daerah longsor di Jawa Barat. Penyelidikan tersebut mendapat tanggapan positif dari Dinas Pekerjaan Umum Jawa Barat. Sejak bulan Mei 1975, ia meneliti secara intensif delapan daerah longsor di Jawa Barat. Penelitian tersebut bekerja sama dengan PU Jawa Barat.

Pada tahun 1976, Sam mencoba meneliti daerah Padalarang, Jawa Barat. Di sana ia melakukan penelitian untuk menerapkan metode pemetaan geologi untuk lingkungan dengan unit, yang disebutnya sebagai Unit Geologi dengan Karakteristik Lingkungan Keteknikan (UGT). Metode ini kemudian dicobakan kembali pada 1979 di Kota Semarang.

 Hasil penelitiannya disampaikan ke instansi-instansi terkait dan dipublikasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IAGI.

Mengenai pertautan geologi dengan sejarah pun ia teliti. Pada PIT-IAGI tahun 1980, ia mengajukan makalah yang berisi keruntuhan Kerajaan Majapahit ditinjau dari sisi geologi. Menurutnya, “Selama ini para ahli purbakala menyebutkan hancurnya Majapahit akibat datangnya agama Islam serta peperangan. Saya menyangsikan kesimpulan tersebut. Karena saya lebih cenderung baranggapan bahwa hancurnya Majapahit akibat banjir besar yang membawa lahar dari kompleks gunung api Arjuna-Anjasmoro ke dataran Delta Brantas dengan membawa lumpur, pasir, dan batu-batu.”

“Tidak mungkin,” kata Sam, “Sebuah pusat kerajaan besar lenyap tanpa meninggalkan relik. Namun, untuk Majapahit, seolah lenyap begitu saja, ditinggalkan penghuninya. Ini tidak mungkin, kecuali bahwa kerajaan ini memang dihancurkan bencana alam.” Dengan demikian, ia menyatakan bahwa pusat kerajaan Majapahit itu terlanda aliran pasir dan kerikil pendangkalan muara Kali Brantas.

Perkembangan daerah Bandung Raya sebagai salah satu pusat pertumbuhan dan pembangunan di Jawa Barat tak luput Sam teliti (PIT-IAGI 1981). Menurutnya, “Strategi pengembangan Bandung Raya, dipandang dari segi daya dukung alamnya barangkali perlu memenuhi kriteria bahwa tata air permukaan dan air tanah tetap lestari, udara lingkungan tetap bersih dan suhu lingkungan tetap sejuk, serta perkembangan lingkungan tersebut tidak mengundang longsoran dan erosi yang lebih besar lagi.”

Menjelajahi Bumi, Menyebarkan Informasi

Sampurno-59

Sampurno saat ekspedisi Gletser Carstensz tahun 1992. Foto: Dok. pribadi.

Sebagai dosen, yang sangat mengagumi guru dan dosennya, pada praktiknya Sam meniru kinerja yang dikaguminya itu. Bagi Sam, dosen memiliki profesi rangkap. Dosen, menurutnya, adalah seorang ahli cabang ilmu tertentu, sekaligus juga seorang guru yang harus mendidik. Sebagai ahli geologi sekaligus pendidik, Sam selalu mengedepankan ekskursi atau penjelajahan bumi, penelitian, dan menuliskan hasil penelitian baik dalam bentuk ilmiah maupun populer. Hal-hal tersebut dianggapnya sebagai sebentuk tanggung jawab seorang dosen.

“Kalau kita belajar geologi itu harus dari logika. Kita harus menyimak uraian dosen, mengikuti ekskursi, dan membaca penelitian dosen-dosen dari luar. Sumber-sumber tersebut harus betul-betul diikuti. Dari logika itu tentu masuk ke hati kita. Kalau kita berpikir dan senang berpikir, akhirnya akan ada jawaban menancap. Saya tidak mau ditipu asal dari buku saja. Kita harus melihatnya ke lapangan,” terang Sam.

 Untuk menjelajahi bumi, Sam memaksudkannya sebagai bagian dari perkuliahan, yaitu kuliah lapangan. Dalam pandangan Sam, “Kuliah lapangan diberikan secara komprehensif, yang terdiri atas teori-teori berupa metode pemetaan dengan alat, selama dua minggu. Kemudian satu bulan sisanya, mahasiswa diberi suatu daerah tertentu di sekitar Karangsambung yang harus dipetakan,” kata Sam saat membimbing mahasiswa geologi ITB berkuliah lapangan di Karangsambung (Berkala ITB, 16 Agustus 1980).

Dalam hal ini, bersama KBK Geologi Tata Lingkungan, Sam menekankan visi mengenal geologi di lapangan. Bersama kelompok tersebut Sam sering ke lapangan, kadang-kadang dengan naik sepeda, naik kereta api, bahkan berjalan kaki. Upamanya mencari patahan di Purwakarta atau mendaki Gunung Ungaran di Semarang. Dengan jalan tersebut, ia mengakui, “Kita mencoba belajar sendiri. Kita mengikuti intuisi kita meskipun keliru. Kita mengeluarkan teori sendiri. Dari situ kita sadar bahwa ekskursi itu penting. Di bawah bimbingan seseorang yang lebih tahu, kita akan lebih faham geologi di lapangan.”

Dengan sering berekskursi ke lapangan, maka terbukalah kesempatan untuk mengamati, menemukan masalah, dan mencari solusinya. Itulah jalan ilmiah, penelitian. Sam menjalani jalan ilmiah ini sering kali mula-mulanya dikerjakannya sendiri. Di sini, ia mengakui, “To be geologist is quite interesting. Saya yang mencari, saya yang menemukan. Saya bahagia dengan pilihan saya. Jadi, bukan melulu berurusan dengan uang. Kita kan hidup meniru alam dan geologi itu tidak hanya batu, morfologi, tapi the whole nature. Bahkan interaksi antar nature itu sendiri.”

Dalam bidang wisata, terutama pada pengembangan model geowisata, Sam dan Budi Brahmantyo menulis “Geologi dalam Pariwisata” (1989).

Untuk menyebarkan hasil penelitiannya, Sam menempuh jalan tulisan agar khalayak menjadi tahu dan memahami dengan apa yang terjadi dengan bumi ini. Untuk khalayak terbatas, misalnya kalangan ilmuwan, Sam menuliskan laporan hasil penelitiannya dan menyajikannya dalam bentuk ceramah atau diskusi. Pada KBK Geologi Tata Lingkungan ITB, Sam mengadakan program ceramah rutin para ahli geologi untuk menyampaikan hasil penelitian mereka. Sam sendiri maupun bersama rekan sejawatnya sering menuliskan hasil penelitian dalam bentuk laporan. Saat ikut terlibat meneliti keadaan Candi Borobudur antara 1963-1973, Sam menuliskan laporannya yang berjudul Penelitian Geologi terhadap Candi Borobudur dan Sekitarnya (1973). Demikian pula saat terlibat kerja sama antara Departemen Geologi ITB dengan Proyek Survey Listrik Negara (Perusahaan Umum Listrik Negara), Sam dan kawankawan menuliskan hasil penelitiannya dengan judul Geologi Daerah Calon Bendungan Saguling dan Sekitarnya – Citarum Hulu, Jawa Barat (1973). Laporan Geologi Gerakan Tanah di Jawa Barat (1975) ditulis Sam dan kawan-kawan setelah mengikuti penelitian kerja sama Departemen Geologi ITB dengan Pemda Jawa Barat dan Jawatan PU Jawa Barat.

Dalam bidang wisata, terutama pada pengembangan model geowisata, Sam dan Budi Brahmantyo menulis “Geologi dalam Pariwisata” (1989). Untuk kegiatan di luar negeri, misalnya, Sam dan kawan-kawan menyampaikan dan memuatkan kertas kerja “Geological Problems Sanitary Landfill Waste disposal site of Bandung City, Indonesia.” Tulisan tersebut disajikan pada kongres ke-6 International Association of Engineering Geology pada tahun 1990 dan dimuatkan dalam prosiding perhelatan tersebut. Selain itu, tentu saja banyak lagi tulisan ilmiah yang ditulis sendiri oleh Sam maupun bersama sejawatnya, mengingat Sam adalah anggota aktif Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) yang selalu mengikuti Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) dan berkontribusi dengan menulis dan menyampaikan makalah.

Sebagai jembatan dengan masyarakat awam, Sam banyak menulis dalam bentuk tulisan ilmiah populer. Pada Harian Umum Pikiran Rakyat, tulisannya muncul untuk pertama kali pada tahun 1981, yaitu “Geologi Bandung Utara dan Peranannya.” Di Harian Umum Kompas, Sam mulai menulis pada 1982, yakni dengan tulisan “Gunung Galunggung.” Di Republika, tulisannya “Amankah Muria untuk PLTN?” dimuat pada 1994. Selain memuatkan tulisannya, Pikiran Rakyat, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, majalah Tempo, dan lain-lain sering memuatkan pula pendapat-pendapat Sam terkait hasil penelitiannya, bencana alam yang sedang berlangsung, dan hal-hal yang berkaitan dengan kebumian lainnya.

Sampurno-60

Sampurno dan keluarga besarnya. Foto: Dok. pribadi

Di Masa Purnabakti
Sejak Desember 2004, Sam memasuki masa purnabakti. Untuk memberikan penghargaan atas kinerjanya, Departemen Teknik Geologi, Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral, ITB, menyelenggarakan acara mengantar purnabakti Sam pada hari Sabtu, 18 Desember 2004, di Aula Barat ITB.

Pada acara itu diselenggarakan seminar purnabakti bertema “Lanskap Peradaban Manusia Sejak Zaman Purba Hingga Kini” yang menampilkan pemakalah Sampurno, Amwazi Idrus, A. Djumarma Wirakusumah, dan Deny Juanda Puradimaja. Selain itu, saat itu diluncurkan pula buku kumpulan tulisan Sam, Jejak Langkah Geologi, Dari Borobudur hingga Punclut dan kumpulan kliping Sam bertajuk Kilas Balik Pelangi Kehidupan Sampurno: Kumpulan Kliping Artikel Koran dan Majalah, 1976-2002.

Selama berkarier di ITB, Sampurno pernah memegang beberapa jabatan, antara lain Sekretaris Departemen Geologi ITB (1968-1970), Ketua Departemen Geologi (1970-1972), Ketua Laboratorium Geologi Teknik dan Lingkungan, Jurusan Geologi (Sejak 1974), anggota Peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) ITB (sejak 1980), dan lain-lain.

Di luar ITB, sejak tahun 1963, dia terlibat sebagai tenaga ahli di Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat. Ia juga pernah dan masih menjadi pengajar di Universitas Padjadjaran (sejak 1965), Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta (sejak 1964), Universitas Pakuan (Unpak), Bogor (sejak 1980), Universitas Parahyangan (Sejak 1981), dan Itenas. Kini Sam masih bertahan sebagai pengajar. Di Univeritas Parahyangan, sekarang Sam mengajar mata kuliah geologi teknik dan mekanika batuan. Sementara di Unikom, dia mengajar mata kuliah geologi lingkungan yang berasosiasi dengan planologi.

Dalam kesehariannya kini, ia tetap memperlihatkan semangat belajar yang tinggi. Buktinya saat kami wawancarai, dia merampungkan makalah berisi tentang peristiwa letusan Gunung Vesuvius yang mengubur kota Pompeii dengan abu, pasir, dan kerikil setebal 8-7 meter. Gunung api yang berada di Italia itu meletus pada tahun 79 Masehi. Makalah tersebut dia sajikan di Yogyakarta dan di Bandung, dalam bentuk ceramah.

“Di situ ada hal-hal menarik yang saya temukan waktu ekskursi ke sana. Saya ingin membagikan pengalaman itu. Ingin mengetengahkan perilaku para ahli geologi di situ ke sini. Karena dari peristiwa Pompeii yang terletak di dekat Napoli, Italia, itu banyak korban berjatuhan. Kan terkubur 7 meter, sehingga semuanya habis, rata dengan tanah. Sekian ratus tahun kemudian, orang mencari dan menggali untuk jalan dan terowongan, dan menemukan ampiteater. Akhirnya ketahuan sedang menggali kota yang terkubur. Selanjutnya peneliti arkeologi, geologi, arsitek mempunyai ide untuk merekonstruksi. Setelah jadi sangat menyerupai waktu terkena letusan,” terang Sam mengenai yang dipelajarinya itu.

Namun, di balik itu terbersit semacam kredo yang tertanam di benak dan hati Sampurno terkait dengan peran ilmu geologi. Secara menyakinkan ia menyebutkan bahwa, “geology is everything. Urusan sandang, pangan, dan papan, juga transportasi, dan energi. Semuanya tercakup dalam geologi. Dan jangan lupa: ada falsafah di dalamnya.”

Penulis: Atep Kurnia Pewawancara: T. Bachtiar, Atep Kurnia, Budi Kurnia Fotografer: Deni Sugandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>