Kemilau Pagi-43

Kemilau Pagi di Tengger

Harmoni Merapi-61

Harmoni Merapi

16/08/2014 Comments (0) Langlang Bumi

Salam dari Tambora

Tambora-1
Tambora-1

Tambora. Foto: Deni Sugandi

ADA semburat merah di penghujung malam, pertanda fajar akan segera berganti pagi. Tebing raksasa yang berlapis-lapis itu mulai terlihat temaram, sesekali tersapu kabut yang mengubah bentang alam menjadi putih susu. Hembusan angin lembah menggigilkan tubuh yang semalaman terus berjalan menanjak diterangi rembulan, meretas rerumputan berembun, sedada tingginya, di lereng yang bergelombang.

Tambora-2

Kabut akan segera menyapu tepian kaldera Tambora. Foto: T. Bachtiar.

Saat berdiri di bibir kaldera yang menganga, deru angin meniup kabut, dinginnya terasa mencekam, teringat akan masa lalu letusannya yang mendinginkan dunia. Aura kedahsyatan letusan 199 tahun yang lalu masih sangat terasa. Letusan mahadahsyat Gunung Tambora 10 April 1815 itu menyebabkan kekosongan di dalam tubuh gunung, sehingga bagian atasnya tidak kuat lagi menahan beban, kemudian retak-retak, lalu ambruk ke dalam tubuh gunung, membentuk kaldera, kawah yang diameternya lebih dari 2 km. Dari dasar kaldera inilah kehidupan gunung api muda membangun dirinya.

Kaldera dengan garis tengah bagian atas mencapai 9 km, dan bagian dasarnya 6 km, lingkarannya hampir bulat, seperti cawan maha besar yang menghunjam sedalam 1.551 m. Dari rahim kaldera Tambora, lahir gunung api muda, tampak mengepulkan asap belerang, Doro Afi Toi, namanya, yang dalam bahasa Bima berarti gunung api kecil, hasil kegiatan mulai tahun 1847 – 1913.

Wahibur Rahman, seorang penggiat geowisata dari Bima, menuruni kaldera hingga dasarnya pada 9 September 2013, lalu mengukur dimensi gunung api penerus dinasti Tambora itu. Menurutnya, sampai September 2013, tinggi anak gunung api Tambora itu baru mencapai 15 m diukur dari dasar kaldera; sedangkan dasar tubuhnya 105 m x 148 m. Gunungmuda ini memang masih kecil bila dibandingkan dengan Gunung Tambora saat ini yang tingginya 2.851 m dpl., apalagi dengan tinggi gunung induknya sebelum meletus pada 1815 yang mencapai 4.300 m. dpl. Selain Doro Afi Toi, yang suhu tubuhnya 98o C, ada juga Doro Afi Bou, suhunya 77o C. Di dasar kaldera itu terdapat pula air  panas, suhunya antara 92 – 96o C.

Tambora-3

Lereng terus menerjal menuju puncak Tambora. Foto: Deni Sugandi.

Kaki Gunung Tambora langsung berbatasan dengan laut. Di sebelah barat bersentuhan dengan Selat Batahai, di selatan dengan Teluk Saleh, di utara dengan Laut Flores, dan di timur berbatasan dengan Doro Labumbun. Bila ditarik garis lurus dari ujung kaki Gunung Tambora di sekitar Laut Flores sampai ujung kaki gunung di sekitar Teluk Saleh, panjangnya mencapai 40 km. Bolah jadi, pada mulanya Tambora merupakan gunung api pulau yang dikelilingi laut. Letusan-letusan Gunung Tambora menumpahkan rempah-rempah yang bertemu dengan rempahrempah dari letusan-letusan Doro Labumbun, yang meletus terakhir 690.000 tahun yang lalu, menyambungkan kaki Gunung Tambora sisi timurdan kaki Doro Labumbun sisi barat.

Perjalanan dari Pos 3 pada jalur pendakian Doro Ncanga ke arah puncak, meniti sebagian aliran lava kehitaman yang mengalir 15.000 tahun yang lalu, yang di sela-selanya ditumbuhi edelweiss kecil, di antara padang ilalang yang akarnya banyak diseruduk babi hutan. Perjalanan juga melintas di atas aliran piroklastika letusan Gunung Tambora tahun 1815 yang berupa batuapung sebesar kacang tanah hingga seukuran bola sepak, menutupi hampir seluruh gunung ini hingga di kakinya. Dua kilo meter menjelang bibir kaldera, perjalanan melintasi lava yang mengalir 10.000 tahun yang lalu, terlihat masih kasar dengan warna hitam, di sela-selanya terdapat tumbuhan yang bertahan dalam situasi ekstrim. Gunung Tambora pernah 19 kali meletus effusif, melelerkan lava antara 190.000 – 9.000 tahun yang lalu (tyl). Jarak antar letusannya, yang terpendek hanya berjarak setahun, dan jarak terpanjang selama 38 tahun.

Tambora-4

Kerucut sinder, daya tarik lain dari Gunung Tambora. Foto: T. Bachtiar.

Kaldera dengan garis tengah bagian atas mencapai 9 km, dan bagian dasarnya 6 km, lingkarannya hampir bulat, seperti cawan maha besar yang menghunjam sedalam 1.551 m.

Bentang alam yang akbar. Dari bibir kaldera Tambora, tampak jelas di dasarnya terlihat air yang menakung menjadi danau. Pada tahun 1951, M.I. Adnawidjaja, dkk. menuruni dasar kaldera dan mengukur danau hijau kekuningan itu. Garis tengah danau dari utara ke selatan, panjangnya 800 m, dan garis tengah barat timurnya 200 m, dengan titik terdalamnya mencapai 15 m. Danau ini bertambah luas, seperti diukur oleh Wahibur Rahman pada tahun 2013. Garis tengah danau terpanjang menjadi 1.200 m dan terpendek 500 m.

Sambil duduk di bibir kawah, memandang sekeliling kaldera, membayangkan bagaimana letusan-letusan yang menghancurkan tiga kesultanan pada tanggal 10 – 12 April 1815 itu terjadi. Letusan dengan kekuatan berskala 7 dari 8 skala berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI), kekuatan ledakannya setara dengan 171.000 kali bom atom Hirosima – Nagasaki, atau 4 kali lebih besar dari letusan Gunung Krakatau 1883. Ledakannya terdengar sampai di Padang, Sumatra Barat, yang jauhnya 2.000 km, terdengar seperti suara mer

Tambora-5

Perjalanan melintas padang sabana. Foto: Ronald Agusta.

iam. Terdengar dengan jelas di Pulau Bangka yang jauhnya 1.775 km. Gempa buminya terasa di Surabaya yang jaraknya 600 km. Air laut di sekeliling Semenanjung Sanggar naik sampai 4 m. Tekanan gas dari dalam gunung saat letusan sangat tinggi, sehingga mampu menghamburkan rempah-rempah dari dalam tubuh gunung ini sebanyak 150 km3 ke atmosfer dengan tinggi tiang letusan mencapai 43 km. Debu letusannya menembus lapisan ozon, masuk ke lapisan mesosfer, tempat terbakarnya kebanyakan meteor yang datang dari antariksa.

Sultan Sanggar yang selamat dari letusan Gunung Tambora, menuturkan kesaksiannya kepada letnan Owen Phillips, yang ditugaskan Letnan Gubernur Raffles untuk memeriksa dampak letusan Gunung Tambora. Anggota tentara Kerajaan Inggris ini mendarat di Bima tanggal 18 April 1815, lalu berlayar selama 8 hari menyeruak tumpukan batuapung ke Dompu. Sepenggal penuturan Sultan Sanggar itu: …. Sekitar pukul tujuh malam pada 10 April 1815, terlihat tiga tiang nyala api keluar dari puncak Gunung Tambora. Yang semula terpisah, kemudian tiang itu membesar dan semakin tinggi, akhirnya tiga tiang letusan itu menyatu menjadi hal yang sangat mengerikan. Dalam sekejap, tubuh gunung di dekat Sanggar berubah menjadi aliran api ke segala arah….

Tambora-6

Kerucut sinder terlihat jelas, mencuat dari hamparan sabana. Foto: Deni Sugandi.

Awan panas menumbangkan dan membakar hutan. Batu-batu berjatuhan, badai melanda, menyapu dan menerbangkan rumah, manusia, binatang, pepohonan, dan membakar apa saja yang dilaluinya, kemudian melenyapkannya. Air laut naik setinggi empat meter dari biasanya.

Ketika kekuatan letusan masih melebihi tekanan atmosfer, maka material letusan itu akan terus didorong naik menembus atmosfer. Namun, bila tekanannya melemah, bahkan menghilang, maka kekuatan angin akan berperan meniupkannya. Material letusan yang berukuran besar, akan segera jatuh di sekitar puncak, lalu meluncur dengan kecepatan 200 km per jam, suhunya antara 400- 600o C, sehingga apa saja yang dilaluinya akan dengan seketika hangus terbakar. Badai guguran membara dengan kecepatan yang tinggi, mampu menghancurkan apa saja yang dilaluinya.

Ladang, sawah, semuanya tertimbun pasir sehingga tidak bisa digarap dalam waktu singkat. Keadaan ini menambah jumlah yang meninggal karena kelaparan, seperti di Kesultanan Sanggar sebanyak 825 orang.

Abu halus yang melayang-layang di stratosfer sampai mesosfer, terus berputar mengelilingi Bumi. Inilah yang menyebabkan cahaya Matahari tak mampu menembusnya, sehingga suhu di Bumi menjadi dingin. Musim panas tanpa kehadiran Matahari dengan suasana yang mencekam, langit yang berwarna lembayung. Suhunya lebih dingin dari biasanya, telah menyebabkan panen gagal, sehingga kekurangan bahan pangan melanda di mana-mana. Kelaparan meluas di Eropa dan Amerika.

Tambora-7

Di dasar kaldera Tambora, mendekati, Doro Afi Toi. Foto: Wahibur Rahman.

M. Nugraha Kartadinata (1997) menulis, material letusan Gunung Tambora ini dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu material aliran utama piroklastika yang meluncur ke arah timur, tenggara, dan timur laut, merupakan campuran abu, pasir, kerikil, dan batuapung berukuran 6 – 40 cm, berwarna abu-abu sampai hitam. Sementara abu yang meniang, lalu ditiup angin tenggara pada bulan April, menyebabkan aliran abu panasnya menyebar ke arah barat, barat daya, dan barat laut gunung. Perbedaan material letusan inilah yang menyebabkan perbedaan tutupan vegetasi di lereng Gunung Tambora saat ini dan perbedaan dampak yang diakibatkannya. Laporan Petroeschevsky (1947), empat tahun setelah letusan, Agustus 1819, lereng barat Gunung Tambora sudah ditumbuhi hutan lebat. Padahal, pada saat yang sama, di sisi timur, selatan, dan tenggara, tak terlihat adanya pepohonan, karenamasih menyisakan kehancuran yang mengerikan.

Kedahsyatan letusan Gunung Tambora dicatat dalam Kitab Bo’Sangaji Kai, seperti dibacakan Umi Ka’u Siti Maryam R Salahuddin pada tanggal 14 April 2014 di kediamannya di Bima:

“Pada Selasa, 11 April 1815 Tatkala itulah di tanah Bima datang takdir Allah Melakukan kodrat dan iradat atas hamba-Nya Maka gelap berbalik lagi lebih dari malam Maka berbunyilah seperti meriam perang Kemudian turunlah kersik, abu, seperti dituang Lamanya dua hari tiga malam Maka heranlah sekalian hamba-Nya melihat karunia Rabbi Al Amin yang melakukan fa al li ma yurid. Setelah itu maka teranglah hari rumah dan tanaman rusak semuanya Demikianlah adanya itu pecah Gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat.”

Tambora-8

Umi Ka’u Siti Maryam, membaca Bo’ Sangaji Kai. Foto: Deni Sugandi

Di sisi barat Gunung Tambora terdapat Kesultanan Tambora yang berpenduduk 6.000 jiwa, hancur dilanda aliran abu panas, tak menyisakan seorang pun yang selamat. Di sisi selatan terdapat Kesultanan (Pa)Pekat yang berpenduduk 2.000 jiwa yang kesemuanya tersapu awan panas. Di sisi timurnya terdapat Kesultanan Sanggar yang berpenduduk 2.200 jiwa, dan setengah dari jumlah penduduk itu menjadi korban langsung letusan. Sementara di Kesultanan Dompu yang berpenduduk 10.000 orang, meninggal secara langsung karena letusan itu sebanyak 1.000 orang.

Ladang, sawah, semuanya tertimbun pasir sehingga tidak bisa digarap dalam waktu singkat. Keadaan ini menambah jumlah yang meninggal karena kalaparan, seperti tercatat di Kesultanan Sanggar sebanyak 825 orang, di Kesultanan Dompu 4.000 orang, di Kesultanan Sumbawa 18.000 orang, di Kesultanan Bima 15.000 orang. Di luar Pulau Sumbawa, seperti di Pulau Lombok, Junghuhn memperkirakan yang meninggal karena kelaparan berjumlah 40.000 orang dan di Pulau Bali sebanyak 25.000 orang. Kelaparan yang diderita masyarakat, telah menyebabkan banyak orang tua tega menukar anaknya dengan beras, kemudian oleh majikannya yang baru, budak tersebut dijadikan pekerja di kebun, bahkan dapat diperjualbelikan kembali.

Tambora-9

Kuda merumput di padang sabana, dengan latar belakang kerucut sinder. Foto: Ronald Agusta

Dampak letusan telah menyebabkan migrasi penduduk, seperti dari Kesultanan Sanggar sebanyak 275 orang, dari Kesultanan Dompu 3.000 orang, dari Kesultanan Sumbawa 18.000 orang, dan dari Kesultanan Bima 15.000 orang. Pada umumnya mereka mengungsi ke Pulau Jawa, Makasar, Bone, Selayar, Ambon, Banda, dan tempat lainnya yang lebih jauh.

Tiga kesultanan yang hancur, kemudian wilayahnya digabungkan dengan Kesultanan Dompu dan Bima. Wilayah Kesultanan Pa(Pekat) dan sebagian wilayah Kesultanan Tambora digabungkan ke Kesultanan Dompu, sedangkan wilayah Kesultanan Sanggar dan sebagian wilayah Kesultanan Tambora digabungkan ke Kesultanan Bima.

Dalam Syair Kerajaan Bima yang ditulis oleh Khatib Lukman, seperti yang disunting oleh Henri Chambert- Loir (1982), letusan Gunung Tambora terjadi karena murka Allah kepada Sultan Tambora yang telah menganiaya Said Idrus asal Bengkulu, yang singgah di Kesultanan Tambora. Singkat ceritera, suatu hari, Said Idrus melihat seekor anjing dan penjaganya di dalam masjid. Said Idrus menyuruh penjaga agar membawa anjing keluar masjid. Namun penjaga itu tidak menerima perintah itu, malah ia segera melapor kepada sultan, sebagai pemilik anjing. Sultan marah, dan ingin membalas dendam. Dibuatlah pesta yang menyajikan masakan daging kambing dan daging anjing. Said Idrus diundang dan kepadanya disajikan daging anjing. Setelah disantap, sultan mengatakan bahwa itu adalah daging anjing. Terjadilah saling bantah, dan sultan menitahkan untuk membunuh Said Idrus. Waktu itulah api menyala di gunung Tambora, mengejar pembunuh di kota dan di dalam hutan, di darat dan di lautan. Dalam Syair Kerajaan Bima itu dituliskan:

Tambora-10

Dalam perjalanan pulang, kabut sudah mulai membalut puncak. Foto: Deni Sugandi.

“… Sultan Tambora Abdul Gafur barang pekerjaannya sangatlah takabur tidalah percaya riwayat dan tutur negeri dan badan menjadi lebur. Tanah Tambora yang kena durhaka Bima dan Sumbawa dipindahkan belaka sekalian orang telah celaka sampai sekarang menanggung duka.….” Dampak letusan Gunung Tambora, tergambar dalam Syair Kerajaan Bima:…. Pada tahun Jim awal mulanya diturunkan bala kepada hambanya tanah Bima hangus semua padinya laparlah sekalian isinya. Lapar itu terlalu sangat
rupanya negeri tiada bersemangat serasa dunia bekas kiamat sukarlah gerangan baiknya bangat. Adalah hujan lalu tertanam padinya jadilah sangatlah kelam datanglah takdir Khalik al-alam turunlan abu dua hari tiga malam. Habu yang turun sebagai rebut rupanya alam kelam kabut datanglah banjir mudik dari laut terdampar ke darat perahu hanyut.….

Bagi warga masyarakat yang selamat dari bencana letusan gunung api atau mereka yang melihat sendiri dampak letusan Gunung Tambora yang mengerikan, kehadiran Syair Kerajaan Bima menambah ketaatan kepada segala perintah Allah SWT. Siapa saja yang melakukan hal yang bertentangan dengan nilainilai dan ajaran agama, dianggap akan merugikan kesultanan secara keseluruhan. Maka sultanlah yang akan memberikan hukuman.

Matahari bertirai kabut, tak terbaca tanda akan segera tersibak dalam waktu dekat. Setelah tiga jam menuruni lereng beralaskan lava hitam, hujan yang menguyur mengiringi makan siang hari itu. Siang ini udaranya menjadi sangat segar dengan langit yang biru. Di kejauhan, tampak bukit-bukit kecil berbagai bentuk, itulah kerucut terak, kerucut scorea, atau cinder cone, kerucut yang terbetuk oleh kerak lava yang tidak terekat. Sedikitnya ada 40 kerucut terak yang mengelilingi Gunung Tambora, yang terbentuk
antara 15.000 – 4.000 tyl. Bukit-bukit ini akan menjadi daya tarik wisata alam yang luar biasa bila ditata dengan baik, seperti Doro Peti, Doro Ncanga, dan Doro Donggotabe di selatan Gunung Tambora.

Sebelum letusan terdahsyat dalam sejarah manusia, kawasan Gunung Tambora itu terkenal sebagai penghasil kayu Duabanga moluccana, kayu sepang/secang atau kayu merah, kayu cendana, kayu jati, padi, kacang ijo, jagung, kopi, merica, kapas, lilin lebah, madu, sarang burung, garam, dan kuda.

Tambora-11

Digambar oleh: Hadianto.

Surat Schelie dan Tobias, seperti dikutip Burnice de Jong Boers dapat membuktikan hal ini. “Alam telah mencurahkan kedermawanannya yang penuh berkah atas pulau ini, sehingga tak ada satu pun masalah. Bagaimana gunung-gunungnya, laksana seorang pemilik yang bangga di suatu lapangan yang luas dengan lembah-lembah tercantik yang membentang. Padi, kacang-kacangan dan jagung yang bermutu, kopi, merica, dan kapas yang istimewa telah tumbuh dan menjadi sumber penting bagi pendapatan penduduk.”

Dalam tulisan K Heyne (1927), pohon Duabanga moluccana itu tingginya antara 25 – 45 m dengan garis tengah batang antara 70 – 100 cm, bahkan dalam sumber lain bisa mencapai 150 cm lebih. Tumbuh dengan baik di Indonesia bagian timur. Batangnya berbentuk pilar tanpa banir dan tanpa alur-alur, sehingga kayu berukuran besar ini banyak dibuat perahu tanpa sambungan yang awet bertahun-tahun. Perahu yang dibuat dari kayu ini harganya cukup mahal saat itu.

Setelah letusan tahun 1815, tanah di selatan, barat, dan di utara gunung lebih cepat melapuk, sehingga terjadi suksesi hutan yang sangat cepat. Pohon-pohon asli seperti Duabanga moluccana segera tumbuh menjulang, menjadi raksasa hutan Tambora. Namun, kehancuran hutan Duabanga moluccana mencapai puncaknya bukan karena letusan gunung, melainkan ketika pada tahun 1972, PT Veneer Indonesia menguasai konsesi penebangan kayu di lereng-lereng Gunung Tambora, yang seharusnya seluas 20.000 Ha, sampai ketinggian 1.400 m dpl.

Kawasan lereng Gunung Tambora pun sangat terkenal dengan kayu secang, atau disebut juga kayu supa, supang, sapan, atau kayu merah (Casealpinia Sappan), sebagai kayu penghasil warna merah yang sangat dibutuhkan saat itu, sehingga pernah mencapai harga yang mahal dalam perdagangan. K. Heyne (1927) menulis, pohon sebesar paha ini tingginya 5-10 m. Pohon sapan berduri besar, dan bila sudah tua, durinya akan rontok berjatuhan.

Sapan sengaja ditanam dengan membibitkan bijinya. Tumbuh di daerah berbatu, tapi dengan hawa yang tidak terlalu dingin. Tersebar di seluruh Indonesia. Kayunya keras dengan warna merah, seratnya halus dan mudah dibelah. Bukan hanya sebagai pewarna tekstil, tapi juga dapat digunakan sebagai pewarna bahan tikar. Kayu sapan sangat baik digunakan sebagai pasak. Kayu ini dapat juga digunakan sebagai obat yang berhubungan dengan gejala darah, seperti memar berdarah, muntah darah, sipilis, luka dalam, dan mempunya sifat disinfektan. Daunnya dapat disuling menjadi minyak atsiri.

Menuruni lereng selatan dari Pos 3 ke arah Doro Ncanga, hanya padang alang-alang yang menutupi lerengnya, kemudian berganti menjadi hamparan sabana sampai di kaki gunung yang berbatas laut. Beristirahat di padang rumput sambil menanti jemputan datang, membentang kehijauan sabana dengan bukit kecil yang di dekatnya sekawanan kerbau berkubang. Serombongan sapi merumput sambil berjalan perlahan, gentanya berdentangdentang mengikuti gerakan tubuhnya. Di kejauhan, Gunung Tambora samar dibelit awan. Seratus sembilan puluh sembilan tahun yang lalu, gunung ini meletus dahsyat, abunya menghambur sampai di lapisan mesosfer, menghalangi cahaya Matahari, menurunkan suhu Bumi.

Peringatan dua abad letusan Gunung Tambora pada 2015 nanti, harus menjadi peristiwa penting untuk membangkitkan kesadaran, bahwa gunung api yang tumbuh di kepulauan Indonesia sewaktu-waktu akan meletus. Bukan saja pengamatan dan penelitian gunung-gunung api itu yang harus semakin presisi, namun dibutuhkan kesadaran dari masyarakat yang sekarang sudah berada di sekeliling gunung api. Kesadaran bahwa letusan gunung api tak akan bisa dicegah atau dilawan. Menerima semua keberkahan gunung api saat tenang, dan segera menghindar bila gunung sedang melakoni tugasnya membangun dan menyeimbangkan tubuhnya.

Peringatan dua abad letusan Gunung Tambora harus menjadi sarana untuk mengingatkan kembali kesadaran kita, bahwa betapa pentingnya untukmenghutankan kembali lereng di sekeliling gunung untuk kesejahteraan warganya, agar banyak mataair segera mengalirkan kehidupan. Gerakan bersama untuk mengembalikan keberkahan Gunung Tambora, seperti yang ditulis dalam surat Schelie dan Tobias, “Alam telah mencurahkan kedermawanannya yang penuh berkah atas pulau ini. ( T. Bachtiar)

Penulis adalah anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>