Misteri

Misteri dan Masalah Kebumiaan

Lintas Sejarah Pertambangan

Lintas Sejarah Pertambangan dalam Gambar

28/06/2013 Comments (0) Resensi Buku

R.W. Van Bemmelen: Sosok Manusia dalam Roman Geologi

R.W. Van Bemmelen: Sosok Manusia dalam Roman Geologi

 

R.W. Van Bemmelen: Sosok Manusia dalam Roman Geologi“Berdiri di permulaan zaman baru dalam perkembangan politik dan ekonomi Hindia Timur, kita berharap dapat merangkum data dasar dalam sintesis umum pengetahuan kita mengenai peluang-peluang geologi dan pertambangan wilayah ini,” tulis Rein van Bemmelen dalam pengantar The Geology of Indonesia.

Disandingkan dengan buku itu, Van Bemmelen: Kisah di Balik Ketenarannya dapat memberi pembaca gambaran tentang sudut-sudut manusiawi di balik panggung geologi. Dengan kata lain, karya Adjat layak dijadikan bacaan pemerkaya bagi mereka yang mengagumi karya Van Bemmelen.

Seperti kata pengarangnya, buku ini menuturkan “perjalanan hidup Van Bemmelen dalam bentuk novel.” Bukan maksud Adjat menyajikan fiksi, tentu, melainkan menuturkan pengalaman tokoh historis dengan pendekatan yang lazim ditempuh dalam penulisan roman. Tiap-tiap babnya diselaraskan dengan titik-titik perubahan nasib orang yang diceritakannya, lengkap dengan rincian latar waktu dan tempatnya. Ditopang dengan riset yang cermat, Adjat mampu menghidupkan deskripsi mengenai pengalaman manusiawi.

Bahan utama buku ini adalah autobiografi R. W. van Bemmelen sendiri, diperkaya dengan sumber-sumber lainnya. Adjat juga mewawancarai sejumlah sumber, di antaranya Dr. Willem van der Linden, penulis In Memoriam van Bemmelen. Dia juga pergi ke Belanda untuk meneliti bahan-bahan penulisan buku ini.

R.W. Van Bemmelen

R.W. Van Bemmelen

Dalam hal ini, Adjat terbilang istimewa sebab tak banyak kiranya ilmuwan yang diberkati bakat menulis sastra. Dikenal luas sebagai ahli vulkanData Bukuologi yang produktif menulis, Adjat juga membuat gambar dan lukisan. Sikap ilmiahnya terlihat dari riset yang dia lakukan untuk menulis buku ini seperti studi bibliografi, wawancara dengan narasumber, dan kunjungan ke sejumlah tempat. Sikap demikian juga tampak dari caranya menganalisis rincian pengalaman manusiawi yang sedang diceritakannya.

Bakat sastranya terlihat dari caranya menuturkan hasil risetnya: naratif, peka pada detail, tajam empatinya. Ringkasnya, di sini penulisan sastra dan riset ilmiah tampak bertemu wajah.

Namun, rupanya, di titik pertemuan itu pula terlihat tantangan tersendiri. Alur penuturan kisah hidup ada kalanya seakan tersela oleh penjelasan terperinci mengenai temuan ilmiah, pergolakan zaman, dan lain-lain. Terasa adanya semacam tarikmenarik antara keperluan bertutur dan keperluan menjelaskan masalah. Namun, dalam keseluruhannya, biografi ini mengalir lancar dari hulu ke hilir.

Alur kisah membentang di sepanjang pengalaman Rein dan Lucie, kekasih yang kemudian menjadi istrinya. Mereka bertemu di Bandung tatkala Rein masih insinyur muda yang baru datang dari Delft dan Lucie adalah siswi sekolah menengah dari lingkungan borjuasi Belanda pengelola perkebunan. Pernikahan Rein dengan Lucie memperbesar semangat Rein untuk bekerja dan menulis karya ilmiah sedemikian suburnya. Pasangan ini tampak seperti pasangan ideal: seiring sejalan, saling mengisi, memancarkan kegembiraan ke lingkungan sekitar. Tragedi mulai timbul tatkala Jepang menduduki Hindia Timur, dan tatanan kolonial yang telah mapan tiba-tiba berantakan. Rein harus mendekam di kamp interniran, dan tak pernah mendapatkan kembali privilese dari kurun sebelumnya, dan akhirnya Rein dan Lucie pulang ke Belanda, menyongsong hari tua. Anak satu-satunya wafat karena kecelakaan, dan gagasan tentang euthanasia lantas mengisi kehidupan mereka. Teka-teki timbul di sekitar kematian Lucie yang tidak alamiah, juga di sekitar kehidupan Rein bersama pasangannya yang baru di Austria hingga akhir hayatnya.

Barangkali, hingga batas tertentu, kisah hidup Rein van Bemmelen, juga Lucie, turut mencerminkan psikologi Belanda di Indonesia pada akhir zaman kolonial. Tumbuh dan berkarya di negeri tropis yang elok, terlempar dari surga kolonial seusai perang, menghadapi kesunyian dan penderitaan di usia senja, hingga segalanya berakhir. Demikianlah “di balik ketenaran” terdapat pribadi yang pada dasarnya pelik.

Peresensi: Hawe Setiawan (penulis lepas, tinggal di Bandung).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>