Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat.

Memantau Gempa Flores Tahun 1992

M.T. Zen di ruang baca. Foto: Deni Sugandi

M.T. Zen Berbekal Pustaka Menjelajahi Alam

01/06/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Rumbutampa Upaya Mitigasi Gempa

Rumah Bambu Tahan
Gempa ( Rumbutampa)
yang diaplikasikan pada
bangunan Kantor Kepala
Desa Jayapura.Foto:
Supardiyono Sobirin/
DPKLTS, 2016
Rumah Bambu Tahan Gempa ( Rumbutampa) yang diaplikasikan pada bangunan Kantor Kepala Desa Jayapura.Foto: Supardiyono Sobirin/ DPKLTS, 2016

Rumah Bambu Tahan Gempa ( Rumbutampa) yang diaplikasikan pada bangunan Kantor Kepala Desa Jayapura.Foto: Supardiyono Sobirin/ DPKLTS, 2016

Pada 2 September 2009, pukul 14.55 WIB, Jawa Barat dilanda gempa tektonik berkekuatan 7,3 SR. Pusat gempa berada di laut pada 8.24 LS dan 107.32 BT, kedalaman 30 km, berjarak 142 km barat daya Kota Tasikmalaya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mencatat korban sebanyak 79 orang meninggal, 11.039 unit rumah rusak berat, 15 rumah rusak sedang, dan 13.464 rusak ringan, 3.118 orang mengungsi, seluruhnya tersebar di wilayah kabupaten Cianjur, Garut, Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Bandung Barat, Bogor, Ciamis, Kuningan, bahkan Cilacap. Pada saat tanggap darurat, bantuan dari pemerintah maupun dari masyarakat secara gotong royong mengalir untuk mereka yang terdampak gempa, berupa tenda, obat-obatan, air bersih, bahan makanan, dan selimut serta baju terutama untuk anak-anak.

Sering kita mendengar sindiran saat sebuah bencana terjadi. Yakni, ketika bencana datang, semua terkaget-kaget, merasa kecolongan karena datangnya tiba-tiba, kemudian diadakan diskusi atau seminar tentang bencana itu, tapi setelah segalanya usai, semua lupa dan terkaget-kaget lagi ketika bencana baru kembali melanda. Untuk mengantisipasi bencana gempa yang bisa terjadi lagi sewaktu-waktu di masa mendatang, maka pada 2010 Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) di bawah pimpinan Solihin GP (mantan Gubernur Jawa Barat) bekerja sama dengan Arifin Panigoro (Medco Foundation), memberikan bantuan fisik dengan konsep hidup aman, selamat, dan sejahtera di daerah rawan gempa.

Bangunan sekolah hancur oleh gempa Tasikmalaya 2009. Foto: http://menujukihudpanyangmaju.blogspot.co.id

Bangunan sekolah hancur oleh gempa Tasikmalaya 2009.
Foto: http://menujukihudpanyangmaju.blogspot.co.id

Bantuan ini berupa percontohan renovasi bangunanbangunan yang ambruk akibat gempa 2009 dengan menggunakan bahan bambu yang banyak terdapat di tempat ini. Hasilnya, bangunan atau rumah bambu tahan gempa (rumbutampa). Lokasi percontohan dipilih desa yang menderita kerusakan paling parah, yaitu Desa Jayapura berupa bangunan Kantor Kepala Desa, Bale Pinter, Bengkel Bambu; dan di Desa Singajaya berupa bangunan Sekolah Dasar. Semuanya terletak di Kecamatan Cigalontang, ketinggian +619 m dpl. pada 7o19’30” LS dan 108o06’10” BT.

Pengaruh Gempa terhadap Bangunan Rumah
Peristiwa alam terjadinya gempa dan perilaku rambatan gelombang gempa harus disosialisasikan kepada seluruh masyarakat. Gempa dapat terjadi kapan saja, karena gempa memang fenomena alam, tetapi kita berusaha agar jangan sampai terjadi korban. Karena itu, kepada masyarakat awam perlu disampaikan penjelasan perihal gempa sehingga mereka dapat memahaminya.

Gempa, sebuah gerakan alami dari dalam bumi yang menyentak secara tiba-tiba, selalu saja mengejutkan manusia. Gelombang energi gempa merambat menuju permukaan bumi menjadi 2 jenis, yaitu gelombang badan (body wave) dan gelombang permukaan (surface wave). Gelombang badan dibedakan menjadi 2 yaitu gelombang primer (P wave atau pressure wave), dan gelombang sekunder (S wave atau shear wave). Demikian juga gelombang permukaan dibedakan menjadi 2, yaitu gelombang Love (L wave) dan gelombang Reyleigh (R wave).

Gelombang gempa badan dan gelombang gempa permukaan. Gambar dimodifikasi DPKLTS dari: epicentral.net

Gelombang gempa badan dan gelombang gempa permukaan. Gambar dimodifikasi DPKLTS dari: epicentral.net

Gelombang primer (P wave) merupakan gelombang longitudinal, yaitu gerak partikel searah dengan rambatan gelombang. Sedangkan gelombang sekunder (S wave) merupakan gelombang transversal, yakni gerak pertikel tegak lurus dengan rambatan gelombang. Gelombang Love (L wave) adalah gelombang geser yang terpolarisasi secara horizontal. Sedangkan gelombang Rayleigh (R wave) adalah gelombang yang gerak partikelnya menggulung seperti elips.

Gempa dengan gelombang P, S, L, dan R, yang bentuk rambatannya bervariasi dan saling berinteraksi, menjadi semakin berbahaya bagi kehidupan manusia karena datangnya mendadak tanpa ada peringatan dini terlebih dahulu. Rumah dengan bahan bangunan yang tidak memenuhi syarat langsung akan ambruk seketika. Sampai saat ini, belum ada peringatan dini terjadinya gempa yang canggih dan akurat. Kewaspadaan dan mitigasi dilakukan dengan cara kearifan adat dan budaya hidup harmoni di daerah rawan gempa. Salah satunya, membangun rumah tahan gempa dengan bahan bangunan kuat dan liat, yang mudah didapatkan di sekitar lokasi, misalnya bambu. Jadilah rumbutampa.

Persyaratan Bambu untuk Rumbutampa Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan, banyak tersebar di muka bumi, dengan jumlah tidak kurang dari 1.250 jenis. Dari jumlah tersebut, 159 di antaranya terdapat di Indonesia. Jumlah ini sudah banyak berkurang disebabkan oleh konversi lahan menjadi kawasan industri, budi daya, dan permukiman penduduk. Selain itu, bambu dianggap sebagai tanaman liar yang bebas ditebang dan dieksploitasi.

Untitled-34Bambu sebagai bahan bangunan telah banyak ditulis oleh para ahli, salah satunya adalah “Ilmu Konstruksi Bangunan Bambu” yang ditulis oleh Heinz Frick (2004), seorang arsitek dan ahli bambu. Masih banyak tulisan lain mengenai hal ini, dan mudah dijumpai di Internet. Namun tulisan khusus tentang rumbutampa, rumah bambu tahan gempa, masih sangat sedikit, karena arsitek dan ahli bambu belum tentu paham tentang gempa. Sebaliknya, ahli gempa belum tentu paham tentang sifat bambu dan desain rumah bambu. Rumah bambu yang artistik telah banyak dibangun, namun umumnya hanya menonjolkan sisi keindahan saja, belum tentu tahan terhadap goncangan gempa.

Selain itu, kenyataannya masih sangat sedikit yang membangun rumbutampa di daerah rawan gempa. Mungkin wujudnya dianggap “ndeso”, kelas kampung, tidak modern. Karena kurang sosialisasi dan pembinaan, mereka lebih senang membangun rumah beton atau pasangan batako yang diplester, dengan gaya Spanyol yang modern. Padahal, sebenarnya bangunan rumbutampa dijamin aman karena tahan gempa, nyaman huni, murah harganya, mudah dibangun, dan awet bila dipelihara dengan baik dan benar. Perlu segera dilakukan kolaborasi dan sinergi antara arsitek, ahli bambu, dan ahli gempa untuk menciptakan rumbutampa yang sebenarnya.

Ketika terjadi gempa, bangunan rumah dibebani gaya tekan, gaya tarik, gaya lentur, dan gaya geser oleh rambatan gelombang badan (P dan S). Selain itu, juga dibebani gaya geser dan gaya puntir oleh rambatan gelombang permukaan (L dan R). Gambar dimodifikasi DPKLTS dari: earthquake.usgs.gov

Ketika terjadi gempa, bangunan rumah dibebani gaya tekan, gaya tarik, gaya lentur, dan gaya geser oleh rambatan gelombang badan (P dan S). Selain itu, juga dibebani gaya geser dan gaya puntir oleh rambatan gelombang permukaan (L dan R). Gambar dimodifikasi DPKLTS dari: earthquake.usgs.gov

Rumah bambu dengan desain yang benar akan lebih handal dibanding rumah pasangan batako atau beton dalam menghadapi sentakan tiba-tiba dari gelombang gempa yang merambat maju, mundur, meliuk, menggeser, dan memuntir dengan gaya tekan, gaya tarik, gaya geser, gaya lentur yang sangat besar. Gelombang gempa inilah yang menimbulkan banyak kerusakan bangunan rumah yang terbuat dari pasangan batako yang diplester atau beton bila terjadi gempa. Beton dan pasangan batako yang diplester memang kelihatannya kuat, tetapi ternyata kuat lenturnya kecil, apalagi kuat tariknya kecil sekali. Berbeda dengan bambu, yang secara alami memiliki kuat tarik dan kuat lentur jauh besar sebagaimana tampak dalam tabel.

Agar bambu lebih berkualitas sebagai bahan bangunan rumbutampa, diperlukan empat langkah dan proses yang seksama. Pertama, bambu dipilih yang banyak tumbuh setempat, dari jenis yang biasa dipakai untuk bahan bangunan, misal bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu tali (Gigantochloa apus), bambu ori (Bambusa blumeana), bambu gombong (Gigantochloa pseudoarundinacea), dan bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea), dan berumur sekitar lima tahun, yaitu bambu yang cukup kuat sebagai bahan bangunan, jangan terlalu muda dan jangan terlalu tua. Karena, jika terlalu muda masih banyak mengandung zat pati, sehingga akan mudah rapuh karena disenangi hewan kecil sejenis rayap; dan jika terlalu tua, mudah mengalami retak atau pecah.

Kedua, waktu menebang bambu tidak boleh sembarangan, paling baik di musim kemarau, setelah pukul 12.00 siang, dan tidak pada bulan purnama atau bulan gelap, yaitu ketika zat pati yang terkandung dalam batang bambu sedang minimum. Jangan menebang bambu yang sedang beranak atau terdapat rebung di dekatnya, karena saat itu kandungan zat pati dalam batang bambu sedang maksimum. Juga tidak menebang bambu ketika sedang berbunga, karena pada saat itu kondisi bambu sedang lemah. Kearifan lokal ini mungkin dianggap hanya mitos, namun secara ilmiah dapat dibenarkan

Kuat tekan, kuat tarik, kuat lentur, dan modulus elastisitas berbagai macam material. Bambu sangat berpotensi menjadi bahan bangunan rumah tahan gempa, karena memiliki kuat tarik dan kuat lentur lebih besar dari pada material lainnya. Data uji laboratorium dari Pusat Litbang Sumber Daya Air (Pusair), dan sumber-sumber lainnya.

Kuat tekan, kuat tarik, kuat lentur, dan modulus elastisitas berbagai macam material. Bambu sangat berpotensi menjadi bahan bangunan rumah tahan gempa, karena memiliki kuat tarik dan kuat lentur lebih besar dari pada material lainnya.
Data uji laboratorium dari Pusat Litbang Sumber Daya Air (Pusair), dan sumber-sumber lainnya.

Ketiga, bambu hasil tebangan harus dirawat, diawetkan, dan disimpan dengan benar sebelum dipakai digunakan untuk rumbutampa. Banyak teknologi tradisional yang masih handal untuk merawat dan mengawetkan bambu, antara lain dengan perendaman dalam air yang mengalir, selama 1-3 bulan, atau direndam dalam air yang dicampur dengan tumbukan akar tuba (Derris elliptica). Proses perawatan bisa dilanjutkan dengan pemanasan atau pengasapan. Ketika proses pengasapan, bambu yang bengkok bisa diluruskan atau dibentuk sesuai kebutuhan. Setelah proses perawatan dan pengawetan selesai, bambu disimpan di tempat teduh, tidak kena air hujan, dan tidak langsung diletakkan di permukaan tanah.

Keempat, filosofi membangun rumbutampa adalah rumah bambu yang dapat menahan beban gempa, dengan prioritas terciptanya suatu rumah bambu yang mampu mencegah terjadinya korban, nyaman huni, kemudahan mendapatkan material bamboo dan pelaksanaan pembangunannya, dan biayanya terjangkau masyarakat. Bentuk rumbutampa harus sederhana dan simetris. Pada dasarnya desain rumbutampa adalah mengupayakan seluruh komponen rumah, baik struktur bawah (pondasi), struktur tengah (dinding, pintu, jendela), dan struktur atas (atap berikut kerangkanya) menjadi satu kesatuan sistem yang utuh, dengan sambungan ikatan tali ijuk antarkomponen harus bersifat lentur tetapi kuat, tidak mudah lepas atau runtuh bila terjadi gempa.

Penulis di depan rumpun bambu gombong (Gigantochloa pseudoarundinacea) yang banyak tumbuh di Cigalontang. Foto: DPKLTS (2016)

Penulis di depan rumpun bambu gombong (Gigantochloa pseudoarundinacea) yang banyak tumbuh di Cigalontang. Foto: DPKLTS (2016)

Struktur bawah berupa bambu pondasi harus diletakkan di atas beton yang menerus, mengikuti denah bangunan, dan harus menyatu dengan tanah dasar yang rata, stabil, dan keras, serta harus mampu mendukung seluruh berat dari bangunan rumah. Bambu pondasi tidak boleh langsung bersinggungan dengan tanah, karena akan mudah lapuk. Struktur tengah berupa dinding atau partisi diikatkan dengan tiang-tiang bambu dengan ikatan tali ijuk yang kuat. Struktur atas berupa atap berikut kerangkanya harus diikat kuat pada komponen-komponen lain terkait. Atap harus ringan supaya tidak membebani bangunan rumah, dan tidak mudah lepas bila ada tiupan angin kencang.

Pembelajaran Setelah Enam Tahun Saat ini rumbutampa yang dibangun oleh DPKLTS bersama masyarakat secara gotong royong di Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya pada 2010 yang lalu, secara umum kondisinya masih baik. Gempa 2009 telah menghancurkan bangunan Kantor Kepala Desa Jayapura yang terbuat dari beton dan pasangan bata. Tahun 2010 bangunan ini direnovasi dengan konsep rumbutampa. Desainnya mencontoh rumah adat Kampung Naga. Sampai saat ini, setelah 6 tahun berselang, bangunan masih berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik, dengan ikatan-ikatan tali ijuk yang masih nampak kuat. Bahkan bangunan ini menjadi “icon” desa Jayapura sebagai bangunan kantor pemerintah desa yang dibuat dari bahan bambu dengan bentuknya yang unik.

Beberapa bagian bangunan perlu perhatian, yaitu pondasi tiang di pintu masuk nampak belah-belah, yang mungkin disebabkan bahan bangunan bambu yang masih muda, dan bagian bawahnya agak mulai melapuk karena kemasukan air yang mengandung tanah. Nampak pula kusen jendela yang terbuat dari bahan kayu (bukan bambu) telah melapuk dimakan serangga sejenis rayap. Selain itu anyaman bambu yang dipasang sebagai ornamen bagian luar bangunan nampak telah memudar ditelan musim.

Kiri: Bangunan bambu Kantor Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya dibangun tahun 2010, pasca gempa tahun 2009. Kanan: Ikatan tali ijuk tradisional yang memperkuat hubungan antar komponen bambu kerangka atap. Foto: Supardiyono Sobirin/ DPKLTS (2016)

Kiri: Bangunan bambu KantornDesa Jayapura, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya dibangun tahun 2010, pasca gempa tahun 2009. Kanan: Ikatan tali ijuk tradisional yang memperkuat hubungan antar komponen bambu kerangka atap. Foto: Supardiyono Sobirin/ DPKLTS (2016)

Berikutnya adalah Bale Pinter Cigalontang, juga bangunan dari bambu yang dibangun pada 2010, berukuran 4 m x 8 m. Sesuai namanya, bangunan ini dimaksudkan sebagai tempat silaturakhmi, belajar, berdiskusi para generasi muda Cigalontang. Desainnya sama dengan Kantor Kepala Desa Jayapura yang mencontoh rumah adat Kampung Naga. Walaupun warnanya telah kusam, namun bangunan ini masih kokoh dan berfungsi dengan baik. Bahkan karena letaknya yang agak tinggi, sering bagian luar Bale Pinter ini dipakai sebagai panggung bila ada upacara di lapangan Kantor Kecamatan. Namun, sangat disayangkan, ikatan bambu dari rotan di para-para telah melapuk. Ternyata ikatan tali ijuk lebih awet dibanding dengan ikatan rotan.

Perihal Bengkel Bambu Cigalontang, sangat disayangkan, karena fungsinya tidak lagi menjadi tempat perawatan dan pengawetan bambu, tetapi berubah menjadi bengkel pembuatan pisau dan parang khas Cigalontang. Beberapa tahun yang lalu, atap dari bengkel ini rusak diterbangkan oleh angin ribut.

Kiri: Bangunan Bale Pinter. Kanan Atas & Bawah: Ikatan tali ijuk tradisional yang memperkuat hubungan antar komponen bambu kerangka atap. Foto: Supardiyono Sobirin/ DPKLTS (2016)

Kiri: Bangunan Bale Pinter. Kanan Atas & Bawah: Ikatan tali ijuk tradisional yang memperkuat hubungan antar komponen bambu kerangka atap. Foto: Supardiyono Sobirin/ DPKLTS (2016)

Terakhir adalah bangunan Sekolah Dasar Desa Singajaya, masih termasuk Kecamatan Cigalontang, yang juga mengalami rusak berat akibat gempa pada 2009. Pada 2010 bangunan ini direnovasi menggunakan bahan bangunan bambu. Sampai dengan 2016 bangunan sekolah ini masih berdiri dan berfungsi dengan baik. Dinding dan partisi yang terbuat dari anyaman bambu, membuat aliran udara segar bisa masuk ke tiap kelas. Di halaman sekolah pernah dibangun panggung podium dari bambu untuk upacara-upacara sekolah, tapi sekarang bangunan panggung ini telah dibongkar karena strukturnya yang kurang baik, dan membahayakan murid-murid.

Kiri: Tahun 2016, tiang penyangga, dinding, dan atap Sekolah Dasar Singajaya yang terbuat dari bambu nampak masih kokoh. Kanan Atas: Bangunan bambu Sekolah Dasar Singa Jaya, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya dibangun pada tahun 2010, hingga sekarang masih berdiri dan berfungsi. Kanan Bawah: Bangunan panggung terbuat dari bambu di halaman sekolah pada saat peresmian tahun 2010. Sekarang bangunan ini sengaja dirobohkan karena strukturnya kurang bagus. Foto: Supardiyono Sobirin/ DPKLTS

Kiri: Tahun 2016, tiang penyangga, dinding, dan atap Sekolah Dasar Singajaya yang terbuat dari bambu nampak masih kokoh. Kanan Atas: Bangunan bambu Sekolah Dasar Singa Jaya, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya dibangun pada tahun 2010, hingga sekarang masih berdiri dan berfungsi. Kanan Bawah: Bangunan panggung terbuat dari bambu di halaman sekolah pada saat peresmian tahun 2010. Sekarang bangunan ini sengaja dirobohkan karena strukturnya kurang bagus. Foto: Supardiyono Sobirin/ DPKLTS

Dalam rangka membangun rumbutampa di tempat lain, banyak hal yang dapat dipelajari dari pengalaman selama ini di Cigalontang. Pertama, perlu meningkatkan sosialisasi dan pemahaman tentang gempa kepada masyarakat. Kedua, perlu segera kolaborasi dan sinergi antara ahli gempa, ahli bambu, arsitek, dan ahli sipil bangunan untuk membangun rumbutampa. Ketiga, perlu menggalakkan tanaman bambu di daerah rawan gempa, membangun bengkel bambu, dan pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat setempat. Keempat, rumbutampa secara rutin harus dipantau kinerjanya, dan segera dilakukan perbaikan pada komponen yang mengalami kerusakan. (Supardiyono Sobirin)

Penulis adalah Koordinator Dewan Pakar, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>