Nirgunungapi-59

Panas Bumi Nirgunungapi di Kalimantan

Sekilas Geologi-53

Sekilas Geologi Pegunungan Tengger

07/05/2014 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Riwayat Panas Bumi di Kamojang

dikamojang-67
dikamojang-67

Rumah seorang mantri dari Dinas Vulkanologi di Kawah Kamojang sebelum Perang Dunia II. Sumber: Tropenmuseum

Pengembangan panas bumi sebagai energi bermula dari negeri Itali. Pada 4 Juli 1904, Pangeran Piero Ginori Conti menguji generator panas bumi pertama di Larderello, daerah selatan Tuscany. Dan pada 1911, di Valle del Diavolo, Larderello, dibangun pembangkit listrik tenaga panas bumi yang pertama.

Perkembangan tersebut mendorong para ahli geologi, gunung api, dan peminat kebumian di Hindia Belanda untuk mencoba menggali potensi panas bumi di tanah jajahannya. Meskipun, sebenarnya, kebutuhan tenaga listrik sebelum Indonesia merdeka itu bisa dikatakan relatif sedikit.

Orang yang mula-mula mengusulkan gagasannya adalah J.Z. van Dijk. Dalam majalah bulanan Koloniale Studiën (1918) ia menulis “Krachtbronnen in Italie”. Di situ guru HBS di Bandung itu menitikberatkan
perhatiannya pada potensi panas bumi dari gunung api dengan acuan pengalaman yang telah dilakukan di Italia. Meski demikian, catatan awal perihal sumber panas menunjukkan bahwa panas bumi sudah diamati sejak lama sebelum van Dijk menulis. Buktinya, Franz Wilhelm Junghuhn menuliskan amatannya atas 23 sumber air panas dalam Java, deszelfs gedaante, bekleeding en inwendige struktuur (1854).

Selanjutnya, Berend George Escher mengeritik van Dijk. Dalam tulisannya, “Over de Mogelijkheid van Dienstbaarmaking van Vulkaan Gassen” (dimuat dalam De Mijningenieur, 1920), ia menyatakan bahwa sebagian besar lapangan solfatara di Hindia Belanda berada di ketinggian, wilayah yang datarnya sedikit, sementara proses pengeboran di wilayah gunung api sangat sulit dilakukan karena solfatara bersifat korosif.

Namun, N.J.M. Taverne (dalam “Omzetting van vulkanische in electrische energie,” De Mijningenieur, Jg. 6, 1925) lebih optimis ketimbang Escher. Dalam tulisannya, Taverne memperlihatkan keberhasilan
orang Italia mengelola panas bumi di Larderello. Itu sebabnya, pada Februari 1926, Volcanologische Onderzoek mengadakan pengeboran eksplorasi di lapangan fumarola Kawah Kamojang.

dikamojang-68

Wisata dengan mobil ke Kawah Kamojang (1920-1937). Sumber: Tropenmuseum

Inilah yang dianggap sebagai upaya awal pengeboran eksplorasi panas bumi pertama di Hindia Belanda (Asosiasi Panasbumi Indonesia, 2004). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Pusat Survei Geologi Hindia Belanda yang mengadakan pemetaan gunung api berikut lapangan solfatara dan fumarolanya antara tahun 1900-1914 (Hochstein dan Sudarman, 2008). Dalam eksplorasi pada 1926, beberapa lubang di Kawah Kamojang menghasilkan geofluida, yaitu uap dan air panas. Hingga tahun 1928 telah dilakukan lima pemboran eksplorasi panas bumi di kawah tersebut. Namun, lubang bor yang berhasil mengeluarkan uap hanya sumur KMJ-3 dengan kedalaman 66 meter. Sampai saat ini KMJ-3 masih menghasilkan uap alam kering dengan suhu 1400 C dan tekanan 2,5 atm.

Pada tahun 1928 pula, R.W. van Bemmelen yang pada tahun 1927 mengunjungi Larderello menulis “Over de toekomst an een met vulkanisches stroom gedreven centrale in Nederlandsch Indie” dalam De Mijningenieur Jg. 9, 1928). Di situ, tampak van Bemmelen sangat optimis dan mendukung gagasan pengembangan potensi panas bumi di wilayah gunung api. Pada 1929, muncul lagi tulisan yang terkait dengan panas bumi Kamojang. Kali itu Ch. E Stehn menulis “Kawah Kamodjang” yang diperuntukkan sebagai panduan ekskursi pada Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik Ke-IV (Fourth Pacific Sciene Congress) di Batavia dan Bandung. Dalam tulisan tersebut, Stehn menghitung kapasitas panas bumi yang dihasilkan Kawah Kamojang.

Pengusahaan panas bumi di Hindia Belanda Nampak tidak berkembang setelah tahun 1928. Kemudian setelah Indonesia merdeka, Volcanologische Onderzoek atau Volcanological Survey berubah menjadi Dinas Gunung Berapi atau Urusan Vulkanologi (1966), Sub-Direktorat Vulkanologi (1976), atau Direktorat Vulkanologi (1978). Lembaga kegunungapian pasca Indonesia merdeka itu kemudian mengadakan pengamatanlapangan panas bumi pada 1960-an, dengan bantuan PLN dan ITB.

Ada juga eksplorasi panas bumi yang dilakukan Misi Gunung Api UNESCO (UNESCO Volcanological Mission) ke Indonesia yang dimulai pada November 1964, berlanjut hingga Januari 1965. Eksplorasi hanya dilakukan di Jawa dan Bali, di antaranya mencakup Kawah Kamojang, dan Pegunungan Dieng. Misi ini berakhir pada Januari 1965 karena keluarnya Indonesia dari PBB (Panasbumi: Energi Kini dan Masa Depan, 2004).

Lembaga kegunungapian di Indonesia selanjutnya menyelesaikan pengamatan atas potensi panas bumi di Jawa, Bali, dan Lampung pada 1968. Adapun eksplorasi panas bumi yang melibatkan pihak asing
dimulai lagi dengan adanya Misi Eurafrep. Saat itu, para penelitinya berasal dari Vulkanologi, ITB, PLN, dan Eurafrep. Mereka menyelidiki potensi panas bumi di Kamojang, Dieng, Bayah-Sukabumi (Cisolok-
Cisukarame), Gunung Tampomas (Sumedang), Gunung Karang (Banten), Gunung Kromong (Cirebon), dan Bali.

Pada tahun 1971, utusan Geothermal Energy Ltd (GENZL) dari Selandia Baru mengunjungi beberapa lapangan panas bumi yang sebelumnya telah diamati dan diselidiki. Hasilnya, ada proyek bantuan bilateral Colombo Plan. Selama periode 1971-1974, eksplorasi-eksplorasi awal pun dilakukan, antara lain, di Kamojang.

dikamojang-69

Kamojang. Foto: Deni Sugandi

Perkembangan cukup penting di Kamojang terjadi pada tahun 1974. Saat itu, Pertamina dengan PLN mengembangkan pembangkit tenaga listrik sebesar 30 MW. Sebuah sumur eksplorasi berkedalaman 600 meter dibuat. Sumur itu menghasilkan uap yang dapat dikembangkan menjadi energi listrik. Pengembangan ini selesai tahun 1977. Selain itu, Pertamina juga membangun sebuah monoblok dengan kapasitas total 0,25 MW di lapangan Kamojang, yang diresmikan Mentamben Subroto pada 27 November 1978. Turbin berkekuatan 250 kW dipasang untuk menghasilkan listrik degan menggunakan uap dari sumur KMJ-6.

Pada 1997, ada penundaan Proyek Pengembangan Kamojang setelah terbitnya Keppres No. 39/1997. Selanjutnya, antara tahun 2003-2007, ada pengembangan PLTP Unit IV (60 MWe). Oleh karena itu, hingga 2007, empat unit pembangkit telah dibangun di Kamojang dan keseluruahannya menghasilkan 200 MW tenaga listrik.

Tentang pengelolanya sendiri, ada perubahan. Dengan terbitnya UU No. 27/2003 tentang panas bumi, PT Pertamina tidak lagi memiliki hak monopoli dalam pengusahaan energi panas bumi di Indonesia. Selanjutnya, melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 31/2003, Pertamina diharuskan mengalihkan usaha panas bumi ke anak perusahaannya. Untuk itu PT Pertamina membentuk PT Pertamina Geothermal Energy (PT PGE) sebagai anak perusahaan yang akan mengelola kegiatan usaha di bidang panas bumi sejak tahun 2006. Kamojang pun tidak terlepas dari PT PGE, sehingga dikenal sebagai PT Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang (PGE-AK).

Demikian pula dengan PLN. Kini pengusahaan pembangkitan listrik PLTP Kamojang ada di bawah PT Indonesia Power, anak perusahaan PLN. Perusahaan yang semula bernama PT Pembangkitan Jawa Bali I (PT PJB I) dan didirikan 3 oktober 1995 itu kemudian berubah nama menjadi PT Indonesia Power pada 3 Oktober 2000. PLTP Kamojang di bawah PT Indonesia Power dikenal sebagai Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Kamojang, yang mempunyai tiga Sub Unit Bisnis, yaitu Kamojang (140 MW), Darajat (55 MW), dan Gunung Salak (180 MW).

Kini, PGE-AK tengah bersiap-siap mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang Unit 5 pada Juli 2015. Pembangunan pembangkit berkapasitas 30 MW itu mulai dilakukan pada Januari 2013. Ini ditandai dengan penandatanganan prasasti yang dilakukan di Gedung Dipa Bramanta Kantor PGE-AK oleh Menteri ESDM Jero Wacik pada tanggal 12 Januari 2013. ( Atep Kurnia )

Penulis adalah peneliti literasi, bergiat di Pusat Studi sunda (PSS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>