Kerucut Sinabung dan aktifitas Juni 2014. Foto: Akhmad Zaennudin

Erupsi Sinabung Masih Membubung

Citra satelit kaldera Rinjani, kaldera yang
terbentuk setelah Gunung Samalas (Rinjani
Tua) meletus. Sumber: CRISP NUS.

Jangan Lupakan Samalas

04/04/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Rinjani Dari Evolusi Kaldera hingga Geopark

Aliran lava produk letusan 2015 G. Baru Jari. Foto: Ujang Kurdiawan
Aliran lava produk letusan 2015 G. Baru Jari. Foto: Ujang Kurdiawan

Aliran lava produk letusan 2015 G. Baru Jari. Foto: Ujang Kurdiawan

Rinjani, gunung api berkaldera dan berdanau-kawah, kini menjadi daya tarik wisata nasional melalui Geopark Nasional Rinjani, Lombok. Kawasan ini, kini juga sedang diusulkan sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGG). Gunung api tertinggi di gugusan Kepulauan Sunda Kecil (Lesser Sunda Island) ini memiliki sejarah evolusi yang panjang. Gunung Barujari – anak Gunung Api Rinjani – yang meletus terakhir pada 2015, menarik kita untuk mengenali sejarah evolusi Rinjani.

Rinjani (+3.726 m) yang terletak di Pulau Lombok bagian utara, Nusa Tenggara Barat, merupakan gunung api tertinggi kedua di Indonesia, setelah Kerinci di Sumatra. Gunung api ini memiliki ciri khas berupa kerucut yang tumbuh di tepian keldera bagian timur, di dalam kalderanya terdapat danau kaldera berbentuk bulan sabit, dan kerucut baru yang muncul dari dalam danau tersebut. Kalderanya dinamakan Segara Anak, dan kerucut barunya disebut Gunung Barujari. Danau Segara Anak (+2.008 m) merupakan danau kaldera dengan gunung api aktif yang tertinggi di Indonesia, bahkan di dunia.

Letusan-letusan besar mewarnai Rinjani sepanjang sejarah perkembangannya dari sejak induknya yang berumur sekitar satu juta tahun yang lalu, hingga di masa sejarah manusia modern kini. Sebuah letusan yang sangat dahsyat, 7 pada skala VEI (volcanic explosivity index) yang dampaknya setahun kemudian melanda hingga ke Eropa pada abad ke-13 dan baru terungkap di awal abad ke-21.

Penampang kaldera timur barat Rinjani Tua (Samalas). Warna kuning merupakan bagian yang dibongkar dan hilang akibat letusan Samalas, pada sekitar 1257 dan membentuk Kaldera Rinjani. Sumber: Heryadi Rachmat

Penampang kaldera timur barat Rinjani Tua (Samalas). Warna kuning merupakan bagian yang dibongkar dan hilang akibat letusan Samalas,
pada sekitar 1257 dan membentuk Kaldera Rinjani. Sumber: Heryadi Rachmat

Letusan-letusan Rinjani selain menghasilkan keragaman batuan, juga memberikan lanskap yang bernilai estetika tinggi. Karena keindahannya, Rinjani kini termasuk gunung yang favorit untuk didaki, dan beserta lingkungan lainnya dari puncak hingga pantai, merupakan kawasan geopark nasional Rinjani, Lombok. Maka, karakter Rinjani perlu terus diketahui dan informasinya dikemas secara menarik dan disajikan dalam rangka mitigasi bencana maupun pemanfaatannya sebagai kawasan wisata gunung api.

Gunung Rinjani Tua
Sejarah letusan yang membentuk morfologi Gunung Rinjani seperti sekarang ini, dimulai pada kala Plistosen atau sekitar satu juta tahun lalu. Jauh sebelumnya, pada Zaman Tersier, Kala Miosen (kl. 11 juta tahun lalu), secara bertahap terbentuk Formasi Gunung Api Tua akibat adanya pergerakan Lempeng Australia ke arah utara dan bertumbukan dengan Lempeng Eurasia. Formasi batuan ini dikenal dengan istilah Old Andesite Formation (OAF) yang kini terdapat berderet di bagian selatan Pulau Lombok, menempati kawasan wisata Pantai Kute (Mandalika).

Pergerakan Lempeng Australia yang merupakan lempeng samudra tersebut terus berlanjut pada Zaman Kuarter tepatnya Kala Plistosen sampai sekarang,
menabrak dan menyusup di bawah Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua, menghasilkan deretan gunungapi Kuarter. Kompleks Gunung Rinjani Tua yang tingginya sebelum membentuk kaldera, mencapai lebih dari 4.000 m di atas muka laut. Inilah satu-satunya kompleks gunungapi aktif Kuarter yang tumbuh di bagian utara Pulau Lombok.

Untitled-21

Papan informasi aktivitas gunung api di dalam kaldera Rinjani. Foto: Heryadi Rachmat

Gunung Rinjani Tua – yang kelak dikenal dengan nama Samalas – secara berangsur terus aktif tumbuh membentuk gunung api strato, sejalan dengan pergerakan lempeng yang mempengaruhinya. Selanjutnya, dikarenakan lubang kawah Rinjani Tua tersumbat oleh hasil aktivitas magma berupa lava, maka secara bertahap aktivitasnya berpindah ke bagian yang paling lemah, yaitu ke arah lereng timur Rinjani Tua. Proses ini akhirnya membentuk gunung api baru yang dikenal dengan nama Rinjani yang tingginya hampir menyamai tinggi Gunung Rinjani Tua.

Tahap berikutnya, aktivitas magma berhenti sementara dan kedua lubang kaldera Rinjani mengalami penyumbatan oleh aliran lava sebelumnya yang
membeku. Pada saat kedua lubang kaldera tersebut tersumbat, terjadi peningkatan kegiatan magma menghasilkan akumulasi gas yang besar serta dorongan magma yang kuat. Karena dorongan magma dan gas melebihi kekuatan sumbatan, maka terjadilah letusan dahsyat dari Rinjani Tua (Samalas) membentuk kaldera yang disebut Kaldera Rinjani. Kaldera ini – yang juga dapat disebut sebagai Kaldera Samalas – memiliki diameter sekitar 7,5 x 6 km dengan kedalaman rata-rata dari bibir sampai dasar kaldera mencapai 750 m.

Letusan Dahsyat yang Terungkap di Awal Abad ke-21
Umur pembentukan Kaldera Samalas jauh sebelumnya telah diketahui oleh Tim Peneliti dari Geological Survey of Japan (GSJ) dan Indonesia pada tahun 2004, yaitu terjadi antara tahun 1.200 s.d 1.300 (abad ke-13). Namun, hasilnya tidak dipublikasikan secara luas (internasional), sehingga tidak diketahui oleh banyak kalangan. Selanjutnya tim peneliti dari Prancis, Amerika, Inggris, Belgia, dan Indonesia pada Oktober 2013 mempublikasikan hasil penelitiannya tentang letusan Gunung Samalas dan diterbitkan di Jurnal Internasional “Proceeding of The National Academy of Sciences of The United State of America” (PNASUSA)., Akhirnya dunia pun mengetahui bahwa Kaldera Rinjani terjadi pada abad 13 tepatnya pada tahun 1257.

Letusan dahsyat Gunung Rinjani Tua ini terjadi selama rentang waktu antara 13 sampai 22 jam, dengan magnitudo atau angka VEI mencapai 7 yang menghasilkan kolom letusan setinggi 43 km. Volume endapan yang dihasilkannya antara 33-44 km3 Dense Rock Equivalent (DRE) terdiri atas 7-9 km3 DRE endapan jatuhan plinian pumisan; 16 km3 DRE endapan pyroclastic density current (PDC), dan 8-9 km3 DRE abu co-PDC. Menurut Celine M. Vidal (2015), letusan tersebut menjangkau jarak sampai 660 km dari sumber, yaitu sampai pada lereng Gunung Merapi di Jawa Tengah.

Letusan Plinian Gunung Rinjani Tua yang telah membentuk Kaldera Rinjani, telah dikenal dengan sebutan “Samalas”. Nama Samalas diperoleh dari catatan pada daun lontar yang terdapat di Museum Leiden maupun yang ada di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat yang ditulis dalam ‘takepan’ Babad Lombok dan Babad Suwung. Jumlah ‘takepan’ daun lontar yang menceritakan tentang Sejarah dan kebudayaan Nusa Tenggara Barat zaman dulu, sampai saat ini yang terdapat di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat mencapai 1.200 buah.

Geomagz_V6N1_310316 single_033Rinjani Pascakaldera
Setelah terbentuknya Kaldera Rinjani, kerucut gunung api yang tersisa adalah Gunung Rinjani (+ 3.726 m) yang tumbuh sebelumnya di tepi kaldera bagian timur. Berdasarkan bukti-bukti di lapangan maupun laboratorium, pascapembentukan kaldera Rinjani, Gunung Rinjani kembali meletus yang bersumber dari Kaldera Segara Muncar. Bukti sederhana bahwa terjadi letusan Rinjani pascapembentukan kaldera ini ditandai oleh kenyataan bahwa pada lubang Kaldera Segara Muncar maupun pada lereng Gunung Api Rinjani tidak ditemukan adanya endapan hasil pembentukan Kaldera Rinjani yang terjadi sebelumnya.

Tahap berikutnya setelah dasar Kaldera Rinjani kedap air, selanjutnya kaldera ini diisi air hujan membentukDanau Segara Anak. Dalam waktu yang relatif bersamaan dengan kegiatan pengisian air danau, aktivitas magma mulai meningkat kembali diawali dengan pembentukan kerucut sinder dan aliran lava
yang bersumber dari Gunung Barujari dan Gunung Rombongan.

Seperti pada gunung api lainnya, Koesoemadinata (1979) menyebutkan bahwa aktivitas kegunungapian Rinjani pascapembentukan kaldera adalah
pembangunan kembali. Kegiatannya berupa efusiva yang menghasilkan lava dan eksplosiva yang membentuk endapan bahan-lepas (piroklastik). Lava umumnya berwarna hitam, dan ketika meleler tampak seperti berbusa.

Peletusan pascapembentukan kaldera relatif lemah sesuai dengan siklus letusan gunung api. Lava yang dikeluarkan oleh kerucut Gunung Barujari dan Gunung Rombongan relatif bersifat andesitik-basaltik dibanding lava yang dihasilkan oleh pembentukan Gunung Api Rinjani Tua yang bersifat basal-basaltik. Kemungkinan terjadinya awan panas ketika letusan memuncak sangat kecil. Produk letusan umumnya diendapkan di bagian dalam kaldera saja. Urutan kejadian pasca keldera diilustrasikan pada gambar dan tabel di bawah ini.

Ilustrasi evolusi Gunung Rinjani dan Kalderanya.

Ilustrasi evolusi Gunung Rinjani dan Kalderanya.

Bahaya Letusan Rinjani
Kawasan Rawan Bencana (KRB) adalah suatu wilayah yang memiliki kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi yang untuk jangka waktu tertentu tidak dapat atau tidak mampu mencegah, meredam, mencapai kesiapan, sehingga mengurangi kemampuan untuk menangani dampak buruk bahaya tertentu. Dengan kata lain, KRB adalah kerentanan wilayah terhadap bencana. Penataan ruang secara keseluruhan haruslah merupakan upaya intervensi terhadap kerentanan wilayah sehingga meningkatkan ketahanan
ruang wilayah terhadap kemungkinan munculnya ancaman atau bahaya yang dapat menjadi bencana. Kawasan Rawan Bencana (KRB) gunung api adalah KRB dengan bahaya yang dihadapinya adalah letusan gunung api.

Peta KRB Gunung Rinjani penting untuk diketahui oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk para pendaki Rinjani. Berdasarkan peta yang diterbitkan oleh PVMBG, Badan Geologi, KRB Gunung Rinjani dibagi dalam tiga tingkat kerawanan dari tinggi ke rendah, yaitu: Kawasan Rawan Bencana III, Kawasan Rawan Bencana II, dan Kawasan Rawan Bencana I.

Kawasan Rawan Bencana III adalah
kawasan yang sangat berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lontaran batu (pijar), kemungkinan base surge dan atau gas beracun. Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu: 1) Kawasan rawan terhadap aliran masa berupa awan panas, aliran lava, kemungkinan base surge dan gas beracun; dan 2) Kawasan rawan terhadap lontaran batu (pijar), hujan abu lebat, dan kemungkinan hujan lumpur (panas) pada radius 3 km dari pusat erupsi.

Kawasan Rawan Bencana II adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lontaran batu (pijar), hujan abu lebat, hujan lumpur panas, dan gas beracun. Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu: 1) Kawasan rawanbencana terhadap aliran masa berupa awan panas, aliran lava, dan gas beracun; dan 2) Kawasan rawan bencana terhadapmaterial lontaran batu (pijar), hujan abu lebat, dan hujan lumpur panas dengan radius 5 km dari pusat erupsi.

Kawasan Rawan Bencana I adalah kawasan yang berpotensi terlanda lahar, tertimpa material jatuhan berupa hujan abu. Apabila letusan membesar, kawasan ini berpotensi terlanda hujan abu, dan mungkin lontaran batu (pijar). Kawasan ini dibagi menjadi dua. Pertama, kawasan rawan bencana terhadap aliran massa berupa lahar. Kawasan ini terletak di sepanjang lembah dan bantaran sungai, terutama yang berhulu di daerah puncak. Kedua, kawasan rawan terhadap material jatuhan berupa hujan abu tanpa memerhatikan arah tiupan angin, pada jarak 8 km dari pusat erupsi.

Peta Kawasan Rawan Bencana. Sumber: PVMBG

Peta Kawasan Rawan Bencana. Sumber: PVMBG

Pemanfaatan sebagai Geopark
Indonesia dalam kurun waktu sekitar 750 tahun yang lalu telah menghasilkan tiga kaldera, yaitu: Kaldera Rinjani terbentuk pada 1257 dengan diameter 7,5 x 6 km; Kaldera Tambora yang dihasilkan pada 1815 dengan diameter 7,2 x 6,5 km; dan Kaldera Krakatau yang lahir pada 1883 dengan diameter 7,5 x 7 km. Ketiga kaldera tersebut bukan saja terkenal di dalam negeri, bahkan dalam percaturan kegunungapian di tingkat dunia pun sudah dikenal luas, dan selalu menjadi bahan pembicaraan para ahli. Dengan demikian, Indonesia memiliki potensi sangat tinggi dalam hal outstanding (keunggulan) keragaman geologi (geodiversity) terkait gunung api, salah satunya Kaldera Rinjani.

Selain membentuk keragaman batuan, aktivitas peletusan Rinjani juga menghasilkan bentukan morfologi gunung api yang memiliki nilai estetika tinggi. Selanjutnya, di kawasan gunung api ini juga berkembang tutupan lahan berupa hutan yang lebat tempat tumbuh dan berkembangnya keragaman flora dan fauna (biodiversity) setempat. Kawasan keragaman biologi ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang memiliki luas sekitar 41.330 Ha.

Pada akhirnya, sebagai hasil interaksi manusia dengan keragaman alam dan hayatinya itu, di kawasan Rinjani dan sekitarnya ini tumbuh dan berkembang keragaman budaya masyarakat setempat. Kawasan Rinjani pun menjadi objek pendakian dan wisata budaya yang menarik yang banyak didatangi wisatawan dari dalam dan luar negeri. Pengelolaan sumber daya geologi gunung api ini melibatkan banyak pihak seperti TNGR, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, asosiasi pemandu wisata, lembaga swadaya masyarakat, kelompok pecinta alam, dan masyarakat setempat. Geowisata gunung api menjadi salah satu kegiatan penting di kawasan Rinjani.

Sesuai dengan potensinya dan didukung oleh kemauan yang kuat serta dorongan dari berbagai pemangku kepentingan, kawasan Rinjani pun diusulkan menjadi kawasan geopark nasional dan memperoleh status tersebut pada 7 Oktober 2013, dengan nama “Geopark Rinjani, Lombok, NTB”. Dengan statusnya itu, Rinjani harus sudah siap sebagai kawasan konservasi sekaligus pendidikan, dan pengembangan ekonomi setempat yang bertumpu pada geowisata gunung api sebagai wisata utama dan wisata lainnya sebagai pendukung. Untuk itu, di kawasan Geopark Rinjani telah ditetapkan sebanyak 22 situs geologi (geosites), 8 situs biologi, 17 situs budaya. Kini, sejak 2014, kawasan ini sedang diproses untuk menjadi geopark dunia atau UNESCO Global Geopark (UGG).

Rinjani kini berkembang dari semula sebagai gunung api yang senantiasa dipantau aktivitasnya menjadi tempat pendakian dan geowisata lainnya di dalam kawasan geopark. Kesadaran menghadapi kenyataan bahwa Rinjani sebenarnya adalah gunung api yang aktif, dan lingkungannya yang rentan terhadap kerusakan akibat sampah yang dibuang sembarangan, kondisi pendakian yang memerlukan kehati-hatian, dan hal lainnya yang penting diperhatikan, harus senantiasa menjadi pegangan para pengguna wisata di kawasan Geopark Nasional Rinjani ini. (Heryadi Rachmat)

Penulis adalah Perekayasa Utama pada Museum Geologi, Badan Geologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>