Kaldera dan puncak Rinjani di lihat dari Plawangan Senaru. Foto: Igan S. Sutawidjaj

Menahan Napas di Keindahan Rinjani

Pola fasies endapan gunung api yang mengontrol aliran air tanah.
Sumber: Bogie & Mackenzie, 1998.

Ketahanan Air Tanah Wilayah Gunung Api

21/10/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Restu Geologi untuk Pembangunan

Untitled-8 copy
Untitled-8 copy

Foto: Deni Sugandi

Kepulauan Indonesia berada di lingkungan geodinamik yang sangat aktif yang merupakan batas-batas pertemuan berbagai lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Samudra Pasifik yang menunjam terhadap Lempeng Benua Asia. Gerak-gerak lempeng tektonik tersebut mengakibatkan terjadi berbagai jenis proses geodinamik seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, gerakan tanah (longsor), dan banjir bandang. Proses tersebut sebenarnya merupakan peristiwa alam yang terjadi secara periodik dalam kurun waktu ratusan bahkan jutaan tahun, sejak sebelum kehidupan manusia ada di muka bumi ini.

Apabila terjadi dalam kurun waktu dan dalam lingkungan kehidupan manusia, maka berbagai proses geodinamik itu akan berisiko pada kerugian sosial-psikologi dan kerugian ekonomi yang fatal. Ancaman proses geodinamik ini dikatagorikan sebagai bahaya geologi. Namun, apabila benar-benar telah terjadi proses geodinamika yang menimbulkan kerugian sosial ekonomi secara nyata, maka proses geodinamika ini kita sebut sebagai bencana geologi.

Di balik proses geologi yang telah dan sedang berlangsung ini dihasilkan pula sumber daya geologi, baik mineral, minyak dan gas bumi, air, baik air permukaan, maupun air tanah; baik air dingin maupun air panas; lahan, baik bentang lahan (landscape), maupun bentuk lahan (landform). Kesemuanya bermanfaaat bagi keberlangsungan hidup manusia. Dengan demikian, proses geologi yang menghasilkan sumber daya geologi dan bahaya geologi tersebut, suka tidak suka, merupakan lingkungan geologi tempat keberlangsungan hidup manusia dan mempengaruhi secara langsung terhadap kondisi dan keberadaan manusia.

Pengertian dan Fokus UtamaGeomagz_V5N3_011015_single_low_021
Sumber daya geologi merupakan faktor geologi yang mendukung keberlanjutan manusia untuk mempertahankan hidup. Sedangkan faktor pembatas/ kendala geologi merupakan faktor geologi yang menimbulkan kerentanan bagi keberlangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, diperlukan informasi geologi lingkungan sebagai upaya mengurangi risiko, baik dengan cara mengatasi permasalahan akibat eksploitasi sumber daya geologi dan pembangunan konstruksi oleh manusia, ataupun sebaliknya, untuk mengatasi dampak fenomena geologi terhadap kegiatan/kepentingan manusia (American Geological Institute, dikutip dari Bell, 1998). Dengan studi Geologi Lingkungan diharapkan pemanfaatan berbagai sumber daya geologi dapat dilakukan tanpa melampaui batas-batas daya dukung lingkungan. Dengan kata lain, terwujudnya suatu keseimbangan antara kepentingan pemenuhan kebutuhan manusia dengan kepentingan dalam menjaga kelestarian dan keselamatan lingkungan. Hal ini dapat dicapai juga melalui upaya yang senantiasa mempertimbangkan pencegahan, pengendalian dan meminimalkan dampak negatif dari berbagai kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya geologi ataupun pembangunan
konstruksi.

Geomagz_V5N3_011015_single_low_022Fokus utama dalam studi Geologi Lingkungan adalah observasi, analisis, dan prediksi terhadap aspek “sesumber geologi” dan “bahaya geologi”. Sesumber Geologi adalah produk dari proses yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia, sedangkan bahaya geologi adalah proses geodinamik yang mengancam kehidupan manusia, karena berpotensi menimbulkan kerugian sosial-ekonomi dan mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup manusia.

Analisis geologi lingkungan untuk pengembangan wilayah regional didasarkan pada komponen geologi lingkungan yang berkaitan dengan faktor pendukung dan faktor pembatas atau kendala secara fisik dalam suatu pengembangan wilayah. Beberapa komponen geologi lingkungan yang digunakan dalam analisis ini adalah: sumber daya geologi (kondisi kelerengan atau topografi, daya dukung tanah dan batuan, dan kondisi keairan/ hidrogeologi), kendala geologi (gempa bumi, gerakan tanah dan gunung api), penyisih geologi dan penyisih non geologi.

Dalam melakukan analisis geologi lingkungan diperlukan suatu satuan unit analisis yaitu satuan geologi lingkungan sebagai kerangka analisis yang di dalamnya terdapat persamaan karakteristik dari seluruh atau sebagian besar komponen-komponen geologi lingkungan sehingga akan diketahui gambaran secara umum tentang faktor pendukung dan pembatas/kendala yang ada. Dengan demikian dapat dilakukan evaluasi terhadap tiap satuan ini guna menilai keleluasaannya dalam pengembangan wilayah.

Untitled-9 copy

Untitled-10 copyUntitled-11 copyUntitled-12 copy

Selintas Sejarah Kelembagaan
Bidang Geologi Lingkungan dimulai pada 1978, ketika Direktorat Geologi, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum dikembangkan menjadi Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral yang memiliki empat unit, yaitu : (1) Direktorat
Sumber Daya Meneral (DSDM)), (2) Direktorat Geologi Tata Lingkungan (DGTL)), (3) Direktorat Vulkanologi (DV), (4) Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (PPPG).

Bidang Geologi Teknik dan Hidrogeologi yang berada di bawah Direktorat Geologi, dikembangkan masingmasing menjadi sub direktorat dengan penambahan sub direktorat baru yaitu Geologi Lingkungan. Perubahan nomenklatur pun terus berlanjut pada tahun 2001 ketika berubah nama menjadi Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan. Pada tahun 2005 berubah nama  menjadi Pusat Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan. Terakhir pada tahun 2010 berubah nama lagi menjadi Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan (PSDAGL), terdiri atas: Bidang Geologi Teknik, Bidang Air Tanah, dan Bidang Geologi Lingkungan dengan perubahan tugas yang bertitikberat ke arah penelitian dan pelayanan. PSDAGL ini adalah salah satu unit kerja di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Proses pencemaran limbah ke dalam batuan dan akifer

Proses pencemaran limbah ke dalam batuan dan akifer

Bidang Geologi Lingkungan sebagai bagian dari PSDAGL, Badan Geologi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan penyusunan kebijakan teknis, norma, standar, prosedur, kriteria, rencana, program, evaluasi, pelaporan, pemberian rekomendasi teknis pengelolaan lingkungan dan penataan ruang, serta pelaksanaan pemetaan, penelitian, penyelidikan, perekayasaan, pemodelan, dan bimbingan teknis di bidang geologi lingkungan. Sejak tahun 1978 itu sudah banyak kontribusi Bidang Geologi Lingkungan dalam menyediakan informasi untuk keperluan berbagai kepentingan pengembangan wilayah, kawasan, maupun tapak berbagai pembangunan wilayah dan infrastruktur. Hasilnya pun selalu didistribusikan dan disosialisasikan ke daerah bersangkutan.

Contoh Analisis
Pada awalnya penyusunan informasi geologi lingkungan menggunakan batas lembar peta saja. Namun atas permintaan daerah berkaitan dengan rencana tata ruang wilayah, penyusunan pun lebih fleksibel, yaitu dapat menggunakan batas administrasi kabupaten, kota, batas pulau pulau kecil, dan batas-batas sesuai rencana tata ruang kawasan. Batas ini dapat juga disesuaikan dengan batas-batas pada masalah yang spesifik, seperti kasus Lumpur Sidoarjo yang menggunakan batas terdampak yang dari waktu ke waktu mengalami perubahan.

Untitled-14 copySalah satu contoh wilayah atau kawasan yang telah diinventarisasi dan dipetakan kondisi geologi lingkungannya adalah Kota Padang. Dalam upaya penyusunan geologi lingkungan Kota Padang, telah dilakukan pemetaan pasca gempa bumi berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR), di Sumatra Barat, pada 30 September 2009. Gempa bumi yang meluluhlantakan Ranah Minang itu terjadi pada pukul 17.16 WIB, di lepas pantai Sumatra, sekitar 50 Km barat laut Kota Padang. Sebanyak 1.128 orang dinyatakan tewas dalam peristiwa itu. Peristiwa yang yang menyayat hati itu masih berbekas hingga kini.

Melihat kondisi seperti itu, pada pascabencana gempa bumi Badan Geologi langsung menanggapinya dengan melakukan upaya penyusunan peta geologi lingkungan Kota Padang dan sekitarnya agar rehabilitasi, relokasi, maupun restorasi kawasan sesuai dengan kondisi geologi lingkungan. Dalam penyelidikan geologi lingkungan parameter yang dipertimbangkan meliputi parameter batuan, muka air tanah, kemiringan lereng, intensitas curah hujan, rawan bencana geologi, dan penggunaan lahan. Parameter tersebut di beri nilai kepentingan dan kemudian ditumpangsusunkan.

Hasil analisis tumpang susun menghasilkan tiga zona tingkat keleluasaan pengembangan wilayah perkotaan, yaitu tingkat keleluasaan tinggi, sedang, dan rendah. Sedangkan zona tidak leluasa berdasarkan faktor pembatas yang bersifat kebijakan seperti ditetapkannya suatu kawasan sebagai kawasan lindung. Pengertian tingkat keleluasaan tersebut adalah perbandingan antara faktor daya dukung geologi dan kendala geologi. Peringkat leluasa menunjukkan wilayah tersebut memiliki kendala geologi yang rendah, sehingga mudah mengorganisasikan ruang kegiatan maupun pemilihan jenis penggunaan lahan. Biasanya pada wilayah ini tidak diperlukan rekayasa teknologi sehingga biaya pembangunannya rendah. Sedangkan wilayah yang tidak leluasa menunjukkan wilayah tersebut memiliki kendala geologi yang tinggi, sehingga pada zona tidak leluasa sangat diperlukan rekayasa teknologi dan biaya pembangunan sangat mahal. Demikian seterusnya.

Geomagz_V5N3_011015_single_low_025Peran Geologi Lingkungan
Selain menentukan kawasan permukiman, penyelidikan geologi lingkungan pun berperan dalam analisis kelayakan lokasi tempat pengolahan akhir (TPA) sampah, seperti yang diamanatkan dalam SNI 03-3241-1994 tentang Cara Pemilihan Lokasi Tempah. Pada SNI itu, penentuan lokasi TPA sampah harus sesuai dengan kondisi geologi lingkungan meliputi kondisi hidrogeologi dan geologi teknik. Parameter yang dipertimbangkan meliputi parameter batuan, muka air tanah, kemiringan lereng, intensitas curah hujan, rawan bencana geologi, dan penggunaan lahan. Beberapa parameter diberi nilai kelas sesuai dengan tingkat kelayakannya dan diberi nilai kepentingannya dan kemudian diberi pembobotan. Parameter lainnya merupakan pembatas atau buffer yang dinyatakan daerah tidak layak. Setiap parameter ditampilkan dalam peta tematik, kemudian ditumpangsusunkan. Nilai bobot kemudian dijumlahkan, dan dari rentang jumlah bobot kemudian ditentukan tingkat kelayakannya yaitu layak tinggi, layak sedang, layak rendah dan tidak layak.

Masih banyak lagi peranan geologi lingkungan dalam menentukan berbagai rencana pemanfaatan ruang, seperti menentukan kawasan karst, menentukan kawasan peruntukan pertambangan, menentukan koefisien dasar bangunan, menentukan kawasan cagar alam geologi, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya meningkatnya ketahanan suatu wilayah atau kawasan dapat tercapai jika informasi berbagai unsur geologi lingkungan  diintegrasikan dalam rencana tata ruang wilayah dan dijadikan acuan pada saat proses penyusunan tata ruang serta djadikan alat pengendali pembangunan fisik di wilayah ini. Alat pengendali ini tidak hanya digunakan untuk mengendalikan pembangunan saat ini saja, namun juga digunakan juga sebagai alat untuk mengendalikan pembangunan di masa datang. Oleh karena itu analisis geologi lingkungan ditujukan untuk memberikan kenyamanan gambaran tingkat keleluasaan penggunaan lahan guna memperkecil dampak negatif yang akan diakibatkan oleh suatu
pengembangan wilayah.

Makna dari uraian di atas memperjelas peranan geologi lingkungan dalam pengembangan wilayah maupun perencanaan pembangunan infrastruktur. Konsep the present is the key to the future sangatlah penting untuk selalu menyadarkan para ahli geologi lingkungan agar jangan sampai terlena dengan melewatkan atau bahkan mengabaikan berbagai fenomena geologi yang sangat dinamis, yang makin sering terjadi di sekitar kita akhirakhir ini, seperti fenomena gempa bumi, longsor, erupsi gunung api, dan banjir bandang ataupun fenomena mud volcano (gunung api lumpur).

Para ahli geologi lingkungan harus terus berkarya dan juga perlu selalu berupaya menyadarkan masyarakat untuk bertindak tanpa melampaui batas-batas daya dukung geologi. Dengan demikian, berbagai dampak dari kejadian bencana geologi maupun kemanusiaan dapat dihindari atau dicegah, atau diminimalkan, demi tercapainya proses pembangunan berkelanjutan dan Millennium Development Goals. (Oki Oktariadi)

Penulis adalah Penyelidik Bumi Utama, Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi, KESDM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>