Danau Laguna. Foto: T. Bachtiar.

Wangi Cengkih Ternate

Siapa Nenek Moyang Kita di Kepulauan Indonesia?

03/06/2016 Comments (0) Museologi, Museologi, Uncategorized

Refleksi dari Peresmian Museum Geopark Batur, Bali

Refleksi
dari Peresmian
Museum Geopark
Batur, Bali
Refleksi dari Peresmian Museum Geopark Batur, Bali

Refleksi dari Peresmian Museum Geopark Batur, Bali

Pada hari Jumat, 1 April 2016, Museum Geopark Batur telah diresmikan oleh Menteri ESDM, Sudirman Said. Dengan telah diresmikannya Museum Geopark Batur, kini masyarakat sudah dapat mengunjungi museum pertama yang bertemakan geopark yang berada di Bali ini. Melalui museum ini, para pengunjung juga dapat memperoleh informasi tentang pesan konservasi, potensi pendidikan, dan pengembangan ekonomi berbasis geowisata dan “wisata hijau” (ecotourism) lainnya di kawasan Geopark Batur.

Pada saat peresmian di atas, Menteri ESDM mengajak semua pihak untuk tidak berhenti pada proses membangun (museum), namun juga merawatnya. “Yang tersulit bukan membangun, tapi menjaga dan memelihara hasil pembangunan agar terus memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Ini menjadi tugas pemimpin di semua lapisan”, ujarnya. Pesan ini berlaku pula untuk keempatmuseum lainnya yang berada di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM).

Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Saat ini terdapat lima museum kegeologian yang pengelolaannya berada di bawah Badan Geologi, KESDM. Kelima museum tersebut adalah Museum Geologi di Bandung, Jawa Barat; Museum Geopark Batur, di Bangli, Bali; Museum Karst Indonesia di Wonogiri, Jawa Tengah; Museum Gunungapi Merapi, Sleman, DI Yogyakarta; dan Museum Tsunami di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Peresmian Museum Geopark Batur telah memunculkan refleksi untuk meningkatkan pengelolaan, fungsi, dan peran kelima museum ini agar sejajar dengan museum-museum di luar negeri. Sebelumnya, kami sampaikan secara ringkas tentang sejarah singkat, konsep peragaan, dan manfaat Museum Geopark Batur.

Sejarah Singkat
Museum Geopark Batur yang terletak di Penelokan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, merupakan pengembangan dari Museum Gunungapi Batur. Pembangunan Museum Gunungapi Batur terutama dilatarbelakangi oleh banyaknya gunungapi di Indonesia sebagai negara yang terletak di jalur Cincin Api (Ring of Fire) dunia. Tujuan pembangunannya adalah untuk menyampaikan informasi gunungapi Indonesia, baik ditinjau dari aspek bahaya maupun manfaatnya, kepada masyarakat.

Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Pembangunan museum ini membutuhkan waktu yang cukup lama melalui proses kerja sama tiga pihak, yaitu KESDM, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Bangli, serta Kementerian Kehutanan. Peletakan batu pertama pembangunannya dilaksanakan pada 26 Maret 2004 oleh Direktur Jenderal Geologi Sumber Daya Mineral, KESDM, Gubernur Bali dan Bupati Bangli dan diresmikan oleh Menteri ESDM pada 10 Mei 2007. Pada awalnya Museum Gunungapi Batur dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Bangli, hingga kemudian pengelolaannya diserahkan kepada Badan Geologi, KESDM pada 2011.

Museum Geopark Batur mulai dibangun setelah kawasan Kaldera Batur diterima sebagai anggota jejaring geopark global UNESCO (kini UGG: UNESCO Global Geoparks) pada September 2012. Pembangunan Museum Geopark Batur dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu: Perencanaan, Juni – Agustus 2013, Pembangunan Fisik Gedung, Agustus– Desember 2013; Perencanaan Interior dan Sistem Pameran, Maret 2014 – Mei 2014, dan Pembangunan Fisik Interior, Juni 2014 – Desember 2014.

Dengan telah selesainya pembangunan Museum Geopark Batur, maka Museum Gunung api Batur melebur kedalam Museum  Geopark Batur. Sementara itu, informasi aspek kebencanaan dan manfaat gunungapi Batur merupakan peragaan utama keragaman geologi kegunungapian di dalam Museum Geopark Batur.

Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Konsep Peragaan dan Manfaat
Peragaan Museum Geopark Batur menyajikan tiga pilar pendukung geopark. Isu pokok yang diangkat berdasarkan tiga pilar tersebut adalah sejarah geologi, lingkungan, ekosistem, dan interaksi sosial dengan fokus adaptasi dan keragaman.

Tahapan penyusunan dan pelaksanaan eksibisi/peragaan dilakukan antara Januari 2014 – Maret 2015, diawali dengan tahapan perencanaan eksebisi, disain, produksi, dan penataan koleksi (instalasi). Eksebisi museum didukung oleh lembaga pemerintah lainnya yang terkait, yaitu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Denpasar (Kementerian Kehutanan); Kebun Raya Eka, Bedugul, Bali (LIPI) Bali; dan Universitas Udayana, Balai Arkeologi Denpasar (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).

Materi eksebisi ditempatkan dalam ruangan yang sesuai dengan pilar masing-masing yang diawali oleh materi Pengenalan Geopark dan diakhiri oleh materi yang berisi tentang Pesan dan Ajakan sebagai upaya konservasi Geopark Batur. Koleksi yang disajikan untuk merepresentasikan tiga pilar geopark (geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity) berjumlah 350 objek, dimensi estimasi antara 5 cm- 250 cm, dan berat maksimum 600 kg. Berbagai bentuk media yang digunakan untuk mendukung informasi penyajian koleksi antara lain poster, foto, maket, ilustrasi, video, slideshow, dan media interaktif touch screen. Teknik penyajian koleksi dan tata pameran mulai dari penggunaan showcase, vitrine, hingga hanging wall display.

Stegodon trigonocephalus. Koleksi: MG, BG

Stegodon trigonocephalus. Koleksi: MG, BG

Keberadaan Museum Geopark Batur di dalam Geopark Batur memiliki fungsi penting dan strategis. Museum ini diarahkan untuk menjadi “center of excellence” geopark Batur bahkan geopark seluruh Indonesia. Hal ini secara timbal balik mendukung pengembangan Geopark Batur dan secara langsung ataupun tidak langsung akan memberikan dampak positif kepada masyarakat dan kawasan di sekitarnya.

Dampak positif dimaksud antara lain terkonservasinya potensi warisan alam dan budaya sehingga menjamin kelestarian dan pemanfaatan berkesinambungan. Selain itu, keberadaan Geopark Batur dengan museum terkait di dalamnya juga akan mendorong terjadinya pengkayaan intelektual (edukatif) kepada masyarakat, khususnya di sekitar kawasan, sehingga mereka lebih peduli terhadap keberadaan potensi sumber daya alam dan budaya unggulan untuk dikonservasi dan dimanfaatkan secara berkesinambungan.

Kehadiran geopark juga akan mempermudah implementasi program-program “outreach” Museum Geopark, misalnya melalui event “Geopark to School” dan “School to Geopark”, serta kegiatan pembelajaran lainnya. Secara bertahap, museum juga akan memicu kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan ketertiban sehingga membawa perbaikan kondisi lingkungan pedesaan di kawasan geopark; juga memperkuat jati diri, memupuk kerja sama dan saling menghargai di antara masyarakat setempat. Dampak terakhir, memicu kebangkitan ekonomi kreatif yang akan meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi dan budaya masyarakat.

Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Refleksi Pengembangan Museum Kegeologian
Dari peresmian museum Geopark Batur, terdapat refleksi atau pantulan pemikiran dalam rangka efektivitas pengelolaan dan peningkatan kinerja museum kegeologian. Pemikiran ini sebagian besar di antaranya bukanlah hal yang baru, melainkan hasil kompilasi dari masukan-masukan, baik dari level pimpinan puncak di KESDM maupun dari para kolega pemerhati kemuseuman. Refleksi ini meliputi substansi kemuseuman, pengelolaan/organisasi termasuk sumber daya manusia, pembiayaan, dan teknologi.

Dari segi substansi, sebagai negara yang paling banyak memiliki gunung api di dunia, Indonesia sudah sepantasnya memiliki museum dengan tema gunung api nasional, atau Museum Gunung api Indonesia. Terdapat museum Gunung api Merapi di Sleman, Yogyakarta yang sangat potensial untuk diperluas kandungannya sehingga meliputi seluruh gunung api di Indonesia dan menjadi Museum Gunung Api Indonesia.

Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Museum Geopark Batur, Bali. Foto:
Koleksi MG, BG

Substansi lainnya, tentang Museum Tsunami Aceh. Berkaitan dengan tsunami, Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memiliki aktivitas gempa tektonik dan tsunami yang tinggi. Beberapa gempa di Indonesia, termasuk gempa Aceh 2004, tercatat sebagai gempa terbesar di dunia. Karena itu, pantas kiranya jika Indonesia memiliki museum gempa dan tsunami. Untuk itu, tidak perlu dibangun museum yang baru, karena sudah ada cikal-bakalnya, yaitu Museum Tsunami Aceh. Maka, museum tersebut ke depan dapat dikembangkan menjadi “Museum Gempa bumi dan Tsunami Indonesia”

Berdasarkan masukan dari Staf Ahli Menteri (SAM) ESDM bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, museum kegeologian saat ini menghadapi permasalahan yang meliputi bidang organisasi, manajemen, sumber daya manusia, dan aset. Dari semua itu, prioritas utama saat ini yang perlu ditingkatkan adalah segi organisasi.

Untitled-64

Peresmian Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Dari sisi organisasi, saat ini kelima museum di bawah Badan Geologi hanya memiliki satu eselon tiga plus, yaitu Kepala Museum Geologi; dan empat eselon empat, yaitu Kepala Subbagian Tata Usaha, Kepala Seksi Dokumentasi dan Koleksi, Kepala Seksi Peragaan, dan Kepala Seksi Edukasi dan Informasi. Kesemua jabatan struktural ini berada di museum geologi di Bandung. Hal ini menjadi masalah karena begitu panjang-nya rentang kendali pengelolaan kelima museum kegeologian tersebut. Untuk itu, diperlukan penambahan sekurang-kurangnya satu Kepala Seksi di empat museum di luar Museum Geologi Bandung. Implikasinya, Kepmen ESDM yang baru untuk mengaturnya.

Peresmian Museum Geopark Batur, Bali. Foto: Koleksi MG, BG

Peresmian Museum Geopark Batur, Bali.
Foto: Koleksi MG, BG

Dari sisi pembiayaan, ke depan museum kegeologian juga diharapkan lebih banyak dapat menggali potensi hibah atau donasi dari para mitra kerja sama atau simpatisan dan donatur museum. Hal ini dilakukan dengan tetap berpedoman kepada regulasi yang berlaku dan dilakukan secara nirlaba sebagaimana maksud diselenggarakannya museum. Seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi, ke depan museumpun harus lebih dapat menggunakan teknologi yang ada, mulai dari survei dan dokumentasi koleksi, peragaan, hingga ke promosi dan edukasi. (Oman Abdurahman, Ma’mur, dan Baskoro Setianto)

Penulis, Oman Abdurahman adalah Kepala Museum Geologi dan Pemimpin Redaksi Geomagz. Ma’mur adalah Kepala Seksi Peragaan, dan Baskoro Aji adalah kurator, semuanya di Museum Geologi, Badan Geologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>