Menyigi bumi

Menyigi Bumi, Menuturkan Kisah Diri

Misteri

Misteri dan Masalah Kebumiaan

06/12/2012 Comments (0) Resensi Buku

Pun Geologi Perlu Konservasi

Pun Geologi

Pun GeologiLangkawi dan Ibrahim Komoo Geopark Langkawi yang menjadi geopark pertama di Asia Tenggara di bawah naungan GGN, tidak lepas dari usaha keras seorang profesor geologi dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yaitu Profesor Dr. Ibrahim Komoo. Salah satu upaya Komoo di antaranya melalui ceramah ilmiah di Akademi Sains Malaysia (ASM) pada 2003 yang kemudian dibukukan dengan judul Conservation Geology, Protecting Hidden Treasures of Malaysia. Buku ini boleh dikatakan merupakan batu loncatan untuk upaya melindungi keragaman geologi tidak hanya untuk Malaysia melainkan juga untuk Indonesia.

Kata pengantar buku dari Presiden ASM cukup menggelitik: “Kita terbiasa menggunakan ekspresi ‘sekeras batu karang’ untuk menggambarkan sesuatu yang terus lestari, padahal batuan dapat punah akibat aktivitas manusia, atau tersembunyi di lebatnya rimba, dan secara metafor tersembunyi karena kita memang kurang memahaminya.” Kekurangpahaman kita tentang keunikan dan kemenarikan batuan, dan geologi secara umum, memang menjadi permasalahan utama tidak adanya apresiasi masyarakat terhadap alam. Alam hanya dilihat sebagai komoditas ekonomi secara ekstraktif saja. Padahal ada nilai-nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dari sekadar usaha ekstraktif yang dapat musnah dan tidak berkelanjutan, yaitu melalui usaha-usaha konservasi. Buku Komoo ini memberi pemahaman dan arahan bagaimana melindungi pusaka-pusaka alam itu, khususnya dalam aspek geologi.

Buku setebal 51 halaman ini dimulai dengan prinsipprinsip dan nilai-nilai yang dianut secara universal dalam perlindungan alam dan geologi, khususnya untuk fenomena yang telah dikenal luas seperti keindahan bentang alam, atau nilai-nilai pusaka alam yang luar biasa. Untuk geokonservasi sendiri, Komoo membandingkan aturan-aturan di berbagai negara dan mengutip beberapa pendapat. Ia misalnya mengutip Legge dan King (1992) yang memfokuskaPun Geologin perhatian pada perlindungan gejala geologi dan bentuk muka bumi yang penting karena nilainilanya untuk kemanusiaan menyangkut keilmuan, pendidikan, riset, estetika, dan inspirasional. Pendapat Legge dan King mungkin merupakan pendapat yang paling mengena sebagai alasan kita melindungi pusaka-pusaka geologi.

Komoo sendiri kemudian melontarkan Geologi Konservasi (Conservation Geology), istilah yang tidak hanya mencakup upaya konservasi atas warisan atau pusaka geologi, tetapi juga sebagai bidang baru dalam Ilmu Kebumian yang dapat menyediakan kerangka teoritis dan sistematis untuk konservasi sumber daya dan pusaka geologi. Hal itu dapat menjadi instrumen untuk melakukan pergeseran
paradigma pada masyarakat geologiawan ke arah pemanfaatan sumber daya geologi dan bentang alam secara ramah lingkungan. Kerangka dan konsep konservasi geologinya dimulai dengan konsep keragaman geologi (geodiversity) yang mengacu pada keragaman proses, sistem, kumpulan, dan bentuk aspek-aspek geologi, geomorfologi, bahkan tanah. Dari keragaman geologi kemudian dinilai untuk menjadi warisan atau pusaka geologi (geoheritage) yang mempunyai nilai spesifik yang penting dalam keilmuan dan pendidikan.

Buku ini mengenalkan pemeringkatan dalam menilai pusaka geologi. Misalnya keragaman geologi dengan nilai rendah dapat digolongkan sebagai situs geologi, nilai sedang sebagai situs geologi penting, nilai tinggi sebagi geosite, hingga nilai yang luar biasa sebagai geotope. Namun, Komoo memperkenalkan banyak istilah baru yang terasa asing, tak terkecuali untuk kalangan Geologi sendiri. Pada perkembangannya, tidak semua ahli geologi mengikuti konsepnya, misalnya untuk istilah geotope. Meskipun demikian, prinsip dasar yang dikemukakannya patut dihargai sebagai upaya untuk memperjelas kedudukan dan kepentingan gejala geologi, dan menjawab pertanyaan awam seperti “apa bagusnya batu atau bentang alam itu?”

Pada bagian akhir dikenalkan pula geowisata (geotourism) dan geopark. Ketika buku ini terbit pada 2003 kedua istilah tersebut, khususnya geopark, mungkin belum begitu dikenal luas. Bagaimanapun, untuk menjawab permasalahan di awal buku ini mengenai dikotomi pemanfaatan sumber daya geologi, antara ekstraktif versus konservasi, manfaat ekonomi dari geokonservasi harus muncul, dan geowisata-geopark menjadi alternatifnya.

Secara hukum, Indonesia sebenarnya telah mempunyai instrumen yang cukup tajam untuk melindungi sumber daya geologi yang penting dan unik, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. PP ini menjamin perlindungan terhadap gejalagejala geologi yang unik dan langka dan mempunyai nilai-nilai keilmuan, pendidikan, atau berhubungan dengan kemanusiaan lainnya. Melalui PP ini misalnya muncul permasalahan yang cukup pelik tentang pemanfaatan secara ekstraktif kawasan kars yang bertabrakan dengan pasal yang menyatakan bahwa wilayah yang mempunyai geologi unik, salah satunya mempunyai bentang alam kars, menjadi kawasan lindung nasional. Akibatnya, perseteruan runcing timbul di antara penguasa (pemerintah daerah) yang biasanya bergandeng tangan dengan pengusaha dan masyarakat yang biasanya didukung oleh LSM.

Buku ini menjadi sisi netral dari pertentangan yang bernuansa hukum. Ketika kalimat-kalimat dalam hukum dapat dijungkirbalikkan untuk kepentingankepentingan tertentu, buku Komoo yang akademis menjadi pegangan yang lebih universal, tanpa keberpihakan kepentingan, sekalipun tetap terbuka untuk diperdebatkan sesuai dengan kebiasaan ilmiah. Kita memang masih sangat bergantung pada sumber
daya Bumi yang didapat dengan cara ekstraktif.  Namun, di sisi lain, kita harus mempertahankan secara keras gejala-gejala geologi yang mempunyai nilai-nilai universal bagi kemanusiaan, terutama untuk generasi-generasi penerus kita. Jangan sampai kita dicerca habis anak-cucu kita karena mewariskan sesuatu yang karut-marut dan centang-perentang.

Peresensi adalah Penulis, anggota tim redaksi Geomagz; dosen di Prodi Teknik Geologi, FITB, ITB; koordinator KRCB.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>