mitigasi-29

Antisipasi dan Mitigasi Gempa

panas-bumi-40

Kekerabatan Emas dan Panas Bumi

17/12/2011 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Puluh Weh, Gunung Api di Kilometer Nol

puluh-32

puluh-32Pulau Weh, satu pulau paling barat laut kepulauan Indonesia dikenal dengan adanya titik Kilometer Nol. Meskipun di sebelah barat Pulau Weh masih terdapat satu pulau, yaitu Pulau Rondo yang tidak berpenghuni dan merupakan sebuah atol (pulau karang), tetapi Pemerintah Indonesia menetapkan posisi awal atau posisi nol dalam perhitungan jarak yang dikenal dengan “Kilometer Nol” berada di Pulau Weh. Secara geografis, titik nol tersebut berada pada 05o 54’ 21.42” Lintang Utara dan 95o 13’ 00.50” Bujur Timur.

Kota terbesar di Pulau Weh adalah Sabang. Namun, bagi banyak orang Sabang sering dianggap sebagai nama pulau. Nama Sabang sangat dikenal dengan baik berkat satu lagu wajib yang selalu dinyanyikan sebelum masuk kelas ketika masih di sekolah dasar yang berjudul “Dari Sabang Sampai Merauke” ciptaan R. Suharjo. Dari lagu itu mungkin anggapan Sabang sebagai pulau terjadi, karena lirik berikutnya berbunyi “berjajar pulau-pulau”.

Secara administratif, Pulau Weh masuk ke dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam bahasa Aceh, Pulau Weh berarti pulau yang terpisah atau pulau yang jauh. Hal tersebut menggambarpuluh-33kan bahwa pulau ini berpisah dari daratan Sumatra.

Bagi mereka yang berkunjung ke lokasi Kilometer Nol akan disambut oleh serombongan monyet yang nampak sudah jinak dan seekor babi hutan yang berada dalam rombongan itu. Babi hutan itu makan bersama dengan monyet dan tidak saling mengganggu. Menurut keterangan penduduk, babi hutan itu akan kembali ke hutan setelah kenyang, sedangkan monyet tinggal di pohon yang ada di sekitar lokasi tersebut.

Dalam rangkaian gunung api Indonesia, gunung api yang berada pada posisi paling barat, adalah gunung api yang berada di Pulau Weh. Neuman van Padang, 1951, menyebutnya Gunung Puluh Weh, boleh jadi karena berada di Pulau Weh. Penduduk lokal menyebutnya Gunung Jaboi karena berada tidak jauh dari Kampung Jaboi. Tetapi booklet yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Kota Sabang menyebut lokasi tersebut sebagai Panas Bumi Batee Shok tanpa menyebut nama gunung api. Batee shok artinya batu kosong. Besar kemungkinan penamaan tersebut karena di lokasi itu tidak tumbuh satupun tanaman sehingga merupakan lahan yang kosong.

puluh-34Dalam klasifikasi gunung api Indonesia, Gunung Puluh Weh termasuk dalam kategori gunung api tipe C (Data Dasar Gunungapi Indonesia, K. Kusumadinata, 1979). Artinya, Puluh Weh adalah gunung api yang tidak pernah meletus dan hanya merupakan lapangan solfatara/fumarola.

Gunung Puluh Weh mengambil tempat di bagian tenggara Pulau Weh atau sekitar 12 km sebelah selatan Kota Sabang. Secara geografis, gunung api tipe C ini berada pada 5o 46’ Lintang Utara dan 95o 18’Bujur Timur terdiri dari tiga lapangan solfatara/ fumarola, masing-masing bernama Lho Balohan Ceunokot, Teupin Kerueng Madun, dan Teupin Iboih. Lapangan solfatara yang terbesar adalah Lho Balohan Ceunokot berada pada ketinggian 584 m dpl. Lapangan solfatara ini terdiri dari tiga kelompok solfatara/fumarola yang dibatasi oleh lembapuluh-35h yang tidak dalam. Berdasarkan catatan Tim Pengeboran Panas Bumi, Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi, suhu maksimum pada titik solfatara sebesar 99o C dan suhu maksimum pada bualan lumpur (fumarola) sebesar 71o C. Bau gas belerang tidak terlalu tajam dan hanya tercium dalam jarak dekat. Dua lapangan solfatar lainnya berada tidak jauh dari pantai dan sudah tidak tampak adanya kenampakan panas bumi.

Lokasi gunung api dapat dicapai dengan mudah. Dari Pelabuhan Sabang dapat ditempuh dengan kendaaraan roda empat selama 45 menit dengan kondisi jalan beraspal mulus. Dari tepi jalan raya pengunjung harus berjalan kaki menuju ke bukit lapangan solfatara dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Pemerintah Daerah sudah menyediakan jalan setapak yang dilapisi oleh paving blok. Kondisi hutan sekitarnya terjaga dengan baik.

Promosi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kota Sabang untuk mengunjungi gunung api ini tidak segencar dengan tempat lainnya, misalnya Kilometer Nol atau Pantai Iboih. Apabila dikelola dengan baik, misalnya mengadakan atraksi memasak telur atau ubi/pisang di titik fumarola, akan sangat menarik wisatawan untuk berkunjupuluh-36ng.

SALAH PAHAM
Pada tahun 2005 ketika pertama kali kami mengunjungi gunung api tersebut, ketika baru saja usai pengeboran percobaan panas bumi di salah satu titik sekitar gunung api, tertulis pengumuman yang dipasang oleh Pemerintah Daerah yang berbunyi “Dilarang menyalakan api atau merokok karena ada gas yang mudah terbakar”. Pengumuman tersebut berdampak sangat besar, terutama bagi penduduk yang bertempat tinggal tidak jauh dari lokasi tersebut maupun bagi turis. Mereka tidak berani menyalakan api, meskipun hanya sekedar untuk merokok di sekitar areal gunung api.

Dalam kunjungan kami yang kedua kali ini, pengumuman yang ditulis pada plat seng tersebutpuluh-37 sudah hancur karena karatan, tetapi penduduk tetap patuh, tidak berani menyalakan api di lokasi tersebut. Kami jelaskan dan peragakan kepada penduduk, termasuk yang mengantar kami mendaki, bahwa hal tersebut tidak benar karena gas yang keluar dari lapangan solfatara di kompleks gunung api adalah uap belerang dan uap air yang tidak dapat terbakar. Kami peragakan dengan menyalakan korek api di
salah satu titik solfatara dan mereka melihat tidak terjadi kebakaran, dan api segera padam karena tertiup uap air. Dengan demikian kesalahpahaman tersebut dibetulkan. Kami jelaskan bahwa yang berbahaya adalah gas belerang yang berkonsentrasi tinggi atau gas racun yang mungkin ada, terutama bila cuaca mendung atau hujan.

PUSTAKA
M. Neumann van Padang, 1951, Catalogue of the Active Volcanoes Of The World Including Solfatara Filed. Part I Indonesia.
K. Kusumadinata, 1979, Data Dasar Gunungapi Indonesia.
Pemerintah Kota Sabang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2010, Ayo Jak Lom U Sabang (Ayo Berkunjung ke Sabang).

 

Oleh: SR. Wittiri

puluh-38  puluh-39

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>