Oraginisasi-Museum

Museum Geologi dari Masa ke Masa

koleksi museum geologi

Koleksi Museum Geologi

16/08/2014 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Prasejarah Gunung Sewu Hunian “Pacitanian”

Prasejarah-Gunung-Sewu-1
Prasejarah-Gunung-Sewu-1

Ilustrasi aktivitas manusia purba di depan gua tempat tinggalnya, digambar oleh Ayi Sacadipura dari berbagai sumber.

“Sebagai laboratorium sejati bagi penelitian masa lampau, Pulau Jawa memperkenalkan hampir sejuta tahun pengalaman manusia kepada kita, dimulai dari Paleolitik yang sangat kuno sampai ke kehidupan para petani pada kala awal Neolitik. Dari periode manapun juga, situs-situs arkeologi yang dijumpai banyak sekali terdapat baik di udara terbuka maupun di gua dan gua payung. Tepat di sebelah tenggara Pulau Jawa, kami melakukan penelitian di suatu daerah yang biasanya disebut sebagai Gunung Sewu.”
Hubert Forestier, “Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu” (2007)

Penelitian Arkeologi Pegunungan Sewu Penelitian prasejarah atau arkeologi Pegunungan Sewu dipelopori oleh van Stein Callenfels, seorang ahli prasejarah pada 1927. Callenfels melaporkan bahwa dirinya menemukan lebih dari 100 situs alam terbuka dengan kandungan artefak hasil budaya Neolitik. Penemuan selanjutnya diperoleh dari G.H.R. von Koenigswald, seorang ahli paleontologi Jerman pada 1935.

Penelitian von Koenigswald dan rekannya, M.W.F Tweedie (kurator museum Raffles di Singapura) tahun 1935 itu tidak diduga-duga menemukan artefak paleolitik (peralatan batu manusia purba) yang sangat kaya. Tidak kurang dari 3000 artefak paleolitik telah berhasil dikumpulkannya dari Kali Baksoka, Pacitan. Begitu gembiranya von Koenigswald atas penemuan ini, sampai ia menggelar pertunjukan wayang selama tujuh hari tujuh malam untuk masyarakat Punung, Pacitan. Setahun kemudian, ia mengumumkan penemuannya itu dalam Jurnal Bulletin Raffles Museum, No. 1, halaman 52-62, berjudul, “Early Palaeolithic stone implements from Java”. Sejak itu, artefak Kali Baksoka terkenal sebagai hasil kebudayaan “Pacitanian”. Istilah ini kemudian digunakan oleh banyak ahli arkeologi yang meneliti Indonesia, Asia Tenggara dan Asia, juga perbandingan kebudayaan yang sezaman di tempat lain di seluruh dunia.

Prasejarah-Gunung-Sewu-2

Kali Baksoka atau Baksoko, sebelah selatan Punung, Pacitan. Tahun 1935, von Koenigswald menemukan ribuan alat-alat batu, Paleolithic, di salah satu segmen sungai ini baik pada dasar sungai maupun di tebing teras/undak sungai. Foto: Awang Harun Satyana.

Penemuan bersejarah oleh von Koenigswald tersebut menjadi momen penting yang mengawali penelitian arkeologi berkelanjutan di Pegunungan Sewu, khususnya daerah Pacitan. Penyelidikan selanjutnya oleh de Terra, Teilhard de Chardin, dan Movius pada 1938 lebih mengarah pada penentuan ciri-ciri temuan artefak tersebut yang disimpulkan sebagai bagian dari kompleks kapak perimbas-penetak di Asia Tenggara. Penelitian ini juga memberikan pertanggalan atas artefak ini yakni berasal dari kala Plistosen Tengah dan Plistosen Akhir.

Penelitian penting selanjutnya tentang prasejarah Pacitan dilakukan oleh R.P. Soejono (1954), van Heekeren (1972), Bartstra (1976-1978), serta Barstra dan Basoeki (1989).

Awal tahun 1990-an merupakan momen penting bagi penelitian prasejarah Pegunungan Sewu. Saat itu dimulai kerja sama internasional yang intensif dalam penelitian dan publikasi prasejarah di wilayah ini antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dengan Museum National d’Histoire Naturelle (MNHN), Prancis. Dalam penelitian kerja sama ini banyak sekali kemajuan temuan prasejarah Pegunungan Sewu, daerah Pacitan khususnya. Beberapa peneliti dari dua negara ini antara lain: Truman Simanjuntak, Francois Sémah, Harry Widianto, Hubert Forestier, dan Bagyo Prasetyo. Pada 1995, penelitian kawasan ini mendapatkan bantuan finansial dari The Toyota Foundation. Menurut T. Simanjuntak (“Gunung Sewu: Sejarah Hunian yang Panjang”, 2004), kegiatan penyelidikan dan penelitian di area Pegunungan Sewu dari 1935 sampai sekarang telah berhasil menemukan dan mendata 135 situs prasejarah, terdiri atas sekitar 60 situs gua, 70 situs alam terbuka, dan selebihnya merupakan situs aliran sungai.

Prasejarah-Gunung-Sewu-3

Peta penyebaran situs prasejarah yang menghasilkan temuan litik di daerah Punung-Pacitan. Sumber: H. Forestier (Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu – Prasejaarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur, 2007)

Sejarah Hunian Pegunungan Sewu
Berdasarkan hasil penyelidikan yang ada, di wilayah Pegunungan Sewu dapat ditelusuri corak budaya prasejarah yang lengkap mulai dari paleolitik, preneolitik atau mesolitik, neolitik, hingga paleometalik. Pentarikhan umur tertua terdapat di lapisan antropik (lapisan yang menunjukkan bekas aktivitas manusia) Song Terus sekitar 300.000 tahun yang lalu (tyl) atau Plistosen Tengah bagian atas. Umur termuda diperoleh dari gerabah, senjata besi, dan manik-manik di situs Klepu, yaitu sekitar 700 tyl. Kapan wilayah ini sebenarnya mulai dihuni, tidak diketahui secara pasti, namun mungkin terjadi pada Plistosen Tengah (800.000-120.000 tyl). Corak artefak paleolitik yang ditemukan di Kali Baksoka tidak ditemukan di Song Terus, sehingga disimpulkan bahwa paleolitik Kali Baksoka lebih tua dari umur artefak tertua di Song Terus.

Kenyataan umur yang panjang itu (300.000 – 700 tyl) menunjukkan bahwa Pegunungan Sewu sebagai suatu kesatuan geografi perbukitan kars telah memiliki sejarah hunian yang panjang, dari budaya tertua hingga termuda, bahkan berlanjut hingga sekarang. Kekayaan situs dan kemenerusan hunian dalam kurun waktu yang panjang ini menjadikan wilayah Pegunungan Sewu sebagai sasaran terpenting penelitian untuk memahami prasejarah lokal dan regional.

Menurut Sumanjuntak dkk. (“Prasejarah Gunung Sewu”, 2004), kronologi hunian di Pegunungan Sewu berdasarkan pentarikhan umur adalah: Paleolitik (>300.000-21.000 tyl), preneolitik (>12.000-4000tyl), Neolitik (4000-1000 tyl), dan Paleometalik (1000-700 tyl). Sedangkan menurut Kherti (1964), kronologi secara umum adalah: Paleolitik (450.000- 15.000 tyl), Preneolitik (15.000-4500 tyl), Neolitik (4500-2500 tyl), dan Paleometalik (<2500 tyl).

Prasejarah-Gunung-Sewu-4

Song Terus, salah satu gua di area Pacitan yang pernah dihuni manusia purba. Di gua ini banyak ditemukan tinggalan perkakas terkubur dalam endapan lantai gua. Foto: Awang Harun Satyana.

Hunian Pegunungan Sewu menampakkan kekhasan untuk setiap tahap budaya, baik segi pola pemanfaatan lahan maupun peralatan. Pada Paleolitik, kehidupan dan pemanfaatan lahan terpusat di bentang alam terbuka, yaitu di sekitar dan di sepanjang sungai. Manusia Paleolitik cenderung mengeksploitasi semua sumber daya yang ada di sekitar sungai, seperti air, batuan, flora, dan fauna. Diduga mereka mengembara sambil menangkap binatang yang hidup di sekitarnya sebagai hal pokok. Untuk menunjang perburuan, mereka membuat berbagai peralatan batu, seperti kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, dan peralatan serpih berukuran besar yang terbuat dari batugamping kersikan, tuf kersikan, atau fosil kayu. Awal hunian Paleolitik belum diketahui karena situs-situs yang ada bisa saja telah mengalami re-sedimentasi, dan belum ditemukannya fosil fauna atau manusia. Pembuat peralatan paleolitik di Pacitan juga belum diketahui dengan pasti antara Homo erectus atau Homo sapiens.

Menjelang akhir Plistosen tampak perubahan penting dalam pola hunian antara memanfaatkan ceruk-ceruk (gua-gua payung) atau gua-gua biasa. Studi terbaru menunjukkan bahwa penghunian guagua di Pegunungan Sewu diperkirakan sudah terjadi pada 300.000 tyl saat Homo erectus menghuni gua. Namun, gua menjadi tempat tinggal signifikan terjadi pada 40.000 tyl bersamaan dengan bermigrasinya Homo sapiens ke wilayah Indonesia. Penggunaan alatalat masif yang sangat menonjol telah ditinggalkan, digantikan dengan penggunaan alat-alat serpih dan tulang dengan berbagai variasi bentuk, menghasilkan corak kebudayaan Preneolitik. Sebagai tambahan, peralatan lain pada masa ini dibuat dari tanduk rusa dan cangkang kerang. Pada masa ini pun telah dikenal kebiasaan menguburkan orang.

Prasejarah-Gunung-Sewu-5

Beberapa bentuk alat batu utama dari industri “Kapak Perimbas Penetak” Asia Tenggara. Keterangan dari kiri atas searah jarum jam: Kapak Penetak, Serpih, Pahat Genggam, Proto-Kapak Gemgam, dan Kapak Perimbas. Sumber: Movius, 1944 dalam Belwood (Prasejarah Kepulauan Indo- Malaysia, 2000), digambar ulang oleh Ayi Sacadipura.

Kehidupan Preneolitik berlajut ke Neolitik yang dicirikan oleh muncul dan berkembangnya gerabah dan beliung batu. Pada awalnya, perkembangan Preneolitik masih berpusat di gua dan ceruk, tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Mereka pun kemudian pindah ke bentang alam terbuka pada dataran dan lereng perbukitan. Budaya Neolitik di wilayah ini dapat dipandang sebagai puncak kemahiran teknologi litik yang menghasilkan beliung-beliung persegi dan mata panah. Ratusan situs perbengkelan Neolitik dengan wilayah yang luas membuktikan pernah berlangsungnya industri besar yang membentuk kelompok-kelompok di bagian timur Pegunungan Sewu. Budaya ini diperkirakan berkembang hingga sekitar 1000 tyl.

Dari Neolitik kehidupan berkembang ke Paleometalik yang tetap memanfaatkan lahan terbuka sebagai pusat kegiatan. Tradisi pemangkasan batu untuk menghasilkan peralatan masih berlanjut meskipun berangsur ditinggalkan. Hal yang menonjol dalam periode ini adalah pemakaian peralatan dan senjata logam, khususnya berbahan besi dan manikmanik. Gerabah yang mulai berkembang pada masa Neolitik masih berlanjut. Menurut T. Simanjuntak dkk (“Kronologi Hunian di Gunung Sewu”, 2004) Paleometalik Pegunungan Sewu diperkirakan berlangsung sampai 700 tyl yang merupakan suatu perlambatan yang signifikan mengingat pada 1600 tyl di daerah lain Jawa sudah mengenal peradaban Hindu.

Sejumlah penelitian dan penemuan yang terjadi di wilayah ini telah menjadikan Pegunungan Sewu dikenal luas di kalangan peneliti prasejarah. Dari penelitian-penelitian ini tampak bahwa wilayah Pegunungan Sewu merupakan kompleks hunian prasejarah yang sangat luas, intensif, dan berkesinambungan dalam rentang waktu Plistosen- Holosen, dari ratusan ribu tyl sampai beberapa ribu atau ratus tyl. Proses adaptasi terhadap lingkungan dan pengaruh luar telah menciptakan dinamika budaya yang berkembang, mulai dari yang bercorak paleolitik, preneolitik/mesolitik, neolitik, hingga paleometalik pada masa protosejarah. Manusia datang ke wilayah ini dan mendiami lembahlembah sempit di antara perbukitan kars, daerah aliran sungai, dan gua. Menurut Forestier (“Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu–Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur”, 2007), ketersediaan berbagai sumberdaya, seperti batuan yang baik untuk peralatan, air, fauna dan flora di lingkungan sekitarnya menjadi penopang kehidupan berkelanjutan dalam rentang ratusan ribu bahkan mungkin jutaan tahun.

Prasejarah-Gunung-Sewu-6

Kapak genggam sebagai salah satu alat khas paleolitik, dicirikan oleh pangkasan bifasial pada sebagian besar atau seluruh permukaan alat untuk menciptakan bentuk-bentuk simetris, dari Kali Baksoka, terbuat dari batugamping kersikan. Sumber: Bartstra (Contributions to the study of the Palaeolithic Patjitan culture, Java, Indonesia, 1976), digambar ulang oleh Ayi Sacadipura.

Industri Paleolitik Pacitanian
Menutrut Bellwood (“Prasejarah Kepulauan Indo- Malaysia”, 2000), industri alat batu Pacitan termasuk kelompok “industri kapak perimbas-penetak” yang tersebar luas di Asia Tenggara, Cina dan India, dan sering dibedakan secara tegas dengan industri “kapak genggam” (Acheulian) di Eurasia bagian barat dan Afrika selama masa Homo erectus. Sebagaimana hasil penelitian para ahli, bahan bakunya adalah batuan tuf terkersikkan (silicified tuff), batugamping terkersikkan (silicified limestone) dan fosil kayu (kayu terkersikkan, silicified wood), dan batuan serpih dan serpihan. Batugamping terkersikkan dan tuf terkersikkan sangat diutamakan untuk peralatan mengingat sifatnya yang keras, tetapi retas jika dipukul sehingga memudahkan pembuatan alat. Batugamping kersikan ini juga disebut ‘chert’ atau ‘rijang’ dalam bahasa lokal. Batuan andesit yang sangat banyak terdapat di kawasan itu sangat jarang dipakai sebagai bahan baku tampaknya karena kualitasnya tak sebaik batuan terkersikkan.

Menurut Movius (Early man and Pleistocene stratigraphy in South and East Asia, 1944), kelompok Pacitanian secara umum dapat dibedakan menjadi alat-alat serpih dan alat-alat batu inti (core tools). Teknik perolehan bahan baku sangat menarik. Balok-balok besar batuan kersikan ditemukan di lembah Baksoka dan manusia prasejarah tampaknya memukulkan batu pada balok-balok batuan ini untuk memperkecil ukurannya. Beberapa serpih besar dipakai sebagai bahan untuk menghasilkan alat serpih dan bilah yang lebih kecil. Ukuran serpih-serpih sangat bervariasi dari yang paling besar (gigantolith) sampai yang paling kecil.

Kapak perimbas dicirikan oleh tajaman yang dibentuk melalui pangkasan monofasial (satu muka) dari sisi ujung (distal) ke arah pangkal (proksimal) untuk menciptakan sisi tajaman yang membulat, lonjong, atau lurus. Kapak penetak dicirikan oleh pangkasan bifasial (dua muka), juga dari bagian ujung ke arah pangkal alat. Sering pemangkasan dilakukan berselang-seling ke masing-masing bidang sehingga menciptakan tajaman berliku. Pahat genggam memiliki bentuk persegi dengan sisi tajaman tegak lurus pada sumbu panjang alat. Proto kapak genggam banyak terbuat dari serpih besar dan dikerjakan hanya pada bidang atas untuk membuat bentuk pahat genggam meruncing.

Peralatan Pacitanian merupakan bagian dari kompleks kapak perimbas-penetak yang tersebar di Asia Timur seperti Soanian (Punjab), Tampanian (Malaysia), Cabalwanian (Filipina), Chouchoutienian (Cina), dan Fingnoian (Thailand). Alat ini juga terdapat di Eropa dan Afrika.

Prasejarah-Gunung-Sewu-7

Gambar tiga subspesies Homo erectus di Indonesia yang hidup antara 1,5 – 0,1 juta tahun yang lalu (tyl). Dari kiri ke kanan: tipe arkaik hidup antara 1,5-1,0 juta tyl, tipe tipikal 0,9-0,3 juta tyl, dan tipe progresif 0,2-0,1 juta tyl. Pembuat paleolitik Pacitanian diduga sejenis dengan Homo erectus progresif. Sumber: H. Widianto (Budaya Pacitanian: Milik Siapa?, dalam Simanjuntak, T., Handini, R., Prasetyo, B., ed., 2004), digambar ulang hanya rekonstruksi wajah (tanpa tengkoraknya) oleh Ayi Sacadipura.

Siapakah Pembuat Paleolitik Pacitanian?
Sebagai suatu budaya paleolitik yang mendunia, alat-alat Pacitanian masih tetap menjadi tekateki tentang siapakah pembuatnya. Terdapat tiga pendapat tentang pembuatnya: Homo erectus, manusia Wajak (Homo wadjakensis) atau Homo sapiens. Terdapat dua penyulit atas kasus ini: (1) tidak ditemukannya fosil hominid atau manusia pembuatnya, (2) penentuan posisi lapisan-lapisan batuan yang mengandung peralatan paleolitik di Kali Baksoka tidak dapat dilakukan sebab semua artefak ini ditemukan sebagai bahan rombakan di dasar atau tebing sungai, sehingga umurnya belum diketahui dengan pasti.

Meskipun demikian, berdasarkan beberapa kesebandingan regional, misal dari segi bentuk, dengan situs-situs lain di wilayah Pacitan, terutama dengan situs Song Terus yang diteliti dengan detail sampai lapisan tertua (300.000 tyl), diperkirakan bahwa umur paleolitik Kali Baksoka adalah lebih tua dari 300.000 tyl. Karena itu, kemungkinan pembuatnya adalah Homo erectus progresif yang hidup di akhir Plistosen Tengah hingga awal Plistosen Akhir.

Untuk mengkaji lebih tepat lagi tentang pembuat dan pendukung budaya Pacitanian ini diperlukan evaluasi yang lebih tajam tentang teknologi dan tipologi. Ini dilakukan melalui korelasi budaya Plistosen dan Holosen di Indonesia. Universalisme teknologi dan tipologi artefak litik, terutama untuk Asia Timur dan Asia Tenggara, perlu dipertimbangkan. Dalam hal ini, satu hubungan yang jelas antara kapak perimbas-penetak dan pembuatnya datang dari daratan Cina yang peralatan paleolitiknya sebanding dengan alat-alat Pacitanian. Di situs gua di Zhoukou- dian, peralatan paleolitiknya dipastikan sebagai produk Homo erectus pekinensis yang setara dengan Homo erectus khas Sangiran-Trinil yang berumur Plistosen Tengah.

Pendapat yang menyatakan bahwa manusia Wajak sebagai pembuat budaya Pacitanian nampaknya tak bisa dipertahankan lagi. Sebab, berdasarkan umurnya yang maksimum 11.000 tyl manusia Wajak adalah Homo sapiens. Manusia Wajak sezaman dengan munculnya ras Australomelanesid dan Mongolid di Indonesia yang umumnya menghuni gua-gua. Manusia Wajak, sesuai periode sejarah kebudayaan, harusnya sebagai pembuat peralatan serpih bilah dan alat-alat tulang, bukan kapak perimbas-penetak. Awang Harun Satyana

Penulis adalah Spesialis Utama di SKK Migas dan penggiat komunitas Geotrek Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>