Tiga-Menguak-71

Tiga Menguak Tambora

Misteri-Batu-Klawing-67

Batu Mulia dari Purbalingga

24/06/2015 Comments (0) Resensi Buku

Pesona Bumi Dieng

Pesona-Bumi-Dieng9

Pesona-Bumi-Dieng9Negeri di atas kabut. Demikian judul foto yang mengawali kisah dari buku Pesona Bumi Dieng. Halimun yang kerap menyelimuti bentang alam di ketinggian 2.093 mdpl itu menyimpan banyak misteri. Priatna, Atep Kurnia, dan Ayu Wulandari mencoba menembus kabut, menggali cerita dari bumi yang mereka sebut sebagai negeri tempat dingin dengan cepat menyergap permukaan kulit. Tempat butir-butir hangat matahari malah sering terhadang oleh langkah-langkah kabut.

Lewat buku ini, ketiga penulis bersama kontributor lainnya berbagi kisah tentang beragam pesona dan ancaman bahaya dari bumi Dieng. Melalui pemilihan diksi yang menarik, kata-kata yang penuh makna, bahkan cenderung puitis, para peramu mampu mengundang pembacanya ke dalam ketertarikan untuk membaca lembar demi lembar dan terus dibuat penasaran hingga usai. Dicetak di atas art paper, kumpulan foto apik yang menyertai tulisan menambah elok buku ini. Hasil bidikan para pemotretmembawa pembaca untuk membayangkan sedang berada di sana. Melamunkan ketika sedang mendaki perbukitan, menuruni lembah, melintasi sabana, bahkan bermalam berselimutkan dingin angin ketinggian.

Keindahan bentang Bumi Dieng sudah diketahui banyak orang. Keindahan langit merah yang menyeruak di ufuk timur ketika menyinggahi pipi Sumbing-Sundoro, cahaya berkelip di waktu malam, sebaran kawah aktif, warna-warni telaga seperti menghipnotis banyak orang. Namun, di balik pesonanya yang membuat pengunjung enggan beranjak, kompleks yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah ini juga menyimpan petaka, lewat letusan dan semburan gas beracunnya.

Ada enam bagian inti pembahasan dalam buku ini. Masing-masing bagian mengisahkan aneka anugerah maupun petaka dari dataran tinggi Dieng. Dalam “Prolog”, kisah Kalakamara, Dewa penjaga waktu dalam kepercayaan Hindu dan Buddha menjemput pembaca. Gerbang keindahan negeri di atas kabut yang dalam kisah tersebut didongengkan hanya akan terbuka jika pengunjung Dieng bersedia menatap sepasang mata Kalakamara.

Tiba di Gardu Pandang Dieng menjadi saksi pengesahan keberadaan di 1.789 m dpl. Itulah pembuka dalam bagian kedua yang berjudul: Selamat Datang. Aktivitas vulkanisme di Dataran Tinggi Dieng menjadi inti uraian dalam bab ini. Letak geografis, lokasi secara administratif dan rekam jejak aktivitas Gunung Dieng diulas secara jelas.

Dalam bagian “Selamat Datang” dijelaskan pula mengenai tahapan evolusi Dieng yang terbagi ke dalam tiga episode yang didasarkan pada umur relatif, sisa morfologi, tingkat erosi, hubungan stratigrafi, dan tingkat pelapukan. Terkait ketiga episode ini, ke depannya mungkin bisa dilengkapi dengan semacam sketsa atau gambaran mengenai perubahan yang terjadi, agar pembaca bisa lebih jelas memahami tahapan-tahapan pada evolusi Dieng, dan bagaimana bentuk perubahan yang terjadi pada episode-episode tersebut.

“Bait-Bait Anugerah dan Petaka”menjadi bagian ketiga dari inti tulisan Priatna, Atep Kurnia, dan Ayu Wulandari. Mungkin banyak orang yang belum tahu kalau dataran tinggi yang berelevasi lebih dari 2000 meter di atas muka laut ini merupakan salah satu penyumbang listrik pada jaringan Jawa-Bali. Melalui panas bumi, Dieng ternyata menyimpan cadangan energi listrik yang sangat besar sehingga berpeluang membantu negeri ini untuk berswasembada energi. Inilah mungkin salah satu anugerah dari Dieng.

Ada anugerah dan ada petaka. Terkait petaka, hingga kini ancaman bahaya gas beracun belum berhenti membayangi dataran tinggi Dieng. Di wilayah barat Dieng, Kawah Candradimuka, Kawah Sinila, Kawah Timbang, Sigludug, Sidongkal, Wanapriya, dan Wanasida memiliki konsentrasi CO2 yang tinggi, dan beberapa sumber-sumber gas tersebut rata-rata bersuhu rendah (suhu kamar).

Dalam buku ini ketiga penulis juga mengangkat kiprah para pengamat gunung api yang peranannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Merekalah orang yang berada di garis depan, yang pertama kali mengetahui aktivitas suatu gunung api. Lewat para pengamat gunung api ini dapat diketahui jika tiba-tiba terjadi situasi darurat. Peranan pengamat gunung api menjadi sangat penting dalam mitigasi bencana.      

Dalam bagian keempat yang berjudul “Detak-Detak Dieng”, trio penulis mengisahkan mengenai potensi palawija yang dimiliki oleh dataran tinggi ini. Kentang, carica, purwaceng, cabai gendol, kubis, dan bawang daun menjadi harta luar biasa yang dihasilkan Dieng.

Bagian kelima, “Larik-Larik Pelangi”, menjadi bagian paling menarik bagi para peminat keindahan rupa bumi. Bab ini seperti pameran keelokan Dieng. Rentetan kesan para penulis dan kontributor tersaji dalam bagian ini. Ada pelangi yang terentang dan dapat terlihat jelas setiap kali kabut pelindungnya tersibak. Ada kawah-kawah yang berbalut teka-teki dan legenda yang menyertainya. Ada telaga yang berubah-ubah warna sebagai akibat sinar matahari yang menyibari air telaga yang memiliki kandungan sulfur yang tinggi.

Keindahan Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Kawah Jalatunda, Batu Ratapan Angin, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Telaga Merdada, Telaga Menjer, Bukit Sikunir, Gunung Pakuwaja, Gunung Bisma, dan Gunung Prau seakan menegaskan bahwa Pesona Dieng memang tak cuma selarik.          

Bumi Dieng tak hanya menawarkan keindahan alam saja, karena ternyata ada juga jejak peradaban di dalamnya. Dieng memiliki sejumlah candi peninggalan dari abad ke-9 M. Karakter khas sebaran agama Hindu melekat kuat di setiap lekuknya. Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Subadra, dan Candi Semar adalah lima candi yang masih berdiri hingga kini.

Dataran Tinggi Dieng yang telah mendunia memang memiliki beragam potensi. Gabungan antara keindahan, pelajaran tentang kehidupan, dan kewaspadaan. Meskipun ada ancaman bahaya di sana tapi tak mengurungkan manusia dari pelbagai negeri untuk mengunjungi, dan datang kembali untuk yang kesekian kali.

“Dieng itu sekolah semesta, tempat belajar tentang keindahan, kehidupan dan kewaspadaan. Di sini, antara pesona dan keberkahan itu berhimpitan dengan ancaman, seperti dua sisi mata pisau”. Demikian kesan T.Bachtiar, penulis buku Bandung Purba yang menjadi salah satu kontributor dalam buku ini.

Buku setebal 160 halaman ini memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat awam seperti saya yang membacanya. Ada pelajaran tentang geologi, kimia, wisata, cara merangkai kata, hingga fotografi. Satu hal yang yang patut disayangkan adalah buku ini hanya didistribusikan terbatas. Tidak dijual untuk umum. Padahal mungkin banyak orang yang tertarik untuk memilikinya. 

Peresensi : Indra K.H,seorang auditor keamanan informasi, dan penggiat komunitas pewarta kisah Lembang tempo doeloe (Balad Junghuhn).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>