Untitled-2

Dari Langit Menangkap Kerucut Kars Balbulol

Untitled-4

Kerucut Gunung Iya di Selatan Nipah

29/09/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Perjalanan Panjang Menelusuri Jejak Manusia Awal di Flores

Untitled-15
Untitled-15

Panorama Cekungan So’a dan Lokasi Temuan Stegodon pertama di Olabula.

Flores merupakan salah satu dari rangkaian Kepulauan Wallacea yang terletak di antara tepian benua Asia (paparan Sunda) dan Australia (paparan Sahul) yang meskipun adanya susut laut tetap terpisah satu dengan lainnya. Kondisi ini merupakan penghalang utama bagi perpindahan atau penghunian fauna asal daratan (Asia) ke Flores.

Bukti awal keberadaan fauna daratan Asia di Flores datang dari Cekungan So’a, ketika Desember 1956 Raja Nagekeo, Yosep Djuwa Dobe Ngole, menemukan tulang raksasa (besar) di kampung lama Ola Bula dan melaporkannya ke Theodor Verhoeven. Hal ini sangat menarik perhatian Verhoeven karena ternyata temuan tersebut adalah fosil dan selanjutnya melakukan penelitian dan pengumpulan fosil lebih banyak lagi. Sebagian dari fosil-fosil itu dikirim ke D.A. Hoojer di Leiden untuk dipelajari lebih lanjut. Menurut Hooijer (1957), fosil tulang belulang ini merupakan sejenis gajah purba yang dinamakan Stegodon trigonocephalus florensis dan dianggap subspesies dari Stegodon trigonocephalus asal Jawa. Akan tetapi, menurut van den Begrh (1999), Stegodon di Jawa dan Flores merupakan spesies yang terpisah, sehingga lebih layak dinamakan sebagai Stegodon florensis saja.

Panorama Cekungan So’a dan Lokasi Temuan Stegodon pertama di Olabula.

Panorama Cekungan So’a dan Lokasi Temuan Stegodon pertama di Olabula.

Periode 1960 – 1980-an
Sebagai respons dari temuan Stegodon florensis ini, Hartono (1960) dari Direktorat Geologi (sekarang Badan Geologi) melakukan penelitian geologi dan menyusun kerangka stratigrafi daerah Ola Bula dan sekitarnya. Urutan stratigrafi hasil penelitiannya dari tua ke muda sebagai berikut: Formasi Ola Kile yang berupa endapan breksi volkanik, Formasi Ola Bula yang terdiri atas anggota tuf, anggota batupasir dan anggota batugamping (Gero), dan Endapan vulkanik dan alluvium berumur Resen. Fosil ditemukan dalam lapisan batupasir tufaan bagian bawah Formasi Ola Bula (Hartono, 1961).

Sementara itu, Verhoeven (1960-an sampai dengan 1970-an) terus melakukan penelitian dan pengumpulan fosil tidak hanya di daerah Ola Bula, tetapi meliputi daerah lainnya. Dalam ekskavasi di daerah Mata Menge dan Boa Lesa (1963), Verhoeven menemukan in situ alat batu bersama Stegodon. Berdasarkan keberadaan Homo erectus dan Stegodon yang hidup berdampingan (co-existed) di Jawa sekitar 750.000 tahun lalu, maka ditarik kesimpulan bahwa “manusia awal” sudah ada di Flores pada kurun waktu yang sama sebagaimana laporan Verhoeven, 1968.

Kemudian Maringer dan Verhoeven (1970) dalam beberapa seri publikasi di Journal Anthropos menyampaikan bukti dan implikasi temuan Stegodon dan alat batu di Flores, tetapi hal ini kurang mendapat perhatian dan diragukan oleh sebagian ahli arkeologi sebagaimana dalam laporan Allen (1991 dan Bellwood (1997). Hal ini tidak membantu menyelesaikan perselisihan antara Verhoeven dengan Hooijer dan van Hekeeren, bahkan mereka menganggap Verhoeven adalah seorang amatir. Akan tetapi P.Y. Sondaar dari University of Utrecht yang menekuni fenomena kehidupan di pulau (island life) sangat tertarik dengan temuan Verhoeven di Flores.

Asosiasi gading Stegodon dan alat batu yang ditemukan pada ekskavasi di Mata Menge,1994

Asosiasi gading Stegodon dan alat batu yang ditemukan pada ekskavasi di Mata Menge,1994

Tahun 1980, P.Y. Sondaar bersama S. Sartono, Yahdi Zaim, Tony Djubiantono, Rochus Due Awe (Institut Teknologi Bandung) melakukan ekspedisi singkat/ penelitian awal di daerah Cekungan So’a yang saat itu mereka menyebutnya sebagai Plato So’a. Di Tangi Talo (semula daerah ini disebut Bhisu Sau) yang secara stratigrafi terletak 31 meter dibawah temuan Stegodon florensis di Ola Bula, mereka menemukan fosil pygmy (kerdil) dari Stegodon dan kura-kura besar (Sondaar, 1987). Akan tetapi, karena berbagai faktor, penelitian ini tidak berlanjut.

Periode 1990 – 2010
Dalam kurun waktu (1992–1994) suatu kerja sama antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi – University of Utrecht dan National Museum of Natural History (Naturalis) Leiden yang dipimpin bersama oleh Fachroel Aziz (PPPG), P.Y. Sondaar (Utrecht) dan J. De Vos (Naturalis). Tim berhasil menemukan kembali lokasi (relokasi) ekskavasi Verhoeven di Mata Menge dan Boa Lesa. Ekskavasi ulang (melanjutkan ekskavasi Verhoeven, 1963) di Mata Menge juga menemukan asosiasi Stegodon florensis dan alat batu seperti yang telah dilaporkan oleh Verhoeven (1968) dan Maringer dan Verhoeven (1970).

Tim Peneliti PPPG – Utrecht – Naturalis (1992 -1994).

Tim Peneliti PPPG – Utrecht – Naturalis
(1992 -1994).

Sedangkan ekskavasi di Tangi Talo menemukan fosil Stegodon kerdil (Stegodon sondaari) dan Kura-kura Darat Raksasa (Megalochelyssp yang semula disebut Geochelone sp), Komodo (Varanus komodoensis), dan Buaya (Crocodilussp). Secara sistematis disini (Tangi Talo) telah pula dilakukan pengambilan contoh batuan untuk studi kemagnetan purba.

Hasil analisis kemagnetan purba, menunjukan bahwa perubahan arah polarisasi magnet Matuyama- Brunches terletak di bawah lapisan yang mengandung fosil Stegodon florensis dan alat batu. Sehingga Stegodon florensis dan alat batu ditafsirkan berumur sekitar 750.000 tahun lalu (Sondaar, dkk., 1994; van den Bergh, 1999; Aziz, 2000). Disamping itu, penelitian menemukan pula lokasi baru yang kaya akan fosil vertebrata di Dozo Dalu. Namun demikian, informasi ini masih belum ditanggapi serius oleh sebagian ahli arkeologi. Umumnya mereka meragukan keabsahan identifikasi alat batu tersebut karena tim yang melakukan penelitian itu tidak disertai oleh ahli dengan latar belakang keahlian arkeologi.

M. J. Morwood, 1997, ahli arkeologi dari University of New England (UNE), Australia setelah menganalisisulang alat batu yang dikumpulkan antara 1992 – 1994 meyakini bahwa ternyata benar bahwa kumpulan itu adalah alat batu buatan manusia purba. Sebagai tindak lanjut, Aziz dan Morwood (1996) melakukan peninjauan singkat lapangan Flores dan pengambilan contoh batuan untuk analisis “fission track”. Hasil analisis “fission track” menunjukkan bahwa kumpulan fosil dan alat batu itu berumur 800.000 – 880.000 tahun, sedangkan kumpulan fosil di Tangi Talo berumur sekitar 900.000 (Morwood et al., 1999).

Tim Peneliti PPPG – Utrecht – Naturalis (1992 -1994).

Tim Peneliti PPPG – Utrecht – Naturalis
(1992 -1994).

Kemudian (1997) rencana penelitian di Flores disusun bersama oleh Aziz, Morwood dan J. De Vos membantu menyiapkan draft proposal penelitian di Flores untuk diajukan ke Australian Research Council (ARC). Proposal penelitian di Flores yang diajukan mendapat dukungan penuh dari ARC dalam bentuk proyek kerja sama penelian Indonesia – Australia dengan judul: Archaeology and palaeontology of the Ola Bula Formation, Central Flores, Indonesia (1998-2001) yang dipimpin bersama oleh Fachroel Aziz (PPPG) dan M.J. Morwood (UNE). Prof. Hasan Ambari, Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) mendukung kerja sama PPPG – UNE dengan menyertakan Nasaruddin dan Jadmiko sebagai anggota tim dan ini adalah awal partisipasi Arkenas dalam penelitian di Cekungan So’a.

Penelitian ini meliputi berbagai aspek geologi/ stratigrafi dan ekskavasi yang sistematis di berbagai lokasi terpilh antara lain: Mata Menge, Dozo Dhalu, Boa Leza, Tangi Talo dan Kopo Watu. Kemudian kerja sama penelitian ini berlanjut dengan judul, Astride the Wallace LineI (2003 – 2006) dan Astride the Wallace Line – II (2006 – 2009) yang dipimpin bersama oleh
Fachroel Aziz (PSG) dan M.J. Morwood (UNE/UOW). Tujuan utama untuk melacak wujud dan keberadaan “manusia awal” pembuat dan penguna alat batu yang bermukim di Cekungan So’a.

Kiri: Lokasi penemuan gigi seri (incisor). Kanan: gigi seri yang ditemukan.

Kiri: Lokasi penemuan gigi seri (incisor). Kanan: gigi seri yang ditemukan.

Penelitian ini meliputi pemetaan geologi, pengumpulan contoh batuan untuk berbagai analisis laboratorium dan ekskavasi sistematis yang difokuskan di Mata Menge, Wolo Sege, Koba Tua dan Tangi Talo. Penelitian ini belum berhasil menemukan kerangka wujudnya, akan tetapi memberikan petunjuk bahwa keberadaan “manusia awal” di Cekungan So’a sekitar 1.000.000 tahun lalu. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam bentuk monograf yang berjudul: Pleistocene Geology, Palaeontology and Archaeology Of The Soa Basin, Central Flores, Indonesia sebagaimana dipublikasikan oleh Aziz, Morwood and van den Bergh eds pada 2009.

Periode 2010 – 2015 menuju 2016 – 2020
Untuk melanjutkan pelacakan “manusia awal” Cekungan So’a, kerja sama penelitian dilanjutkan dengan payung bertajuk: ‘Kerja sama Penelitian Indonesia – Australia Berdasarkan Nota Kesepemahaman (MoU) Badan Geologi dengan University of Wollongong tentang Earth Science”. Sebagai implementasi MoU ini, Pusat Survei Geologi, Badan Geologi dan School of Earth and Environmental Science, the University of Wollongong (SEES/UOW) melaksanakan penelitian bersama dengan judul: In Search Of The First Hominins (2010 – 2015) dengan tujuan utama untuk menemukan ‘‘manusia’’ pembuat dan pengguna alat batu di Cekungan So’a, Flores.

Kerja sama ini dipimpin bersama oleh pihak PSG, Badan Geologi (BG), yaitu: Fachroel Aziz (2009 -2011), Iwan Kurniawan (2012), Erick Setiya Budi (2013-2015) dan oleh SEES/UOW, yaitu: M.J.Morwood (2009-2014), G.D. van den Bergh (2015). Hingga kini kerja sama penelitian terus berlanjut untuk periode 2016 – 2020 yang dipimpin bersama oleh Ruli Setiwan (PSG/BG) dan G.D. van den Bergh (SEES/UOW).

Untitled-21Tujuan utama kerja sama penelitian ini ialah untuk menemukan ‘‘Manusia Awal’’ pembuat dan pengguna alat batu di Cekungan So’a, Flores. Bagaimana dan seperti apa “Manusia Awal” yang bermigrasi ke Flores? Apa penyebab mereka punah? Apakah mereka juga menyeberang ke Australia? Apakah mereka sama dengan Homo erectus di Jawa ataukah dari spesies lain?

Untuk mencapai tujuan ini maka sejak 2012 ekskavasi berskala besar dan rinci dilakukan di beberapa lokasi terpilih, secara khusus di Mata Menge. Berkat dedikasi, ketekunan dan kerja keras tim dan serta didukung oleh semua pihak baik pemerintah dan masyarakat setempat, akhirnya dalam penelitian/ekskavasi pada 2014 telah ditemukan indikasi keberadaan manusia awal di Cekungan So’a dengan ditemukan spismen fosil gigi seri (incisor) manusia di parit (trench 32) ekskavasi Mata Menge. Temuan ini berlanjut dalam kegiatan ekskavasi lanjutan (trench 32) di Mata Menge 2015. Seluruh temuan tersebut telah diterbitkan dalam majalah Nature, Vol. 534, June 2016 dan secara resmi telah diumumkan melalui acara Press Confrence: Early Humans In Flores yang dilaksanakan oleh Pusat Survei Geologi di Museum Geologi Bandung pada 8 Juni 2016.

“… Kami hanya tulang-tulang yang berserakan Tapi adalah kepunyaanmu Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang yang berserakan…” (“Karawang – Bekasi”, Chairil Anwar 1948).

Penulis, Fachroel Aziz adalah profesor riset bidang paleontologi dan Iwan Kurniawan adalah Kepala Seksi Dokumentasi dan Konservasi, Museum Geologi, Badan Geologi, KESDM. (Fachroel Aziz dan Iwan Kurniawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>