Letusan Gunung Raung 25 Juli 2015. Foto: Hendra Gunawan

Ketika Raung Kembali Meraung

Kaldera Bromo Tengger jelang pagi hari dari puncak B29.
Foto: Deni Sugandi.

Bingkai Gunung Api

05/04/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Papandayan Harmoni antara Sains dan Mitos

Kawah Gunung Papandayan yang terbuka ke arah timur laut. Foto: Deni Sugandi
Kawah Gunung Papandayan yang terbuka ke arah timur laut. Foto: Deni Sugandi

Kawah Gunung Papandayan yang terbuka ke arah timur laut. Foto: Deni Sugandi

Di Jawa Barat, gunung api Kuarter hadir berkelompok membentuk gugusan gunung api yang dikenal sebagai Triangular Volcanic Complex (TVC) atau diterjemahkan menjadi kompleks segitiga volkanik. Gugusan gunung api tersebut berada di sepanjang tiga zona sesar utama, yaitu, sebagaimana menurut Katili dan Sudradjat (1984): Sesar Mengiri Sukabumi-Padalarang, Sesar Menganan Cilacap-Kuningan, dan Sesar Turun berarah Barat-Timur.

Papandayan dan Cikuray adalah dua buah gunung api yang terletak di volcanic front atau dekat dengan palung

Gugusan gunung api di Jawa Barat yang membentuk Triangular Volcanic Complex (modifikasi dari Katili dan Sudrajat, 1984)

Gugusan gunung api di Jawa Barat yang membentuk Triangular
Volcanic Complex (modifikasi dari Katili dan Sudrajat, 1984)

pada sistem TVC. Kedua gunung api tersebut terletak sebelah-menyebelah dengan jarak masingmasing puncaknya hanya sekitar 10 km (barat-timur), tapi keduanya mempunyai karakter yang sangat kontras. Cikuray tidak hanya mewakili karakter gunung api dekat palung yang ada di Jawa Barat dengan kandungan K2O yang sangat rendah, namun juga merepresentasikan secara keseluruhan karakter gunung api dekat palung di Pulau Jawa. Sebaliknya, secara kontras, Papandayan memperlihatkan kandungan K2O yang sedang.

Anomali itulah yang kemudian menyebabkan Papandayan terabaikan cukup lama hingga hampir 40 tahun. Penelitian gunung api di Indonesia sudah dimulai sejak pertengahan tahun 1970-an namun hingga akhir tahun 2010, semuanya hampir tidak ada yang membahas secara detail tentang Papandayan. Selama ini para peneliti menganggap Papandayan hanya sebagai anomali dan pada akhirnya kembali mengabaikannya.

Estimasi suhu dan ketinggian kolom erupsi dari sampel letusan Papandayan 1772 (Abdurrachman, 2012).

Estimasi suhu dan ketinggian kolom erupsi dari sampel letusan
Papandayan 1772 (Abdurrachman, 2012).

Catatan yang pernah ada lebih banyak mengulas keganasan letusan Papandayan tahun 1772 yang mematikan. Pada kejadian itu, Papandayan memuntahkan material pijar sebanyak 23 km3, meluluhlantakkan 40 desa dan merengut 2.951 korban jiwa. Cerita ini semakin menarik dan dramatis ketika tercatat, setidaknya ada delapan orang yang selamat dari hantaman aliran awan panas letusan Papandayan waktu itu, ketika mereka berlindung di belakang pohon pisang.

Penelitian selanjutnya mengindikasikan bahwa letusan tahun 1772 diprediksi memiliki kolom erupsi mencapai tinggi hingga tiga kilometer yang saat itu dapat disaksikan dari Kota Cirebon yang berjarak lebih dari 200 km. Dengan temperatur mendekati 350 K atau hampir setara dengan 77°C, letusan seperti itu masih memungkinkan korban untuk bertahan dari panasnya aliran piroklastik. Namun, dengan kecepatan aliran awan panas yang bergerak hingga mendekati 70 m/detik, hampir dipastikan mustahil apa saja yang menghalanginya dapat bertahan dari gempuran dahsyat tersebut.

Model skematik keberadaan pecahan Australia (Argoland) di bawah Papandayan dan Cikuray. Kontaminasi magma dengan Argoland bertanggungjawab atas anomali di Papandayan (Abdurrachman, 2012).

Model skematik keberadaan pecahan Australia (Argoland) di bawah Papandayan dan Cikuray.
Kontaminasi magma dengan Argoland bertanggungjawab atas anomali di Papandayan
(Abdurrachman, 2012).

Perjalanan saya meneliti Papandayan dimulai tahun 2008 dan hasilnya mengindikasikan bahwa cerita pohon pisang dan kedelapan orang yang ditemukan selamat pada letusan 1772 itu, berada pada ketinggian yang terisolir. Ini adalah daerah yang mungkin tidak terlewati aliran awan panas, sekaligus jawaban atas penantian panjang mengapa mereka bisa bertahan hidup. Maka, cerita mengenai pohon pisang yang mampu melindungi gempuran aliran panas itu, hanyalah sebuah mitos.

Anomali Papandayan dibandingkan gunung api lainnya di Pulau Jawa pun akhirnya menemui titik terang, setelah dilakukan penelitian detail mengenai kandungan unsur major, trace, dan rare earth serta isotop Sr (Stronsium) – Nd (Neodimium). Baik Papandayan maupun Cikuray rupanya dilahirkan dari induk magma yang sama, namun jalan atau jalur keluar kedua magma tersebutlah yang membedakan komposisi akhir masing-masing magma yang terbentuk. Magma di bawah Cikuray diidentifikasi melewati “jalan bebas hambatan” yang menyebabkan tidak adanya kontaminasi sehingga magma yang terbentuk tidak banyak termodifikasi sejak dilahirkan. Sementara itu, di bawah Papandayan, diindikasikan terdapat kehadiran pecahan Australia yang kaya akan senyawa K2O yang mengkontaminasi magma dalam perjalanan keluar dapur magma, sehingga menghasilkan magma dengan kondisi K2O yang lebih tinggi dari Cikuray.

Skema perjalanan panjang pecahan Australia bernama Argoland hingga akhirnya sampai di Indonesia (Metcalfe, 2011).

Skema perjalanan panjang pecahan Australia bernama Argoland hingga akhirnya sampai di Indonesia
(Metcalfe, 2011).

Pecahan Australia yang lebih dikenal dengan sebutan Argoland tersebut mulai memisahkan diri dari Australia sekitar 165 juta tahun yang lalu pada saat laut Ceno-Tethys mulai terbentuk atau hampir bersamaan dengan kepunahan “Sang Legendaris Zaman Jurasik”, Dinosaurus. Argoland telah melakukan perjalanan panjang, mengembara ke utara hingga akhirnya menumbuk bagian tenggara Sundaland pada 85 juta tahun yang lalu, bersandar di sana, dan akhirnya menjadi tumpuan Papandayan.

Papandayan tidak hanya terkenal oleh cerita “kesaktian” pohon pisang pada letusan 1772, namun kini sudah mulai dilirik para peneliti gunung api dunia karena hadir sebagai gunung api “kunci” untuk menelusuri jejak pecahan Australia yang diyakini mempunyai potensi geologi yang unik. Anda tertarik menelusuri cerita “kesaktian” pohon pisang atau pun ingin berlibur ke “Australia” dengan biaya yang murah? Datanglah ke Papandayan, tempat mitos dan sains berbagi cerita dalam harmoni. (Mirzam Abdurrachman)

Penulis adalah dosen Vulkanologi di Prodi Teknik Geologi FITB, ITB. Oleh: Mirzam Abdurrachman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>