Migas Nonkonvensional-2

Migas Nonkonvensional dan Prospek Pengembangannya

Letusan G. Anakkrakatau 2 September 2012. Foto: Budi Brahmantyo.

Geowisata Krakatau Sejak Lampau

13/08/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Panas Bumi Dieng

Panas Bumi Dieng-9
Panas Bumi Dieng-9

Instalasi panas bumi PT Geo Dipa Energi, Dieng. Foto: Priatna.

Sepanjang mata memandang, pipa-pipa besar meliuk-liuk turun atau melingkar sejajar, seolah mencari jalan. Ujung pandangan tertumpu pada kepulan asap putih yang senantiasa mengalun, menguar dari perut bumi, dan keluar dari cerobong. Pipapipa besar dan asap putih yang terus mengalun itu menjadi pemandangan yang khas di dataran tinggi yang diberkati berbagai anugerah: Dataran Tinggi Dieng.

Dataran tinggi di bagian tengah Pulau Jawa ini ini sejak zaman Belanda dikenal sebagai penghasil sulfur. Menurut Soetarjo Sigit dan kawan-kawan (1969), dari eksplorasi pada tahun 1921 dan 1923 diketahui ada cadangan 36 ribu ton material lumpur yang 41% di antaranya mengandung sulfur. Menurut hasil penelitian ahli Sovyet dan Indonesia, cadangan terbukti sulfur ini sebesar 52.763 ton.

Dalam perkembangannya, Dieng yang kini dikelola oleh PT. Geo Dipa Energi, ternyata menyimpan cadangan energi listrik yang sangat besar sehingga berpeluang bisa berswasembada energi. Selain panas bumi, Dieng juga memiliki potensi wisata bumi (geowisata). Meskipun masih terdapat beberapa masalah yang dihadapi, namun potensi panas bumi Dieng berikut geowisatanya masih tetap tinggi.

Sejarah Singkat Pemanfaatan
Eksplorasi sulfur itu mendahului eksplorasi panas bumi, sebagaimana yang kita lihat dari pipa-pipa panjang dan uaran asap itu. Eksplorasi panas bumi di Dieng dimulai oleh pemerintah Belanda pada 1928. Saat itu, dilakukan pemboran beberapa lubang sedalam 80 m, tetapi tidak dilanjutkan. Antara 1964-1965 UNESCO menetapkan Dieng sebagai salah satu prospek panas bumi di Indonesia yang sangat bagus. Hal ini ditindaklanjuti oleh USGS, pada tahun 1970 USGS melakukan survei geofisika dan tahun 1973 melakukan pengeboran 6 sumur dangkal.

Dua dasawarsa kemudian, pada 1994, California Energy International (CEI) menandatangani kontrak pembangunan pembangkit (4,150 MW), dan No.1 (60 MW) selesai dibangun pada 1998. Meskipun 45 sumur pemboran mengkonfirmasi adanya potensi panas bumi sebesar 350 MW, pembangunan pembangkit No.2, 3, dan 4 ditunda karena adanya dampak krisis moneter di Asia.

Panas Bumi Dieng-10

Instalasi pembuangan uap panas bumi. Foto: Priatna.

Sejak Agustus 2001, pengelolaan panas bumi di Dataran Tinggi Dieng diupayakan oleh anak negeri, yaitu PT. Geo Dipa Energi (disingkat: Geo Dipa). Perusahaan joint venture antara PLN dan Pertamina ini memperoleh kepemilikan untuk mengusahakan panas bumi di Dataran Tinggi Dieng.

Geo Dipa memiliki dua lokasi Kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Pertama, PLTP Dieng Unit 1 yang berada di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Kedua, PLTP Dieng Unit 2 yang terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Total arealnya seluas 107.351,995 hektare. Adapun energi listrik yang dihasilkan pembangkit ini sebesar 60 MW yang setara dengan kebutuhan steam 400.000 kg/jam yang dipasok oleh 8 sumur produksi dari kemampuan maksimum produksi steam sebesar 1.277 ton/jam atau setara dengan 103,11 MW.

Menurut petugas Geo Dipa, perusahaan ini kini memiliki 47 sumur bor, yaitu 27 sumur berada di sebelah Selatan Kawah Sikidang, dan 20 di sebelah utara terletak dekat Kawah Sileri. Dari jumlah itu, baru 8 sumur yang berfungsi sebagai sumur produksi, dan 2 sumur berfungsi sebagai sumur injeksi. Sumur lainnya masih memiliki masalah dengan endapan silika.

Masalah Silika dan Peluang Lainnya
Masalah lain yang harus dihadapi oleh para pengelola panas bumi di Dataran Tinggi Dieng adalah masalah silika. Selama ini unsur tersebut dianggap menghambat kinerja pembangkit listrik di Dieng. Untuk menanganinya, banyak orang yang berupaya untuk memecahkan masalah tersebut.

Menurut Calibugan, dkk. (2006), unsur silika yang terdiri dari batuan kuarsa dan kristobalit, menjadi masalah serius dalam pengoperasian pembangkit listrik bertenaga panas bumi di Dieng. Untuk menanganinya, harus mempelajari interaksi antara fluida dengan bebatuan reservoir. Dari situ, katanya, dapat ditentukan apakah silika itu terjadi karena proses interaksi di bawah permukan lapangan
panas bumi atau proses lainnya. Untuk menjawabnya, Calibugan dan kawan-kawan mendeduksinya dari analisis mineralogi alterasi panas bumi Dieng.

Hasilnya, berdasarkan temuan pada sumur pemboran Dieng No. 4, Calibugan, dkk mengindikasikan bahwa alterasi panas bumi di lapangan panas bumi Dieng dicirikan dengan adanya kalsit, adularia, pirit, epidot, silika, lempung, sulfat (gipsum, anhidrit), dan zeolit. Berdasarkan pengumpulan mineral alterasinya, mereka menyimpulkan bahwa fluida alterasinya bisa jadi pH-nya netral.

Panas Bumi Dieng-11

Silika yang mengendap dalam pipa. Foto: Priatna.

Adapun menurut kajian Tohoku Electric Power Co., Inc (2006), untuk mengoptimalkan kinerja pembangkit karena adanya unsur silika yang menghambat kinerja turbin pembangkit listrik, maka pembangkit listrik bertenaga panas bumi Dieng diharuskan menginjeksikan bahan-bahan kimia. Dalam hal ini, Tohoku Electric Power Co menginjeksikan air bersih untuk mencegah kehadiran unsur silika dalam pembangkit. Dengan demikian, peralatan untuk mencuci (turbine washing equipment) bisa membersihkan keberadaan unsur silika.

Persoalan selanjutnya adalah pemanfaatan mineral ikutan. Dalam hal ini, menurut Mangara P. Pohan, dkk. (2008), di sana baru dimanfaatkan potensi panas buminya saja. Adapun mineral lainnya atau potensi lainnya belum dimanfaatkan.

Dalam hal ini, mereka menemukan bahwa pemercontohan yang dilakukan oleh Geo Dipa pada brine dan limbah padatan brine berupa slurry, diketahui brine mengandung mineral besi terlarut (Fe), mangan terlarut (Mn), seng, merkuri, timbal, arsen, sianida, dan slurry mengandung mineral di antaranya arsen, barium, boron, cadmium, kromium, tembaga, timbal, air raksa, selenium, perak, seng dan silika (PT GDE, 2004). Penelitian yang pernah dilakukan, bahwa air kawah yang mengandung sulfat dengan menambahkan batu kapur (CaCO3) dapat menghasilkan gipsum sintetis.

Wahana Wisata
Keberadaan PLTP Geo Dipa unit Dieng juga menjadi wahana berkembangnya wisata edukatif dan geowisata. Hal tersebut, misalnya, mengemuka saat Kelompok Sadar (Pokdarwis) Wisata Dieng Pandawa bekerja sama dengan Geo Dipa mengadakan pelatihan pemandu wisata bagi warga Desa Dieng Kulon, Pawuhan, dan Karangtengah (Kabupaten Banjarnegara), Desa Sembungan dan Jojogan (Kabupaten Wonosobo), dan Desa Rejosari (Kabupaten Batang).

Dalam hal ini, pihak Geo Dipa Unit Dieng sangat terbuka untuk berbagai kunjungan wisata minat khusus atau menerima siswa atau mahasiswa yang sedang melakukan kerja praktek atau sedang menyelesaikan tugas akhir. Umumnya mendapat respons yang positif dari pihak Geo Dipa.

Panas Bumi Dieng-12

Sumur eksplorasi PT Geo Dipa Energi, Dieng. Foto: Ronald Agusta.

Selain itu, panas bumi di Dataran Tinggi Dieng juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagian warga Dieng. Misalnya di Dusun Bitingan, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, masyarakat memanfaatkan panas bumi untuk keperluan rumah tangga. Mereka menggunakan panas bumi sebagai sumber air panas untuk keperluan mandi air hangat setiap waktu tanpa memasak dengan kompor ataupun kayu bakar.

Namun, masalah pun muncul. Misalnya, banyak wisatawan ke Dieng yang mempertanyakan keamanan pipa-pipa panas bumi di sekitar objek wisata. Mereka atau meledak. Pertanyaan tersebut yang menggiring Geo Dipa bekerja sama dengan Pokdarwis mengadakan pelatihan pemandu wisata, agar keterangan seputar bumi Dieng menjadi jelas.

Pertanyaan para wisatawan di atas sangat beralasan, mengingat pernah adanya pipa panas bumi yang meledak. Pada Juli 2007, pipa brain water yang berfungsi mengalirkan air ke unit Dieng 9 dan 10 untuk pendinginan pembangkit. Akibat ledakan tersebut puluhan puluhan petani kentang yang berada di sekitar lokasi melepuh, akibat tersiram air mendidih dari pipa yang meledak. Sebelumnya, pada 1988 juga pernah terjadi ledakan pipa yang menewaskan empat orang.

Masalah lain adalah kejadian pencurian pipa panas bumi (body side valve) tipe 31/8 3000 di Dusun Siterus, Desa Sikunang, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, pada Maret 2012. Meskipun pada akhirnya para pelakunya tertangkap, tetapi tetap saja kasus pencurian tersebut bisa mengganggu aktivitas produksi panas bumi Dieng.

Betapapun, potensi panas bumi Dieng sangat layak untuk terus dikembangkan sebagai salah satu sumber penghasil listrik di Indonesia, mengingat begitu besar potensi yang dikandung dataran tinggi itu. Namun, tentu saja dengan mengatasi terlebih dahulu masalahmasalah dasar yang bisa menghambat produksi listriknya, terutama masalah kandungan silika. Dan yang lebih penting, membangkitkan kesadaran dan menerbitkan kesepahaman di antara semua pihak yang berkepentingan terhadap sumber daya listrik terbarukan tersebut. (Priatna)

Penulis, Kepala Subbagian Evaluasi dan Laporan, Sekretariat Badan Geologi. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>