Untitled-91

Wisata Gunung Api dan Panas Bumi

Untitled-99

Gunung Salak

13/04/2016 Comments (0) Esai Foto, Esai Foto, Uncategorized

Nias yang Meninggi Demi Harga Diri

Tradisi lompat batu Nias di Bawomataluo, Nias Selatan. Foto: Deni Sugandi
Tradisi lompat batu Nias di Bawomataluo, Nias Selatan. Foto: Deni Sugandi

Tradisi lompat batu Nias di Bawomataluo, Nias Selatan. Foto: Deni Sugandi

Di Nias, batu dan kayu dipertalikan dalam tradisi. Keduanya adalah unsur utama rumah adat yang bersahabat dengan gempa. Budaya masyarakat Nias melahirkan tradisi dan lingkungan yang unik dan bermartabat yang berpotensi tinggi untuk pengembangan mitigasi bencana dan wisata lingkungan. Para pemuda fahombo batu meninggi demi harga diri. Kini semuanya menghadapi tantangan “kemajuan”. Akankah mereka tetap bertahan?

Batu dan kayu dipandu dengan kearifan para leluhur Nias melahirkan budaya Hulo Solaya-loya yang luhur. Perkampungan ditempatkan di hili (bukit) untuk menghindari serbuan mendadak dari musuh, juga mengelak dari terjangan tsunami. Batu dipilih sebagai gehomo, alias alas kayu tiang-tiang utama rumah adat, agar kuat bertahan saat lindu mengguncang bumi mereka. Batu juga adalah bahan tradisi megalith yang lekat dengan keseharian mereka.

Tradisi lompat batu Nias di Bawomataluo, Nias Selatan. Foto: Deni Sugandi

Tradisi lompat batu Nias di Bawomataluo, Nias Selatan. Foto: Deni Sugandi

Kayu adalah bahan yang teramat penting untuk rumah mereka. Rumah kayu beralaskan batu, rumah adat Omo Niha yang berkembang menjadi Omo Hada, pusaka mereka yang adaptif terhadap guncangan gempa yang dahsyat sekali pun. Menurut Nata’alui Duha (2012), hingga 2010 di seluruh Nias terdapat 1.112 rumah adat Nias. Kini jumlah itu cenderung menurun karena kerusakan atau berganti rumah tembok. Seiring dengan itu, kayu pun berkurang. Masyarakat telah malas menanam kayu di hutan. Hutan beralih menjadi kebun nilam, cokelat, atau sawit.

Hulo Solaya-laya – juluka Pulau Nias – berarti pulau yang sering mendapat terjangan gempa, besar atau pun kecil.

Masyarakat Nias sangat mengenal karakter kediaman mereka itu. Dan, gempa tak membuat mereka musnah. Mereka bahkan tumbuh bersama budayanya yang bersahabat dengan ancaman alam. Tapi, budaya itu kini sedang terancam “kemajuan”.

86 undakan tangga naik menuju desa adat megalitik

86 undakan tangga naik menuju desa adat megalitik. Foto: Deni Sugandi

Tradisi melompat batu (fahombo batu) menjadikan Nias terkenal ke seantero dunia. Tradisi ini bermula dari kebiasaan para pejuang mereka melompat dalam perang antarkelompok. Mereka menjadi kebanggaan keluarga, karena diperlukan oleh kelompoknya. Para pemuda pun berlatih melompat sejak dini. Mereka meninggi demi harga diri. Kini, mereka tetap kebanggaan keluarga, sebab tak banyak yang mampu melakukannya. Selain itu, mereka mendatangkan uang dari atraksi melompat yang dilakukan untuk memenuhi permintaan wisatawan.

Ukiran megalitik sebagai tanda identitas adat.

Ukiran megalitik sebagai tanda identitas adat. Foto: Deni Sugandi

Pemilihan kampung di atas bukit, pembuatan rumah adat berbahan kayu dan tiang rumah beralaskan batu gehomo adalah cara mitigasi bencana gempa dan tsunami yang tepat. Ribuan kali sejak zaman dulu, kampung mereka diguncang gempa yang mungkin diikuti tsunami, namun sebanyak itu pula mereka dan rumahnya selamat. Kehancuran rumah yang terjadi karena sebab lain, seperti kebakaran atau dibakar dan dihancurkan musuh. Dalam peristiwa gempa dahsyat tahun 2005 di Nias, hanya satu korban meninggal, seorang anak. Itu pun akibat ia lari keluar rumahnya dan tertimpa rumah sebelah yang roboh karena sudah tua.

Mesatulo Waooma memperagakan tarian perang Nias

Mesatulo Waooma memperagakan tarian perang Nias. Foto: Deni Sugandi

Rumah adat Nias jika direvitalisasi sangat berpotensi untuk menjadi model rumah yang sangat adaptif tehadap gempa. Selain itu, rumah adat Nias dan perkampungan mereka sesungguhnya berpotensi tinggi untuk menarik wisatawan, dalam dan luar negeri, berkunjung ke sana. Dengan sajian atraksi lompat batu, seni tradisi, dan kuliner khas Nias, kawasan ini dapat menjadi tujuan wisata lingkungan yang unik dan menarik.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah sudah semestinya proaktif memberdayakan adat untuk mitigasi bencana dan pengembangan pariwasata dengan mengkonservasi atau merevitalisasi kampung adat Nias yang masih ada, dan membangun kembali yang baru. Mereka diyakinkan dan didorong bahwa tradisi dapat menjadikan mereka

Ukiran pada pilar rumah raja di Bawomataluo. Foto: Deni Sugandi

Ukiran pada pilar rumah raja di Bawomataluo.
Foto: Deni Sugandi

tetap maju. Karena mereka adalah guru dalam hal mitigasi bencana dan wilayahnya berpotensi untuk menjadi model sumber ekonomi berbasis konservasi.

Maka, dengan cara itu, tidak perlu lagi centang perentang kabel dan tiang listrik yang berdiri dengan congkak mengganggu pemandangan di tengah desa adat. Tidak ada rumah kayu diubah menjadi rumah tembok yang tidak tahan gempa dan bahan bakunya diimpor dari luar pulau yang menguras tabungan mereka. Kayu-kayu endemis pun tumbuh subur di kebun dan hutan sebagai tabungan untuk membangun rumah dan pencegah longsor. Merevitalisasi tradisi akan menjadikan Nias terus meninggi dengan budayanya yang kuat.(Oman Abdurahman)

Rumah adat struktur kayu di Hiliamaetaniha, Nias Selatan. Foto: Deni Sugandi

Rumah adat struktur kayu di Hiliamaetaniha, Nias Selatan. Foto: Deni Sugandi

 

Penulis adalah Kepala Museum Geologi, Badan Geologi. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>