museum1

Museum Geologi Jelajahi Bumi, Pahami Dinamikanya, dan Temukan Jejak...

museumstunamiaceh1

Museum Tsunami Aceh

27/06/2011 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Museum Kars Indonesia

museumkarsindonesia1

museumkarsindonesia1Museum Kars Indonesia (MKI) terletak di Desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri, sekitar 30 kilometer sebelah timur Kota Wonosari, 40 kilometer sebelah selatan Kota Wonogiri, dan 60 kilometer sebelah barat Pacitan. Lokasi Museum berada pada daerah kawasan kars yang
dikonservasikan dan hal ini sesuai dengan salah satu fungsi Museum Kars yaitu sebagai sarana untuk mengkonservasi keberadaan kars yang ada di
Indonesia.

Pembangunan Museum Kars Indonesia dilaksanakan oleh Badan Geologi melalui Pusat Lingkungan Geologi (PLG) sebagai salah satu unit di Badan Geologi yang berhubungan langsung dengan masalah kars. Pembuatan MKI diperuntukkan bagi Pemerintah Kabupaten Wonogiri akan tetapi Pemerintah Kabupaten Wonogiri (Pemkab) tidak menyanggupi dalam pemeliharaan museum.

Berdasarkan keadaan tersebut maka MKI tetap di bawah pengelolaan Badan Geologi melalui PLG pada tahun 2010. Tahun 2011 pengelolaan MKI akan
diserahkan sepenuhnya kepada Museum Geologi sebagai UPT di bawah Unit Pusat Survei Geologi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) sebagai museum. Museum kars Indonesia telah diresmikan tanggal 9 Juni 2009 oleh Presiden Republik Indonesia tetapi baru dibuka untuk umum pada tanggal 2 Juni 2010.

museumkarsindonesia2SEJARAH MUSEUM KARS INDONESIA
Indonesia mempunyai wilayah kars yang cukup luas yang tersebar merata dari Pulau Sumatera sampai Papua. Pembahasan mengenai kawasan kars semakin menarik saat dilaksanakan Lokakarya Nasional Pengelolaan Kawasan Kars pada tanggal 4 -5 Agustus 2004 di Kabupaten Wonogiri. Acara yang diselenggarakan oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral ini memunculkan gagasan tentang perlunya Indonesia mempunyai museum kars.

 Gagasan tersebut muncul bersamaan dengan penetapan Kawasan Gunung Sewu dan Kawasan Gombong Selatan sebagai Kawasan Eko Kars oleh
Presiden Republik Indonesia pada tanggal 6 Desember 2004 di Gunungkidul. Selanjutnya pada akhir tahun 2005 pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 16 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata, diantaranya menginstruksikan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengembangkan kawasan Kars sebagai daya tarik wisata.

 Berdasarkan hal tersebut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral cq. Badan Geologi bersama sama dengan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri membuat kesepakatan bersama untuk mewujudkan terbangunnya museum kars di Indonesia. Pembangunan Museum Kars Indonesia dilaksanakan di Desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia di Kabupaten Sragen bersamaan dengan peresmian 2 kegiatan yang berbeda pada tanggal 9 Juni 2009. Kondisi MKI setelah peresmian belum dapat dipakai karena masih dalam proses perawatan dan pemeliharaan selama kurang lebih satu tahun. Pembukaan untuk umum secara resmi dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2010 sekaligus penandatanganan kerjasama selama 5 tahun antara Badan Geologi, Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah, serta Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri.

KONDISI UMUM MUSEUM KARS
Museum Kars terletak pada kawasan Kars Gunung Sewu yang terbentang sepanjang sisi selatan Pulau Jawa dari Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul DIY sampai Kabupaten Pacitan Jawa Timur

 Museum Kars Indonesia berada pada kawasan Museum seluas 24,6 hektar di Pracimantoro pada lembah yang dikelilingi kerucut kars serta beberapa gua dan luweng. Ada 7 buah gua di sekitar MKI yang cukup lengkap dalam jenisnya. Gua Tembus merupakan Gua yang mempunyai dua mulut gua dan merupakan gua yang paling representatif untuk wisata karena sudah dilengkapi dengan penerangan. Gua Potrobunder yang juga teridentifikasi memenuhi fungsi pariwisata. Gua ini merupakan gabungan dua gua yang terjadi akibat penggalian kalsit dimana memiliki stalaktit dan stalakmit dengan kristal kalsit yang masih aktif. Gua Sodong dan Luweng Sapen mempunyai sungai bawah tanah yang dimanfaatkan penduduk untuk memenuhi kebutuhan air. Gua Gilap berupa dolina dengan tebing vertikal dan mempunyai gua di dasar dolina yang belum tereksplorasi. Di samping itu ada dua gua kecil Mrico dan Sonya Ruri.

 Secara fisik, kondisi Museum Kars cukup bagus dan mewah. Bangunan megah tersebut berdiri di daerah Wonogiri Selatan yang jauh dari keramaian dan kemacetan dan di antara kerucut – kerucut kars dengan vegetasi khas berupa hutan jati. MKI mempunyai 3 lantai utama dengan tiga tema. Lantai dasar menampilkan kondisi sosial budaya dengan tema Kars Untuk Kehidupan. Lantai 1 berupa peraga dan poster dengan tema Kars Untuk Ilmu Pengetahuan
sedangkan di lantai 2 berupa ruang serbaguna untuk rapat, presentasi dan pemutaran film.

 Badan Geologi telah mempersiapkan sumber daya manusia dalam pengelolaan MKI. Kebijakan yang telah dilaksanakan berupa penempatan pegawainya di Museum Kars Indonesia dan pengangkatan tenaga kontrak. Komposisi sumber daya manusia di MKI adalah 1 orang pengelola MKI dari Museum Geologi dibantu oleh tenaga kontrak sebanyak 15 orang yang terdiri dari 7 orang satuan pengamanan, 5 orang pramubakti, dan 3 orang pemandu. Perincian jadwal kerja untuk Pengelola MKI adalah selama 5 hari kerja, satuan pengamanan selama 24 jam dengan 2 shift dimana masing-masing shift bekerja selama 12 jam sedangkan Pramubakti dan pemandu bekerja selama 6 hari kerja. Waktu pelayanan MKI untuk umum dimulai hari Sabtu – Kamis jam 08.30 – 15.30 wib.

museumkarsindonesia3PENGUNJUNG MUSEUM KARS
Antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke museum kars cukup besar. Selama tahap penyempurnaan dan perawatan MKI, pengunjung yang masuk
ke museum dibatasi jumlahnya dan di dampingi satuan pengamanan. Namun setelah dibuka untuk umum pada bulan Juni 2010, peningkatan jumlah pengunjung meningkat terutama pada saat hari libur seperti liburan sekolah dan liburan lebaran.

 Pada tahun 2010, jumlah total pengunjung MKI mulai Mei 2010 sampai dengan Desember 2010 sebanyak 36.154 orang dengan perincian seperti pada gambar di bawah ini.

Salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah pengunjung adalah promosi. Selama tahun 2010, promosi dilakukan sangat terbatas jangkauannya. Jumlah pengunjung paling banyak pada saat hari libur dan pada saat musim libur sekolah, sedangkan pada hari biasa pengunjung rata-rata sekitar 50 – 100
orang per hari. Pengunjung didominasi oleh warga Wonogiri dan sekitarnya. Berdasarkan administatif tingkat 1, jumlah pengunjung Provinsi Jawa tengah
merupakan pengunjung terbanyak yaitu 83% yang kemudian diikuti Provinsi Daerah Istimewa yogyakarta (11,4%) dan Jakarta (2%).

 Pengunjung pelajar yang mengunjungi Museum Kars masih sangat sedikit dibandingkan pengunjung umum. Pengunjung pelajar merupakan pengunjung
yang bertujuan menjadikan museum sebagai pembelajaran yang pada umumnya berasal dari instansi sekolah mulai dari Tk hingga Universitas. Prosentase pengunjung pelajar baru mencapai 19,2% sedangkan pengunjung umum adalah 80,8%. Berdasarkan tingkatan sekolah, Pengunjung sekolah dasar mempunyai minat paling tinggi yaitu 44,6% kemudian diikuti pengunjung SMP (27%), SMA (15,3%), Universitas (6,7%) dan TK (6,4%). Minimnya pengunjung pelajar dikarenakan belum adanya promosi dan sosialisasi yang efektif ke instansi sekolah – sekolah.

Pada semester 1 di tahun 2011, jumlah pengunjung MKI mulai Januari 2011 sampai dengan Bulan Juli 2011 mengalami peningkatan dengan jumlah pengunjung sebanyak 43.918 orang. Apabila dijumlahkan dengan pengunjung tahun 2010 maka jumlah total pengunjung sebanyak 88.094.

 Pada tahun 2010, pengunjung pelajar yang mengunjungi Museum Kars masih sangat sedikit dibandingkan pengunjung umum. Prosentase pengunjung
pelajar baru mencapai 19,2 % sedangkan pengunjung umum adalah 80,8%. Pada tahun 2011 (Januari – Juli ) prosentase pengunjung pelajar mengalami
peningkatan hingga mencapai 31,93% sedangkan pengunjung umum adalah 68,07%. Pengunjung sebagian besar berasal dari wilayah lokal (Wonogiri).

 Fakta tersebut menunjukkan bahwa dominasi pengunjung di MKI adalah warga lokal (Wonogiri) dengan komposisi pengunjung umum yang bertujuan untuk wisata lebih banyak dibandingkan pengunjung pelajar.

museumkarsindonesia4TANTANGAN DI MASA DEPAN
Ide dasar pembangunan MKI adalah sebagai sarana konservasi kawasan kars sekaligus sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat dan pariwisata. Teori-teori tentang kars sebagian besar terangkum di dalam MKI sedangkan kondisi sebenarnya dapat dilihat di sekeliling MKI. Perpaduan kegiatan indoor (MKI) dan outdoor (kawasan kars) merupakan perpaduan yang sinergi untuk memudahkan pengunjung memahami kars.

 MKI dalam perjalanannya hingga sekarang memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk pembenahan. Kendala-kendala teknis maupun sosial merupakan bagian pentingyang seharusnya segera dicari solusinya. Kendala-kendala teknis yang dihadapi antara lain masalah perawatan bangunan fisik, dan masalah kualitas sumber daya manusia. Selain itu, masalah-masalah sosial merupakan masalah yang perlu museumkarsindonesia5mendapat perhatian khusus.
Masalah-masalah sosial yang paling penting adalah koordinasi antara pengelola MKI dan pengelola kawasan kars dari pihak pemda yang masih belum bersinergi sehingga fungsi museum belum optimal.

Tantangan berikutnya adalah masalah promosi MKI ke masyarakat luas. Promosi MKI selama tahun 2010 masih menggunakan brosur kemudian tahun
2011 sudah mulai mengadakan sosialisasi ke daerah– daerah. Pada tahun 2010, pihak pengelola pernah mengadakan wawancara secara acak terhadap para pengunjung tentang masalah keberadaan MKI. Berdasarkan hasil wawancara singkat, pengunjung mengetahui MKI sebagian dari informasi berantai dari pengunjung lain yang pernah ke MKI dan sebagian dari informasi dunia maya (jejaring sosial, blog dll). Penguasaan informasi dunia maya merupakan salah satu cara promosi tetapi perlu dipertimbangkan juga strategi – strategi yang lain di masa mendatang agar masyarakat semakin tertarik mengenai kars.

 PENUTUP
Museum Kars sebagai salah satu jendela ilmu pengetahuan terutama tentang kars dan geologi merupakan aset yang dimiliki Badan Geologi. Keberadaannya sangat bermanfaat untuk masyarakat terutama pelajar. Kondisi ini perlu didukung dengan promosi yang hebat dan kerjasama yang kuat antara Badan Geologi dengan Pemerintah Kabupaten Wonogiri. Sehingga keberadaanya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>