Tuan-Petruk1

Tuan Petruk Bertahan di Museum

Prasejarah-Gunung-Sewu-1

Prasejarah Gunung Sewu Hunian “Pacitanian”

16/08/2014 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Museum Geologi dari Masa ke Masa

Oraginisasi-Museum

Perbincangan mengenai sejarah Museum Geologi (selanjutnya disingkat MG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dari masa ke masa, tak mungkin melewatkan dua hal yang saling terkait, yaitu sejarah gedung dan organisasi MG. Paparan berikut ini menyajikan secara singkat perjalanan MG sejak berdirinya hingga kini yang berpusat pada kedua hal tersebut.

Semuanya berawal sejak pertengahan abad ke-18 ketika di Eropa terjadi Revolusi Industri. Saat itu Belanda menyadari keterbatasannya akan sumber daya mineral, dan perlunya melirik ke daerah jajahannya, khususnya Indonesia. Oleh karena itu, pada 1850 Belanda dengan resmi mendirikan lembaga Dienst van het Mijnwezen yang berfungsi untuk melaksanakan eksplorasi mineral di Indonesia. Dengan kegiatan ini sejumlah contoh batuan, mineral dan fosil, telah dikumpulkan. Dengan semakin meningkatnya kegiatan eksplorasi, semakin banyak pula contoh batuan, mineral dan fosil yang berhasil dikumpulkan. Dari pengggalian di Ngandong, Jawa Timur (1930-1933) telah dikumpulkan ribuan fosil vertebrata, dan manusia purba, termasuk 11 tengkorak dan 2 tulang kaki (tibia) manusia purba, Homo erectus.

Semula kantor Dienst van het Mijnwezen terletak di Weltevreden (sekarang Jalan Menteng, Jakarta). Pada tahun 1852 kantor itu pindah ke Buitenzorg (sekarang Bogor) dan 1866 kembali pindah ke Jakarta. Tahun 1922 Dienst van het Mijuwezen diubah menjadi Dienst van Mijnbouw. Pada 1924, kantor lembaga ini pindah ke Gouvernements Bedrijven (Gedung Sate sekarang) di Bandung.

Pada 1928, pemerintah Hindia Belanda membangun gedung untuk Dienst van Mijnbow di Rembrandt Straat/ Wilhemina Boulevard (Jalan Diponegoro No. 57, Bandung sekarang). Gedung yang disebut Geologisch Laboratorium itu diresmikan bertepatan saat pembukaan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik IV (Fourth Pacific Sciene Congress), pada 16 Mei 1929, di Rechts-hogeschool (Jakarta), dan Technische Hogeschool (Bandung). Tanggal inilah yang sekarang diperingati sebagai hari jadi Museum Geologi.

Gedung Geologisch Laboratorium berfungsi sebagai perkantoran, yang dilengkapi dengan laboratorium geologi dan dua ruang utama sayap barat dan sayap timur di lantai 1 (bawah) untuk memperagakan hasil survei geologi. Penataan materi peragaan geologi berupa batuan dan fosil berada di bawah pengawasan para ahli, antara lain, Ostingh sebagai ahli moluska, Tan Sin Hok sebagai ahli foraminifera dan Von Koenigswald sebagai ahli vertebrata dan ahli geologi lainnya seperti Van Es, Oppenoorth, dan Neumann van Padang.

Materi disusun dalam lemari, yaitu lemari kaca di bagian atas untuk materi peragaan, dilengkapi laci di bagian bawah yang berisikan materi yang tidak diperagakan. Penataan ini sangat artistik serta memberikan informasi sistematis dan menarik tentang kemajuan kegiatan survei dan hasil yang dicapai para pakar geologi yang bekerja di Indonesia waktu itu. Hal ini sangat mempesona para peserta yang menghadiri kongres ilmu pengetahuan. Peragaan geologi ini terbuka untuk umum dan merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat umum. Hingga 1930 pengunjung MG telah mencapai 894 orang.

Gedung yang semula disebut Geologisch Laboratorium itu kemudian lebih dikenal sebagai Geologisch Museum yang merupakan cikal bakal MG sekarang. Sejak itu, peningkatan peragaan terus berlanjut dan makin disempurnakan seiring bertambahanya data hasil survei dan penelitian lapangan serta tambahan koleksi baik dari sumbangan maupun hasil tukar-menukar dengan pihak luar negeri. Penataan peragaan ini dapat dikatakan mencapai puncaknya sekitar tahun 1935, saat rekonstruksi kerangka Stegodon trigonocephalus, Rhinoceros sondaicus, Bubalus palaeokerabau dan Hippopotamus simplex turut menghiasi peragaan MG.

Namun, prahara Perang Dunia ke-2 berdampak langsung bagi keberadaan MG. Gedungnya dijadikan markas angkatan udara pemerintah kolonial Belanda. Berbagai koleksi dan peragaan yang ada di MG dipindahkan ke gedung Pensioen Fonds (sekarang Gedung Dwiwarna) yang terletak di sebelahnya. Pada masa pemerintah pendudukan Jepang, sekitar 1942- 1945, MG difungsikan kembali, dan berada dibawah Kogyoo Zimusho/Chishitsu Chosasho.

Pada tahun 1945, Chishitsu Chosasho diambil-alih pejuang kemerdekaan RI dan diganti namanya menjadi “Poesat Djawatan Tambang dan Geologi”. Kemudian 1950 diubah menjadi “Djawatan Pertambangan Republik Indonesia”. Selanjutnya, pada 22 Februari 1952 lembaga itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu: “Djawatan Pertambangan” berkedudukan di Jakarta dan “Djawatan Geologi” bertempat di Bandung. Segala sesuatu berkenaan dengan MG pada saat itu berada pada “Urusan Museum” yang merupakan salah satu bagian dari “Biro Teknik Umum” pada Djawatan Geologi, Bandung.

Dalam perkembangan selanjutnya organisasi MG mengalami berbagai perubahan. Perkembangannya dapat dilihat dalam infografik di bawah.

Tahun 1990 lantai 2 (atas) gedung geologi yang semula digunakan sebagai sarana perkantoran Pusat Penelitian dan Pengembanganan Geologi (PPPG), Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral (GSDM), Departemen ESDM (sejak 2006 menjadi Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM) diserahkan untuk pengembangan kegiatan MG. Selanjutnya, menyusul lantai bawah gedung tersebut dijadikan bagian dari MU. Kini ruag bawah itu menjadi ruang bengkel atau workshop.

Tahun 1976-1979, PPPG menjalin kerja sama penelitian dengan Tokyo Unversity, yang dikenal sebagai Proyek CTA 41 (1976-1979). Kerja sama ini dibiayai oleh pemerintah Indonesia melalui Departemen ESDM dan bantuan dari pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Bentuk kerja samanya berupa penelitian Geologi Kuarter di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya daerah Sangiran. Proyek ini dipimpin oleh Darwin Kadar (PPPG) dan Naotune Watanabe (Tokyo University).

Hasil kerja sama ini diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Quaternary Geology of The Hominid Fossil Bearing Formations in Java dan mendapatkan penghargaan internasional. Kerja sama tersebut terus berlanjut dengan topik-topik lain sampai sekarang. Pada tahun 1983, pemerintah Jepang menghibahkan dana untuk membangun gedung Laboratorium Geologi Kuarter (LGK), PPPG di Bandung. LGK ini merupakan salah satu laboratorium geologi Kuarter yang terlengkap di Indonesia bahkan mungkin di Asia Tenggara.

Tahun 1990, PPPG mengusulkan penataan ulang peragaan di MG dan pada 1993 usulan MG yang diberi nama “Proyek Renovasi Museum” termaktub dalam “Buku Cetak Biru” Bappenas. Usulan tersebut disambut baik oleh pemerintah Jepang melalui JICA. Pada 1999, kegiatan fisik dimulai yang ditandai antara lain dengan mendatangkan material peragaan dari Jepang ke Bandung.

Oraginisasi-Museum

Perubahan Organisasi Museum Geologi

Proyek renovasi ini meliputi penambahan ruang di lantai 2 (atas) dan materi peragaan. Ruang di lantai 2, saat itu, terdiri atas ruang utama, sayap timur. Ruang utama (hall) diperuntukkan bagi peragaan maket tentang minyak bumi lepas pantai. Ruang sayap timur sebagai ruang peragaan yang dinamakan “Ruang Geologi dan Kehidupan Manusia” dan ruang penyimpanan koleksi (storage room) untuk batuan dan fosil moluska (Tersier). Tetapi, saat itu tidak disiapkan ruang untuk koleksi fosil vertebrata dan fosil manusia purba, karena pengelolaan fosil vertebrata dan manusia purba, foraminifera dan moluska Pra Tersier, berada di Seksi Paleontologi, Bidang Geologi, PPPG. Sementara, bidang peragaan sejak 1975 berada pada Seksi Museum Geologi, Bidang Dokumentasi dan Publikasi.

Pada pertengahan 2000, kegiatan renovasi dapat diselesaikan. Pembukaan kembali MG secara resmi dilakukan pada Agustus 2000 oleh wakil Presiden Republik Indonesia pada waktu itu, Megawati Soekarno Putri, dan disaksikan Menteri ESDM Susilo Bambang Yudhoyono. Rangkaian kegiatan pembukaan kembali MG ini dilanjutkan dengan pelaksanaan simposium dengan judul The International Symposium on Geological Museum yang bertema Towards Ahead: Geological Museum in a Changing World dengan ketua penyelenggara Fachroel Aziz dari PPPG. Simposium ini diikuti para pakar domestik maupun mancanegara dengan 40 topik bahasan yang meliputi berbagai disiplin keilmuan seperti paleontologi, paleoantropologi, museologi dan arkeologi. Hingga saat ini, belum pernah diselenggarakan kembali simposium sejenis itu.

Tahun 2001, Fachroel Aziz dan Iwan Kurniawan dialihtugaskan ke seksi MG. Mengikuti alih tugas itu, dipindahkan pula koleksi fosil vertebrata dan “manusia purba” dari Seksi Paleontologi ke Seksi MG. Pada 2004, atas usulan Fachroel Aziz, dibangun ruang koleksi (storage room) untuk fosil vertebrata dan manusia purba. Tahun 2010 ruang lantai 2 sayap barat yang semula perkantoran difungsikan sebagai ruang peragaan yang dinamakan ruang Sumber Daya Geologi. Tahun 2012, lantai 2 sayap timur yang semula Ruang Geologi dan Kehidupan Manusia ditata ulang dengan menerapkan teknologi multimedia. Ruang itu sekarang dinamakan ruang Manfaat dan Bencana Geologi.

Tahun 2013 ruang Geologi Indonesia di lantai 1 sayap barat ditata ulang yang masih berlangsung hingga sekarang. Ada juga rencana menata ulang ruang Sejarah Kehidupan di lantai 1 sayap timur dan akan dilengkapi peragaan diorama kehidupan manusia purba. Nantinya, diharapkan peragaan di MG akan lebih menarik dan nyaman sebagai salah satu sarana pembelajaran bagi semua kalangan baik ilmuwan maupun masyarakat umum. Selain itu, semoga saja MG menjadi objek wisata yang handal khususnya bagi Kota Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia umumnya.

Penulis: Iwan Kurniawan dan Sinung Baskoro.
Narasumber: Fachroel Aziz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>