Untitled-15

Mitigasi Bencana Gempa di Kawasan Prambanan

Sumber: Situs BMKG, diunduh pada 30 April 2016.

BMKG Menetapkan Skala Intensitas Gempa yang Baru

30/05/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

MMI dan Kesiapsiagaan

Edukasi gempa sejak usia dini.
Foto: Munasri
Edukasi gempa sejak usia dini. Foto: Munasri

Edukasi gempa sejak usia dini.
Foto: Munasri

Menyebut gempa bumi, mengingatkan pada ‘rumah ramah gempa’ yang saya tempati sekarang; pada buku bergambar kesiapsiagaan; skala MMI dan alat peraga guncangan gempa. Pernik-pernik itulah yang membagi hari-hari senggang saya untuk bermain bersama anak-anak sambil belajar ‘kalau ada gempa, apa yang harus kita lakukan?’ (Cuplikannya ada di halaman belakang majalah yang sedang anda pegang ini). Skala MMI (Modified Mercalli Intensity scale) yang terdiri dari 12 skala adalah ukuran intensitas guncangan gempa di permukaan, yang dijadikan panduan mengenali gempa; dalam keseharian masih disalah-artikan dengan ukuran magnitude (skala Richter).

Saya tinggal di kota Bandung, yang disebut memiliki ancaman gempa. Jauh sebelum gempa Yogya 2006, bahkan sebelum gempa Aceh 2004, kerisauan akan bencana gempa sudah terngiang-ngiang di telinga. Itu karena istri saya, warga Jepang, melontarkan satu pertanyaan kecil: “Di sini, apa yang harus saya lakukan kalau terjadi gempa?” Pertanyaan itu menyadarkan saya, betapa di Indonesia belum ada panduan kesiapsiagaan menghadapi gempa.

Karena bukan ahli gempa, saya pun mencari tahu. Pertama-tama, saya mencoba merancang rumah dengan struktur ramah gempa, yaitu rumah yang apabila mengalami kerusakan tiba-tiba, penghuni rumah masih dapat menyelamatkan diri. Sebagian dinding rumah terbuat dari anyaman bilah bambu yang diplester. Dinding seperti ini kuat lagi ringan. Pintu-pintu terbuka ke luar untuk memudahkan evakuasi. Kaca jendela dilapisi film agar tidak langsung berantakan bila pecah. Di kiri-kanan rumah dibuat lorong sebagai alternatif jalur evakuasi. Sehari-hari lorong ini berperan memberi aliran udara dan cahaya tambahan. Rumah dipasangi lampu gantung yang goyangannya memberi tanda ada guncangan.

Di Jepang, semua warganya sangat disiplin dan tangkas dalam melakukan pengurangan risiko bencana. Kata istri saya, masyarakat Jepang tidak begitu paham dengan skala Richter, melainkan mencermati ‘skala guncangan gempa’ shindo sebagai salah satu panduan kesiapsiagaan. Shindo sering diterjemahkan sebagai JMA seismic intensity scale atau skala intensitas gempa yang dipakai di Jepang. JMA (Japan Meteorology Agency), semacam BMKG-nya Jepang.

Intensity vs Magnitude
Kekeliruan memahami skala intensitas gempa dan skala magnitude (skala Richter) merasuki hampir semua kalangan, bahkan media pemberitaan. Untuk
keperluan kesiapsiagaan, skala intensitas dapat dijelaskan tanpa harus menggunakan rumus rumit yang menjadi tanggung jawab ahli dan peneliti gempa.

Intensity (Intensitas gempa) merupakan ukuran kekuatan guncangan gempa yang dirasakan dan memengaruhi benda-benda alam dan bangunan yang berada di permukaan bumi. Sedangkan magnitude adalah besaran energi yang dilepaskan dari pusat gempa (hipocenter) yang kekuatannya diukur dalam skala Richter – untuk gempa berskala kecil; dan Moment Magnitude (Mw) – untuk gempa skala besar.

Faktor yang memengaruhi intensity adalah kedalaman atau jarak sumber gempa dengan objek di permukaan; dan kondisi batuan/tanah yang dilalui gelombang gempa. Makin dangkal pusat gempa, guncangannya akan makin besar. Lapisan batuan/tanah yang lebih lunak dan gembur akan kian menguatkan guncangan. Dengan kata lain, titik lokasi di muka bumi yang terdekat dengan pusat gempa akan mengalami efek guncangan lebih kuat dibandingkan yang lokasinya lebih jauh. Sebaliknya gempa ber-magnitude besar bisa jadi tidak terasa guncangannya karena pusat gempanya jauh di perut bumi. Gempa besar tidak selalu memberi intensitas besar; sebaliknya gempa kecil bisa menimbulkan kerusakan besar.

Ukuran intensitas gempa di Jepang disosialisasikan dalam bentuk karikatur yang mudah dipahami. Dari sinilah mereka memahami skala guncangan dan menerapkannya sebagai panduan pengurangan risiko bencana. Ada 10 skala shindo. Misalnya, skala shindo 2 ditunjukkan oleh lampu gantung yang bergoyang ringan. Ini sebagai petunjuk terjadinya gempa dengan guncangan ringan. Tindakan yang diambil, bersiagalah tanpa harus panik.

Belum lama ini (14 dan 17 April 2016) daerah Kumamoto, Jepang, diguncang gempa berkekuatan 6,5 dan 7,3 skala Richter. Media berita Jepang (khususnya NHK), mengumumkan dalam hitungan detik tingkat guncangan dan kerusakan dalam gambar peta intensitas shindo. Jepang memasang bukan saja seismometer, alat pengukur besaran energi gempa, tetapi juga memasang accelerograph, sensor dari intensity meter, alat pengukur guncangan di permukaan bumi.

Di seantero daratan Jepang sampai tahun 2012 telah terpasang lebih dari 4300 intensity meter. Melalui pantauan intensity meter, masyarakat dapat mengetahui daerah yang mengalami kerusakan paling parah. Informasi ini pun berguna sebagai panduan bagi tim reaksi cepat melakukan tindakan pertolongan dengan mendahulukan kepada wilayah yang mengalami kerusakan lebih berat, yang diketahui dari ukuran intensitas.

Kalau Jepang menggunakan shindo, maka Indonesia memakai MMI untuk mengukur skala intensitas. MMI pertama kali diusulkan oleh Giuseppe Mercalli, ahli gunung api asal Itali pada awal abad 20. Uniknya, berita tentang gempa selalu mengedepankan ukuran magnitude. Jarang sekali media yang menyertakan informasi gempa dengan skala MMI. Sekalipun disebutkan, sering pula dengan pemahaman yang keliru. Sosialisasi dan penjelasan terus-menerus tentang skala guncangan gempa adalah kunci memahamkan masyarakat. (Munasri)

Penulis bekerja di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>