Dari kiri - kanan (searah jarum jam): 1. Kerusakan kampus STIE
kerjasama di Kota Yogyakarta akibat gempa tanggal 27 Mei 2006,
2. Longsoran akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di desa Wonolelo,
Kecamatan Plered, Bantul , 3. SD Lowanu di kota Yogyakarta roboh
akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 4. Retakan tanah sepanjang
± 2.900 meter berarah barat – timur di Kecamatan Gantiwarno,
Klaten akibat gempa tanggal 27 Mei 2006, 5. Kerusakan jembatan
di daerah Gantiwarno, Klaten akibat gempa tanggal 27 Mei 2006,
6. Rumah penduduk roboh akibat gempa tanggal 27 Mei 2006 di
zona Sesar Opak. Lokasi dusun Guyangan, desa Wonolelo, Plered,
Bantul. Foto: Supartoyo, 2006.

10 Tahun Gempa Yogyakarta

Untitled-15

Mitigasi Bencana Gempa di Kawasan Prambanan

27/05/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Misteri Patahan Sumber Gempa Yogya 2006

Gedung Kantor BPKB Yogyakarta
yang roboh miring diguncang
gempa. Foto: Danny Hilman N.
Gedung Kantor BPKB Yogyakarta yang roboh miring diguncang gempa. Foto: Danny Hilman N.

Gedung Kantor BPKB Yogyakarta
yang roboh miring diguncang
gempa. Foto: Danny Hilman N.

Yogyakarta adalah salah satu wilayah Indonesia yang banyak dikunjungi para wisatawan lokal dan mancanegara karena kekentalan budaya asli dan tinggalan peradaban dari masa lalu yang dilengkapi dengan ketersediaan berbagai kuliner khas dan lanskap yang indah permai. Namun, dibalik wajah yang eksotik dan mempesona itu, Yogyakarta (Yogya) adalah wilayah yang terancam oleh dua sumber bencana alam besar, yaitu letusan Gunung Merapi dan gempa bumi (gempa) tektonik. Ini adalah kenyataan umum di Indonesia, bahwa dibalik pesona keindahan alam dan budaya serta sumber daya alam yang melimpah ruah, tersimpan sumber bencana alam yang suatu waktu dapat memperlihatkan kebengisannya.

Pada 24- 27 April 2006, di sela-sela presentasi sebuah simposium berkenaan dengan aktivitas Gunung Merapi, penulis mengingatkan bahwa Yogya tidak hanya rawan terhadap bencana gunung api, tapi juga gempa bumi, sebagaimana pada abad 19 pernah terjadi gempa besar yang meluluhlantakan Kota Yogya. Ketika itu reaksi sebagian besar peserta tertegun seperti tidak pernah mendengar cerita tentang bencana gempa abad 19 itu. Memang, sepuluh tahun yang lalu Merapi mulai memuntahkan semburan piroklastikanya pada 11 Mei 2006, menyebabkan sekitar 22 ribu warga di lereng Merapi dan utara Yogya dievakuasi untuk mengantisipasi letusan yang lebih besar. Tindakan mitigasi yang sigap ini terbilang sukses karena ternyata empat hari kemudian, pada 15 Mei, Merapi benar-benar meletus cukup besar.

Namun, apa yang benar-benar diluar dugaan adalah pada dini hari Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.53 WIB, saat orang menyantap sarapan atau mulai bersiap-siap untuk pergi bekerja, terjadi gempa dangkal di darat berkekuatan sekitar Mw 6.4 dengan episentrum (pusat) di wilayah Bantul yang menyebabkan tanah berguncang sekitar 52 detik. Walaupun magnitudonya tidak terlalu besar, gempa ini, seperti dilaporakan oleh Consultative- Group on Indonesia (2006), membunuh 6 ribu orang, menyebabkan 50 ribu orang luka-luka, dan 500 ribu sampai sejuta orang kehilangan tempat tinggal; menelan kerugian sebesar 2,9 triliun rupiah (3,1 miliar US dollars). Wilayah kerusakan terberat adalah Bantul dan Klaten, termasuk kerusakan serius pada Candi Prambanan dan Makam Sultan dari Abad 16 di Imogiri.

Data lokasi episenter dari mainshock (gempa utama) dan aftershocks (gempa susulan) dari Gempa Yogya 2006, serta data focal mechanisms dari berbagai sumber.

Data lokasi episenter dari mainshock (gempa utama) dan
aftershocks (gempa susulan) dari Gempa Yogya 2006, serta data
focal mechanisms dari berbagai sumber.

Gempa Yogya 2006 Bukan yang Pertama
Banyak orang menyangka Gempa Yogya 2006 adalah bencana gempa darat yang pertama kali di wilayah Yogya seperti disebutkan oleh beberapa laporan penelitian, termasuk oleh Walter dkk (2008). Padahal, dalam beberapa laporan yang dibuat pada zaman kolonial, khususnya laporan Dr. S.W. Visser (1922) dan berita di Koran De Locomotief, diceritakan cukup rinci tentang bencana gempa besar di wilayah Yogyakarta pada 10 Juni 1987. Newcomb and McCann (1987), melaporkan kembali dalam makalahnya, bahwa gempa Yogya 1867 adalah bencana gempa dengan sumber di darat yang paling besar sejak abad 17. Gempa terjadi pada dinihari pukul 4.25, mungkin sebelum ayam jago sempat berkokok.

Ada dua hentakan gempa Yogya 1867; yang pertama membuat bumi berguncang selama 8 detik, terus hening mencekam sekitar 2 detik, kemudian langsung disusul dengan pukulan yang jauh lebih kuat dari hentakan kedua yang berlangsung selama kl. 70 detik. Guncangan gempa dirasakan pada wilayah dengan radius 500 km dari Yogya. Dari hubungan empiris antara radius guncangan (r) dan kekuatan gempa (M), yaitu: Log (r) = 0,54M – 1,05 dari Hurukawa (2014), Gempa Yogya 1867 kemungkinan berkekuatan sampai M 6,9! Jadi, lebih besar dari Gempa Yogya 2006. Dr. Visser menyimpulkan bahwa sumber-gempanya memanjang berarah barat daya-timur laut di dekat aliran Sungai Opak; alias bersesuaian dengan lokasi Patahan Opak.

Gempa 1867 memporakporandakan Yogyakarta. Sekitar 500 orang meninggal dunia karenanya. Yang sangat penting untuk disimak, wilayah yang mengalami kerusakan paling ekstensif dari gempa 1867 ini sangat mirip dengan kerusakan gempa Yogya 2006, yaitu dari wilayah Bantul sampai Klaten. Dalam laporan koran De Locomotief disebutkan bahwa setengah dari jumlah korban meninggal terjadi di ‘Pasar Gedeh’ yang sekarang dikenal sebagai Pasar Legi di Kota Gede. Pasar bernuansa sejarah dan budaya ini dulu dikenal dengan sebutan ‘Sargedhe’ yang karena berkembang menjadi sangat ramai, Panembahan Senopati, anak Ki Jaka Tingkir, menjadikan wilayah ini sebagai pusat kerajaan Mataram saat ia pertama kali menjadi raja. Candi Prambanan, seperti halnya pada gempa 2006, juga mengalami kerusakan berat pada waktu itu; termasuk bangunan besar Kantor Pos dan Motel tempat peristirahatan Sultan yang berada di dekat candi juga mengalami rusak total.

Pada waktu gempa 1867 terbentuk banyak sekali rekahan-rekahan di permukaan tanah, yaitu di wilayah Yogya bagian selatan, Bantul sampai ke Klaten. Sebagian dari rekahan tersebut mengeluarkan semburan pasir dari dalam tanah; yaitu indikasi terjadinya proses likuifaksi (“liquifactions”). Likuifaksi biasa terjadi pada lapisan pasir lepas yang jenuh air. Proses terjadinya, ketika lapisan itu diguncang gempa, maka struktur badan pasir tersebut ‘ambruk’ sehingga pasir tersebut menjadi seperti fluida, kemudian karena tertekan di dalam tanah maka menyembur keluar melalui rekahan tanah yang terbentuk akibat gempa.

Menarik juga untuk disimak, Komite Penanggulangan Bencana pada waktu itu (1987) di akhir laporannya mengatakan bahwa “Kita berharap Yogyakarta akan aman untuk waktu yang lama, jangan lagi ada bencana mengerikan seperti yang terjadi saat ini. Namun kita paham bahwa hal itu tidak benar (karena kejadian gempa akan selalu berulang) dan kejadian ini menjadi pelajaran yang tidak boleh dilupakan”.

Sejarah bencana gempa di daratan Pulau Jawa sampai tahun 1922 yang dilaporkan Visser (1922). Inset adalah peta intensitas gempa Yogya tahun 1867 dari Newcom dan McCann (1987).

Sejarah bencana gempa di daratan Pulau Jawa sampai tahun 1922 yang dilaporkan Visser
(1922). Inset adalah peta intensitas gempa Yogya tahun 1867 dari Newcom dan McCann
(1987).

Jalur Patahan Gempa, Zona Kerusakan Terbesar
Penulis berkesempatan untuk melakukan survei lapangan pada Agustus 2006, 3 bulan setelah gempa. Waktu itu, sebagian besar jejak rekahan dan kerusakan akibat gempa sudah sukar untuk dilihat lagi. Beruntung, sebelumnya sudah ada beberapa tim yang sudah melakukan penelitian lapangan untuk mendokumentasikan berbagai fenomena akibat gempa tersebut.

Persis seperti efek gempa tahun 1867, gempa tahun 2006 ini juga menyebabkan banyak rekahan tanah yang tersebar luas di wilayah Kota Yogyakarta, Bantul, sampai ke Klaten. Terdapat banyak proses likuifaksi yang ditandai oleh semburan pasir yang keluar dari rekahan-rekahan tanah tersebut. Sebagian kerusakan struktur dan bangunan terjadi karena dilalui oleh rekahan tanah tersebut, namun sebagian lain tidak berkaitan dengan keberadaan rekahan atau likuifaksi di sekitarnya. Misalnya, bangunan besar Kantor BPKB yang roboh miring karena guncangan
dan kemungkinan ada kelemahan struktur bangunan di salah satu sisi bangunannya.

Ada dua jenis rekahan yang dapat dibedakan di lapangan. Pertama, rekahan akibat gerakan tanah yang dipicu oleh guncangan gempa. Inilah rekahan yang paling banyak dijumpai dan mudah dikenali karena umumnya terjadi di sekitar lereng atau tebing yang rentan gerakan tanah. Kedua, rekahan tektonik yang terkait langsung dengan proses tektonik atau pergerakan patahan gempa. Rekahan ini mudah dikenali apabila terjadi pada tanah datar yang stabil dari gerakan tanah. Selain itu, rekahan tektonik akan mempunyai pola arah tertentu, tidak acak.

Rekahan tektonik banyak dijumpai di daerah Bantul, di sepanjang alur Sungai Opak, dari Imogiri sampai daerah Pleret – Jetis, dengan arah dominan barat daya – timur laut. Penulis masih bisa menjumpai beberapa jejak rekahan yang baik, meskipun sebagian besar sudah tidak terlihat lagi. Untungnya, jejak rekahan dan berbagai kerusakan akibat gempa sudah didokumentasikan dengan cukup lengkap oleh survei terdahulu (Tim LIPI, Tim UGM, dan Tim Badan Geologi). Di wilayah Desa Jetis, penulis menjumpai jejak rekahan yang terlihat mempunyai morfologi khas mole-track dengan panjang puluhan meter.

Mole-track, gundukan kecil memanjang dengan arah sering zig-zag, adalah fenomena khas dari jejak rekahan patahan gempa di permukaan (fault surface ruptures). Kemudian, di Jembatan Besar Pleret ditemukan beberapa alur jejak rekahan yang memotong hampir tegak lurus badan jembatan. Terlihat badan jembatan dan juga jalan aspal di atasnya tergeserkan di sepanjang alur-alur rekahan tersebut dengan arah pergerakan mendatar-mengiri (sinistral). Di bagian utara, di Desa Taruman Sumberharjo, ditemukan jejak rekahan yang memotong sebuah bangunan rumah sehingga ambruk. Dokumentasi data rekahan tektonik ini mengindikasikan dengan kuat keberadaan lokasi Patahan Aktif Opak sebagai sumber gempa Tahun 2006 di sepanjang aliran Sungai Opak yang berarah barat daya-timur laut. Berdasarkan data pola rekahan tektonik dan analisis morfotektonik pada SRTM 30 dan IFSAR 5m, dapat dibuat peta perkiraan lokasi Patahan Opak dan sumber Patahan Gempa tahun 2006.

Di Selatan Klaten, sekitar aliran Sungai Dengkeng, ditemukan banyak rekahan tektonik dengan panjang ada yang menerus sampai puluhan meter namun berarah barat-timur. Di salah satu lokasi, rekahan gempa ini dengan tegas memotong sebuah tembok sumur dan menggesernya secara sinistral sebesar 25 cm. Tidak bisa  dipetakan dengan pasti apakah rekahan ini adalah bagian dari sebuah patahan terpisah berarah timur-barat yang ikut bergerak terpicu oleh pergerakan Patahan Opak ataukah menyambung dengan Patahan Opak.

Rekahan tektonik tidak hanya ditemukan di sepanjang zona yang diperkirakan alur patahan gempa utama saja, tapi juga banyak terdapat di wilayah dataran luas di sebelah baratnya sampai ke dekat pusat Kota Yogyakarta dengan arah umum utara-selatan dan barat laut-tenggara. Salah satu zona rekahan tektonik mengakibatkan kerusakan parah bangunan kompleks bangunan Panti Asuhan Universitas Muhamadiyah di tengah Kota Yogya. Jelas sekali, rekahan ini terjadi di tanah datar yang stabil, tidak ada indikasi gerakan tanah.

Jadi, pola rekahan tektonik dari Gempa Yogya 2006 mengindikasikan pergerakan patahan gempa yang tidak sederhana sebagai berasal dari satu bidang patahan saja, namun cukup kompleks, melibatkan lebih dari satu segmen patahan dan berasosiasi dengan zona rekahan yang lebar di sebelah barat patahan-utamanya. Hasil pemetaan wilayah kerusakan yang dibantu oleh citra satelit beresolusi tinggi memperlihatkan korelasi yang erat antara zona patahan gempa dan kerusakan. Wilayah dengan kerusakan terparah adalah sepanjang sisi barat dari zona utama rekahan yang diperkirakan patahan gempa tahun 2006. Sekitar 57,1% kerusakan berada di wilayah Bantul, 26,8% di Klaten, dan sisanya tersebar di berbagai pelosok.

Ilustrasi zona rekahan gempa sinistral yang menggeser Jembatan Pleret di Bantul.

Ilustrasi zona rekahan gempa sinistral yang menggeser Jembatan
Pleret di Bantul.

Kontradiksi Data Sumber Gempa
Benarkah lokasi sumber gempa utama adalah patahan aktif yang berarah barat daya-timur laut di sepanjang aliran Sungai Opak? Analisa dari berbagai data yang ada menunjukkan bahwa ternyata hal ini tidak sederhana.

Hasil survei GPS-geodesi untuk memetakan pergerakan tanah yang berkaitan dengan pergerakan patahan gempa (coseismic displacement) oleh Abidin (2009), mengindikasikan dengan cukup jelas bahwa blok di sebelah timur lokasi Patahan Opak bergerak relatif ke arah timur dan timur laut sedangkan blok di timur Patahan Opak bergerak ke arah selatan dan barat daya. Artinya, studi tektonik geodesi menunjang keberadaan lokasi patahan gempa di sepanjang Sungai Opak.

Namun, data hasil survei aftershocks (gempagempa susulan) yang dilakukan oleh German Task Force (GTF), sebagaimana laporan Walter (2008), memperlihatkan bahwa aftershocks terjadi di wilayah Pegunungan Kidul, sekitar 10-15 km di timur lokasi Patahan Opak pada kedalaman 8 sampai 15 km, namun memperlihatkan arah kelurusan searah dengan Patahan Opak. Karena umumnya zona aftershocks berada pada atau di sekitar bidang patahan gempanya (fault rupture), maka memang beralasan apabila diduga bahwa gempa Yogya 2006 bukan di Patahan Opak melainkan di zona aftershock yang dianggap sebagai patahan yang belum diketahui sebelumnya. Masalahnya, bagaimana mungkin sumber patahan gempa di Pegunungan Kidul dapat memberikan dampak kerusakan terberat di zona sepanjang Patahan Opak dan sisi baratnya sejauh lebih dari 10 km? Untuk menjawab hal ini, Walter dkk memberikan analisis bahwa terjadi amplifikasi gelombang gempa yang sangat tinggi di sepanjang wilayah aliran Sungai Opak dikarenakan keberadaan endapan tebal lahar Merapi yang lunak.

Tsuji (2009) melakukan analisis SAR Interferometry (InSAR) dari pergerakan gempa Yogya, yaitu dengan membandingkan topografi citra satelit dari sebelum dan sesudah gempa sehingga bisa memetakan perubahannya yang berkaitan dengan pergerakan patahan gempa. Hasil studi ini menyimpulkan bahwa patahan gempanya berimpit dengan Patahan Opak di ujung selatannya, namun jalurnya berbelok melengkung ke arah timur untuk kemudian terpisah tapi sejajar dengan Patahan Opak. Oleh karena itu, Tsuji dkk menyimpulkan bahwa model patahan mereka sesuai dengan lokasi zona aftershock dari Walter dkk, dan menambahkan bahwa walaupun aftershocknya berada pada kedalaman 8 sampai 15 km, namun analisis InSAR mengindikasikan adanya pergerakan patahan di permukaan, sehingga disimpulkan bahwa patahan tersebut sampai ke permukaan. Walter dkk menyimpulkan juga bahwa pergerakan patahan tidak murni geser-sinistral tapi mempunyai komponen dip-slip patahan naik dengan bidang patahan tidak tegak lurus, tapi mempunyai kemiringan ke arah timur.

Menurut hemat penulis, keberadaan patahan aktif di Gunung Kidul, di wilayah zona aftershock Walter dkk, adalah hal yang tidak mungkin. Sebab, dari analisis bentang alam (SRTM-30) tidak terlihat sedikitpun ada indikasi morfotektonik atau bentukan morfologi berupa kelurusan, pergeseran unsur geomorfologi dan lain-lain yang biasanya mencirikan jalur dan pergerakan patahan. Dengan kata lain, hipotesis keberadaan patahan gempa di timur Patahan Opak sama sekali tidak ditunjang oleh data bentang alam.

Demikian juga bahwa di wilayah ini tidak dilaporkan terjadi rekahan (tektonik) di permukaan. Karena itu, patut dipertanyakan, apakah hasil analisis InSAR benar-benar mengkonfirmasi keberadaan patahan di atas zona aftershocks atau barangkali bisa diinterpretasikan lain?

Rekahan gempa sinistral berarah barat-timur yang memotong sumur di daerah aliran Sungai Dengkeng. Foto: Dok. Adrin Tohari dan Mudrik Daryono

Rekahan gempa sinistral berarah barat-timur yang memotong
sumur di daerah aliran Sungai Dengkeng. Foto: Dok. Adrin Tohari
dan Mudrik Daryono

Model Sumber Gempa 2006

Orang jadi kebingungan, mana yang benar? Apakah lokasi sumber gempa itu berada di Patahan Opak ataukah Patahan yang tidak diketahui sebelumnya di wilayah Gunung Kidul? Ini kasus yang cukup pelik. Data lokasi mainshock dari beberapa sumber pun tidak bisa membantu karena hasilnya juga berbeda-beda. Ada yang di sekitar Patahan Opak, tapi ada juga juga di dekat zona aftershocks. Ketidakpastian penentuan episentrum (pusat) gempa ini dimungkinkan karena jaringan seismograf di wilayah ini masih belum banyak, sehingga akurasinya masih rendah.

Pada prinsipnya, setiap data adalah fakta yang tidak bisa diabaikan. Untuk itu penulis mencoba mencari opsi model sumber gempa yang tidak menyalahi semua fakta yang ada. Opsi yang pertama, patahan gempanya adalah Patahan-aktif Opak, seperti yang ditunjukkan oleh keberadaan rekahan patahan gempa di permukaan, namun bidang patahannya mempunyai kemiringan ke arah timur sekitar 45-50° sehingga pada kedalaman sekitar 8-10 km berada persis di zona aftershocks menurut data Walter dkk (2008), kemudian bidang patahan ini melengkung ke bawah menjadi tegak seperti diindikasikan oleh liniasi aftershocks. Model opsi yang pertama ini juga ditunjang oleh data focal mechanisms dari NIED (National Research Institute for Earth-science and Dissaster Reslience) Jepang yang menunjukkan lokasi episentrum gempa pada Patahan Opak di daerah Bantul dengan kemiringan 500. Lanskap yang memperlihatkan bahwa Patahan Opak memisahkan perubahan relief drastis dari dataran tinggi G. Kidul ke dataran rendah Yogya-Bantul dengan beda tinggi sekitar 300 meteran menunjang indikasi bahwa pergerakan Patahan Opak tidak murni geser tapi mempunyai komponen patahan naik, yaitu bagian timurnya naik terhadap bagian
baratnya.

Opsi model yang kedua mengasumsikan bahwa patahan gempa 2006 adalah Patahan aktif Opak dengan bidang tegak seperti yang diindikasikan oleh focal mecanisms dari NEIC (National Earthquake Information Center, USA). Dengan model ini, maka keberadaan zona aftershocks di timur Patahan Opak dapat dijelaskan apabila pergerakan gempa pada Patahan Opak kemudian memicu atau mereaktivasi Patahan Opak tua yang merupakan patahan naik dengan bidang miring ke timur. Perlu diketahui bahwa data aftershocks yang dipakai Walter dkk adalah data rekaman aftershocks dari 3 sampai 8 Juni 2006, yaitu seminggu setelah gempa utama. Dengan kata lain, ada kemungkinan data aftershocks yang terjadi pada patahan gempa utamanya hilang tidak terekam selama seminggu setelah gempa. Namun penulis cenderung berpendapat bahwa opsi model pertama di atas lebih realistis.

Perilaku Gempa Patahan Opak

Selain misteri lokasi dan geometri dari Patahan Gempa 2006, hal lain yang penting untuk diteliti adalah: “seberapa sering gempa seperti tahun 2006 terjadi”? dan “seberapa besar kekuatan gempa yang mungkin terjadi di masa datang”?

Kita sudah mendiskusikan bahwa pola intensitas gempa yang terjadi tahun 2006 sangat mirip dengan yang terjadi tahun 1863. Oleh karena itu, kemungkinan besar sumber gempanya juga sama, walaupun ada kemungkinan gempa tahun 1867 merobek Patahan Opak lebih panjang. Apabila kekuatan gempa 1867 ini mencapai M 6,9 maka artinya gempa waktu itu menggerakkan Patahan Opak sampai sekitar 40 km, sedangkan gempa 2006 (M 6,4) hanya menggerakkan sampai 18 km bagian saja dari Patahan Opak. Jadi, kekuatan maksimal gempa di Patahan Opak (biasa disebut dalam istilah teknis kegempaan sebagai Maximum Credible Earthquake- MCE) paling tidak dapat mencapai M 6,9.

Belum ada studi yang mengukur langsung seberapa cepat Patahan Opak bergerak setiap tahunnya (sliprate), namun apabila kita mengasumsikan bahwa gempa 1867 sudah melepaskan semua kandungan energi regangan (strain) di Patahan Opak, maka dapat diestimasi bahwa patahan ini perlu waktu sekitar 139 tahun untuk mengumpulkan energi gempa berkekuatan M 6,4. Pemodelan pergerakan patahan dari hasil survey GPS menyimpulkan bahwa Patahan Opak pada waktu gempa Yogya 2006 bergerak ratarata sekitar 80 cm dengan arah sinistral disertai komponen dip-slip sebesar 26 cm pada patahan gempa sepanjang 18 km. Oleh karena itu, laju gerak Patahan Opak setiap tahun mencapai 5,7 mm/tahun. Jadi, Patahan Opak termasuk patahan aktif yang mempunyai tingkat aktivitas cukup tinggi. Bandingkan dengan laju gerak Patahan Sumatra di wilayah di bagian selatannya yang sekitar 10-12 mm/tahun.

Analisis bahaya gempa (Seismic Hazards)

Lokasi dan geometri patahan gempa serta perilaku geraknya perlu diteliti dan dipermasalahkan karena hal ini sangat menentukan peta zonasi bahaya gempa tersebut untuk mitigasi bencana. Kesalahan dalam input data sumber gempa akan membuat zonasi-nya tidak akurat, sehingga akan berdampak pada mitigasi bencana yang tidak tepat pula. Peta Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) Indonesia, hasil Tim 9 yang sudah dipublikaskan pada 2010 dan menjadi SNI 1726-2012, sudah memperhitungkan Patahan Opak sebagai salah satu sumber gempa di darat.

Pada peta tersebut terlihat bahwa wilayah kerusakan terbesar pada waktu gempa 2016 seluruhnya berada pada zona bahaya gempa tertinggi dalam peta tersebut, yaitu wilayah dengan nilai PGA (Peak Ground Acceleration) 0,4 g untuk perioda ulang 500 tahun (= 10% probability of excedance in 50 years) atau 0,7 g untuk perioda ulang 2.500 tahun (= 2% probability of excedance in 50 years). Artinya, Peta PSHA 2010 sudah benar, hanya mungkin perlu sedikit modifikasi saja untuk kemiringan bidang patahan gempanya.

Dengan kata lain, apabila struktur kekuatan bangunan di wilayah Yogya waktu itu sesuai dengan yang disarankan oleh Peta PSHA 2010, yaitu minimal tahan terhadap guncangan gempa sampai 0,4 g, maka kerusakan dan korban yang terjadi akan jauh lebih sedikit. Jika semua struktur bangunan sudah tahan guncangan gempa maka bangunan yang rusak parah mungkin hanya yang dilalui oleh rekahan gempa atau terkena efek likuifaksi atau gerakan tanah saja.

Pelajaran untuk Masa Depan

Peristiwa gempa Yogya 2006 adalah bencana besar yang meninggalkan luka dan kesedihan mendalam untuk masyarakat Bantul, Yogya, dan seluruh bangsa Indonesia. Dalam perspektif positif, hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga dan mahal. Wilayah yang terkena dampak sudah dibangun lagi dengan konstruksi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan sekarang jejak bencananya sudah tidak terlihat, namun mudah-mudahan tidak untuk dilupakan.

Kasus gempa Yogya bukan satu-satunya di Indonesia. Banyak kota atau wilayah yang berpenduduk padat yang sangat dekat dengan sumber gempa – patahan aktif utama, termasuk diantaranya Kota Banda Aceh, Bukit Tinggi, Bandung, Semarang, Palu, Ambon, Jayapura dan masih banyak lagi. Karena itu, penelitian dan evaluasi bahaya gempa untuk wilayah-wilayah tersebut perlu dilakukan dengan segera dan sebaikbaiknya. Masyarakat berhak tahu informasi peta zonasi bahaya gempa dan risikonya sejelas dan seakurat mungkin, sehingga dapat ikut bersama-sama untuk mengantisipasinya.

Perencanaan tata guna lahan dan pembangunan harus memperhatikan aspek kerawanan bencana gempa. Demikian pula peraturan kode bangunan aman gempa harus dibuat dengan seakurat mungkin dan diterapkan dalam pembangunan. ( Danny Hilman Natawidjaja)

Penulis adalah peneliti senior di Pusat Penelitian Geoteknologi, LIPI .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>