Pun Geologi

Pun Geologi Perlu Konservasi

R.W. Van Bemmelen: Sosok Manusia dalam Roman Geologi

R.W. Van Bemmelen: Sosok Manusia dalam Roman Geologi

06/03/2013 Comments (0) Resensi Buku

Misteri dan Masalah Kebumiaan

Misteri
Misteri

Hidup di atas tiga lempeng

Dengan demikian, alam akan selalu menjadi misteri sekaligus masalah bagi manusia, selain alam juga merupakan sumber kehidupan manusia. Tengoklah sembilan tulisan pertama. Semuanya membicarakan gunung api baik sebagai masalah maupun sebagai misteri. Wimpy S. Tjetjep, Adjat Sudrajat, dan R. Sukhyar mengingatkan bahwa kita takkan terlepas dari gunung api sehingga kita harus selalu waspada terhadap gunung api aktif. Sementara Akhmad Zaennudin, SR Wittiri, Priatna, Budi Brahmantyo, Igan S. Sutawidjaja, dan Oki Oktariadi menyajikan manfaat setelah gunung api meletus berupa lanskap yang indah, sumber daya mineral, lahan yang subur, dan lain-lain.

Lima tulisan selanjutnya membicarakan bencanabencana kebumian. Danny Hilman Natawidjaja dan Hamzah Latief membahas potensi gempa dan tsunami di Pulau Sumatra. Gatot Moch. Sudrajat menulis tentang bencana longsor di Pulau Jawa. Sementara T. Bachtiar dan Dida Kusnida, dkk. lebih khusus menyoroti kebencanaan geologi di Tatar Sunda.

Sebagai pembaca yang awam akan ilmu kebumian, dengan membaca rangkaian tulisan yang disajikan dalam buku ini, saya kian sadar bahwa alam ini memang membentuk kesadaran manusia untuk selalu menggali, memahami, dan memecahkan masalah kebumian. Meskipun kemampuannya terbatas, namun dengan keterbatasan itu, manusia terus mencari jawab atas masalah kebumian yang terus merundungnya. Manusia berbekal pengalaman dan penalaran yang mengkristal menjadi ilmu pengetahuan mencoba mencari jawab atas sejumlah masalah yang menghampirinya.

Di situ, selaiMisterin sebagai ilmuwan kebumian, mereka pun harus mampu menjelaskan fenomena kebumian tersebut kepada masyarakat awam yang acapkali menyandarkan dirinya kepada pendapat orang lain, kepada kabar burung, yang dalam bahasa Sunda disebut “pacenah-cenah.” Misalnya, masih kentalnya kepercayaan bahwa bila pengamat gunung api mengadakan pengukuran suhu di lapangan solfatara dan fumarola yang ada di kawah gunung api dianggap melakukan “penyuntikan” gunung agar tidak meletus (Hal. 5). Dengan demikian, diharapkan masyarakat yang di sekitar daerah yang rawan bencana kebumian menginsyafi ancaman bahaya yang harus mereka hadapi.

Demikian pula untuk meminimalisasi atau meniadakan jatuhnya korban akibat bencana geologi (mitigasi), para ahli kebumian harus dapat memberdayakan masyarakat, terutama yang belum pernah mengalami peristiwa letusan gunung api, longsor, gempa, tsunami, dan bencana geologi lainnya. Pemberdayaan ini dilakukan melalui peningkatan kapasitas untuk mengurangi kerentanan dengan menumbuhkan kesadaran dan meningkatkan kesiapsigaan dalam menghadapi bencana geologi.

Selain itu, dari ke-14 tulisan ini, saya menangkap kesan sangat vitalnya peran pencatatan fenomena kebumian. Misalnya, pencatatan gunung api sebagaimana yang diterangkan R. Sukhyar.

Pencatatan letusan gunung api di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Portugis pada 1512, kemudian Belanda sejak 1602, sehingga gunung api di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam tipe A, B, dan C (Hal. 29-30). Demikian pula pencatatan tsunami sebagaimana yang dinyatakan Hamzah Latief. Berdasarkan hasil penelitian sejarah tsunami di Indonesia dari 1612-2010, diketahui tidak kurang dari 118 kejadian tsunami pernah terjadi di perairan Indonesia (Hal. 149-150).

Pencatatan letusan gunung api dan tsunami tersebut sangat penting, karena dapat dimanfaatkan sebagai dasar penentuan skala prioritas pemantauan gunung api, untuk mengetahui sumber pembangkit tsunami, kajian bahaya dan resiko bencana tsunami. Pada praktiknya, catatan tersebut dapat digunakan untuk mengurangi, bahkan meniadakan, jatuhnya korban bila kedua bencana geologi tersebut terjadi.

Akhirnya, dapatlah dikatakan, fenomena kebumian sebagai misteri ciptaan Tuhan tak dapat kita hindarkan dan tak kan mampu pula kita lawan. Bila kemudian timbul menjadi masalah, maka kita harus senantiasa menginsyafinya,mempelajarinya dari khazanah pengalaman, dan terus mengusahakan jawabannya. Untuk bencana, jawaban itu berarti upaya-upaya untuk mengurangi risiko bencana atau mitigasi bencana. Kadang waktu untuk itu mungkin lama, sementara fenomena kebumian terus datang menghantui. Bila terjadi bencana kadang kita harus rela menerima kerugiannya. Namun, upaya manusia untuk memahami misteri kebumian sekaligus menangani masalahnya takkan pernah berhenti.

Peresensi adalah penulis, peneliti literasi, bergiat di Pusat Studi Sunda (PSS).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>