Gambaran kehidupan ekosistem fauna di Mata Menge yang didalamnya dapat ditemukan gajah Stegodon florensis, komodo Varanus
komodoensis, tikus Hooijeromys nusatenggara, buaya Crocodillus dan berbagai species burung. Sumber: PaleoArt.

Merekonstruksi Lingkungan Purba Cekungan So’a

Mineral Phillipsit diperbesar 250 X, difoto menggunakan alat
SEM (Scanning Electron Microscope) yang dapat memperbesar
kenampakkan 1000X hingga 2000X.
Foto: Koleksi Prof. Mimin

Penemuan Mineral Phillipsit

12/10/2016 Comments (0) Profil, Profil, Uncategorized

Mimin Karmini Setia di Jalan Mikropal

Mimin Karmini
Mimin Karmini

Mimin Karmini

Sejak William Smith menemukan Hukum Suksesi Fauna hingga kini, penelitian mikropaleontologi terus berkembang. Dalam pekerjaannya, ahli mikropal tidak jarang harus berlama-lama di samudera, sehingga terkesan sangat kelaki-lakian. Salah seorang perempuan Indonesia yang setia di jalan mikropal adalah Mimin Karmini, profesor riset bidang geologi kelautan dan penemu mineral philipsit.

Karier Mimin Karmini di bidang mikropaleontologi malang melintang. Sejak bergabung ke Direktorat Geologi (kini Badan Geologi, KESDM) pada 1972 hingga memasuki masa purnabaktinya pada tahun 2008, ia tetap menekuni fosil-fosil renik yang
ada di daratan dan perairan Indonesia. Mimin dilahirkan di Kopo, Kota Bandung, 13 Oktober 1943 dari pasangan Sudinta dan Eha Djulaeha. Ayahnya adalah polisi yang berdinas di bagian administrasi di Jalan Jawa, Kota Bandung. Sementara ibunya bekerja sebagai pengrajin rajut di daerah Kopo.

Prof. Mimin di ruang kerjanya. Foto: Koleksi pribadi

Prof. Mimin di ruang kerjanya. Foto: Koleksi pribadi

Pendidikan dasar hingga menengahnya diselesaikan di Kota Bandung. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya dari Sekolah Rakjat Padjagalan 31/II, Kota Bandung (1956). Pendidikan menengahnya diraih dari SMP Parki I, Bandung (1960), dan SMA Negeri IV Bandung jurusan Ilmu Pasti dan Alam atau Jurusan B (1963).

Pada tanggal 19 Februari 1970, Mimin berhasil menempuh ujian Sarjana Muda dari Jurusan Geologi, Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA), Unpad.Oleh karena itu, ia berhak menempuh ujian sarjana ilmu pasti dan ilmu alam. Saat kuliah, kawan seangkatannya ada 24 orang. Di antaranya ada Sam Supriatna (PSG), dan Aswan Yasin (mantan Kepala PPPGL).

Namun, di antara kawan seangkatannya hanya dialah perempuan yang bisa menyelesaikan studinya hingga selesai. “Di angkatan kuliah, saya menjadi ‘anak perawan di sarang penyamun’, karena hanya satu perempuan di antara 25 orang jalu yang bisa laju sampai ke finish, meskipun tersendat-sendat. Yang penting, biar lambat asal selamat,” ujar istri ahli geologi Karsono Adisaputra ini.

Saat di Kingswood College. Foto: Koleksi pribadi.

Saat di Kingswood College. Foto: Koleksi pribadi.

Sebelum menyelesaikan sarjana, pada 1970, Mimin melamar ke Direktorat Geologi. Kepala Seksi mengarahkannya ke bidang paleontologi. Di sana ia mengawalinya sebagai Calon Pegawai (1972) dan menjadi PNS sebagai asisten geologi (1973). Ia pun diberi kesempatan ke lapangan. Hasilnya, pekerjaan lapangan tersebut antara lain dijadikannya skripsi yang berjudul Stratigrafi dan Paleontologi daerah Pasir Pawon, Padalarang, Jawa Barat (1975). Pada saat itu pula diangkat sebagai ahli geologi.

Ketertarikannya untuk mempelajari mikropaleontologi tidak terlepas dari pengaruh dosen pembimbingnya Harsono Pringgoprawiro. “Dulunya saya tidak tertarik mempelajari foraminifera. Oleh karena itu, ketika kuliah nilai untuk mata kuliah paleontologi pas-pasan. Hanya yang bagus itu kan dosennya dari ITB, Pak Harsono yang juga menjadi pembimbing saya itu mendorong untuk mempelajari mikropaleontologi. Jadi kita merasa tertarik mempelajarinya,” ujar ibu bagi Ismail Kurnianto, Darajat Arianto, Aisyah Myalina, Nurul Hasanah dan Irni Shobariani ini.

Saat ada restrukturisasi Direktorat Geologi pada 1979, Mimin menjadi staf di unit baru yaitu di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (PPPG). Di unit baru ini, ia diberi kesempatan untuk mendalami bidang Foraminifera Besar dengan mengikuti pelatihan di University of Western Australia, Perth, Australia, selama setahun (1981-1982).

Saat itu, katanya, “Seharusnya saya berangkat ke Sydney pada 1980, tetapi karena pada waktu itu sedang hamil tua, ditunggu agar melahirkan dulu, perjalanan diundur sampai bulan Maret 1981, pada waktu si bungsu berumur 40 hari, terpaksa saya tinggal. Perjalanan yang membuat hati bimbang. Setelah pulang dari sana, sebagai konsekuensinya, anak tidak kenal sama ibunya, baru setelah kurang lebih sebulan, dia sudah mulai mau mendekat.”

Mengarungi Samudra, Mengolah Data
Pada 1984, berdiri unit Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL). Mimin memutuskan untuk bergabung ke PPPGL dengan alasan untuk menambah wawasan di bidang ilmu geologi kelautan. “Sejak 1984, arah penelitian yang saya tekuni menjadi lebih berkembang, yang tadinya daerah penelitiannya di darat waktu di PPPG, dengan objek penelitian foraminifera pada sedimen zaman Tersier, beralih ke laut, dengan objek yang sama yaitu mikrofauna laut, tapi terendapkan di zaman Kuarter.”

Untitled-42

Ekspedisi Snellius II 1985. Foto: Koleksi pribadi.

Sebagai konsekuensinya, Mimin harus pula mengikuti perjalanan mengarungi lautan demi pekerjaannya itu. Ia tercatat antara lain pernah mengikuti Ekspedisi Snellius II (1985) dan Ekspedisi International Marine Global Changes Study atau IMAGES (1998). Ekspedisi Snellius II adalah proyek kerja sama antara pemerintah Belanda dengan Indonesia di bidang geologi kelautan. Wilayah operasinya di perairan timur Indonesia. Pelayarannya menggunakan Kapal Riset Tyro, milik Pemerintah Belanda.

Pelayaran pertamanya di perairan Selat Makasar, melibatkan para ahli di bidang geologi, geokimia, struktur geologi, biostratigrafi, dan mikropaleontologi. Dan pelayaran Snellius II berikutnya, pada tahun 1986, untuk kedua kalinya Mimin mengikuti pelayaran dari perairan Timor, terus ke sebelah timur, kemudian ke selatan mengarungi Samudra Hindia.

Saat kali pertama melaut itu, Mimin merasa, “Pertama kali yang saya pikirkan kalau bekerja di laut itu, takutnya mabuk, ih, malu-maluin. Tapi entah kenapa, entah karena gizinya baik, atau daya tahannya memang ‘tangguh’, saya hanya pernah merasa pusing, yang tidak lebih dari setengah jam, setelah itu diistirahatkan, dibaringkan, Alhamdulillah setelahnya bisa bekerja kembali.”

Untitled-43

Netherlands Wind Molen 1986. Foto: Koleksi pribadi.

Pada 1998, ia mengikuti lagi Ekspedisi IMAGES yang merupakan proyek kerja sama antara Indonesia dan Prancis. Saat itu, Mimin dan tim peneliti lainnya menggunakan Kapal Peneliti Marion Dufresne milik Prancis, yang berbobot 10.000 ton. Saat itu, wilayahoperasinya meliputi Samudra Hindia, Laut Banda dan Laut Sulawesi.

Mimin saat itu terkesan dengan para peneliti dari Prancis. “Hari pertama di kapal riset ini, banyak juga aki-aki dan nini-nini para peneliti dari Prancis. Ternyata, setelah pekerjaan dimulai, aki-aki dan nini-nini tersebut memperlihatkan kebolehannya.Dengan gesitnya, memotong core, menggotongnya, dan mengerjakan keaktifan lainnya seakan-akan tidak mengenal lelah,” katanya.

Selain mengikuti pelayaran laut, Mimin terlibat pula dalam pengolahan data hasil ekspedisi kelautan baik yang diikutinya maupun yang tidak di Belanda, Prancis, Inggris, dan Jerman. Pada 1986 dan 1987, Mimin berangkat ke Vrije Universiteit (Amsterdam) dan The Netherlands Institute of Sea Research, Texel, untuk memproses data hasil Ekspedisi Snellius II.

Pada 1986 juga ia ikut memproses data hasil Ekspedisi Snellius II di Hamburg Universität, Jerman. Ia diundang ke sana oleh E. Degens, yang menjadi Co- Chief Scientist dari Jerman saat mengikuti Ekspedisi Snellius II. Katanya, “Selama di Hamburg, saya
mengolah data Snellius II dengan Ms. Beate Buch di Universitas Hamburg. Saya jadi ingat sewaktu di PPPG, saya pernah kursus intensif bahasa Jerman selama dua setengah tahun (1978-1980), sampai fasih, tapi kenapa baru dapat kesempatan ke Jerman sekarang.”

Untitled-44

Big Ben 1987. Foto: Koleksi pribadi.

Pada 1987, Mimin ikut pula menghadiri Seminar Nanoplankton hasil Ekspedisi Snellius II di London. Saat itu, Mimin membawa nanoplankton dari Selat Makassar, hasil mengikuti Ekspedisi Snellius II.

Antara 1992-1993 dan 2000, Mimin ikut memproses data hasil Ekspedisi Shiva, Barat dan Images di Prancis. Ekspedisi Shiva adalah proyek kerja sama antara Indonesia dan Prancis, yang dilaksanakan pada 1990. Meski Mimin tidak berpartisipasi dalam pelayarannya, tetapi ia ikut menyusun Stratigrafi Kuarter berdasarkan Foraminifera plankton yang didapat dari percontoh inti yang diambil selama pelayaran tersebut. Oleh karena itu, antara 1992-1993, Mimin bekerja di The Oceanography Laboratory of the University of Bordeaux dan di The Laboratory of CEA-CNRS, Centre des Faibles Radioactivités di Gif-sur-Yvette.

Pada 1994, saat ada kerja sama lagi antara Indonesia dan Prancis dalam Ekspedisi BARAT, Mimin tidak bisa ikut. Karena ia harus mengalami operasi lutut. Namun, dalam upaya memproses hasilnya, Mimin ikut berperan mengolah hasil percontoh sedimen inti dalam Ekspedisi BARAT.

Sebagai tindak lanjut Ekspedisi Images, pada 2000, Mimin kembali ke Prancis untuk mengolah data. Ia, bersama putra bungsunya, Irni, kembali lagi ke Gif sur Yvette. Hasilnya, sebagian sudah dijadikan bahan untuk melengkapi tugas akhir mahasiswa-mahasiswa ITB dan Trisakti, dan sebagian lagi siap diterbitkan.

Untitled-45

Prof. Mimin di menara Eiffel. Foto: Koleksi pribadi.

Pengalaman lain di luar negeri yang berurusan dengan ihwal mikropal, yaitu pengalamannya mengikuti Seminar International Geological Congress Program (IGCP) 355 di Kyoto, Jepang pada 1995 dan pada 1996, Mimin bersama Purnamaningsih dipercaya oleh Direktur Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral Adjat Sudradjat, sebagai wakil pihak Indonesia di CCOP, untuk menghadiri lokakarya CCOP di Baguio City, Filipina.

Jalan Menuju Peneliti Utama
Pelayaran dan pengolahan data yang digeluti Mimin memang sangat bertaut dengan penelitian berikut penulisannya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepenelitiannya. Hal ini dibuktikannya dengan munculnya tulisan “Miogypsina cushmani and
Miogypsina antillea from Jatirogo, East Java.” Tulisan ini ditulis oleh Mimin bersama R. Smit dan E.J. Van Vessem serta dimuatkan pada Bulletin Geological Survey Indonesia (1978).

Saat mengikuti Ekspedisi Snellius II Mimin menulis “Paleontological analyses of the Savu and Lombok Basins, and Argo Abyssal Plain” (1985).

Dan setelahnya, antara lain, muncul tulisan “Late Quaternary Calcareous nannoplankton in the surface sediments of Makasar and Flores Basins, Indonesia” (1988) dan “Planktonic Foraminifera in Recent Bottom Sediments of the Flores, Lombok and Sawu Basins, Eastern Indonesia” yang dimuat dalam The Netherlands Journal of Sea Res (1989).

Jalur kepenelitiannya kian lempang, setelah Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Adjat Sudradjat membuka Jalur Peneliti pada tahun 1991. Katanya, “Sejak ada di jalur ini, saya bertekad untukdapat mencapai posisi tertinggi yaitu Ahli Peneliti Utama, kalau bisa sebelum masa pensiun umumnya.”

Mimin meraih posisi itu pada 1998. Selanjutnya pada 2000, ia menggelar orasi pengukuhan Ahli Peneliti Utama, bersama dengan Tohap Simanjuntak dari PPPG. Saat itu, Mimin menyampaikan orasi berjudul “Mikropaleontologi Sebagai Penunjang Ilmu Geologi Kelautan dan Pemahaman Aplikasinya.”

Di dalamnya, antara lain, ia menyatakan bahwa jenjang-jenjang umur berdasarkan Foraminifera Besar yang sangat penting bagi tatanan Stratigrafi di Indonesia telah diperkenalkan olah Van Der Vlerk dan Umbgrove (1927). Kedua peneliti itu membagi-bagi zaman Tersier ke dalam Klasifikasi Huruf mulai dari Tersier-a sampai dengan Tersier-h (Ta-h).

Untitled-46

Prof. Mimin di sebuah acara ketika di luar negeri. Foto: Koleksi pribadi.

Kemudian, dengan pendekatan biometrik terhadap Foraminifera Besar di Indonesia, melalui penelitian Tan Sin Hok (1932), Drooger (1963), Van Der Vlerk (1973), De Bock (1976), Adisaputra et al.(1978), Van Vessem (1978), Chaproniere (1980), Adisaputra (1987, 1992), penelitian genus-genus seperti Cycloclypeus, Lepidocyclina, Miogypsinoides dan Miogypsina, evolusi dari genus dengan masing-masing parameternya bisa ditempatkan di dalam urutan stratigrafi tanpa harus mengenal nama spesiesnya secara rinci.

Selama ini, lanjut Mimin, hasil berbagai ekspedisi geologi kelautan yang telah dikerjakan oleh PPPGLyang telah bekerja sama dengan instansi lain baik di dalam maupun di luar negeri, telah memberikan gambaran secara umum mengenai Stratigrafi Kuarter Dasar Laut di Indonesia yang didasarkan atas kandungan foraminifera. Penelitian biozonasi foraminifera plankton Pada zaman Kuarter (kira-kira 700.000 tahun yang lalu), telah dirintis sehingga dapat dikenali batas-batas setiap subzonanya.

Namun, menurut Mimin, penelitian foraminifera plankton Kuarter, baik sebaran horizontal maupun vertikal untuk kepentingan biostratigrafi dan biozonasi Kuarter di perairan Indonesia belum banyak diungkap mengingat keterbatasan peneliti di bidang, dibanding dengan luasnya Indonesia yang 70% ditutupi oleh lautan. Oleh karena itu, ia berharap, dengan kemajuan teknologi, penelitian kelautan dapat membuka tabir yang lebih luas lagi mengenai kekayaan alam yang ada di dasar laut. Ia pun mengharap ilmu mikropaleontologi, yang menjadi bagian penting di dalam tatanan stratigrafi Indonesia, bisa dipertahankan di dunia pendidikan.

Untitled-47

Prof. Mimin ketika dikukuhkan sebagai profesor riset. Foto: Koleksi pribadi.

Setelah posisi tertinggi diraih tidak berarti karier kepenelitian Mimin berhenti, bahkan hal tersebut kian mendorongnya untuk bekerja lebih giat. Ini dibuktikannya dengan tulisan-tulisan yang mengalir dari tangannya, juga yang ditulis bersama dengan peneliti lainnya.

Pada 2000, saat menggelar orasi APU, misalnya, muncul tulisan “Recorded Recent Foraminifera in the surface sediment of Sunda Strait water” yang ditulisnya bersama D. Rostyati sebagai hasil Ekspedisi Barat. Selain itu, tulisan lainnya banyak bermunculan di dalam publikasipublikasi ilmiah yang terbit di dalam dan luar negeri. Saat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar profesor riset pada 2005, Mimin terpilih sebagai seorang penerima anugerah itu. Pada tanggal 5
Januari 2006, Mimin bersama Maizar Rahman, Suprajitno Munadi, Hardi Prasetyo, dan M. Udiharto yang sama-sama berkarier di lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) dilantik oleh Ketua LIPI Umar Anggoro Jenie menjadi Profesor Riset.

Menemukan Mineral Philipsit
Gelar Ahli Peneliti Utama dan Profesor Riset dari LIPI kian memacu semangat Mimin untuk meneliti kekayaan foraminifera yang tersebar di perairan Indonesia. Hal ini dibuktikannya saat menyimak pidato pengukuhan Profesor Riset Bidang Teknologi Pemrosesan Mineral yang disampaikan oleh Husaini pada 2006. Saat itu, Husaini menyebutkan bahwa bahwa mineral philipsit tidak dijumpai di Indonesia.

Pernyataan tersebut mengusik minat ilmiah Mimin. Ia sebelumnya, yaitu pada 2004, bersama Hartono, menulis “Late Miocene-Holocene Biostratigraphy of single core in Roo Rise, Indian Ocean South of East Jawa”. Tulisan ini merupakan sebentuk laporan atas pengolahan data dari Ekspedisi Images (1998). Dalam pelayaran dari Jakarta dan berakhir di Bitung
(Manado) itu, Mimin dan Hartono meneliti pemboran MD982156 yang terletak pada koordinat 11˚ 33,31’S dan 112˚ 19,72’ T, di Tinggian Roo, Samudra Hindia, Selatan Jawa Timur, di luar Parit (palung) Jawa.

Di dalam tulisannya, Mimin dan Hartono menyatakan masalah biostratigrafi berdasarkan foraminifera plankton. Mereka menyatakan bahwa penampang pemboran di lokasi ini bisa dibagi ke dalam 5 zona dan 6 subzonasi, dan bahwa bagian bawah dari pemboran antara kedalaman 30,30 m – 30 m di bawah dasar laut, sedimennya disebut nonbiogenik, karena sedimennya tidak mengandung foraminifera. Sedangkan dari kedalaman 30 m ke bagian paling atas dari penampang merupakan sedimen biogenik karena banyak mengandung foraminifera plankton. Metode penelitian mereka dengan menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran kurang dari 400x.

Pada 2007, terbit lagi tulisan Mimin dan Hartono, “The Phillipsite mineral in deep sea sediment from single core in Roo Rise, Indian Ocean South of East Java” (2007). Mereka menulis tentang mineral Phillipsit dengan menambah data beberapa bentuk dari mineral tersebut, hasil penelitian mereka dengan menggunakan alat mikroskop electron, Scanning Electron Microscope
(SEM). Ternyata dengan perbesaran yang diambil antara 1.000x sampai 20.000 x, ada banyak sekali nanoplankton yang terakumulasi di atas mineralmineral tersebut, bahkan kumpulan nanaplankton tersebut bersatu dengan lempung yang kemudian bertindak sebagai matrik yang merekatkan mineralmineral tersebut menjadi berbagai bentuk.

Untitled-49

Menghadiri pengukuhan profesor riset untuk Dr. Tohap O. Simandjuntak. Foto: Koleksi pribadi.

Tulisan tersebut disusul dengan “Hiatus Pada Kala Eosen-Miosen Tengah di Tinggian Roo, Samudra Hindia, Selatan Jawa Timur, Berdasarkan Biostratigrafi Nanoplankton” yang ditulis oleh Mimin bersama M. Hendrizan (2008). Kedua penulis itu menyimpulkan bahwa studi biostratigrafi berdasarkan nanoplankton di Tinggian Roo, di luar Parit Jawa, memberikan gambaran adanya sedimen yang berumur Paleosen. Sedimen yang ditindih langsung secara selaras oleh sedimen berumur Miosen Akhir, itu menunjukkan terjadinya rumpang waktu (hiatus) mulai dari Eosen sampai sebagian Miosen Tengah. Hiatus ini kemungkinan diakibatkan kegiatan gunung api, mengingat di dalam sedimen tersebut banyak mineral phillipsit, atau adanya penunjaman sedimen yang berumur Eosen ke dalam Parit Jawa, karena di atasnya langsung diendapkan sedimen yang berumur Miosen Akhir.

Selanjutnya, pada 2009, terbit buku Penemuan Mineral Phillipsit berumur Paleosen di Roo Rise, Samudra Hindia yang disusun oleh Mimin bersama dengan D. Kusnida dan Adithiya. Di dalamnya, antara lain, mereka menyatakan bahwa dengan pembesaran SEM antara 1000 – 20.000 kali, mineral Phillipsite yang diikat oleh matriks nanoplankton yang diteliti dari pemercontoh inti Core MD982156, ternyata dapat digunakan sebagai alat sintesis untuk pengungkapan perkembangan tektonik di Samudra Hindia zaman Kenozoikum.

Untuk lebih mempertajam lagi genesa mineral philipsit itu Mimin dan D. Kusnida menulis “Paleocene Postgenetic Accumulation of Nannoplankton on The Phillipsite Minerals in Roo Rise, Indian Ocean” (2010). Mineral Phillipsit yang ditemukan Mimin itu dapat digunakan dalam industri plastik, antara lain untuk pembuatan resin termoaktif dan sebagai pemacu dalam proses pengerasan. Selain itu, dapat juga digunakan untuk menghilangkan kesadahan dalam industri deterjen, menjernihkan kelapa sawit, menyerap zat warna pada minyak hati ikan hiu, sebagai katalisator pada proses gasifikasi batubara yang berkadar belerang dan/atau nitrogen tinggi yang menghasilkan gas bersih. Atas penemuan mineral berjenis zeolit itu Mimin dianugerahi penghargaan Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia pada 20 Juni 2008.

Penerjemah Ilmiah
Di samping itu, ada keistimewaan lainnya dalam jejak langkah ilmiah Mimin Karmini yang jarang kita ketahui. Jejak itu berkaitan dengan upayanya untuk menerjemahkan tulisan ilmiah ke dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini, Mimin pernah menerjemahkan tulisan Tan Sin Hok yang berjudul Zur Kenntnis der Miogypsiniden (1936).

Untitled-48

Bersama para ahli dan para pengabdi di bidang geolog, diantaranya diwakili oleh keluarga, menerima penghargaan dari IAGI pada acara ulang tahun IAGI, 2014. Foto: Koleksi pribadi.

Kesadaran untuk menjembatani jalan ilmiah ini lahir setelah Mimin mulai tertarik untuk mempelajari foraminifera besar saat ia bekerja di Direktorat Geologi, Seksi Paleontologi, pada 1972. Katanya, “Publikasi Foram Besar Indonesia yang ada di Direktorat Geologi, terutama di Seksi Paleontologi, pada waktu itu kebanyakan berbahasa Jerman. Sungguh sangat disayangkan kalau aset ilmu yang penting ini tidak terbaca oleh para peneliti dari generasi berikutnya. Dan saya sangat menghargai kepada peneliti seperti Tan Sin Hok yang dengan peralatan sederhana yang tersedia waktu itu, tetapi dapat mengungkapkan evolusi dasar di dalam Foraminifera Besar secara rinci. Sekarang, kita bisa melihat bahwa hampir semua penulis yang berkecimpung di dalam Foraminifera Besar mengacu kepada hasil karyanya.”

Untuk menerjemahkan karya Tan Sin Hok, Mimin belajar bahasa Jerman di Goethe Instituut Bandung selama dua setengah tahun. Pada 1976 dengan mendapat bantuan dari Robert Smit (Pusat Survei Geologi Belanda), Mimin mulai menerjemahkannya. Namun, sayang karena kesibukannya, terjemahan bagian pertama tulisan Tan Sin Hok itu tidak selesai. Baru pada 1997, bagian itu berhasil diterjemahkan dan diperhalus bahasanya. Hasil terjemahannya sendiri berjudul Pengenalan terhadap Miogypsinid dan diterbitkan oleh Bidang Geologi Kelautan, PPPGL.

Selain karya Tan Sin Hok, Mimin atas permintaan R. Kama Kusumadinata pada 1982 mengalihbahasakan “Die Vulkangruppe im Sudwesten des Salakvulkans in West Java” karya M.A. Hartmann (1938) menjadi “Kelompok Gunungapi di Sebelah Baratdaya Gunung Salak, Jawa Barat.”

Selanjutnya, pada 1991, Mimin menyusun buku Panduan Foraminifera Besar untuk mahasiswa geologi Unpad, yang salah satu bagiannya berasal dari hasil terjemahannya atas Bestimmungstabelle zu den Grossforaminiferen Genera von Ost-Asien karya Mohler (1947).

Untitled-50

Foto keluarga Mimin Karmini

Tetap Bergiat di Masa Purnabakti
Pada bulan November 2008, Mimin memasuki masa purnabakti. Sepanjang kariernya sebagai peneliti geologi, pengalaman dan keilmuannya selain dituangkan dalam tulisan ilmiah, juga dibagikan dalam bangku kuliah. Ia tercatat pernah menjadi dosen luar biasa di Jurusan Geologi Unpad (1997-2005) dan pada Program Pasca Sarjana (Magister) Jurusan Geologi Unpad. Juga pernah menjadi pembimbing mahasiswa S1 Geologi UNPAD, ITB, dan Trisakti serta membimbing mahasiswa S3 Geologi ITB.

Hingga kini, Mimin masih bergiat dalam kegiatan menulis karya ilmiah. Dan hasilnya pun kian hari kian bertambah. Pada ulang tahun PPPGL yang ke-20 (2004), tulisantulisan ilmiah Mimin dikumpulkan dan diterbitkan menjadi dua jilid tebal dan diberi tajuk Karya Tulis Mimin K Adisaputra, 1978-2003. Seluruhnya berjumlah 34 tulisan, yang pernah dimuat dalam jurnaljurnal ilmiah baik yang ada di dalam maupun di luar negeri.

Sementara yang berbentuk buku, Mimin bersama-sama dengan M. Hendrizan dan Abdul Kholiq menyusun Katalog Foraminifera Perairan Indonesia pada 2010 danditerbitkan oleh Puslitbang Geologi Kelautan. Pada 2012, terbit buku
Album Foraminifera dan Nanoplankton Perairan Indonesia yang disusun oleh Mimin bersama dengan IR Silalahi, R. Kapid, dan M. Hendrizan.

Demikian pula pengalamannya ikut mengelola publikasi ilmiah terbilang panjang. Mimin pernah berkecimpung sebagai editor untuk Bulletin of the Marine Geology (1988-2006), Jurnal Geologi dan Sumber Daya Mineral (1991-2003), Jurnal Geologi Kelautan (2003-2008), Jurnal Sumber Daya Geologi (2005-2008), Jurnal Geologi Indonesia (2009-2011), dan Majalah Geologi Indonesia (2009). Selain menjadi editor, kini dia menjadi mitra bestari (reviewer) untuk Jurnal Geologi Kelautan dan Majalah Teknik Geologi (ITB).

Di bidang geologi kelautan, ia masih bergiat dalam kerangka mengumpulkan data (collecting data) terkait penentuan umur batuan berdasarkan kehadiran makhluk-makhluk hidup dalam batuan tersebut (biostratigrafi). Untuk keperluan tersebut tidak jarang Mimin mengikuti kegiatan lapangan, seperti ke Gunung Pabeasan, Pelabuhan Ratu, Laut Aru, dan Lepas Pantai Bengkulu. Nyatalah dengan berbagai aktivitas yang bernuansa ilmiah itu, Mimin menjadi perempuan yang setia berkhidmat di jalan mikropal. (Atep Kurnia)

Penulis adalah penulis lepas, peminat kebumian, anggota Dewan Redaksi Geomagz, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>