Rekonstruksi fosil gajah purba dari Mata Menge koleksi Museum Geologi. Foto: Deni Sugandi

Fauna dan Lingkungan Cekungan So’a

Mimin Karmini

Mimin Karmini Setia di Jalan Mikropal

11/10/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Merekonstruksi Lingkungan Purba Cekungan So’a

Gambaran kehidupan ekosistem fauna di Mata Menge yang didalamnya dapat ditemukan gajah Stegodon florensis, komodo Varanus
komodoensis, tikus Hooijeromys nusatenggara, buaya Crocodillus dan berbagai species burung. Sumber: PaleoArt.
Gambaran kehidupan ekosistem fauna di Mata Menge yang didalamnya dapat ditemukan gajah Stegodon florensis, komodo Varanus komodoensis, tikus Hooijeromys nusatenggara, buaya Crocodillus dan berbagai species burung. Sumber: PaleoArt.

Gambaran kehidupan ekosistem fauna di Mata Menge yang didalamnya dapat ditemukan gajah Stegodon florensis, komodo Varanus
komodoensis, tikus Hooijeromys nusatenggara, buaya Crocodillus dan berbagai species burung. Sumber: PaleoArt.

Tak ubahnya seperti agen detektif, para peneliti paleontologi dituntut untuk mampu mengungkap keseluruhan rekonstruksi kehidupan manusia purba Mata Menge dari berbagai perspektif. Tidak selalu bersandar pada anatomi fosil, seorang ahli paleontologi dapat juga bertindak sebagai seorang ahli forensik yang harus mampu mengumpulkan bukti dari saksi-saksi saintifik lintas keilmuan. Yang membedakan dengan ahli forensik bidang lain, visum et repertum yang dikeluarkan oleh para ahli paleontologi adalah kejadian yang berlangsung ratusan ribu tahun yang lalu. Pekerjaan para ahli paleontologi itu berlaku pada rekonstruksi lingkungan purba dari tempat fosil-fosil manusia dan flora fauna purba ditemukan.

Teka-teki cerita tentang bagaimana kehidupan manusia purba Mata Menge hingga kini masih menjadi manifestasi yang menarik bagi para peneliti dari berbagai multidisiplin. Tercatat, situs-situs di Cekungan So’a telah mengundang kedatangan para ahli diantaranya dari bidang biologi, bioanthropologi, sedimentologi, geokronologi, etnologi, vulkanologi bahkan hingga seniman. Tak lengkap rasanya, berlarut-larut membahas dan berdebat hanya tentang objek manusia purbanya saja. Lingkungan purba yang dilihat sebagai satu kesatuan ekosistem dengan manusia purba itu perlu juga dikaji untuk mengungkap sejarah kisahnya secara holistis. Hal ini demikian pula untuk manusia Mata Menge.

Sebaran fosil tulang dan gading gajah yang di Mata Menge yang dapat dianalisis tafonominya untuk mengetahui jumlah populasi gajah, cara fauna mati dan mekanisme pengendapan kerangkanya. Foto: Erick Setiyabudi.

Sebaran fosil tulang dan gading gajah yang di Mata Menge yang
dapat dianalisis tafonominya untuk mengetahui jumlah populasi
gajah, cara fauna mati dan mekanisme pengendapan kerangkanya.
Foto: Erick Setiyabudi.

Beberapa data untuk merekonstruksi lingkungan purba Cekungan So’a telah diolah dengan menggunakan beberapa cara yang terukur dan nilai saintifik yang dapat dipertanggungjawabkan. Rekonstruksi yang paling sering digunakan dan paling mendekati bayangan ekosistem ratusan ribu tahun yang lalu adalah berdasarkan flora dan faunanya. Pendekatan yang pertama kali digunakan adalah metode tafonomi. Tafonomi adalah ilmu yang mempelajari dinamika lingkungan sejak dari suatu organisme mati hingga terdepositkan, baik yang terjadi alamiah maupun oleh intervensi organisme lain (manusia dan hewan lainnya). Analisis ini dikenal dengan nama analisis post-mortem.

Rekaman pada Cetakan Daun dan Serbuksari
Berdasarkan tinjauan fosil flora, fitolit dari Mata Menge yang diteliti oleh Gerrit van den Bergh dari University of Wollongong Australia (2009), lingkungan Cekungan So’a menunjukkan vegetasi terbuka yang sedikit-sedikit ditumbuhi oleh pohon dan tipikal rumput-rumput tumbuh di bawahnya. Lingkungan yang hampir serupa dengan gambaran lingkungan yang berada sekarang.

Didukung dari data fitolit, analisis fosil polen (serbuk sari) dan spora yang dilakukan oleh A.A Polhaupessy (1999) dari Pusat Survei Geologi (dulu P3G) lingkungan di sana di masa lalu juga menunjukkan lingkungan yang cenderung kering. Polhaupessy mengajukan dua tipe lingkungan, yaitu lingkungan yang didominasi oleh rumput disertai palem, tanaman paku dan semak kering; dan lingkungan air tawar yang disertai dengan tanaman paku. Analisis ini memperlihatkan kondisi umum lingkungan sabana yang tak berubah hingga sekarang dan bertahan selama ratusan ribu tahun.

Fosil tulang belulang gajah purba Mata Menge Stegodon florensis (atas). Foto: Iwan Kurniawan. Barisan fosil gigi komodo Varanus komodoensis yang masih tersusun baik (bawah). Foto: Iwan Kurniawan.

Fosil tulang belulang gajah purba Mata Menge
Stegodon florensis (atas). Foto: Iwan Kurniawan.
Barisan fosil gigi komodo Varanus komodoensis yang
masih tersusun baik (bawah). Foto: Iwan Kurniawan.

Beberapa potongan fosil kayu juga terdapat di sekitar lokasi situs dengan preservasi mineralisasi yang sangat baik. Walaupun umurnya belum diketahui, cetakan daun dan rumput yang ditemukan mengindikasikan bahwa lingkungan sekitar Mata Menge pernah memiliki fitur tanah yang basah. Tidak sedikit pula ditemukan bentukan menyerupai akar berwarna kuning pada bagian yang dianggap aliran sungai. Hal ini mengindikasikan kemungkinan lingkungan yang bersifat akuatik.

Penelusuran Forensik Kematian Gajah Fosil gajah Stegodon florensis merupakan elemen fosil yang paling mendominasi temuan fosil fauna di Mata Menge. Walaupun pecahan tulang ditemukan sangat berlimpah, namun indikasi terbaik untuk menentukan peristiwa yang mengubur gajah-gajah tersebut adalah dari fosil gigi dan gading. Tidak hanya berlaku pada hewan gajah saja, gigi dan gading merupakan indikator penentu umur dari semua binatang purba bertulang belakang. Dari umur suatu populasi fauna, mekanisme matinya fauna dapat diketahui.

Gajah Stegodon florensis di Mata Menge dipercaya sebagai material perburuan utama untuk dikonsumsi. Manusia purba biasanya hanya akan memilih gajah dewasa untuk dimakan, sedangkan predator seperti buaya dan komodo cenderung memangsa gajah yang masih kecil. Umur gajah Stegodon florensis di Mata Menge menunjukkan ragam umur dari gajah
kecil hingga dewasa, sehingga kurang bisa diketahui mekanisme terakumulasinya fosil-fosil yang ada, yakni apakah akibat perburuan selektif atau karena proses katasropik dari erupsi vulkanik yang mematikan gajah kecil maupun gajah dewasa dengan sangat cepat.

Untitled-36Dengan menganalisis karbon stabil dan oksigen isotop, kandungan karbonat δ13C pada enamel gigi gajah dapat menentukan kecenderungan diet dari Stegodon florensis asal Mata Menge ini. Melalui metode tesrebut, diketahui bahwa taxa fauna ini memiliki preferensi makanan berupa rumput (C4) walaupun terkadang memakan dedaunan dari pohon. Hal ini menunjukkan
gambaran vegetasi yang menutupi di Mata Menge waktu itu yang mungkin berupa padang rumput dengan beberapa pohon berdaun lebar.

Dalam kotak galian Trench 32, yang berukuran 12 x 18 m2 di situs Mata Menge, ditemukan beberapa jenis fosil fauna vertebrata, di antaranya komodo Varanus komodoensis, buaya air tawar Crocodillus, tikus raksasa Hooijeromys nusatenggara, katak Anura dan berbagai jenis burung. Keberadaan fosil komodo di Mata Menge, menunjukkan bahwa pulau Flores pernah bersatu dengan Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang kini dipisahkan oleh lautan.

Lingkungan purba Mata Menge tidak bisa dilihat sebagai peristiwa tunggal, namun sebuah perubahan lingkungan yang dinamis dan kronologis. Dari temuan fosil hewan gastropoda, di antaranya Brotia testudinaria (von dem Busch, 1842) dapat disimpulkan
bahwa Mata Menge pernah dialiri aliran air tawar yang cukup berarus. Sedangkan berdasarkan temuan fosil keong Tarebia granifera (Lamarck, 1882), diperoleh indikasi bahwa sebuah terdapat sungai periodik yang dapat mengalir stagnan pada periode tertentu di sana di masa lalu.

Tim penggali di lubang penggalian Mata Menge yang terdiri dari masyarakat setempat sedang bekerja . Foto: Erick Setiyabudi.

Tim penggali di lubang penggalian Mata Menge
yang terdiri dari masyarakat setempat sedang bekerja
. Foto: Erick Setiyabudi.

Ekosistem akuatik atau semi-akuatik di Mata Menge juga diindikasikan dengan adanya temuan fosil buaya dan katak yang biasa hidup di sekitar aliran air tawar. Hal ini didukung tengan temuan fosil sebanyak enam jenis burung yang menunjukkan lingkungan terbuka dengan komponen aliran air tawar di dekat padang rumput yang mengarah ke hutan tertutup. Fosil tulang
burung yang dikenali di antaranya angsa Cygnus sp. dan burung hantu elang Bubo sp.

Pendeteksian melalui Paleomagnet danPaleosoil
Penentuan kondisi iklim purba dapat diketahui dari kecenderungan temperatur global. Posisi kronologis suatu peristiwa berada dalam fase glasial dan interglasial sangat mempengaruhi lingkungan purba dan berkoloninya fauna. Hal ini dapat diketahui dari penentuan umur yang menunjukkan langsung fase yang grafiknya sudah diketahui. Paleomagnet bukan merupakan metode penentuan umur absolut yang menghasilkan angka umur, tetapi mampu menghasilkan pengukuran yang lebih akurat.

Sejarah perubahan orientasi medan magnet bumi dapat diketahui melalui orientasi magnetik partikel nlogam dalam batuan. Melalui metode paleomagnet, posisi kronologis pembalikan kutub bumi secara periodik dapat dianalisis. Metode ini memperlihatkan posisi Mata Menge berada di dekat batas umur geologi Bruhnes-Matuyama yakni 781.000 tahun yang lalu
atau di awal Plistosen Tengah yang mengindikasikan rentang umur 2 taxa fauna yang overlap berdasarkan Umur Mamalia Asia.

Iwan Kurniawan (kanan) dan Dr. Adam Brumm dari University of Wollongong, Australia (tengah) berdiskusi mengenai temuan fosil gajah kerdil Stegodon florensis yang diperkirakan memiliki tinggi 1,9 m. Foto: Erick Setiyabudi.

Iwan Kurniawan (kanan) dan Dr. Adam Brumm
dari University of Wollongong, Australia (tengah)
berdiskusi mengenai temuan fosil gajah kerdil
Stegodon florensis yang diperkirakan memiliki tinggi
1,9 m. Foto: Erick Setiyabudi.

Tanah yang melapuk dari batuan merupakan penunjuk adanya proses pelapukan yang cukup intensif dan terekspos terhadap udara atau air dalam waktu cukup lama. Lapisan tanah purba (paleosoil) dapat menjadi titik terang kondisi lingkungan purba yang dapat diukur berdasarkan kerentanan magnetnya (magnet succeptibility). Dinding lapisan pada galian berundak (step trench) di Mata Menge memperlihatkan adanya perselingan lapisan berwarna pink terang di antara
Trench 34 yang diinterpretasikan sebagai lingkungan fluvial dan Trench 35 dengan kecenderungan lingkungan danau dengan selisih umur ± 100.000 tahun.

Warna pink pada paleosoil tersebut diasumsikan sebagai warna mineral hematit yang merupakan mineral sekunder dari goethit atau magnetit. Secara kronologis, lingkungan fluvial di Mata Menge terjadi lebih dahulu daripada lingkungan purba. Berdasarkan analisis paleosoil, dapat diketahui sebuah transisi  terjadinya proses pelapukan yang berlangsung cukup  lama (prolonged weathering) pada rentang ± 100.000 tahun tersebut.

Perpaduan hasil rekosntruksi yang dilakukan ternyata memunculkan tambahan kompleksitas gambaran dinamika perubahan lingkungan di Cekungan So’a. Namun, secara umum, hasil analisis para ahli lintas ilmu ini memperlihatkan bahwa Mata Menge adalah sebuah daerah dengan masukan (influx) aliran air yang sedemikian sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi fauna dan manusia purba untuk hidup. Suatu ekosistem yang baik pun berkembang di sana yang kemudian secara lambat atau cepat berakhir oleh aktivitas vulkanik yang berlangsung dalam beberapa babak selama Plistosen, yaitu pada kl. 1.800.000 hingga 11.000 tahun yang lalu, terutama di sekitar 700.000 tahun yang lalu. (Halmi Insani dan Fachroel Aziz)

Penulis, Halmi Insani adalah Staf Seksi Dokumentasi dan Konservasi, Museum Geologi, Badan Geologi, KESDM; Fachroel
Aziz adalah professor riset bidang paleontologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>