Homo erectus – Sangiran 17 (Pithecanthropus VIII).
Foto: Koleksi MG, BG

Koleksi Museum Geologi Bandung, Selayang Pandang

Hamparan deposit bijih emas berupa sinter silika, hasil
pengendapan dari fluida panas bumi di Osore, Jepang

Mineral Ekonomi dari Panas Bumi

11/04/2016 Comments (0) Museologi, Museologi, Uncategorized

Mereka Wajah Manusia Pacung di Museum Geologi Bandung

Aproksimasi wajah tengkorak Pacung. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung dan Susan Hayes.
Aproksimasi wajah tengkorak Pacung. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung dan Susan Hayes.

Aproksimasi wajah tengkorak Pacung. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung dan Susan Hayes.

Facial approximation di Museum Geologi Bandung, Badan Geologi, KESDM, yang dimulai pada 2014 dilakukan penulis dalam rangka kerja sama formal antara institusi tersebut dengan Universitas Wollongong. Dasar dari pendekatan bentuk wajah ini adalah tengkorak perempuan yang ditemukan oleh Tim Arkeologi Universitas Udayana pada 1988 di Pacung, sebuah desa di Kecamatan Tejakula, Bali Utara. Meskipun perempuan dari Pacung ini hidup 2000 tahun yang lalu, ternyata tulangtulangnya berada dalam kondisi yang sangat baik, sehingga prosesnya menjadi lebih mudah. Tulisan berikut adalah gambaran dari pelaksanaan kegiatan tersebut dengan pembelajaran dan manfaat yang sangat penting dari proses kolaborasi yang ditempuh.

Geografi kawasan Batur dan lokasi penggalian manusia Pacung oleh tim dari Universitas Udayana ekskavasi di Pacung. Foto: Foto Burials, Texts and Rituals: Ethnoarchaeolgoical Investigations in North Bali, Indonesia (2008), edited by Brigitta Hauser-Schäublin and I. Wayan Ardika.

Geografi kawasan Batur dan lokasi penggalian manusia Pacung oleh tim dari Universitas Udayana
ekskavasi di Pacung. Foto: Foto Burials, Texts and Rituals: Ethnoarchaeolgoical Investigations in North Bali,
Indonesia (2008), edited by Brigitta Hauser-Schäublin and I. Wayan Ardika.

Spesialisasi penelitian penulis adalah aproksimasi wajah dari tengkorak. Biasanya pekerjaan itu berurusan dengan tulang yang terfragmentasi dan pertama-pertama yang harus direkonstruksi adalah tengkorak. Metodenya menerapkan berbagai disiplin ilmu, seperti anatomi, antropologi, geologi, kedokteran gigi, arkeologi, palaeoanthropology, penelitian medis, dan taphonomy. Secara khusus, cabang ini dinamakan aproksimasi wajah (facial approximation), yaitu mereka atau memperkirakan bentuk wajah dari fosil tengkorak yang ada sehingga mendekati aslinya dengan menggunakan berbagai pendekatan keilmuan.

Metode yang penulis gunakan adalah hasil dari 15 tahun melakukan penelitian yang berurusan dengan tengkorak. Misalnya, identifikasi forensik di Australia, Hongkong, dan Inggris; koleksi medis (Australia, Skotlandia), tengkorak Holocene (Argentina, Selandia Baru, Vanuatu) dan paleontologi tengkorak (Indonesia, Thailand). Pada 2012-2013 penulis berkolaborasi dengan Prof. Dr Mike Morwood dan Thomas

Ilustrasi proses kolaborasi untuk aproksimasi wajah

Ilustrasi proses kolaborasi untuk
aproksimasi wajah

Sutikna untuk aproksimasi wajah tengkorak Homo floresiensis. Hasilnya adalah “wajah ilmiah” yang pertama untuk ‘Hobbit’, dan satu-satunya wajah perkiraan fosil tersebut yang menggunakan metode ilmiah.

Proses aproksimasi wajah yang penulis kerjakan biasanya merupakan proses kolaborasi. Pekerjaan berkenaan dengan tengkorak Pacung adalah kolaborasi bersama Prof. Dr. I Wayan Ardika dari Universitas Udayana dan Drs. I Gusti Made Suarbhawa dari Balai Arkeologi Denpasar), para staf di Museum Geopark Batur dan Museum Geologi Bandung, paramedis, ahli radiologi, dan dokter gigi rumah sakit dan laboratorium di Bandung. Berdasarkan
hasil pemeriksaan medis, tengkorak Pacung terdaftar sebagai Nyonya Pacung (perempuan dari Pacung), memiliki tempat lahir di Bali dan berusia 2.000 tahun. Pada November 2014, Drs. Aurora Murnayati dari Museum Geologi Bandung dan penulis berbicara pada sebuah konferensi internasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta yang bertemakan MO3: Museum of Our Own. Inti presentasi kami tentang peran kolaborasi dalam teknik penyajian koleksi tengkorak, penelitian koleksi museum, dan publikasi dan penyebarluasan informasi koleksi museum.

Proses 3D Scan tengkorak Pacung oleh Baskoro Setianto, Museum Geologi Bandung. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung.

Proses 3D Scan tengkorak Pacung oleh Baskoro Setianto, Museum Geologi Bandung. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung.

Teknik penyajian koleksi tengkorak adalah penyajian aproksimasi wajah berbasis koleksi tengkorak di museum. Hal ini akan mengundang publik untuk menelusuri masa lalu melalui perkiraan wajah leluhurnya. Publik museum, khususnya masyarakat Indonesia, memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk melihat wajah-wajah manusia purba. Melalui pendekatan aproksimasi wajah, museum memiliki kemampuan untuk memenuhi harapan publik tersebut. Hal ini disebabkan pendekatan aproksimasi wajah menggunakan metode yang transparan, berbasis bukti atau koleksi, dan perkiraan yang tepat. Selain itu, pendekatan ini juga memberikan pengetahuan mengenai persamaan, perbedaan koleksi tengkorak, dan proses pemahaman tentang keunikan setiap wajah manusia.

Workshop in Balai Arkeologi Denpasar. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung.

Workshop in Balai Arkeologi Denpasar. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung.

Penelitian koleksi museum adalah dasar dari aproksimasi wajah. Untuk itu, perlu dilakukan kajian pustaka atas koleksi tengkorak Indonesia oleh berbagai peneliti, terlebih peneliti Indonesia. Penelitian atau kajian tersebut harus mengulas variasi kraniofasial modern dan masa lalu. Dengan kata lain, pendekatan aproksimasi wajah merupakan titik temu dari berbagai publikasi hasil penelitian tanpa batas geografis.

Publikasi dan diseminasi koleksi museum adalah langkah berikutnya. Melalui pendekatan aproksimasi wajah, museum menginformasikan kepada publik tentang koleksi tengkorak yang dimilikinya berdasarkan penelitian kolaboratif.

Pemasangan pameran tengkorak Pacung di Museum Geopark Batur. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung.

Pemasangan pameran tengkorak Pacung di Museum Geopark Batur. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung.

Pada November 2014 penulis melakukan lokakarya tentang teknik menggambar wajah tengkorak Pacung di Bali. Lokakarya ini diikuti oleh staf, peneliti, teknisi, dan pekerja museum yang berasal dari Universitas Udayana, Balai Arkeologi Denpasar, Museum Geologi Bandung, dan Museum Geopark Batur. Lokakarya ini menghasilkan berbagai ilustrasi wajah tengkorak Pacung dengan keunikannya masing-masing.Pameran tengkorak Pacung dilakukan pada 2015. Kegiatan ini meliputi ilustrasi dari proses yang terlibat dalam kegiatan perkiraan wajah. Pameran aproksimasi wajah tengkorak Pacung menjadi salah satu bukti dan pengakuan atas peran Indonesia di dunia internasional, khususnya dalam bidang paleoantropologi. Pameran ini menyampaikan pesan bahwa kolaborasi di museum merupakan kerja sama yang efektif dan pertemuan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan.

Perkiraan tengkorak, fitur wajah dan gigi dari seorang perempuan yang tinggal. Scala 5cm. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung dan Susan Hayes.

Perkiraan tengkorak, fitur
wajah dan gigi dari seorang perempuan yang tinggal. Scala 5cm. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung dan Susan Hayes.

Saat ini penulis sedang menggeluti perkiraan wajah dari tengkorak berumur Pleistosen Akhir. Kegiatan ini dilakukan berkolaborasi dengan Dr. Rasmi Shoocongdej dari Universitas Silpakorn, Bangkok. Satu kolaborasi baru berkaitan dengan perkiraan wajah ini juga dilakukan dengan Dr. Toetik Koesbardiati dari Universitas Airlangga, Surabaya, khususnya di bidang aplikasi metode geometric-morphometric untuk analisis tengkorak dan wajah.

Fokus penulis pada 2016 ini juga termasuk membantu para peneliti muda yang lebih senior dalam menulis artikel untuk berbagai jurnal internasional. Saat ini penulis bekerja bersama para peneliti paleontologi dan geologi dari Badan Geologi. Mungkin akhir tahun ini penulis akan menawarkan kursus bagi peneliti lain, jika sarana memungkinkan. Ada banyak penelitian yang baik di Indonesia. Adalah penting lebih banyak orang tahu tentang bidang pekerjaan pendekatan atau perkiraan wajah yang melibatkan banyak disiplin ilmu. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ekskavasi, penelitian dan perkiraan wajah, pembaca dapat menemukannya dalam berbagai buku penulis yang terbuka untuk diakses. (Susan Hayes)

Penulis adalah peneliti dari Universitas Wollongong Australia, sedang melaksanakan penelitian di Indonesia di bawah kerja sama antara Universitas Wollonggong dengan Museum Geologi, Badan Geologi.

Artikel ini ditulis dalam Bahasa Indonesia oleh penulisnya sendiri, dan disunting oleh Oman Abdurahman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>