Untitled-104

Bapak Biogeografi di Nusantara

Untitled-111

Gunung Sindoro Menyapa Pagi

17/10/2016 Comments (0) Esai Foto, Esai Foto, Uncategorized

Merayap Perlahan di Bajawa

Untitled-105
Untitled-105

Foto: Deni Sugandi

Menjelang masuk Bajawa dari arah So’a, samar-samar kabut tersibak dan menampakan lereng bukit yang telah terkuak dikupas oleh kegiatan penambangan. Bukit yang tidak terlalu tinggi ini berada di sebelah selatan dari gunung api aktif Inelika, disebut Gunung Loboleke, di Naru, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Areal di kaki gunung yang memiliki ciri khas kerucut sinder ini, mulai diusahakan menjadi tambang sejak 2003, melalui Koperasi Unit Desa Loboleke, salah satu unit usaha dan pengelola jasa penggalian batu dan pasir tambang rakyat Naru. Namun, melalui kebijakan pemerintah yang membiarkan penggunaan alat berat, tenaga manusia tidak lagi diperlukan. Akibatnya, penggalian bahan galian di sana semakin masif. Kini, kepemilikan tambang dikelola oleh swasta, berlokasi di Wae Gemo dan Ikulewa, dengan memanfaatkan alat berat.

Dalam perjalanannya, operasi penambangan ini menunjukkan indikasi melanggar Surat Izin Pertambangan Nomor134/Kep/Distamben/2007, 16 Juli 2007. Dalam SIP tersebut dijelaskan bahwa penggelolah tambang rakyat tidak boleh menggunakan alat berat; dan peralatan yang diizinkan dalam penambangan di lokasi tambang rakyat adalah linggis, sekop dan pakuwel. Sedangkan alat berat seperti louder dan eksavator hanya digunakan untuk pengupasan permukaan tambang dan pembersihan lokasi. Meskipun aturan ini sudah ditetapkan, namun kedua tambang rakyat di Naru itu masih menggunakan alat berat seperti louder dan eksavator.

Untitled-106

Foto: Deni Sugandi

Pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa di kawsan tersebut kini terlihat ciri-ciri rayapan tanah yang terjadi karena penggalian di lereng sebelah utara, selatan dan barat. Gejala umum rayapan tanah terlihat dari munculnya retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing, tebing yang rapuh dengan kemiringan kurang lebih 60 derajat, dan kerikil mulai berjatuhan. Di lereng sebelah utara, pepohona sebagian miring, kemudian ditemui pula beberapa genanngan air yang airnya langung merembes ke bagian bawahnya. Menurut warga di desa Naru, penggalian ini sangat mengkhawatirkan, apalagi menjelang hujan. Warga menuturkan, bila hujan besar, sering terjadi longsor kecil menimpa jalan, hingga menutupi batas desa. Longsor ini dapat dipastikan terjadi karena air masuk melalui tanah yang merekah dan membawa material atau menyebabkan longsoran kecil ke badan jalan.

Ancaman longsor besar bisa terjadi di kawasan ini, dikarenakan tanah yang kurang padat, mengingat kerucut sinder disusun oleh batuan endapan gunung api yang berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir dan lempung. Potensi lainya adalah lereng yang terjal yang memperbesar gaya dorong. Namun, ancaman yang telah tampak di depan mata adalah pengikisan oleh kegiatan penambangan ke arah lereng, yang juga mempercepat longsor besar.

Untitled-107

Foto: Deni Sugandi

Peran pemerintah tentunya sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat, tentang mitigasi bencana alam diantaranya bahaya gerakan tanah. Dengan demikian, pemahaman tersebut menjadi modal dasar dalam upaya menghindari atau memperkecil risiko bencana yang disebabkan oleh kondisi alam yang dipicu secara langsung oleh kegiatan manusia, dalam hal ini, yaitu penambangan. (Deni Sugandi)

Penulis adalah editor foto Geomagz.

 

 

 

 


Untitled-109

Foto: Deni Sugandi

Untitled-108

Foto: Deni Sugandi

Untitled-110

Foto: Deni Sugandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>