Pembentukan busur magmagtik hasil dari penujaman lempeng
samudera di bawah lempeng benua.

Petrogenesa Magma Busur di Indonesia dan Aplikasinya

Hamparan deposit bijih emas berupa sinter silika, hasil
pengendapan dari fluida panas bumi di Osore, Jepang

Mineral Ekonomi dari Panas Bumi

12/04/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Menyusuri Kegelapan Goa Seropan

Salah satu lorong di Gua Seropan. Foto: Ronald Agusta
Salah satu lorong di Gua Seropan. Foto: Ronald Agusta

Salah satu lorong di Gua Seropan. Foto: Ronald Agusta

Kawasan kars di Indonesia tersebar hampir di setiap pulau, baik pulau-pulau besar maupun pulau kecil. Beberapa kawasan kars yang cukup dikenal di Indonesia mempunyai tipe yang berbeda-beda, dan diberi nama sesuai nama daerahnya, seperti  tipe Gunung Sewu, tipe Gombong, tipe Maros, dan tipe Papua. Menurut Samodra(2005), Gua Seropan termasuk kars Gunung Sewu. Kawasan kars ini terbentang dari Wonosari ke timur, Wonogiri, sampai Pacitan, mencakup tiga provinsi, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Kars Gunung Sewu tersusun oleh batugamping berumur Miosen pada bentangan 50 sampai 150 km ke arah tenggara dari kota Yogyakarta. Luas kawasan ini sekitar 13.000 km2 dengan jumlah kubah kars sekitar 40.000. Tipe Gunung Sewu ini dicirikan dengan bentuknya yang khas, yaitu bentuk kerucut atau dikenal sebagai conical hills.

Gua Seropan adalah salah satu gua yang ada di kawasan kars Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Desa Gobang Kecamatan Semanu. Di dalam gua terdapat sungai bawah tanah. Sungai ini sangat potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya. Menurut Puslitbang SDA (2009), debit aliran sungai ini sekitar 600 – 800 liter per detik pada musim kemarau.

Persiapan memasuki gua Seropan dengan perlengkapan khusus. Foto: Emi Sukiyah

Persiapan memasuki gua Seropan dengan perlengkapan khusus.
Foto: Emi Sukiyah

Panjang gua sampai saat ini yang diketahui sekitar 888 meter dengan kedalaman mencapai 62 meter dari permukaan. Pintu gua terletak pada dasar dari sebuah cekungan tertutup. Jalan yang menuju ke pintu gua sudah dibuat tangga dari beton, sekaligus untuk perawatan instalasi yang sudah terpasang di dalam gua. Lorong awal beratap rendah sampai pada suatu ruangan yang lebih besar. Bagian lorong berikutnya dapat diakses dengan berjalan kaki. Panjang lorong dari mulut gua sampai ke badan sungai bawah tanah sekitar 211 meter.

Sebelum menyusuri gua, kami mendapat pengarahan dari pemandu. Awalnya, mulut gua ternyata dikunci untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Di samping harus dipandu oleh ahlinya, maksimal yang boleh masuk gua hanya 10 orang, mengingat persediaan oksigen terbatas. Kegelapan, lembab, dan senyap mulai terasa begitu masuk lebih dalam, di sini masih agak tenang karena lantai gua belum berair. Sepanjang gua banyak dihiasi ornamen stalaktit dengan ukuran bervariasi.

Ornamen berupa draperies atau batu alir di atap gua. Foto: Emi Sukiyah

Ornamen berupa draperies atau batu alir di atap gua.
Foto: Emi Sukiyah

Lorong ke arah hulu, seluruhnya terendam air dengan kedalaman antara 1 meter sampai 1,5 meter. Pada bagian sisi dalam belokan sungai, biasanya air lebih dalam. Lorong ini berakhir pada sebuah sump, yaitu lorong gua yang seluruhnya terendam air, dari dasar sampai atap. Ke arah hilir, kedalaman air relatif lebih dangkal, sekitar 0,6 meter sampai kedalaman 1,5 meter. Lorong ini berakhir pada sebuah tempat di mana terdapat air terjun pertama dengan ketinggian secara keseluruhan sekitar 8 meter. Setelah air terjun pertama ini, lorong masih berlanjut sekitar 200 meter sebelum berakhir pada air terjun kedua setinggi 9 meter. Selanjutnya, aliran air sungai bawah tanah ini berakhir pada sebuah sump berikutnya.

Sebenarnya tujuan menyusur Gua Seropan adalah untuk memetakan bidang-bidang diskontinyu yang pada umumnya berupa struktur geologi, tetapi kadang kurang jelas akibat proses pelarutan. Namun, keberadaan stalaktit yang berjajar membentuk kelurusan dapat mengindikasikan adanya bidang diskontinyu. Di beberapa segmen gua, stalaktit dan stalagmit menyatu membentuk tiang, menyangga gua sehingga tidak runtuh.

Akhirnya, kami pun dapat menyelesaikan penyusuran Gua Seropan, walau pun tidak seluruh panjang gua tersebut kami telusuri. Sebuah pengalaman menarik dari salah satu bagian kulit bumi yang selamanya dalam gelap, telah kami peroleh dari penelusuran Gua Seropan. ( Emi Sukiyah, Adjat Sudradjat, Nana Sulaksana, Johanes Hutabarat, Bani Nugroho)

Penulis adalah dosen pada Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (UNPAD), melakukan penelurusan Gua Seropan bersama rekan-rekannya, Prof. Adjat Sudradjat, Nana Sulaksana, Johanes Hutabarat (UNPAD), Bani Nugroho, Burhannudinnur, Retno Tjajati (Univ. Trisakti) dan Pulung Arya Pranantya (Puslitbang Air, Kementerian PU).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>