krakatau

Krakatau: Ketika Dunia Meledak dan Lampung Karam

tsunami

Tsunami Gelombang Pembunuh Buku bacaan tsunami untuk remaja

13/12/2011 Comments (0) Resensi Buku

Menyelamatkan Diri dari Tsunami

3D

Untitled-2Bagian awal buku ini memaparkan dampak tsunami terhadap wilayah yang diterjang beserta isinya, dengan menggunakan kasus-kasus tsunami di Samudera Hindia tahun 2004 serta dampaknya ke Banda Aceh (Indonesia), Phuket (Thailand), dan Galle (Srilanka), serta kejadian Tsunami Hokkaido Nanseioki (Jepang) tahun 1993. Dampak dari kedahsyatan tsunami ditunjukkan melalui foto dari bangunan dan puing yang tersisa akibat bencana tersebut. Jejak tsunami pada bangunan telah membantu peneliti untuk menganalisa kejadian tsunami dan dampaknya, seperti dengan informasi jarak obyek ke pantai, tinggi tsunami pada bangunan, struktur bangunan dan topografi wilayah.

Bagi pembaca yang belum pernah mengalami situasi ketika tsunami, banyak hal-hal yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya yang seharusnya diantisipasi. Pada umumnya masyarakat dihimbau untuk lari ke tempat tinggi menjauh dari pantai, seperti ke bukit. Namun ada kalanya ditemukan wilayah pantai yang sangat landai dan tidak memiliki bukit di dekatnya. Dalam kasus ini, keberadaan gedung tinggi yang tahan gempa penting untuk upaya penyelamatan diri terhadap kejadian tsunami.

Salah satu hal yang membuat buku ini menarik adalah himbauan pada pembaca melalui pembahasan contoh-contoh kasus individu yang menyelamatkan diri dengan cara berbeda-beda, bamenyelamatkan diri dari tsunamiik yang gagal maupun berhasil. Contohnya, ketika Tsunami Samudera Hindia terjadi di Banda Aceh, ada warga yang menyelamatkan diri dengan mengendarai mobil, melaju dengan cepat sepanjang jalan yang lurus dari rumahnya. Namun ketika berbelok di jalan yang besar, tsunami sudah menghadangnya. Hal ini terjadi karena tsunami menjalar lebih cepat di jalan raya dibandingkan di wilayah yang dipadati bangunan dan struktur fisik lainnya.

Lebih lanjut, terdapat satu bagian dari buku ini yang menganalisa secara cukup rinci –untuk sebuah buku yang ditujukan untuk publik– sifatsifat gelombang tsunami dan genangan

menyelamatkan diri dari tsunami

Bangunan rumah di Aceh yang mampu bertahan dari gempa dan tsunami 2004.

 

dengan menggunakan persamaan-persamaan matematis, termasuk bagaimana manusia dapat tidak

selamat karena tsunami. Contohnya mengenai berbagai faktor penyebab bangunan hanyut yang

bergantung pada gaya gelombang, gaya seret, gaya apung, benda mengapung, dan struktur bangunan.

Perbandingan dampak gelombang dan genangan tsunami terhadap tiga jenis material bangunan, yaitu kayu, pasangan batu, bata atau blok beton, dan beton bertulang, secara tidak langsung memberi ide kepada pembaca mengenai material apa yang sebaiknya digunakan untuk bangunan pada jarak tertentu di tepi pantai.

menyelamatkan diri dari tsunami

Beberapa contoh rambu-rambu tentang tsunami.

Bagian akhir buku ini membahas mengenai berbagai upaya mitigasi tsunami, baik secara fisik maupun nonfisik, untuk mengurangi risiko dampaknya. Secara fisik, selain dengan manajemen kota berbasis mitigasi bencana, berbagai fungsi dan bentuk bangunan konstruksi seperti tembok laut tsunami, pemecah gelombang tsunami, pintu air, tanggul sungai, hutan peredam tsunami dan bangunan pemecah gelombang dibahas lengkap dengan ilustrasinya. Salah satu catatan menarik yang perlu diperhatikan misalnya mengenai keberadaan sabuk hijau di pinggir pantai yang sering kali membantu penyelamatan diri, terutama yang terdiri dari vegetasi dengan kerapatan tinggi. Namun demikian, keberadaannya dapat juga menjadi bahaya laten bagi manusia, yaitu akses jalan menuju pantai yang memotong sabuk hijau, dimana arus tsunami akan mengalir dengan kecepatan sangat tinggi karena di bagian lain tertahan oleh sabuk hijau. Alasannya dijelaskan lengkap dengan perhitungan matematisnya dalam buku ini.

Penanganan tsunami secara nonfisik yang dijabarkan dalam buku ini banyak mencakup pendekatan- pendekatan yang sudah diimplementasikan di Jepang, seperti peta rawan tsunami, lokakarya beserta metodenya, rambu-rambu penanggulangan bencana, dan pembangunan monumen peringatan. Sebagian pendekatan tersebut juga telah diimplementasikan di Indonesia. Di Jepang, sebuah panduan untuk menyusun peta rawan tsunami telah disusun dan diterbitkan di tingkat nasional. Pemerintah daerah kemudian membuat peta rawan tsunami dengan mengacu ke panduan tersebut. Peta tersebut mencakup informasi yang berhubungan dengan ukuran tsunami dan topografi daratan, serta informasi evakuasi.

menyelamatkan diri dari tsunami

Para peserta lokakarya penanggulangan tsunami mencoba mengenal wilayah mereka melalui sebuah peta.

Banyak pertanda yang bisa dijadikan Sistem Peringatan Dini bagi masyarakat. Pada banyak kasus, gelombang tsunami terjadi tidak hanya sekali. Gelombang kedua dan ketiga dapat memiliki dimensi dan energi yang jauh lebih besar dari yang pertama. Gelombang pertama yang tidak terlalu besar sebenarnya bisa dijadikan peringatan awal bagi masyarakat untuk segera menyelamatkan diri karena ada kemungkinan gelombang berikutnya datang dengan kekuatan lebih besar. Hal ini seperti yang terjadi di Khao Lak (Thailand), dimana setelah gelombang pertama yang memang kecil banyak orang yang tetap berkumpul di pantai dan sebagian menangkap ikan yang terdampar di pantai akibat surutnya air. Ketika gelombang pertama datang, mereka sudah tidak sempat evakuasi.

Banyak pertanda yang bisa dijadikan Sistem Peringatan Dini bagi masyarakat. Pada banyak kasus, gelombang tsunami terjadi tidak hanya sekali. Gelombang kedua dan ketiga dapat memiliki dimensi dan energi yang jauh lebih besar dari yang pertama.

Berbagi pengalaman dan pengetahuan secara turun temurun juga dianggap penting karena di beberapa tempat, tsunami kembali terjadi tidak dalam jangka waktu pendek, melainkan dapat sampai ratusan tahun kemudian. Sehingga pengalaman dan pengetahuan tsunami sering terlupakan atau terabaikan. Pengalaman dan pengetahuan ini dapat diturunkan atau disebarluaskan dengan berbagai cara. Tsunami tendenko, yang berarti dalam peristiwa tsunami, setiap orang menjadi milik dirinya sendiri, menyelamatkan diri tanpa bergantung kepada orang lain. Hal ini menjadi prinsip penyelamatan diri turun menurun yang mulai dimengerti secara luas setelah tsunami Meiji Sanriku pada 1896. Museum pun dianggap sebagai salah satu metode yang dapat mengkomunikasikan berbagai dokumentasi bencana dan dapat berdampak luas di masyarakat. Profil beberapa museum di dunia terkait tsunami juga diperkenalkan di buku ini, termasuk Museum Tsunami Samudra Hindia di Aceh.

menyelamatkan diri dari tsunami

Tembok laut dengan ketinggian 11,7 m dibangun di Pulau Okuhiri, Jepang.

Tersedianya foto, peta, ilustrasi dan grafik menjadikan bahasan-bahasan buku ini lebih mudah untuk dipahami. Lebih dari 60 referensi yang digunakan untuk penulisan buku ini merupakan publikasi karya ilmiah, yang mayoritas ditulis dalam bahasa Jepang. Banyaknya karya ilmiah yang diacu buku ini menunjukkan bahwa buku ini banyak berbicara berdasarkan data dan penelitian. Penterjemahan buku ini ke dalam Bahasa Indonesia akan semakin sempurna dengan tambahan pembahasan hal terkait pengurangan risiko bencana tsunami dengan sistem yang dibangun di Indonesia.

Pada akhir buku ini ditekankan kembali bahwa untuk bahaya tsunami, bila ingin selamat, pastikan keselamatan sendiri dulu baru kemudian menolong orang lain.

Risye Dwiyani, independent reseacher & relawan di
Bandung Disaster Study Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>