Ijen Menyesap Pesona-33

Ijen Menyesap Pesona Mewaspadai Bahaya

Menelusuri Struktur Semeru-42

Menelusuri Struktur Semeru

13/08/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Menimbang Ijen

Menimbang Ijen-39
Menimbang Ijen-39

Menimbang Ijen

FDi dasar kawah Ijen tampak beberapa bayangan lelaki paruh baya tenggelam dalam lautan uap belerang. Berbekal kain sarung yang dililitkan di leher sebagai penutup hidung, asap tebal putih tersebut menyergap pekerja tambang, dan menempatkan mereka dalam kondisi terpapar langsung uap sulfur. Uap belerang bukan saja mengganggu pernapasan, tetapi bisa memedihkan mata seketika. Dalam uraian air mata pedih, mereka berusaha tenang dan bertahan beberapa saat, hingga angin menghembuskan asap ke arah lain.

Air mata itu sudah mereka rasakan sejak penambangan ini dibuka pada masa kolonial tahun 1911, dan dimanfaatkan dalam jumlah kecil. Hingga tahun 1968, ruas jalan setapak dibuka kembali, oleh warga dari Malang, yang biasa menambang di kawasan Gunung Welirang. Penambangan kemudian ditertibkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas, dengan menerbitkan ijin kepada sebuah perusahaan tambang di sana, satu-satunya perusahaan tambang yang beroperasi di Kawah Ijen. Hingga kini tercatat lebih dari 350 orang yang menggantungkan hidupnya pada belerang ijen. Mereka dihimpun dalam kelompok penambang di bawah koordiasi perusahaan tambang.

Menimbang Ijen-40

Menimbang Ijen

Memanen belerang itu tidaklah mudah, diperlukan kekuatan fisik, kesabaran dan keberuntungan. Tidak sedikit dilaporkan kecelakaan pekerjaan langsung, atau potensi sesak napas menahun akibat sering terpapar belerang. Namun bagi warga, menambang adalah pekerjaan yang pasti, dibandingkan menjadi kuli perkebunan.

Teknis pengambilan belerang dilakukan dengan cara mudah. Gas yang keluar dari lubang fumarola dialirkan melalui pipa hingga ke bawah. Di dalam pipa terjadi proses sublimasi, dari uap menjadi cair dan belerang cair berwarna kuning cerah ini kemudian diendapkan hingga dingin. Petambang mengambil bongkah belerang ke dalam keranjang, kemudian diangkut 3,8 km ke pos pengepul Paltuding. Dalam satu hari, rata-rata mereka bisa mengangkut 60-90 Kg belerang murni, dengan upah Rp 925 per kilogram. Meskipun nilai tidak 70 GEOMAGZ | JUNI 2015 71 sebanding dengan risiko, namun penghasilan tersebut dianggap bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.

“Dulu saya sanggup mengangkut 100 Kg lebih dalam sehari, namun sekarang saya sering sakit-sakitan”, cerita Mas Sam pemandu perjalanan saya. Tanpa menduga lebih jauh, saya sudah sudah bisa membaca guratan usia diwajahnya. Ia adalah generasi kedua dari petambang di Kawah Ijen yang aktif dari tahun 80-an, kemudian memilih menjadi pemandu setelah secara fisik kurang mendukung. Profesi terakhir ini ia tekuni setelah mendapatkan pelatihan kepemanduan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

Menimbang Ijen-41

Peta digambar oleh: Roni Permadi

Tambang belerang warisan kolonial ini, kini diusahakan menjadi bagian tujuan wisata alam terbaik di Jawa Timur, dengan melibatkan peran warga menawarkan jasa pemanduan, pengelolaan penginapan dan warung makanan. Namun ancaman selalu menggelayuti kecemasan warga, karena Ijen setiap saat bisa saja meletus. Bisa dibayangkan, bila terjadi letusan, maka air kawah akan terlontarkan, demikian juga gas beracun akan tersemburkan.

Kondisi ini ibarat sekeping koin dengan dua sisi yang bertolak belakang. Satu sisi memberikan manfaat langsung kepada warga berupa mineral belerang dan kekayaan wisata alam gunung api adan kawah. Di sisi lain, terdapat ancaman gas beracun dan air kawah yang sangat asam bila gunung api aktif tersebut meletus. Masyarakat perlu menimbang risiko hidup di daerah seperti ini. Pemerintah pun perlu menyiapkan langkah penanganan saat kemungkinan terburuk muncul. Semua itu agar masyarakat dapat hidup hidup dengan damai berdampingan dengan gunung api. (Deni Sugandi)

Penulis adalah dosen fotografi dan fotografer di Geomagz

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>