Pembentukan busur magmagtik hasil dari penujaman lempeng
samudera di bawah lempeng benua.

Petrogenesa Magma Busur di Indonesia dan Aplikasinya

Aproksimasi wajah tengkorak Pacung. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung dan Susan Hayes.

Mereka Wajah Manusia Pacung di Museum Geologi Bandung

11/04/2016 Comments (0) Langlang Bumi, Langlang Bumi, Uncategorized

Mengunjungi Nadi Kehidupan di Ujung Selatan Sumatra

Danau Lebar dilihat dari puncak tinggi bukit atara Danau lebar dan Danau Minyak. Foto: Harley Sastha
Danau Lebar dilihat dari puncak tinggi bukit atara Danau lebar dan Danau Minyak. Foto: Harley Sastha

Danau Lebar dilihat dari puncak tinggi bukit atara Danau lebar dan Danau Minyak. Foto: Harley Sastha

Bukit Barisan yang membentang sepanjang sekitar 1.600 – 1.700 km dari Lampung hingga Aceh adalah nadi kehidupan Pulau Sumatra. Pegunungan dengan hutan hujan yang memanjang di bagian barat Pulau Sumatra ini merupakan daerah tangkapan dan penyimpan air yang penting untuk kehidupan di sekitarnya. Selain itu, kawasan sepanjang Pulau Sumatra ini, termasuk di ujung selatannya, juga merupakan paruparu dunia yang menyimpan kekayaan keragaman hayati flora dan fauna penting.

Selain puluhan cagar alam, terdapat tiga taman nasional di sepanjang pegunungan Bukit Barisan. Ketiga taman nasional dengan total luas 2,5 juta hektare itu adalah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Mengingat pentingnya ketiga kawasan ini, sejak tahun 2004, UNESCO telah menetapkan ketiganya sebagai Situs Warisan Dunia, yaitu Situs Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra (The Tropical Rainforest Herritage of Sumatra). Di sinilah terdapat setidaknya empat hewan endemik dan kharismatik Sumatra yang sangat dilindungi karena terancam punah, yaitu Badak Sumatra, Gajah Sumatra, Harimau Sumatra dan Orang Utan Sumatra.

Dari ketiga situs warisan dunia itu, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) merupakan satu tegakan terakhir hutan dataran rendah di ujung selatan Sumatra. Kawasan konservasi dengan suasana hutan tropis yang masih asli dan posisi geografisnya yang menyendiri ini, merupakan suatu daerah yang sangat menantang untuk dikunjungi. Menjelang akhir Oktober 2014, kami berkesempatan untuk mengunjunginya selama empat hari.

Danau air panas yang lokasinya bersebelahan dengan “Keramikan”. Foto: Harley Sastha

Danau air panas yang lokasinya bersebelahan dengan “Keramikan”. Foto: Harley Sastha

Pintu Masuk dari Kota Agung
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS, www.tnbbs.or.id), secara administratif masuk wilayah Provinsi Lampung dan Provinsi Bengkulu. Untuk mencapai lokasinya, perjalanan harus dimulai dari Kantor Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) di Kota Agung. Adapun akomodasi atau penginapan dapat dijumpai di Tanggamus-Kota Agung, Liwa-Lampung Barat dan kawasan wisata pantai Tanjung Setia.

Dari Jakarta kami mula-mula menuju Kota Bandar Lampung. Selanjutnya, dengan menggunakan angkutan umum kami menuju Kantor BBTNBBS di Kec. Kota Agung, Tanggamus, Lampung. Tiga patung hewan paling dilindungi dan kharismatik di Sumatra, yaitu Badak, Gajah, dan Harimau, menyambut kedatangan kami di halaman kantor BBTNBS. Di sini kami mendapatkan semua informasi mengenai kawasan TNBBS.

Ditemani Bunyana, staf BBTNBBS, dari kantor balai tersebut selanjutnya kami mengawali perjalananmenembus taman nasional yang memiliki riwayat konservasi sejak zaman Belanda ini. Resort Balik Bukit, yang berada di Pekon, Desa Kubu Prahu, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat, menjadi tujuan awal kami. Perjalanan darat sekitar lima jam naik turun bukit, pesisir dan perkampungan,serta membelah hutan menuju resort Balik Bukit sebenarnya seru dan mengasyikkan. Sayang, karena hari sudah sore saat memulai perjalanan, tidak banyak yang bisa kami lihat. Akhirnya, kami sampai di resort Balik Bukit yang berada pada ketinggian 800-900 meter. Kawasan TNBBS berada di belakang resort tersebut. Udara terasa sejuk dan segar. Di sini kami bermalam untuk melanjutkan perjalanan ke Resort Suoh esoknya.

Danau air panas dan kawah lumpur komplek kawah Suoh. Foto: Harley Sastha

Danau air panas dan kawah lumpur komplek kawah Suoh.
Foto: Harley Sastha

Suoh: Sekeping Surga Vulkanik
Suoh, sebuah kecamatan yang jarakanya sekitar 250 km dari Kota Bandar Lampung, merupakan pintu masuk berikutnya menuju TNBBS. Perlu waktu tiga jam perjalanan darat menuju Resort Suoh dari Resort Balik Bukit. Untuk sampai ketempat tersebut kami harus lebih dulu bertukar kendaraan dengan mobil double gardan di Liwa, Ibukota Lampung Barat. Liwa ditempuh hanya sekitar 10-15 menit berkendaraan dari Kantor Resort Balik Bukit.

Melewati Kota Liwa menuju Suoh, seperti kembali ke masa lalu yang asri. Terutama saat melintasi Jalan Lintas Liwa Sekincau. Di sepanjang jalan ini masih terlihat rumah-rumah panggung yang masih asli dan cukup terawat yang merupakan jejak-jejak dari masa lalu yang terjaga. Salah satunya, bangunan peninggalan Kerajaan Adat Paksi Pak Skala Bragh, Lampung Kepaksian Pernong. Bangunan tersebut sesekali masih ditempati oleh keturunan Sultan Skala Bragh Yang Dipertuan ke 23, Kombes Pol. Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, SH. Di tempat tersebut masih dapat dilihat barang-barang peninggalan dan silsilah keluarga kerajaan.

Jalan lintas Sukabumi-Sanggi-Suoh yang membelah kawasan taman nasional, perkampungan dan ladang penduduk, sebagian besar masih bertanah dan
belubang-lubang. Menurut Budi supir mobil kami, di musim hujan, jalanan akan becek dan lengket. Sebaliknya, di musim kering, cenderung berdebu. Perjalanan yang penuh petualangan. Pantas saja kami harus menggunakan kendaraan jenis double gardan. Namun, semua itu tergantikan oleh panorama indah dari hutan, lembah dan perbukitan yang terlihat di sepanjang perjalanan.

Setelah dua jam lebih, kami pun tiba di depan bangunan sederhana yang menjadi Pos Resort Suoh, TNBBS. Tidak jauh dari pos ini, tersajilah di hadapan
kami salah satu pesona Suoh, sebuah danau cantik yang di kelilingi perbukitan hijau. Rupanya, inilah reward dari perjalanan yang panjang dan melelahkan
sebelumnya. Danau dengan luas semkitar 160 hektare (Ha) ini begitu tenang dan asri. Namanya DanauAsam. Nama yang berkaitan dengan air danau yang
terasa sedikit asam. Menurut Irawan dari Masyarakat Mitra Polisi Hutan (MMP), di hari libur dan hari-hari besar, danau ini ramai oleh pengunjung. MMP adalah sekelompok relawan yang direkrut dari masyarakat sekitar kawasan dan dibina oleh BBTNBBS untuk membantu tugas-tugas Polisi Hutan.

Air terjun Sepapa Kiri di Desa Kubu Perahu. Foto: Harley Sastha

Air terjun Sepapa Kiri di Desa Kubu Perahu. Foto: Harley Sastha

“Suoh berasal dari bahasa Lampung, Suwah yang artinya dibakar. Dulu pembentukan wilayah Suoh dengan cara dibakar. Masyarakat asli Suoh atau kampung tua Suoh sebenarnya lokasinya berada di Pekon Hantatai yang letaknya beberapa kilometer sebelum kantor Resort Suoh,” cerita Irawan. Suoh masih memiliki beberapa pesona danau dan aktivitas vulkanik lainnya yang dapat dilihat secara langsung. Kami pun menyambangi tempat-tempat tersebut.

Tidak sampai lima belas menit dari Danau Asam, terlihatlah pesona dua danau lainnya: yaitu Danau Lebar (60 Ha) dan Danau Minyak (10 Ha). Danau Lebar diberi nama demikian, mungkin karena lebih luas. Sedangkan nama Danau Minyak berkaitan dengan airnya yang seperti berminyak. Dikelilingi perbukitan dan hamparan padang rumput, kedua danau layaknya oase yang menyejukkan. Berdiri di titik tertinggi diantara kedua danau menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati keindahan pesona danaudanauini dan sekitarnya. Asap putih yang mengepul membumbung menambah keelokan danau-danau di Suoh ini. Bentangan alam ini laksana cengkungan mangkok raksasa yang dikelilingi gunung dan perbukitan yang hijau.

Dari cerita turun-temurun, dahulu kala di sini pernah berdiri Kerajaan Bumi Hantatai, bagian dari Kerajaan Skala Bragh Lampung Barat. Bencana alam gempa yang dibarengi dengan letusan Gunung Suoh pada 933 telah meluluhlantakkan Bumi Hantatai. Namun, letusan gunung tersebut juga membawa berkah. Terbentuklah empat danau vulkanik seiring berakhirnya bencana alam itu. Kini danau-danau tersebut menjadi oase cantik di TNBBS. Kami pun dapat mengelilingi danau-danau ini dengan menyewa sampan yang dikelola masyarakat setempat.

Sebagai bagian dari gunung api, selain danau, ada atraksi alam lainnya yang menjadi potensi wisata alam Suoh, yakni Letusan atau Pletusan, dan Keramikan. Lokasi ketiganya sekitar 20 menit berkedaraan dari Danau Lebar dan Danau Minyak, berada di sekitar enclave Suoh. Enclave adalah pemukiman yang berada di dalam kawasan taman nasional yang memiliki bukti-bukti kuat dan sejarah serta catatan sesuai dengan batasnya masing-masing tanpa merambah kawasan taman nasional.

Kawasan Letusan merupakan fenomena aktivitas vulkanik berupa letupan-letupan lumpur panas berbau belerang. Walau pun kecil, kawasan ini tetap menarik untuk dikunjungi. Menurut Irawan, sebenarnya masih ada fenomena letusan yang lebih besar yang dapat dilihat, namun lokasinya jauh.

Bualan lumpur panas kompleks kawah Suoh. Foto: Harley Sastha

Bualan lumpur panas kompleks kawah Suoh. Foto: Harley Sastha

Dari Letusan, kami menuju Keramikan dengan melintasi Danau Belibis. Danau yang mempunyai luas sekitar 3 hektare ini, sesuai namanya, merupakan habitat burung Belibis. Disini kita dapat melihat tingkah polah burung-burung tersebut di habitatnya yang masih alami. Keramikan yang terletak tidak jauh dari sawah dan kebun kopi penduduk, sangat menarik, karena pengunjung dapat melihat dari dekat beberapa danau air panas dan aktivitas vulkanik lainnya yang unik. Jika Bandung mempunyai Kawah Putih dan Dieng mempunyai Kawah Sikidang, Lampung juga patut bangga karena mempunyai kawasan Suoh, khususnya Keramikan.

Disebut Keramikan, karena lantainya seperti keramik yang mengkilat berwarna kuning keemasan hasil dari lahar yang membeku. Di sudut lain, nampak pemandangan menarik berupa solfatara yang terusmenerus keluar seolah-olah asap keluar dari atas lantai keramik yang basah. Ada pula danau air panas yang mengandung belerang. Panasnya air danau dapat digunakan untuk merebus telur. Semua aktivitas vulkanik ini lahir dari sisa letusan Gunung Loreng yang terjadi pada masa lalu. Tempat ini semakin menarik karena lokasinya berada di sekitar perbukitan.

“Berjalan jauh ke dalam lagi dari Keramikan, ada lokasi-lokasi lain yang lebih menarik, yaitu Pasir Kuning, Letusan Besar, dan Sungai Air Panas,” kata
Zulki, Kepala Resort Suoh, sesaat setelah kami tiba di kantor resort untuk beristirahat. Sayang, waktu yang singkat membuat kami tidak dapat mengunjungi tempat-tempat tersebut. Namun, setidaknya kini kami tahu bahwa di balik sedikit keterasingan Suoh, ternyata wilayah ini menyimpan surga vulkanik. Danau-danau indah, kawah-kawah, dan fenomena vulkanisme lainnya, menanti untuk dikunjungi.

Raflesia Arnoldy di lokasi Camp Rhino, Resort Sukaraja Atas. Foto: Harley Sastha

Raflesia Arnoldy di lokasi Camp Rhino, Resort Sukaraja Atas.
Foto: Harley Sastha

Jungle Trekking di Resort Balik Bukit
Suara nyanyian burung-burung dan jeritan Siamang serta Wau-wau silih berganti memecah kesunyian pagi hari di sekitar Resort Balik Bukit. Walau pun terletak sekitar 15-20 menit berkendaraan dari Kota Liwa, tempat ini tidak otomatis menjadi ramai oleh hiruk pikuk kegiatan manusia. Di sinilah, di sekitar Resort Balik Bukit, kami melanjutkan penjelajahan pada hari berikutnya di TNBBS setelah hari sebelumnya mengunjungi Suoh.

Demplot tanaman obat dan anggrek yang terletak di belakang kantor resort menjadi pembuka penjelajahan ini. Sayang, hanya satu jenis tanaman anggrek tanah yang sudah berbunga dan beberapa kantong semar yang dapat kami lihat saat itu. Namun, hal ini tidak mengurangi kekaguman kami akan keberadaan demplot ini yang sangat memudahkan pengunjung untuk melihat berbagai jenis bunga anggrek dan kantong semar di alam.

Junggle Trekking adalah atraksi berikutnya, bahkan atraksi yang wajib dilakukan disini. Menurut Sadatin Misri, Kepala Resort Balik Bukit, kami dapat melakukan trekking kedalam hutan menuju air terjun Sepapa Kiri atau Sepapa Kanan atau kedua-duanya sekaligus jika waktu memungkinkan. Kami memilih air terjun Sepapa Kiri yang tingginya sekitar 40 meter.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam hutan, kami melewati bumi perkemahan di seberang kantor resort. Tempatnya cukup rapi dan terawat dengan berbagai fasilitas yang disediakan seperti aula, toilet dan menara pandang. Papan informasi tentang sejarah singkat dan potensi kawasan cukup membantu pengunjung yang akan melakukan berbagai aktivitas outdoor disini. Tampak pula perlengkapan kegiatan outbound di sudut lain bumi perkemahan ini. Rupanya di sini sedang dikembangkan pula kegiatan outbound, dan tengah dijajaki pengembangan aktivitas arung jeram di Sungai Way Asah yang berada berada di tepi bumi perkemahan.

Jenis Naphentes atau kantung semar Resort Balik Bukit, Desa Kubu Perahu. Foto: Harley Sastha

Jenis Naphentes atau kantung semar Resort Balik Bukit, Desa Kubu
Perahu. Foto: Harley Sastha

Selepas bumi perkemahan, kami melalui jembatan gantung melintasi Sungai Way Asah. Untuk penggemar fotografi, dari atas jembatan gantung inilah akan didapati objek yang sangat menarik, yaitu pemandangan sungai yang membelah hutan. Dengan ditemani dua orang MMP, kami terus berjalan memasuki hutan diiringi suara burung-burung dan wau-wau. Menurut Casmirin, salah seorang MMP yang mendampingi kami, jalur trekking yang kami lalui juga merupakan jalur lintas gajah liar. Itulah sebabnya terkadang jalur itu menjadi rusak. Ini juga yang menjadi alasan demplot tanaman anggrek dipindahkan ke belakang kantor resort.

Berbagai pohon kayu besar dan langka dapat kami lihat di sepanjang jalur ini. Casmirin sesekali menerangkan tentang keberadaan flora dan fauna yang
kami lihat, termasuk pohon langka dan dilindungi yang sudah berusia ratusan tahun, seperti Meranti dan Rengas. Juga beberapa tanaman yang dapat dijadikan obat dan buah-buahan yang dapat dimakan serta jenisjenis rotan yang ada di dalam hutan. Sesekali kupukupu hilir mudik di sekitar kami.

Junggle trekking menuju Air Terjun Sepapa Kiri melewati hutan yang rimbun, lebat, dan lembab. Sesaat terdengar suara burung Rangkong yang khas dan keras. Makin masuk ke dalam, hutan terlihat makin asri, khas hutan tropis asli Sumatra yang masih sangat terjaga. Setelah 2,5 jam berjalan, akhirnya kami tiba diSepapa Kiri.

Terjun dari ketinggian sekitar 40 meter, meluncuri dinding yang berbalut lumut, air terjun ini terlihat sangat indah. Gemuruh air memecah kesunyian alam di sekitarnya. Kolam air di bagian bawahnya seakan memanggil siapapun yang melihatnya untuk mandi atau sekadar berendam merasakan kesegarannya. Sekitar satu jam kami menikmati air terjun ini dan kembali ke resort Balik Bukit di sore hari

Habitat Gajah Sumatra
Keesokannya, hari masih gelap, saat kami meninggalkan Resort Balik Bukit menuju Resort Pemerihan di jalan lintas barat antara Pekon – Pemerihan, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Lampung Barat. Di sini kami akan melihat aktivitas salah satu hewan kunci di TNBBS, yaitu Gajah Sumatra.

Rumah khas Liwa di Sekicau, Resort Suoh Liwa. Foto: Harley Sastha

Rumah khas Liwa di Sekicau,
Resort Suoh Liwa.
Foto: Harley Sastha

Satu jam perjalanan sudah ditempuh, hari pun beranjak terang ketika kami melintasi kawasan pantai Tanjung Setia yang menjadi tujuan para penggila
surfing dunia. Kami pun beristirahat sejenak untuk menikmati pesona pantai. Sayang, pagi itu belum ada surfer yang turun ke laut, kami pun tak dapat melihat atraksi mereka bermain-main di atas gulungan ombak.

Untuk mereka yang bukan penghobi surfing, pantai ini tetap mempunyai daya pikat tersendiri. Sangat menarik jika seandainya wisata pantai di sini dijadikan satu paket dengan wisata alam dan pendidikan ke kawasan TNBBS, mengingat lokasinya yang berdekatan, yaitu hanya sekitar 45 menit hingga satu jam berkendaraan.

Dari Tanjung Setia kami melanjutkan perjalanan menujut Resort Pemerihan yang ditempuh selama satu jam. Kawasan belakang kantor resort menjadi tempat yang kami tuju begitu tiba disana. Di tempat tersebut kami menunggu kedatangan dua ekor Gajah Sumatra yang sudah jinak. Tidak berapa lama, dari seberang sungai muncul dua ekor Gajah dewasa beserta keeper (pengasuh)-nya masing-masing. Setibanya di hadapan kami, para keeper itu mengajak kami untuk naik dan merasakan berpatroli gajah di hutan. Di sini juga diinformasikan tentang perilaku gajah dan pentingnya keberadaan mereka di alam.

Melihat gading gajah jantan yang bernama Renggo, saya langsung teringat jika gading seperti inilah yang selama ini menjadi awal dari ketamakan manusia
dan ancaman kepunahan gajah akibat perburuan liar. Hewan besar yang bisa hidup hingga 70 tahun tersebut terus terancam keberadaannya, seakan raksasa yang tak berdaya menghadapi keganasan sebagian manusia. Padahal, keberadaannya sangat penting sebagai penyeimbang rantai makanan. Selain itu, gajah Sumatra juga sangat penting sebagai kekayaan sumber daya alam asli Indonesia.

Menyaksikan gajah Sumatra di habitat aslinya di Resort Pemerihan bagi kami menakjubkan. Karena gajah merupakan hewan besar yang mempunyai jelajah luas. Menurut sebuah catatan, gajah dapat berjalan hingga sejauh 20 km per hari hanya untuk mencari makanan. Tekanan-tekanan manusia berupa pembukaan lahan untuk ladang dan perkebunan terus mempersempit daya jelajahnya. Tidak heran, jika sering terjadi konflik antara gajah dan manusia. Itulah sebabnya, keberadaan dan keberlangsungan TNBBS menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan hidup hewan raksasa tersebut, sekaligus menjadi tempat edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya keberadaan gajah.

Pengunjung berwisata gajah di Resort Pemerihan. Foto: Harley Sastha

Pengunjung berwisata gajah di
Resort Pemerihan.
Foto: Harley Sastha

Si Cantik dari Sumatra
Salah satu daya tarik dari TNBBS adalah si cantik yang namanya sudah tersohor ke penjuru dunia, bunga Raflesia Arnoldy. Tumbuhan endemis khas Sumatra selatan ini sangat terkenal dengan bunganya yang berukuran raksasa. Hanya 30 menit berkendaraan dari Resort Pemerihan, kami tiba di Camp Rhino. Di wilayah yang masuk Resort Sukaraja Atas inilah terdapat salah satu habitat tumbuhan Raflesia Arnoldy.

Menurut Bunyana, di Camp Rhino ini banyak sekali ditemukan knop (bakal bunga) Raflesia Arnoldy. Jika pengunjung beruntung, mereka dapat menyaksikan bunga raksasa itu mulai saat masih berupa knop, mekar sempurna, hingga layu. Maklum saja, bunga ini merupakan bunga langka yang memerlukan waktu 8-9 bulan untuk bisa berbunga. Dan jika sudah berbunga, umurnya singkat, hanya satu minggu sebelum akhirnya layu dan mati.

Begitu tiba di Camp Rhino, Roma Purwata, Kepala Resort Sukaraja Atas dan Ngatimin Saputro, stafnya, menyambut kami dengan ramah. Mereka langsung mengajak kami melihat-lihat tempat tumbuhnya Raflesia Arnoldy. “Ini dia bakal bunga Raflesia Arnoldy. Di sini banyak jumlahnya. Salah satunya itu yang berbentuk seperti kol berukuran besar. Seminggu lagi baru akan mekar,” kata Pak Ngatimin sambil menunjukkan sebuah knop.

Memang di sana banyak sekali bakal bunga Raflesia bertebaran. Mulai yang berukuran bola baseball hingga seukuran kol. Raflesia sendiri hanya bisa tumbuh jika ada tumbuhan inangnya, yaitu sejenis liana tertentu. Jadi, jika terlihat tumbuh di atas tanah, sebenarnya di bawahnya ada liananya. Dalam satu liana terkadang ada lebih dari satu knop Raflesia.

Peta digambar oleh: Roni Permadi

Peta digambar oleh: Roni Permadi

“Dalam liana ini bisa dilihat ada banyak bakal bunga Raflesia”, kata Roma sambil menunjuk ke salah satu tumbuhan liana. “Bahkan bisa tumbuh 10 lebih
Raflesia dalam satu liana. Cara berkembangnya sendiri belum diketahui, tahu-tahu muncul saja bakal bunganya di sepanjang jalur liana”, lanjut Roma.
Bunga Raflesia mempuyai ciri khas lima kelopak besar berwarna merah kecokelatan, mulut mempunyai lebar sekitar 20 cm berbentuk seperti tempayan. Ditengah tempayan tersebut terdapat piringan dengan sejumlah kerucut kecil.

“Disini ada satu yang sudah mekar”, teriak Ngatimin tiba-tiba mengejutkan kami. Kami pun bergegas menuju tempat Ngatimin berada. Benar saja, tampak
oleh kami Bunga Raflesia Arnoldy tersembul diantara hijaunya dedaunan di atas tanah. Sungguh benarbenar cantik. Menurut Ngatimin, bunga ini sebenarnya belum mekar sempurna. Diperkirakan baru mekar tiga hari. Walaupun belum mekar sempur, diameternya dari ujung kelopak satu ke ujung kelopak yang lain kami perkirakan sekitar 40-50 cm. “Kalau sudah mekar sempurna, besar diameternya ada yang bisa mencapai 80-110 cm”, cerita Ngatimin.

Di dalam bunga yang sudah mekar tersebut, tampak beberapa ekor serangga sedang berputar-putar. Sungguh kami merasa sangat beruntung, walaupun
hanya satu Raflesia yang sudah mekar yang dapat kami lihat. Tidak salah jika kami menyebut bunga raksasa ini dengan sebutan si Cantik dari Sumatra. Atraksi ini pun menjadi penutup perjalanan kami yang menakjubkan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, satu nadi Pulau Sumatra. ( Harley Sastha)

Penulis adalah travelwriter dan pegiat alam bebas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>