Inspirasi-76

Inspirasi Investasi dari Sebuah Buku Tua

Bumi yang Hidup-86

Bumi yang Hidup

16/08/2014 Comments (0) Resensi Buku

Mengabadikan Riwayat Bumi

Mengabadikan-1
Geological Museums in East and Southeast Asia

Geological Museums in East and
Southeast Asia

Sementara bagi Asia Timur dan Asia Tenggara, Anthony menyebutkan bahwa ruang pameran di Pusat Survei Geologi Jepang baru dibuka pada 1911, Cina (1916), Vietnam (1919), Thailand (1924), dan Indonesia (1929). Ia juga menyatakan museum geologi sudah kian berkembang dan bertopik, seperti adanya museum dinosaurus, museum gunung api, museum batubara, museum timah, museum tambang emas, museum industri mineral, museum minyak dan gas, serta museum tsunami. Ditambahkan pula bahwa tren tersebut juga didorong oleh kesadaran pengelola museum geologi dalam memanfaatkan teknologi baru untuk pembelajaran interaktif baik yang virtual maupun riil.

Sebagaimana disinggung editor, buku ini memuat sembilan bab. Bab pertama mengenai museum geologi di negeri Tiongkok. Di sana disebutkan ada Geological Museum of China (GMC), Nanjing Geological Museum, Xinjiang Geology and Minerals Museum, Henan Geological Museum, Museum of Chengdu University of Technology, Jilin University Museum of Geology, Yifu Museum of the China University of Geosciences, Stephen Hui Geological Museum, dan Shanghai Oriental Geological Museum.

Bab dua menyajikan uraian museum geologi di Indonesia yang ditulis oleh Yunus Kusumahbrata dari Badan Geologi. Ia menguraikan ihwal Museum Geologi Indonesia di Bandung, Jawa Barat; Museum Gunung Api Ketep di Magelang, Jawa Tengah; Museum Gunung Api Batur, di Bangli, Bali; Museum Gunung Api Merapi, di Sleman, DI Yogyakarta; Museum Kars di Wonogiri, Jawa Tengah; dan Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh, NAD; Museum Minyak dan Gas Gawitra, di DKI Jakarta, dan Museum Manusia Purba Sangiran di Sangiran, JaMengabadikan-2wa Tengah.

Selanjutnya di Jepang, antara lain, ada National Museum of Nature and Science, Geological Museum of the Geological Survey of Japan, Mineral Industry Museum of Akita University, Fossa Magna Museum, dan Fukui Perfectural Dinosaur Museum. Sementara di Republik Korea Selatan ada Geological Museum, Taebek Coal Museum, Mungyeong Coal Museum, Boryeong Coal Museum, Gyung Bo Fossil Museum, Goseong Dinosaur Museum, dan Haenam Uhangri Dinosaur Museum.

Di Malaysia ada Geological Museum (Ipoh), Geological Museum (Kota Kinabalu), Geological Museum (Kuching), Dimension Stones Gallery, Geological Museum of the Universiti Kebangsaan Malaysia, Petrosains Discovery Centre, Petroleum Museum (Miri), dan Sungai Lembing Museum, Chimney Museum. Bab enam menyajikan museum geologi yang ada di Filipina, yaitu Geology Division at the National Museum of the Philippines, Museum of the Mines and Geoscience Bureau, dan National Institute of Geological Sciences-University of the Philippines Alumni Association Geology Museum.

Dua negara di Asia Tenggara selanjutnya yang mempunyai museum geologi adalah Thailand dan Vietnam. Di Negeri Gajah Putih ada Geological Museum of Thailand, Phu Wiang Dinosaur Museum, Sirindhorn Museum, The Petrified Wood Museum, The Lignite Research Museum, Rayong Rock and Mineral Museum, Kathu Mine Museum, Gold Mine Museum, The Rase Stone Museum, dan The Rocky Fish Museum. Sementara di Vietnam ada Vietnam National Museum of Nature (Hanoi) dan Geological Museum of Vietnam yang cabang utamanya di Hanoi dan cabang lainnya ada di Kota Ho Chi Minh.

Bab sembilan diisi tulisan John Baga Arumba yang berjudul “Protecting the Public from Geohazards in Papua New Guinea”. Tulisan yang berisi uraian potensi bencana geologi di Papua Nugini ini ditujukan untuk menggugah kesadaran publik sekaligus demi pendidikan publik. “Bantuan yang memungkinkan untuk pendidikan geologi, khusunya untuk sekolah, bisa berupa pengembangan ‘museum virtual’, yang berisi informasi yang memadai, serta dapat diakses melalui internet,” kata John.

Membaca kecenderungan-kecenderungan di atas, saya melihat besarnya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya informasi kebumian, yang terbukti dengan menjadikan museum geologi sebagai sumber rujukan untuk menjawab melit informasi. Banyaknya museum geologi yang dibangun kian menyediakan kesempatan yang lebih banyak untuk lebih memahami fenomena sekaligus riwayat kebumian yang ada di masing-masing negara di Asia Timur dan Tenggara itu.

Pesatnya pembangunan dan pengembangan museum-museum geologi juga menggaris-bawahi bahwa kita manusia kian sadar mengenai ruang dan waktu yang membatasi hajat dan hayat kita. Dalam kerangka itulah, museum geologi bisa dibaca sebagai sebentuk upaya manusia untuk mengumpulkan dan membaca riwayat bumi yang kebanyakannya tidak dialaminya sekaligus menganggap bahwa bumi ini sangat berharga, sehingga harus dimuliakan.

Dalam kerangka itu pula, untuk lebih mengingatkan manusia pada riwayat bumi, kita dapat memanfaatkan teknologi baru berupa internet yang kini merambah ke seantero dunia dan menjangkau seluruh permukaan bumi. Di sini kita tentunya mengamini Anthony Reedman yang berpendapat museum geologi seharusnya memanfaatkan teknologi virtual tersebut agar mampu melahirkan pembelajaran kebumian bersifat interaktif dan menegaskan gagasan John Baga Arumba untuk mengembangkan ‘museum virtual’ melalui Internet.

Penulis resensi adalah penulis, peneliti literasi, bergiat di Pusat Studi Sunda (PSS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>