Menimbang Ijen-39

Menimbang Ijen

REE-46

REE, Logam Kecil untuk Teknologi Canggih

13/08/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Menelusuri Struktur Semeru

Menelusuri Struktur Semeru-42
Menelusuri Struktur Semeru-42

Bentang alam Gunung Semeru. Foto: SR. Wittiri

Gunung Semeru di Jawa Timur menawarkan beribu daya pikat. Penelusuran untuk mencapai puncaknyanya memerlukan kesiapan fisik dan mental yang mumpuni. Tergiur pesona yang memikat itu, saya mengambil kesempatan menyambanginya bersama Tim Ekspedisi Semeru 2014, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi. Ekspedisi ini diselenggarakan bagi para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang bekerja di unit yang mengawal gunung api tersebut.

Perjalanan dimulai dari Ranu Pane. Morfologi daerah ini merupakan bentukan dataran di daerah topografi tinggi, yang dimanifestasikan oleh adanya danau yang terisi oleh air yang disebut ranu. Secara geologi, Ranu Pane merupakan sisa dari tubuh gunung api Kuarter sebelum terbentuknya puncak tertinggi di Jawa, Mahameru, 3.676 M. dpl atau yang dikenal masyarakat luas sebagai Gunung Semeru.

Perjalanan selanjutnya mengarah relatif ke selatan. Ini berarti akan banyak menjumpai gunung api berumur relatif muda yang akan ditemui. Sebab, penelitian mengenai Gunung Semeru, menyebutkan bahwa perkembangan kawah Semeru mengarah ke selatan dan berumur relatif lebih muda. Jalur ini menempuh Ranu Pane – Ranu Kumbolo, perjalanan menapaki sesar turun antara dua tinggian, yakni Gunung Ayek-Ayek dan Gunung Butak pada jalan setapak yang menjadi jalur pendakian ke Mahameru. Di jalur ini terdapat manifestasi struktur geologi

Menelusuri Struktur Semeru-43

Ranu Kumbolo. Foto: Titis N.P.

gunung api yang tampak menjulang tinggi yang terletak di Watu Rejeng. Di jalur Watu Rejeng – Ranu Kumbolo, perjalanan beralih menapaki jalan mendaki. Ternyata di jalur ini kami melintasi lava produk Gunung Jambangan, yakni gunung api Pra-Semeru. Tak lama, pesona Ranu Kumbolo pun tampak. Perjalanan selanjutnya relatif menurun. Di jalur ini juga terdapat sesar cakram sebagaimana ditunjukkan oleh hadirnya Ranu Kumbolo yang diawali oleh jalur sesar yang melingkar. Ini adalah bentukan khas akibat sesar di daerah vulkanik aktif pada masa lampau. Kondisi ini juga berkaitan dengan litologi dan aktivitas intrusi magma yang terjadi saat itu. Adanya dua tinggian yang mengontrol sesar ini menyebabkan terjadinya fenomena sesar cakram sebagaimana tampak pada Peta Geologi Gunung Semeru.

Melanjutkan menikmati fenomena pendakian Semeru, perjalanan selanjutnya menempuh jalur Ranu Kumbolo – Jambangan. Pendaki mengenal jalur ini dengan nama “tanjakan cinta”. Pasalnya, dalam kondisi puncak kelelahan, para pendaki harus melewati bukit, yang sesungguhnya tidak terlalu tinggi. Bila gagal melewatinya tanpa berhenti, maka cintanya akan sukses. Batuan penyusun tanjakan ini berupa aliran lava hasil dari Gunung Jambangan. Sesaat sebelum menuruni dataran yang cukup luas di Oro-Oro Ombo, terlihat jalur sesar turun yang bentuknya masih menyerupai cakram (melingkar). Oro-Oro Ombo merupakan dataran yang ditumbuhi ilalang lebat dengan litologi penyusun berupa jatuhan piroklastik produk Gunung Semeru. Litologi seperti ini menjadi tolok ukur untuk posisi stratigrafi satuan batuan yang lainnya.

Berjalan ke arah selatan, dari Oro-Oro Ombo tampak vegetasi yang didominasi oleh cemara. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang. Melihat ke bawah dari areal ini, tampak susunan batu yang berundakundak secara alami. Bentuk morfologi ini tersusun dari aliran lava produk Gunung Jambangan. Namun, karena kuatnya pelapukan, susunan lava ini tampak sudah tak jelas lagi. Akan tetapi, para pendaki masih LANGLANG BUMI 75 Bentang alam Gunung Semeru. Foto: SR. Wittiri 76 GEOMAGZ | JUNI 2015 GEOMAGZ | JUNI 2015 bisa merasakan kehadiran lava tatkala memulai langkah di areal ini, menuju Gunung Jambangan.

Menelusuri Struktur Semeru-44

Letusan Gunung Semeru. Foto: Titis N.P.

endakian selanjutnya menelusuri jalan setapak di lereng Gunung Jambangan. Di sini langkah kaki harus sedikit memutar agar perjalanan tetap menjejak pada kontur yang landai. Tampak di samping jalur pendakian, julangan topografi yang berstruktur. Bentuknya masih serupa dengan sesar yang didapati di jalur Watu Rejeng – Ranu Kumbolo,menyerupai cakram yang berpusat di Ranu Kumbolo. Struktur sesar cakram ini bermuara di Kalimati.

Sesampainya di Kalimati, 2.700 m dpl. terlihat fenomena yang luar biasa. Tampak Puncak Mahameru menjulang menggapai langit. Kenampakannya tepat berada di selatan deretan vegetasi Arcopodo yang mengelilingi bagian bawahnya. Jarak Kalimati dengan puncak Mahameru, 3.676 m dpl. terasa sangat dekat, karena Mahameru tepat di atas kami.

Jalur terakhir menempuh Kalimati menuju puncak Mahameru melalui Arcapodo. Jalur ini ditempuh selama antara 5 – 6 jam perjalanan. Topografinya sangat curam. Berawal dengan melintasi Arcopodo yang berkontur curam dan terjal. Di sini masih terlihat beberapa vegetasi yang tumbuh. Langkah demi langkah terasa lebih berat, mungkin karena mendaki di saat kemarau. Di lereng Arcopodo banyak debu vulkanik yang berterbangan mengangggu pernapasan. Debu-debu dari permukaan yang menutupi aliran lava Semeru di jalur pendakian.

Tiba di Cemoro Tunggal, Mahameru tampak sangat gagah. Inilah pintu gerbang menuju puncak Mahameru. Sejauh mata memandang, sudah tidak tampak lagi vegetasi di jalu

Menelusuri Struktur Semeru-45

Panorama saat pendakian. Foto: Titis N.P.

r pendakian yang merentang dengan kondisi curam hingga sangat curam. Cemoro Tunggal berada tepat di kerucut Gunung Semeru. Loses material (material lepas) dari kerucut Gunung Semeru senantiasa menarik kembali tubuh sang pendaki ke bawah. Ini memaksa kami untuk sering-sering menghela napas karena kelelahan. Namun, karena Puncak Mahameru menunggu di atas sana, kami dapat menyelesaikan pendakian dengan cara mengikuti jejak-jejak pendaki yang sudah berada di atas dengan berjalan secara zig-zag.

Pada sepertiga pendakian kerucut ini, kami dapat melangkah lebih mantap karena adanya struktur sesar turun produk aktivitas vulkanik. Sesar ini berbentuk setengah melingkar yang mengikuti kontur kerucut Gunung Semeru. Jalur yang curam terasa lebih mendatar karena offside dari sesar turun ini. Sejenak kami melihat ke belakang, tampak jajaran bukit yang merupakan awal pembentukan Gunung Semeru, bahkan berkait dengan Gunung Bromo yang berada nun jauh di seberang sana. Sisa pendakian dapat kami nikmati dengan melihat manifestasi jatuhan piroklastik di kanan-kiri jalur pendakian. Di sana terlihat jelas perlapisan dan bom sag structure yang merupakan penciri base surge Semeru.

Tiba di puncak, terdengar dengan sangat jelas dentuman letusan gas dari Kawah Jonggring Seloko. Rasa lelah tergantikan oleh rasa syukur menikmati ciptaanNya yang sungguh indah. Bersyukur juga karena perjalanan telah sampai pada tujuan. Kepulan asap dari letusan yang terjadi antara 10 – 15 menit sekali menjadi catatan perjalanan yang sungguh tak terlupakan. Selaras dengan kawah ini, di sisi tenggara terdapat bukaan kawah yang menjadi jalan bagi guguran lava Semeru. Guguran lava ini harus diwaspadai oleh penduduk yang tinggal di lereng bawahnya. Fenomena Mahameru sebagai puncak tertinggi di Jawa beserta potensi bahaya yang ditimbulkannya menjadi pelengkap bagi perjalanan Tim Ekspedisi Semeru 2014. ( Noviardi Titis Praponco )

Penulis bekerja di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>