Baluran Tempat Tinggi-24

Baluran Tempat Tinggi di Ujung Timur Pulau Jawa

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Kemegahan Danau Raksasa Toba

23/10/2015 Comments (0) Langlang Bumi, Langlang Bumi

Menelusuri Kelurusan Pulau-pulau Menuju Anakkrakatau

Untitled-51 copy

Untitled-51 copyKrakatau adalah daya tarik alam yang luar biasa karena sejarah kedahsyatan letusannya pada 27 Agustus 1883. Geomagz edisi September kali ini ikut memperingati ledakan kolosal 132 tahun yang lalu itu.

Daya tariknya tidak hanya untuk Indonesia, tetapi menyebar hingga seantero dunia. Maka tidak salah jika kawasan Krakatau menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa. Rangkaian empat gugusan pulau yang berada di tengah-tengah Selat Sunda sebagai sisa-sisa ledakan dahsyat 1883, pulau di tengah-tengahnya yang tumbuh sebagai gunung api aktif Anakkrakatau, serta deretan pulau-pulau Sebesi, Sebuku, hingga Gunung Rajabasa di daratan Lampung, menjadi jalur geowisata yang menawan.

Daya tarik itulah yang menjadi penyemangat hampir sebanyak 70-an peserta Geotrek Anakkrakatau yang diselenggarakan oleh komunitas Jelajah Geotrek Matabumi. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Ada PNS, pegawai swasta, pekerja kreatif, dosen, mahasiswa, siswa SMA dan SD, bahkan yang mengaku pengangguran. Semuanya satu tujuan: mendarat di Gunung Anakkrakatau, gunung yang tumbuh dari letusan dahsyat Krakatau 1883 yang bersejarah itu.

Dermaga Pelabuhan Canti, Kalianda selatan, Lampung. Foto: Budi Brahmantyo.

Dermaga Pelabuhan Canti, Kalianda selatan, Lampung.
Foto: Budi Brahmantyo.

Jumat 5 Juni 2015 sore, setelah berkumpul, briefing dan berdoa di halaman Museum Geologi Bandung, bus menghantar ketujuhpuluh orang itu ke arah Merak di Banten untuk menyeberang dengan feri ke Sumatra. Sabtu subuh, 6 Juni 2015, feri merapat di Bakauheni, Lampung, setelah meninabobokan dalam posisi yang bervariasi – yang jelas tidak nyaman – di atas ‘hotel maju’ itu. Lalu angkot-angkot kuning dikebut ke arah Kalianda dan sejam kemudian tiba di Pelabuhan Canti di kaki barat
daya Gunung Rajabasa.

Dari Lampung Alih-alih dari Banten
Canti berada di selatan Kalianda, lebih dari 70 km tenggara Bandar Lampung. Pelabuhan kecil ini menjadi ramai sejak para pelancong alam dan wisatawan beransel (backpackers) menjadikan Canti sebagai titik awal keberangkatan ke perairan sekitar Pulau Sebuku, Sebesi dan Krakatau, terutama untuk kegiatan selam dan snorkeling. Peserta jelajah geotrek pun turun dari angkot kuning untuk berganti moda transportasi menggunakan dua perahu nelayan. Sebelumnya ada kesempatan untuk sarapan pagi terlebih dahulu di beberapa warung yang banyak berdiri di Canti.

Beberapa saat kemudian, menjelang matahari meninggi, peserta Geotrek Krakatau sudah mengalun di atas dua kapal nelayan yang disewa untuk mengarungi Selat Sunda. Udara cerah, matahari pagi bersinar hangat, dan ombak cukup tenang, sehingga perjalanan di atas kapal cukup menyenangkan. Menyenangkan juga bagi beberapa peserta yang melanjutkan tidur di dek bawah, sementara mereka yang menikmati angin laut bercengkerama di dek atas yang tidak beratap karena sebenarnya dek ini adalah atap dari dek bawah.

Dua kapal mengarah ke barat daya, persis pada kelurusan timur laut – barat daya yang menghubungkan Gunung Rajabasa, Pulau Sebuku, Pulau Sebesi, Kompleks Krakatau, bahkan jauh ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon, Banten. Jadi pulau-pulau ini dalam pandangan dari kapal yang berjalan mengikuti kelurusan ke arah barat daya, saling berlapis. Pulau Sebuku yang pertama terlihat melatari Pulau Sebesi di belakangnya yang menjulang membentuk kerucut tinggi. Tentu saja Kompleks Krakatau tidak terlihat karena terhalangi Pulau Sebesi yang tinggi menjulang kira-kira 800 m di atas permukaan laut rata-rata, menutupi pandangan ke arah Krakatau di belakangnya.

Saat dua kapal berangkat dari Canti, tiga pulau kecil yang disebut Pulau Tiga Saudara menawan mata dan menimbulkan pertanyaan: sisa dari apakah ketiga pulau kecil yang berderet berdekatan itu? Namun, pertanyaan belum terjawab saat dua kapal sudah mendekati pantai Sebuku Kecil. Peserta pun berloncatan turun dari kapal. Foto-foto yang diambil para peserta sendiri selalu dikomentari sebagai mirip pengungsi Rohingya yang beberapa minggu sebelumnya ramai diberitakan terusir
dari Myanmar.

Di perhentian pertama Jelajah Geotrek Krakatau di pantai Pulau Sebuku Kecil ini, peserta merasakan pasir pantainya yang putih tetapi tercampur pasir besi yang hitam. Pecahan terumbu karang, dan beberapa batu apung yang tidak lain kemungkinan besar produk letusan Krakatau 1883 tersebar di sepanjang pantai walaupun tidak begitu banyak. Tidak dijumpai singkapan batuan di pantai sempit ini, tetapi dari morfologinya serta pandangan jarak jauh ke batu di tepi pantai Pulau Sebuku Besar, diperkirakan Pulau Sebuku tadinya merupakan pulau gunung api juga.

Perhentian geotrek pertama di Pulau Sebuku Kecil. Tampak di latar belakang kerucut gunung api yang telah mati Pulau Sebesi. Foto: Budi Brahmantyo.

Perhentian geotrek pertama di Pulau Sebuku Kecil. Tampak di latar
belakang kerucut gunung api yang telah mati Pulau Sebesi. Foto: Budi Brahmantyo.

Dari Pulau Sebuku Kecil, kapal mengarah ke Pulau Umang-umang di lepas pantai Pulau Sebesi. Pulau kecil yang cantik itu terdiri dari lava basaltis-dioritis, beberapa menunjukkan adanya kekar kolom. Belum pasti benar apakah batuan di pulau itu merupakan lava yang mengalir dari Gunung Sebesi, atau berupa kerucut tersendiri yang membentuk Pulau Umang-umang. Ya, Pulau Sebesi sejatinya adalah gunung api. Namun, diperkirakan sudah mati.

Luas Pulau Umang-umang tidak lebih dari 25 x 30 meter persegi. Di semua sisi pulau ini batuan beku jenis basalt-andesit dan diorit tersingkap. Sisi timur bahkan menampakkan kekar kolom, suatu bentukan struktur primer retakan yang terbentuk saat terjadinya proses pendinginan lava. Perairan di sekitarnya jernih dan hangat. Tidak ayal, tempat ini menjadi favorit untuk snorkeling, menyelam, atau sekadar berbasah-basah bermain air di pantainya.

Sepuas jelajah Pulau Umang-umang, kedua kapal mengangkat sauh dan dalam 5 menit kemudian sudah merapat di dermaga Pulau Sebesi. Seluruh Pulau Sebesi merupakan wilayah Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Desa Tejang terdiri dari empat dusun utama, yaitu Dusun Bangunan, Dusun Inpres, Dusun Segenom, dan Dusun Regahan Lada. Pulau ini mempunyai populasi yang cukup besar. Berdasarkan data sensus tahun 2011, penduduknya mencapai 771 kepala keluarga dengan 2913 jiwa, terdiri dari dari 1636 laki-laki dan 1277 perempuan. Mata pencaharian penduduknya kebanyakan adalah petani (pisang, kopi, kakao, dan lada) selain sebagian kecil nelayan. Sekolah hingga tingkat SMA sudah ada di pulau ini.

Dari singkapan batuan berupa endapan tuf dan breksi yang ditemui di sekitar pantai tenggara, serta dari bentuk morfologinya, Pulau Sebesi jelas merupakan pulau gunung api yang telah mati. Morfologi berbentuk kawah terlihat dengan baik dari citra atau peta digital yang langsung dapat dilihat di telepon-telepon pintar (smartphone) para peserta geotrek. Puncaknya mencapai ketinggian 844 m dpl. Itulah mengapa dari arah utara dan timur laut, Pulau Sebesi menghalangi gugusan Krakatau yang berada di balik sisi selatan dan barat daya.

Saat kapal bersandar di dermaga, peserta geotrek langsung berhamburan ke daratan, mengejar warung terdekat, memburu minuman. Cuaca yang sangat terik siang itu di atas kapal, bagaikan menguapkan seluruh cairan tubuh. Sepertinya semua lidah masih terjulur keluar saat panitia mengumumkan pembagian homestay. Ya, malam minggu akan dihabiskan dengan menginap di beberapa homestay di Pulau Sebesi. Udara masih panas ketika ruang tamu rumah yang menjadi homestay sudah menggelar tikar atau kasur di lantainya. Peserta pun langsung berebutan mengklaim tempat tidurnya masing-masing.

Singkapan lava dioritik di Pulau Umang-umang dengan latar belakang Pulau Sebesi. Foto: Budi Brahmantyo.

Singkapan lava dioritik di Pulau Umang-umang dengan latar
belakang Pulau Sebesi. Foto: Budi Brahmantyo.

Gubuk Seng
Berdiam di rumah homestay sudah terasa amat gerah dengan udara panas yang lembab, tetapi hampir semua peserta masih tertarik untuk ke Gubuk Seng. Bayangkan akan betapa terasa saunanya jika berada di dalam Gubuk Seng! Namun, itu hanyalah nama tempat di sisi tenggara Pulau Sebesi, titik terbaik untuk melihat gugusan Krakatau. Maka dengan semangat geotrek, beranjaklah sebagian besar peserta memburu hari yang masih terang ke arah Gubuk Seng.

Sekalipun sudah diberitahu penduduk setempat bahwa  ke Gubuk Seng perlu waktu setengah jam dengan mengendarai motor, banyak peserta memaksa berjalan kaki. Dalam perhitungan kasar, paling-paling hanya 6 km. Saat tiba di tujuan, GPS mencatat 12 km! Pantas, beberapa peserta langsung menyerah di tengah perjalanan dan mencegat ojek atau mobil bak.

Gubuk Seng tidak lain adalah teras terumbu karang di tepi pantai tenggara Pulau Sebesi. Mungkin dulu pernah dibangun gubuk dari seng di tempat ini. Dari sini tepat ke arah barat daya, gugusan Krakatau tampak jelas walaupun masih tampak kecil karena jauhnya. Namun, Pulau Panjang di kiri pandangan, Gunung Anakkrakatau di tengah, dan Pulau Sertung di kanan, menjadi objek
pandang yang memikat untuk segera diabadikan. Samarsamar, Pulau Rakata yang berada pada lingkar luar selatan gugusan ini, muncul berbentuk kerucut di antara Pulau Panjang dan Gunung Anakkrakatau.

Sayangnya suasana matahari tenggelam berlalu begitu saja. Sang mentari tenggelam di sebelah barat yang tertutupi kaki gunung Pulau Sebesi. Walaupun hari menjelang gelap, beberapa peserta masih asyik di tepi pantai sampai akhirnya terusir sendiri oleh gelombang pasang yang datang di senja itu. Beruntunglah ada mobil bak yang bisa ditumpangi dengan membayar Rp 10.000,- per orang yang menghantar kami kembali ke homestay di sisi utara Pulau Sebesi.

Teras terumbu karang di Gubuk Seng. Gugusan Krakatau terlihat jauh samar-samar. Foto: Budi Brahmantyo.

Teras terumbu karang di Gubuk Seng. Gugusan Krakatau terlihat
jauh samar-samar. Foto: Budi Brahmantyo.

Memang di jelajah geotrek kali ini, tidur tidak dijamin nyaman. Setelah malam pertama di atas feri, malam kedua ini pun dipaksa bangun jam 2 dini hari. Hal itu untuk mengejar pendaratan di Anakkrakatau pada subuh hari, dan menjelajah lereng Gunung Anakkrakatau saat matahari tidak terlalu tinggi. Lalu, tidur pun dilanjutkan di atas kapal. Lumayan ada waktu 2 jam sebelum kapal mendarat di pantai Anakkrakatau yang statusnya merupakan Cagar Alam.

Si Anak yang Sedang Tumbuh Berkembang
Gunung Anakkrakatau yang lahir — dalam faham manusia daratan: muncul ke permukaan Selat Sunda — pada tahun 1928 dengan letusan jet. Pada tahun 1929, seorang bangsawan Jepang Marquis Tokugawa mengikuti ekskursi pra-konferensi Pertemuan Ilmiah Asia-Pasifik ke-4, menyaksikan telah munculnya daratan di titik tersebut. Pada tahun 1930, dipastikan daratan puncak gunung muncul ke permukaan laut dan aktif meletus. Kemunculan gunung api baru di Kaldera Krakatau itu kemudian diberi nama Anakkrakatau.

Setelah letusan paling bersejarah umat manusia di atas muka bumi ini, 27 Agustus 1883, Krakatau diperkirakan membentuk kaldera yang tenggelam di bawah perairan Selat Sunda. Sebelum letusan dahsyat itu, sebuah pulau besar dengan dua Kawah Danan dan Perbuwatan, terbentuk menyambung ke Pulau Rakata, tetapi terpisah dengan Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Ledakan dahsyat dengan semburan piroklastik dari dua kawah ini menyapu semua pulau di sekitarnya, termasuk Pulau Sebesi dan Sebuku, dan pulau-pulau lain di sekitar Krakatau.

Kapal nelayan menjelajahi perairan sekeliling Gunung Anakkrakatau. Foto: Tatan Sumaryana.

Kapal nelayan menjelajahi perairan sekeliling Gunung
Anakkrakatau. Foto: Tatan Sumaryana.

Tsunami yang menyusul setelah ledakan dahsyat itu menyapu semua pantai dari pulau-pulau yang berhadapan, baik di Lampung (Sumatra) maupun Banten (Jawa). Di sisi Lampung, sebuah kapal uap Belanda yang bernama Berouw (artinya ‘penyesalan’) tersapu sejauh dua kilometer ke arah daratan Teluk Betung. Adapun di sisi Banten, tsunami ini mengungkit terumbu karang dan kemudian menghantam mercusuar di Cikoneng, Anyer, merobohkannya rata dengan tanah. Di arah Carita dan Labuan, seluruh perkampungan dan pemukiman amblas terbawa gelombang tsunami yang diperkirakan mencapai ketinggian 30 m.

Setelah ledakan itu, hanya Pulau Rakata saja yang muncul dengan dinding vertikal di sisi utara – barat laut sebagai bibir kaldera yang tersisa. Cekungan kalderanya tenggelam di bawah Selat Sunda, sampai kemunculan Gunung Anakkrakatau tepat di tengah-tengah kaldera, seolah-olah lahirnya kembali Danan dan Perbuwatan. Itu hanya membutuhkan 45 tahun setelah ledakan kolosal sampai puncaknya menyembul di atas permukaan laut pada letusan jet pertama di tahun 1928. Kini si anak yang hiperaktif diperkirakan telah mencapai ketinggian 400 m di atas permukaan laut. Betapa cepat pertumbuhannya!

Pulau Rakata, Panjang, dan Sertung kemungkinan merupakan bagian juga dari proto-Krakatau yang dalam buku karya Simon Winchester, Krakatoa: The Day the World Exploded, August 27th 1883, disebut Gunung Kapi, mengutip tulisan Pujangga Keraton Surakarta, Ronggowarsito. Gunung leluhur Krakatau ini diduga meletus pada tahun 416 M (Abad ke-5 Masehi).

Dengan latar belakang sejarah Krakatau seperti itulah, penjelajah Geotrek setelah sarapan pagi seadanya, langsung masuk ke kawasan Cagar Alam Krakatau dalam jalur yang sudah ditentukan oleh BKSDA, yaitu pada lereng timur Anakkrakatau. Memasuki lereng ini fenomena bom gunung api menjadi perhatian.

Untitled-57 copyBom-bom dalam berbagai ukuran itu adalah hasil dari letusan besar terakhir pada 2 September 2012. Satu bom sebesar mobil tampak teronggok dan di arah hulunya memberikan suatu lekukan seperti kawah. Bayangkan batu sebesar mobil itu terlontar dari kawah, melayang di udara sejauh kurang lebih 2 km dan kemudian jatuh di kaki gunung, membentuk lekukan yang dikenal sebagai bomb sag. Saat jatuh menimpa tanah, momentum gaya menggeser bom gunung api ini ke arah hilir meninggalkan lekukan bom di belakangnya.

Mendaki semakin tinggi ke arah timur, pemandangan sekitarnya nampak semakin menarik. Dinding Pulau Rakata yang vertikal terlihat seluruhnya membentuk siluet segitiga. Di sisi lain, Pulau Panjang tampak jelas terpapar matahari pagi. Di ujung punggungan yang merupakan bibir kawah tahun 1960, jalur terpotong aliran lava berwarna kemerah-merahan yang telah membeku. Warna kemerah-merahan menunjukkan suhu yang tinggi, selain kandungan besi yang kemudian berubah menjadi hematit. Lava ini seperti bom, sama-sama produk letusan 2 September 2012.

Cagar Alam yang Ketat
Status lahan Anakkrakatau adalah Cagar Alam. Ini menimbulkan dilema. Di satu sisi hal ini baik karena akan melindungi tumbuhan asli yang berkembang sejalan dengan tumbuhnya Gunung Anakkrakatau, tetapi di sisi lain menjadi kendala bagi kunjungan wisata.

Bom gunung api yang meninggalkan lekukan jejak jatuhnya bomb sag. Foto: Budi Brahmantyo.

Bom gunung api yang meninggalkan lekukan jejak jatuhnya bomb sag. Foto: Budi Brahmantyo.

Karena Krakatau terkenal ke seluruh dunia, banyak wisatawan yang datang ke gunung api ini. Namun,  wisatawan tidak begitu saja bisa datang dan bayar tiket di tempat. Mereka harus memohon surat izin memasuki kawasan konservasi alias SIMAKSI. Surat sakti ini harus dimohon di BKSDA Lampung di Bandar Lampung. Pernah ada kasus wisatawan mancanegara yang datang dari arah Pantai Carita (Banten) ditolak oleh penjaga cagar alam karena tidak ada SIMAKSI tersebut. Kesan yang sangat tidak baik bagi pariwisata Indonesia. Bayangkan promosi buruk dari preseden ini terhadap kunjungan wisata berikutnya.

Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam, kawasan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Karena sensitifnya kawasan cagar alam, beberapa kegiatan dilarang dilakukan di kawasan cagar alam karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan cagar alam.

Larangan juga berlaku terhadap kegiatan yang dianggap sebagai tindakan permulaan yang berakibat pada perubahan keutuhan kawasan, seperti memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan, atau membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan.

Tetapi sesuai dengan fungsinya, cagar alam dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan penunjang budidaya. Di sini tidak secara eksplisit kegiatan wisata dilarang, apalagi wisata seperti geotrek yang justru bersifat edukatif dan menunjang pengembangan ilmu pengetahuan.

Setelah selesai observasi lava merah erupsi 2 September 2012, jelajah geotrek menyusuri punggungan sisa kawah tahun 1960-an. Foto: Budi Brahmantyo.

Setelah selesai observasi lava merah erupsi 2 September 2012, jelajah geotrek menyusuri punggungan sisa kawah tahun 1960-an. Foto: Budi Brahmantyo.

Namun dengan terlalu ketatnya pemberian izin kunjungan ke Anakkrakatau, ada baiknya BKSDA mengubah status kawasan cagar alam (CA) menjadi kawasan taman nasional (TN) atau bahkan taman wisata alam (TWA). Sekali pun lebih longgar, tentu saja prinsipprinsip konservasi harus tetap dijaga kuat. Petugas yang berada di Anakkrakatau sendiri dengan tegas menyatakan bahwa, “Sebagai kawasan cagar alam, seharusnya semua kegiatan yang tidak menunjang konservasi, termasuk wisata, dilarang dilakukan.”

Lalu? “Yaah kami terpaksa mengizinkan karena keterkenalan Krakatau,” demikian jawaban para petugas Cagar Alam tersebut.

Semoga saja perubahan status kawasan Gunung Anakkrakatau dari Cagar Alam menjadi Taman Wisata Alam akan segera terwujud. Artinya, dermaga nantinya bisa dibangun sehingga pengunjung tidak harus berbasah-basah turun dari kapal. Selain itu, tiket masuk bisa didapatkan langsung di tempat. Namun, ketatnya peraturan tentang konservasi harus tetap dikedepankan, sekalipun statusnya berubah menjadi Taman Wisata Alam Krakatau. (Budi Brahmantyo)

Penulis adalah dosen di Teknik Geologi ITB, staf redaksi Geomagz, perintis geotrek, penulis buku Geowisata Bali – Nusa Tenggara dan Wisata Bumi Cekungan Bandung. Tulisan ini ditulis ulang dari artikel penulis sendiri di media blog Kompasiana. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>