bangka1

Menelusuri Sabuk Geologis Timah Bangka Melabrak Mitos Waktu Rawan...

jeju1

Bercermin ke Jeju

12/06/2013 Comments (0) Langlang Bumi

Menelusuri Jejak Penemuan Manusia Purba

JEJAK-PENEMUAN--41
JEJAK-PENEMUAN--41

Salah satu sudut ruang peraga Museum Purbakala Sangiran, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah. Foto: Deni Sugandi.

Bengawan Solo berikut anak sungainya dan daerah Sangiran di Jawa Tengah hingga beberapa daerah yang berdekatan di Jawa Timur bagaikan “tambang” fosil. Di daerah ini ditemukan “mata rantai yang hilang” dalam teori evolusi manusia dan fosil fauna vertebrata. Perjalanan tim Geomagz pada awal Mei lalu ke Sangiran, Sambungmacan, Trinil, dan Widodaren menelusuri kembali jejak-jejak penemuan fosil manusia purba yang menunjukkan peran besar Indonesia bagi dunia dalam penelitian bidang geologi, khususnya paleontologi.

Dua mobil menderu dan membelah pagi yang mulai berdenyut di Kota Solo. Matahari yang mulai merangkak naik menghangatkan semangat tim Geomagz untuk menelusuri situs-situs penemuan fosil yang pertama dan terutama di Indonesia.

JEJAK PENEMUAN -40

Temuan fosil jejak binatang purba, pertama dan satu-satunya di Indonesia. Lokasi di Widodaren, kecamatan Gerih, Jawa Timur. Foto: Deni Sugandi.

Ya, pada awal Mei lalu, kami dari tim Geomagz melakukan perjalanan menyusuri Bengawan Solo yang membentang dari Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Kami menyambangi situs Sangiran berikut Museum Manusia Purba Sangiran, Sambungmacan, Trinil, dan Widodaren. Narasumber sekaligus pemandu kami dalam langlang bumi ini adalah Fachroel Aziz, profesor riset bidang Paleontologi dari Badan Geologi.

Sesuai dengan rencana, pertama-tama kami menyusuri kawasan Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Kawasan ini mula-mula mengemuka ke dunia berkat penelitian ahli paleontologi berkebangsaan Jerman G.H.R. von Koenigswald (1902-1980). Sejak Januari 1931, dia bekerja untuk Jawatan Pertambangan Hindia Belanda. Tugasnya mula-mula mengembangkan biostratigrafi yang menjadi pendukung litostratigrafi dalam program pemetaan Pulau Jawa.

Mula-mula Von Koenigswald menemukan alatalat paleolitik non-masif di Ngebung, Sangiran. Tahun 1940 Von Koenigswald mempublikasikan temuan fosil hominid dari Sangiran selama kurun waktu 1936-1938, yaitu Neue Pithecanthropus-Funde 1936- 1938: Ein Beitrag zur Kenntnis der Praehominiden. Di dalamnya, Von Koenigswald menyatakan hasil penemuannya berupa Pithecanthropus dan Meganthropus. Hingga kini, tidak kurang dari 100 individu Homo erectus telah ditemukan dari situs Sangiran.

“Nah ini gapuranya,” kata Fachroel Aziz, saat memasuki wilayah Sangiran. Panel-panel penunjuk arah dan koleksi fosil Sangiran berdiri tegak di sepanjang jalan. “Mereka punya inisiatif untuk memberikan informasi kepada publik,” kata Fachroel lagi.

Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia
Tempat pertama yang kami tuju adalah Museum Manusia Purba Sangiran. Museum ini mula-mula dirintis Kepala Desa Krikilan Toto Marsono, yang menjadi “tangan kanan” Von Koenigswald untuk melaporkan penemuan fosil di Sangiran. Selain melaporkan, Toto mengoleksi fosil Sangiran di rumahnya di arah barat perempatan Desa Krikilan. Setelah tidak muat lagi, koleksi fosilnya dipindahkan ke Balai Desa Krikilan. Namun, hingga paruh pertama tahun 1980-an, balai itu juga tidak bisa menampung

JEJAK PENEMUAN 201306 Page 55

Peta lintasan Langlang bumi, Sangiran, Sambungmacan, Trinil, Widodaren. Peta diolah dari data SRTM (USGS, 2004).

ribuan fosil koleksi Toto. Pada tahun 1977 Museum Sangiran ditetapkan sebagai daerah cagar budaya melalui SK Menteri P dan K No. 0701 0119 77 tertanggal 15 Maret 1977. Pemerintah kemudian turun tangan membangun museum di atas bukit kecil yang diresmikan Mendikbud Fuad Hasan pada tahun 1984. Saat itu, museum ini terdiri dari dua ruang pamer, satu ruang koleksi, satu ruang preservasi dan konservasi fosil, serta satu ruang serba guna.

Pada 25 Juni 1995 situs Sangiran dinominasikan ke UNESCO sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Tanggal 5 Desember 1996 situs Sangiran resmi diterima UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia dan dicatat dalam World Heritage List no. 593 dengan nama Sangiran early man site (dokumen WHL 96/Con/2201/21) serta disebarluaskan melalui siaran Pers UNESCO No. 96-215. Implikasinya, sejak tahun 2008 Museum Manusia Purba Sangiran dibangun untuk menggantikan museum lama. Museum baru ini selesai dibangun dan diresmikan pada 15 Desember 2011 oleh Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti. Kini koleksi yang ada di museum Sangiran secara keseluruhan mencapai 13 ribuan koleksi.

Saat memasuki kompleks museum kami disambut oleh Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Harry Widianto. Setelah diperkenalkan oleh Fachroel, kami berbincang sebentar sebelum berkeliling melihat-lihat koleksi museum.

Dalam perbincangan itu terbersit rencana pengembangan museum. “Kini museum akan membuat master plan (pola induk-red) untuk museum Trinil, Patiayam, bahkan bisa jadi dengan Sumedo. Kini kami sedang membangun dua gugus museum site (tapak museum-red) di Dayu dan Bukuran yang harus selesai akhir tahun ini. Tahun depan tinggal museum di Ngebung,” kata Harry.

JEJAK PENEMUAN -42

Panorama kubah Sangiran dengan Museum Purbakala Sangiran (bangunan beratap kerucut) dilihat dari menara pandang Sangiran ke arah Barat. Foto: Deni Sugandi.

Pentingnya Sistematika Penamaan Koleksi Fosil
Dalam pembicaraan singkat kami dengan Harry Widianto, tersirat pula permasalahan seputar penomoran koleksi fosil hominid di Indonesia khususnya di Sangiran yang selama ini tidak mempunyai standar yang jelas atau bersistem. “Iya sulitnya begini ya,” kata Fachroel, “Penamaan fosil dulu itu tidak konsisten dan banyak kelemahan. Von Koenigswald yang pertama-tama memberi urutan nomor kode temuan fosil hominid dari Sangiran sebagai berikut: untuk fosil tengkorak Pithecanthropus dipakai huruf ‘P’ yang diikuti oleh nomor angka Romawi (P I, P II, P III, dst –red), sedangkan untuk rahang Pithecanthropus ditulis dengan ‘P’ dikuti urutan abjad, seperti Pa, Pb, Pc….dst. Nah, kalau ketemunya lebih dari 28 buah mau disebut apa? Ya, kemudian timbul masalah kalau ketemu tulang-belulang ataupun gigi lepas, mau diberi istilah apa? Sedangkan Ma dan Mb untuk rahang Meganthropus”, Fachroel menjelaskan kesulitan penamaan atau pengodean fosil yang dianut hingga sekarang.

“Yang jadi masalah di Sangiran ini sudah banyak ditemukan fosil, tapi cara mengurutnya cuma sampai nomor 40. Padahal banyak yang baru. Susahnya, para peneliti di Sangiran memberi kode koleksi fosilnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, koleksi yang baru susah diberi urutan nomornya. Satu-satunya cara, semua berkumpul membawa koleksinya masingmasing kemudian diurutkan,” timpal Harry.

“Oleh karena itu, saya menyarankan penamaan itu berdasarkan waktu penemuannya. Bila kita tetap memakai kata ‘Sangiran’ untuk koleksi itu maka di pendahuluan koleksinya harus kita terangkan bahwa Sangiran tidak merujuk kepada nama wilayah administratif melainkan kepada terminologi geologi, yaitu Kubah Sangiran. Karena Sangiran itu hanya dukuh kecil,” Fachroel memberi usulan.

JEJAK PENEMUAN -43

Patung rekonstruksi P VIII, koleksi Museum Purbakala Sangiran. Foto: Deni Sugandi.

Harry sependapat dengan Fachroel. Terhadap para kolektor fosil dari Sangiran ia menyatakan, “Kami tidak hendak mengambil koleksi mereka. Kami hanya ingin mereka membawa dan mengurutkan, sehingga penamaan koleksi fosil dari Sangiran menjadi tertata. Tidak usah membawa barangnya, karena yang penting data penemuan berikut fotonya. Nanti berdasarkan data itu kita bisa menginventarisasi. Paling tidak dari penemuan fosil sejak 1984 hingga sekarang, karena belum ada datanya yang tersebar di masing-masing peneliti. Saya sendiri suka memakai istilah wayang. Misalnya Arjuna 9 untuk rahang dengan 2 gigi.”

Di sela-sela perbincangan itu Harry memberi cenderamata berupa satu set buku Sangiran, yang terdiri dari Sangiran Menjawab Dunia (2009), Jejak Langkah Setelah Sangiran (2010), dan Nafas Sangiran, Nafas Situs-situs Hominid (2011). Usai berbincang, kami menelusuri museum. Di sana terlihat panel-panel berisi tentang paleogeografi, evolusi, kejadian bumi, kisah para ahli paleontologi yang bekerja di Sangiran, fosil-fosil koleksi museum, dan ruang diorama manusia purba yang berbentuk kubah.

Menurut Fachroel Aziz, “Museum Sangiran sampai saat ini merupakan satu-satunya museum yang menceritakan tentang evolusi manusia secara lengkap. Di samping menampilkan fosil manusia purba, museum ini menampilkan hewan-hewan yang hidup pada masa itu. Jadi, museum ini dapat memberi pelajaran untuk masyarakat umum dan ilmiah. Museum ini punya arti penting baik untuk pendidikan masyarakat Indonesia juga menanamkan semangat kecintaan kepada sumber daya alam kita.”

JEJAK PENEMUAN -44

Wagimin sedang memperagakan penemuan Pf (S22) di saluran Bapang, Sangiran. Foto: Fachroel Aziz.

Setelah berkeliling di dalam museum, kami bertemu dengan Sutanto, asisten dan mitra lokal Fachroel Aziz sejak 1976. Tanto, demikian sapaan akrab laki-laki berusia 59 tahun itu, mendapat sertifikat penghargaan dari beberapa lembaga ilmiah/universitas dari dalam dan luar negeri atas dedikasinya pada upaya penemuan fosil di Sangiran. Sutanto merendah bahwa kini dia hanyalah seorang petani. Kemudian Fachroel mengajak Tanto untuk berkeliling memandu kami.

Kanal Bapang dan Fosil Meganthropus Paling Tua
Ketika di Sangiran dilaksanakan The Indonesia Japan Joint Research Project (CTA-41, 1976-1979), tim melakukan penggalian seluas 10×10 meter di sekitar Dam Pondok. Dari penggalian itu banyak fosil vertebrata ditemukan, terutama pada posisi stratigrafi antara lapisan Tuf 3 (T3) dan T4 dari Formasi Pucangan. Fosil-fosilnya didominasi oleh tulang-tulang dan tanduk rusa.

“Ini Sungai Cemoro dan ini bendungannya yang disebut dam Pondok,” kata Fachroel sambil menunjuk ke arah dam atau bendungan, “Di sini tersingkap baik lapisan batuan Formasi Sangiran atau dulu disebut Formasi Pucangan yang didominasi oleh lempung abu-abu kehitaman yang merupakan endapan rawa. Di atasnya ditutupi oleh Grenzbank (lapisan pembatas) yang merupakan alas atau dasar dari Formasi Kabuh, secara berkesinambungan terjadi perubahan lingkungan dari laut ke payau atau rawa dan semakin ke darat.”

Kata Fachroel, “Ini dulu kita gali di situ dan ditemukan lapisan Tuf 4, fosil vertebrata yang pertamanya adalah sejenis rusa. Kemudian di tebing ini ada shell beds. Lapisan moluska banyak di situ. Tapi kelihatannya sekarang tertutup atau terhalang ada sawah dan lain-lain. Tapi kalau kita gali lagi lebih dalam mungkin ada, tapi penggalian yang kita lakukan dulu hanya sampai lapisan Tuf 4.”

JEJAK PENEMUAN -45

Tugu Meganthropus S27 ditemukan pada tahun 1978, lokasi di Saluran Bapang. Foto: Deni Sugandi.

Shell beds itu sekarang tidak terlihat, tapi dulu, kelihatan berlapis bagus. Menurut Fachroel, penamaan formasi batuan di sana bergantung siapa yang memetakannya. Formasi Pucangan, Kabuh, dan sebagainya berasal dari Duyfjes yang melakukan pemetaan geologi dari daerah Surabaya ke Pegunungan Kendeng, Jawa Timur yang kemudian diadopsi oleh Von Koenigswald, diikuti banyak peneliti hingga sekarang untuk daerah Sangiran.

Setelah itu, kami pergi ke kanal atau saluran pengairan yang melintasi Desa Krikilan. “Di sini ditemukan Homo erectus paling tua, specimen Pf (Sangiran 22), berupa rahang hampir lengkap dari kanan geraham M2 hingga ke kiri P4, sebelah kanan masih tertanam gigi taring C, prageraham P3, P4 dan geraham M1, M2 dan di sebelah kiri terdapat gigi seri I2, taring C dan prageraham P3 dan P4. Email gigi lebih tebal dan tulang rahang lebih tinggi. Pf ini ditemukan oleh Wagimin penduduk setempat saat dia menggali parit untuk pembuatan saluran pengairan,” sambung Fachroel.

Selain itu, Fachroel menunjuk ke tugu penemuan fosil “manusia purba” yang terletak tidak jauh dari temuan Pf di mana terdapat monumen penemuan fosil Meganthropus. Di monumen kecil ini ada panel keterangan yang dibuat oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba yang menyatakan bahwa “Meganthropus (S27) ditemukan pada 1978.”

Fosil ini ditemukan oleh penduduk setempat bernama Suherman dari Dukuh Ngampon ketika ia mencari jangkrik dan rumput. Dia menemukan fosil di tanah bongkahan hasil penggalian tersebut. Temuan tersebut dilaporkan kepada Kepala Desa Krikilan, Toto Marsono. Fosil ini berupa sebuah atap tengkorak beserta rahang atasnya. Bagian belakang tengkorak melesak ke bawah akibat tekanan dan mengalami deformasi lanjut. Rahang atasnya masih mempunyai 7 gigi. Fosil ini menunjukkan morfologi yang kekar, tengkoraknya tebal, gigi-giginya kekar, sehingga digolongkan sebagai Meganthropus paleojavanicus. Fosil ini sekarang disimpan di Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi (Biopaleoantropologi), Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

JEJAK PENEMUAN -46

Pemandangan singkapan Formasi Sangiran, di sekitar Bendungan Bapang, Sangiran. Foto: Deni Sugandi.

Mata air Asin di Pablengan
Perjalanan kemudian dilanjutkan. Lokasi berikutnya yang kami tuju adalah Dusun Pablengan, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Kami diajak melihat sumber air asin yang terletak di persawahan dan kebun penduduk. Air asin itu memiliki pH 8.

“Ini disebut Pablengan. Orang sini bilang “bleng.” Air Bleng itu digunakan untuk memasak karak di Kendal. Biar awet. Sampai sekarang air Pablengan suka digunakan untuk air minum lembu,” kata Sutanto.

“Mungkin manusia purba yang hidup di sini akan ke sini bila memerlukan zat garam. Kambing dan gajah serta berbagai hewan lainnya perlu zat garam,” kata Fachroel sambil menerangkan bahwa Pablengan termasuk ke dalam Formasi Kalibeng. Formasi asalnya merupakan bagian laut yang terangkat.

Pablengan sendiri membuktikan bahwa Sangiran dulunya berupa lautan yang terhalang atau terjebak. Oleh karena itu di bagian bawah tanahnya banyak mengandung foraminifera, moluska, koral, alga, bagian atasnya bersifat breksian dengan fragmen gamping berukuran kerikil sampai kerakal, kemudian disusul endapan napal pasiran. Semakin ke atas napalnya bersifat lempungan, bagian teratas ditempati napal lempung berwarna hijau-abu kebiruan.

Selain itu, di sini pernah ditemukan fosil hewan, antara lain fosil kura-kura oleh penduduk bernama Hari Purnomo (1990) dan Mujimin (1994) menemukan rahang atas (maxilla) kuda nil (Hippopotamus).

JEJAK PENEMUAN -49

Monumen atau tugu untuk memperingati penemuan fosil manusia purba (Homo erectus) di halaman Museum Trinil, Ngawi, Jawa Timur, dengan latar belakang Bengawan Solo, lokasi penemuan tersebut. Tulisan pada tugu: P.e 175 ONO 1891/93. Foto: Deni Sugandi.

Melacak Penemuan Fosil P II di Bapang
Setelah Pablengan, kami menyambangi Bapang, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, tempat ditemukannya fosil tengkorak Pithecanthropus II (P II) yang termasyhur itu. “Itu tempat penemuan P II oleh Von Koenigswald pada 1930-an. Tengkorak P II merupakan fosil tengkorak pertama yang ditemukan di Sangiran. Lokasi persisnya mungkin bisa dilihat atau tidak, karena tergantung tinggi permukaan air,” ujar Fachroel selama berjalan kaki menuju lokasi.

Kami berjalan melalui jembatan, tanggul dan persawahan penduduk yang dialiri air yang disedot genset, menuju ke sungai itu. Alhamdulillah kebetulan air surut. Kalau air sedang besar, tempat tersebut tidak akan kelihatan. Oleh karena itu, ini kesempatan besar bagi kami untuk bisa turun ke sungai. Sampahsampah nampak menggerombol di atas pohonpohon bambu yang tumbuh di tepi sungai.

Tempat persis penemuan fosil P II sekarang sudah berada di tengah sungai, bergeser ke arah selatan karena terkikis erosi sekitar 3-5 m. Di pinggir sungai, Tanto mengisahkan seputar penemuan P II. Katanya, “Saya bisa menunjukkan ini berdasarkan cerita Mbah Tanu dan ayah saya Citro Suroto. Pokoknya ditemukannya pada tahun 1930-an, menurut Mbah saya. Tapi terkenalnya pada tahun 1936. Setelah penemuan di sini, masyarakat dihimbau oleh Von Koenigswald untuk mencari pecahan fosil yang lain. Untuk itu Von Koenigswald menyebar uang logam hampir satu keresek. Itu disebar di parit atau gununggunung, agar penduduk menemukan potongan fosil lainnya. Kalau ada dapat disuruh menyerahkannya ke Von Koenigswald. Setelah itu semuanya ditampung di rumah Mbah Toto Marsono, lurah Desa Krikilan.”

Secara morfologi, tengkorak P II sangat mirip dengan tengkorak di Trinil (P I). Sampai sekarang tidak ada yang meragukan bahwa tengkorak itu memang Pithecanthropus, sehingga fosil ini menjadi fosil tengkorak kedua yang ditemukan di Indonesia.

JEJAK PENEMUAN -51

Lokasi penemuan P VIII di Pucung saat ini. Foto: Deni Sugandi.

Pucung Tempat Penemuan Fosil Tengkorak P VIII
Perburuan situs penemuan fosil tidak berhenti hari itu. Sebelum meneruskan perjalanan, kami singgah dulu di rumah Sutanto, sekaligus toko kerajinan dari bebatuan. Kini dia mempunyai tiga toko kerajinan yang ada di Desa Krikilan. Menurut Sutanto, ia belajar membuat kerajinan itu sejak kecil secara otodidak. “Justru pertama kali saya yang membuat kerajinan di sini. Inisiatif sendiri,” ujar Tanto.

Setelah singgah, kami melanjutkan perjalanan ke situs Pucung yang berada di Dusun Pucung, Desa Dayu, Kecamatan Gendangrejo, dan masih ditemani Sutanto. Tim The Indonesia-Japan Joint Research Project (CTA-41) pernah melakukan penggalian pada 1978. Lokasinya sekitar 50 m sebelah timur tempat penemuan fosil P VIII (ada juga yang menulis: P-VIII) atau disebut juga Sangiran 17. Mereka ketika itu berupaya menemukan lokasi fosil mamalia dan menetapkan posisi stratigrafi untuk tengkorak P VIII.

Untuk menjangkau situs tersebut, kami harus melalui perkebunan milik penduduk. Situsnya sendiri ada di tebing, yang di bawahnya sudah ditanami kacang tanah. Fosil P VIII ditemukan pada 13 September 1969 oleh Tukimin, penduduk setempat yang sedang membuka lahan untuk kebun. Kata Fachroel, “Tukimin tidak sengaja menemukannya. Di sini biasa kan orang mengolah kebun pakai linggis, bukan pakai pacul. Kemudian ketika cukil-cukil tanah itu linggis Tukimin mengenai tengkorak P VIII.”

Setelah ditemukan, fosil itu dibawa ke Direktorat Geologi (sekarang Pusat Survei Geologi) di Bandung oleh Citro Suroto, ayahnya Sutanto dengan Mbah
Tanu. Sementara linggis yang digunakan Tukimin itu kini menjadi milik Fachroel Aziz, sebagai buah tangan dari Tukimin.

JEJAK PENEMUAN -53

Foto lama hitam-putih, diperkirakan tahun 1920-an, memperlihatkan lokasi penemuan Manusia Jawa oleh Eugene Dubois di Bengawan Solo, Trinil. Foto: Deni Sugandi atas foto koleksi Fachroel Aziz.

Fosil P VIII merupakan satu-satunya fosil tengkorak hominid yang paling lengkap yang pernah ditemukan di kawasan Asia dan sangat menarik perhatian ilmuwan dunia. Nama ilmiahnya adalah Homo erectus (semula dinamakan Pithecanthropus erectus) dengan kode atau nama fosil P VIII yang berarti temuan fosil tengkorak Pithecanthropus yang ke-8. Nama lainnya adalah S17 yang berarti temuan fosil manusia purba di Sangiran yang ke-17. Fosil ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1971 oleh S. Sartono sebagai P-VIII. Umurnya sekitar 800.000- 700.000 tahun dengan volume otaknya 1.029 cc. Fosil asli P VIII disimpan di Museum Geologi, Badan Geologi, KESDM.

Sambungmacan, Lokasi Fosil Sm1-Sm4
Hari kedua penelusuran lokasi penemuan fosil, kami habiskan untuk menyambangi Sambungmacan, Trinil, dan Widodaren. Lokasi pertama yang kami datangi adalah Sambungmacan di Desa Cemeng.

Penemuan fosil hominid di Sambungmacan ada di dua lokasi, yaitu di Desa Cemeng (Sambungmacan Cemeng) dan Desa Drojo (Sambungmacan Kanal). Sebelum memasuki lokasi Sambungmacan Cemeng, kami singgah dulu di rumah Darsono (63 tahun). Dulu, selain berprofesi sebagai koordinator penggalian pasir, Darsono menjadi kolektor lokal fosil yang  ditemukan dalam kegiatan penggalian pasir. Ia juga berjasa memberikan informasi temuan fosil Homo erectus Sambungmacan 4 (Sm4) pada tahun 2001 kepada Fachroel Aziz. Sm4 merupakan tengkorak Homo erectus dengan preservasi (pengawetan) terbaik sehingga struktur morfologi bagian lunak bisa diamati atau dipelajari dengan baik. Kini Sm4 menjadi koleksi Museum Geologi, PSG, Badan Geologi.

JEJAK PENEMUAN -54

Lokasi penemuan Manusia Jawa oleh Eugene Dubois, tahun 1920 di Bengawan Solo, Trinil, Jawa Timur saat ini. Foto: Oman Abdurahman.

Tempat penemuan Sm4 itu berada di tengah Bengawan Solo yang termasuk Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. Untuk sampai ke sana, kami menggunakan rakit. Di pinggir sungai, terlihat pasir-pasir yang dikumpulkan dan ada orang yang sedang menambang pasir menggunakan perahu kecil. Padahal, air sungainya hitam legam karena polusi air dari industri di hulunya. Terlihat sampah-sampah menghiasi pohon bambu yang tumbuh di sepanjang tanggul sungai, sebagai tanda bahwa air sungai bisa meluap tinggi melebihi tanggul. Di pinggir sungai itu, selama 15 menit saja, kami banyak menemukan kepingan fosil. Di antaranya ada fosil tulang belakang kerbau (Bubalus sp).

“Darsono,” kata Fachroel, “Orang yang juga menelepon saya pada 15 September 2008. Ia memberitahu saya bahwa dalam kegiatan penggalian pasir, salah seorang penggali telah menemukan tengkorak manusia yang aneh. Untuk itu, saya dan Iwan Kurniawan melakukan pengamatan antara 18- 19 September 2008.”

Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa tengkorak manusia itu lengkap, bentuknya bulat, dahinya berkembang baik yang merupakan ciri Homo sapiens, tulang tengkoraknya (cranial vautl) tipis. Pada rahang atas masih tertanam 3 buah gigi sebelah kiri dan 4 buah gigi sebelah kanan. Kata Fachroel, “Fosil itu secara umum dapat disimpulkan sebagai tengkorak Homo sapiens yang umur hidupnya sekitar 35 tahun, mengalami kelainan patologi, yaitu kanker tulang.”

Masih di Desa Cemeng, di lokasi yang tidak jauh dari tempat ditemukannya fosil Sm4, sebelumnya (sekitar tahun 1998) penduduk setempat menemukan fosil tengkorak Homo erectus yang diberi kode Sm3. Tengkorak ini tersimpan di Laboratorium Biopaleoantropologi UGM, Yogyakarta.

JEJAK PENEMUAN -55

Darsono (topi hitam) sedang mengawasi proses penggalian di lokasi temuan Sm4, Desa Cemeng, Sambungmacan, Sragen. Foto: Fachroel Aziz.

Dari situ, kami kemudian bergerak menuju situs Sambungmacan kedua yang berada di Desa Drojo, kl.4 km dari Desa Cemeng, tempat ditemukannya fosil Sm1 dan Sm2. Di dasar kanalnya, pada September 1977, Tim Riset Gabungan Indonesia-Jepang (CTA- 41) menemukan fosil Sambungmacan 2 (Sm2) berupa potongan tulang kaki atau tulang kering (tibia) bagian tengah sebelah kiri. Panjangnya 10,5 cm. Berdasarkan analisis flourine, tim memperkirakan bahwa fosil tersebut berasal dari lapisan Formasi Kabuh.

Sm2 melengkapi Sm1 berupa sebuah tengkorak yang ditemukan oleh penduduk saat awal pembuatan kanal Drojo. Kanal ini digali untuk mengatasi banjir dari Bengawan Solo. Fosil Sm1 sekarang berada Laboratorium Biopaleoantropologi UGM, Yogyakarta.

“Belum ada kesepakatan mengenai endapan di kanal Drojo ini. Ada yang menyebutnya (bagian dari formasi-red) Kalibeng, yang kemudian menerus ke Pucangan dan Kabuh. Tapi Pucangan-nya tidak tersingkap. Dulu di sini ada pulau dan ada singkapan batulempung yang dianggap bagian dari Formasi Pucangan, tapi sekarang sudah tererosi. Di situ ada tuf sehingga orang menganggap ini bagian dari Kabuh. Kalau Bengawan Solo naik airnya, bagian ini tidak akan terlihat,” ujar Fachroel, sambil menunjukkan kanal yang biasanya, ketika air sedang besar, tidak bisa dilalui orang. Waktu kami mendatanginya, kanal itu sedang surut.

Trinil dan Temuan Pertama Fosil Tengkorak Manusia Purba
Setelah Sambungmacan di Jawa Tengah, kami menuju Museum Trinil di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Museum yang menempati areal tanah 2,5 ha itu terletak 15 km dari Kota Ngawi. Tepatnya di Dusun Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

JEJAK PENEMUAN -56

Panorama sungai Bengawan Solo dari Desa Cemeng, Sambungmacan, Kabupaten Sragen. Foto: Deni Sugandi.

Pendiriannya tidak lepas dari jasa Wirodihardjo (Wirobalung), penduduk setempat. Dia berjasa karena berinisatif mengumpulkan fosil yang sering dijumpai di tepi Bengawan Solo sejak 1967. Fosil-fosil tersebut dikumpulkan di rumahnya, bahkan hampir mengisi sepertiga rumahnya. Kemudian antara 1980- 1981 Pemda Ngawi mendirikan museum mini untuk menampung koleksi fosil Wirodihardjo. Pada 1983, Fachroel bersama Leinders dari Utrecht University melengkapi museum ini dengan replika fosil geraham, tengkorak, dan tulang paha Pithecantrophus erectus yang ditemukan Dubois pada 1891-1893. Bertepatan dengan peringatan 100 tahun penemuan Pithecantrophus erectus oleh Eugene Dubois, Museum Trinil diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Soelarso pada 20 November 1991.

Penggalian Trinil oleh Dubois antara 1890-1900 berada di perbatasan tiga desa yakni Desa Kawu di sebelah Selatan, Desa Ngancar di bagian Timur, dan Dusun Pengkol Desa Gemarang di bagian Barat. Di sini ditemukan fosil manusia purba pertama yang dinamakan Pithecantropus erectus oleh Dubois (1894). Untuk memperingati penemuan ini didirikan sebuah monumen yang bertuliskan,“P.e. 175M. ONO. 1891/1893” atau “P.e.=Pithecantropus erectus, 175 m jarak dari monumen ke lokasi temuan, ONO= Oost Noord Oost (timur – timur laut) arah ke lokasi temuan dari monumen tersebut, 1891/1893 tahun temuan.”

Tengkorak (Trinil 2) ditetapkan sebagai holotype Pithecantropus erectus atau sekarang dikenal sebagai Homo erectus. Sedangkan lokasi temuannya ditetapkan sebagai type locality atau lokasi tipe dari Homo erectus.

JEJAK PENEMUAN -57

Penggali pasir di sungai Bengawan Solo. Dalam penggalian pasir seperti ini tak jarang ditemukan potongan fosil. Foto: Deni Sugandi.

Widodaren, Satu-satunya Fosil Jejak Binatang Purba
Setelah Trinil, kami melanjutkan perjalanan menuju Widodaren, yang terletak di perbatasan dua desa, yaitu Dusun Bulu Dua, Desa Randu Songo dan Dusun Mangku Jayan, Desa Widodaren, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi. Daerahnya terletak di lereng utara Gunung Lawu, berupa perbukitan yang melandai ke arah utara. Lokasi ini merupakan satusatunya tempat penemuan fosil jejak binatang purba di Indonesia.

Lokasi ini ditemukan tahun 1991 oleh tim kerja sama penelitian Indonesia-Jepang bertajuk Geology of Quarternary Environment yang disponsori oleh JICA dan dilakukan eksavasi sistematis pada tahun 1993. Hasil penelitiannya diterbitkan dengan judul “Fossil Footprints” dalam Geological Research and Development Centre, Special Publication 17 (1995: 105-108).

Di sini kami menggunakan sapu lidi untuk membersihkan daun-daun dan rumput yang menutupi jejak hewan purba yang telah digali oleh tim kerja sama penelitian Indonesia-Jepang. Terlihat jelas deretan jejak-jejak kaki hewan purba. Fosil jejak kaki yang ditemukan di sini tersingkap pada tiga lapisan lahar-endapan aliran lumpur vulkanik Formasi Sidolaju (Formasi Plumutan). Jenis fauna yang diketemukan berdasarkan fosil jejak dan didukung oleh temuan beberapa fosil gigi dan tulang belulang Bovid, maka diduga jejak tersebut berasal dari Bubalus palaeokarabau atau Bibos palaeosondaicus yang berumur sekitar 500.000-250.000 tahun lalu dan dapat dikorelasikan dengan Fauna Ngandong.

JEJAK PENEMUAN -58

Titik penemuan Sm3 dan Sm4 di Cemeng, Sambungmacan, ditunjukkan pada posisi perahu. Foto: Deni Sugandi.

Menengok Bukuran (Pb Site) dan Grogolan Wetan (Tyler Site)
Di hari ketiga penelusuran jejak penemuan fosil manusia purba di Sangiran dan sekitarnya ini kami mengunjungi Jagan dan Grogolan Wetan, masih di kompleks situs manusia purba Sangiran. Dukuh Jagan, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, dikenal sebagai lokasi temuan fosil manusia purba Pithecanthropus b (Pb) atau juga dikenal sebagai Sangiran 6 dan disebut sebagai Pithecanthropus modjokertensis oleh Von Koenigswald (1950).

Sesampainya di lokasi Sangiran 6, kami berdiskusi di dekat bukit yang ditempati oleh batuan dari Formasi Sangiran atau Formasi Pucangan, tidak jauh dari lokasi Sangiran 6. Berdekatan dengan lokasi ini, pada bulan April 1996 telah ditemukan sekeping tengkorak bagian belakang (occipital). Fosil tersebut diberi kode Bu 9604 dan berukuran panjangnya kurang lebih 8 cm dan lebarnya 9 cm dari lapisan lempung hitam Formasi Sangiran (Pucangan). Temuan ini dilaporkan dalam tulisan ilmiah oleh Fachroel Aziz pada tahun 2001.

Dari Jagan kami melanjutkan perjalanan menuju Dukuh Grogolan Wetan, Kecamatan Plupuh, Sragen, yang termasyhur karena munculnya Kasus Tyler yang melibatkan temuan fosil atap tengkorak Homo erectus. Kami beruntung, sesampainya di Grogolan Wetan bertemu dengan “tokoh” yang mengetahui kasus penemuan fosil itu. Mereka adalah Sugimin (50 tahun) dan Sugih (50 tahun). Menurut Sugimin, ia dan ketiga temannya, yaitu Sugih, Slamet, dan Sutimin yang pertamakali menemukan fosil manusia purba yang sempat menghebohkan di akhir tahun 1993 itu. “Di sinilah kami menemukannya”, kata Sugimin sambil menunjuk sudut rumah di dekat sebuah tebing. Tebing itu sendiri terdiri atas batu pasir konglomeratan yang termasuk dalam Formasi Bapang (Formasi Kabuh).

JEJAK PENEMUAN -60

Singkapan Formasi Pucangan (Formasi Sangiran) pada sebuah bukit kecil di Dusun Jagan, Ds. Bukuran, Kec. Kalijambe, Kab. Sragen, tempat penemuan fosil manusia purba Pithecantropus b (Pb) atau Sangiran 6 yang dikenal sebagai Pithecantropus modjokertensis oleh Von Koenigswald (1950). Loka penemuan fosil persisnya kl 15 m di depan bukit tersebut. Foto: Oman Abdurahman.

“Saat itu kami sedang menggali pondasi rumah, tiba-tiba linggis saya mengenai sepotong tulang kepala dan setelah digali ternyata tulang itu tengkorak manusia purba”, tutur Sugimin di sudut rumah yang dulu pernah digali untuk meletakkan pondasi.

Menurut laporan majalah Tempo edisi 30 Oktober 1993, “Fosil Sangiran: Menggali atau Membeli Fosil?”, Sugimin menemukan fosil atap tengkorak Homo erectus dari Grogolan Wetan itu pada 25 September 1993. Saat itu Sugimin sedang mengikis tebing untuk memperluas rumah Marto Semito, warga Dusun Grogolan, Desa Manyarejo, Sragen. Oleh Sugimin, pada 27 September fosil itu ditawarkan ke Subur, yang dikenal sebagai kolektor lokal fosil Sangiran, sebesar Rp 425 ribu. Dari Subur, fosil itu berpindah ke tangan Donald Tyler.

Ceritanya, peneliti dari Department of Sociology & Anthropology, University of Idaho, itu hendak menghadiri seminar prasejarah di Gedung Pusat LIPI Jakarta (13-15 Oktober 1993). Sebelum seminar dia ingin mengunjungi situs purbakala di Sangiran, Jawa Tengah dan menemukan fosil tengkorak manusia purba pada 7 Oktober 1993. Untuk mengumumkan penemuannya itu Tyler menggelar konferensi pers di Hotel Ambarukmo, Yogyakarta, pada 8 Oktober 1993. Menurutnya, saat berada di Sangiran, ia mengaku mendengar ada penduduk menemukan fosil tulang manusia ketika menggali tanah. Tyler segera datang, meminta orang-orang desa itu menggali lebih lebar lagi. Pada 7 Oktober itu Tyler membawa fosil itu ke Yogyakarta setelah membayar Rp 425 ribu sebagai ongkos gali.

JEJAK PENEMUAN -61

Singkapan Batupasir konglomeratan dari Formasi Bapang (Formasi Kabuh) di Dukuh Grogolan Wetan, Ds. Manyarejo, Kec. Plupuh, Kab. Sragen. Di satu fondasi rumah yang sedang digali, sekitar 4 m di depan bukit ini, pada 25 September 1993, Sugimin, warga setempat, menemukan fosil atap tengkorak dari manusia purba Homo erectus. Foto: Oman Abdurahman.

Karena pengakuan Tyler itu kemudian menjadi kasus yang menggegerkan dunia antropologi dan palentologi Indonesia serta – barangkali karena – takut menyeretnya berurusan dengan pihak berwajib, Tyler menyerahkan fosil itu ke Museum Geologi (MG) Bandung, pada 20 Oktober 1993. Dari MG Bandung selanjutnya fosil itu diserahkan kepada pihak berwajib dan kini fosil atap tengkorak Homo erectus dari Grogolan Wetan itu disimpan di Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) Sragen.

Dari Grogolan Wetan kami menyinggahi Menara Pandang Sangiran, yang terletak di Dukuh Pagerrejo, kurang lebih 1 km sebelum masuk museum. Dari menara berlantai tiga dan menempati tanah seluas 2.170 m ini kami bisa melihat keadaan alam di sekitar Sangiran. Ya, setelah melewati beberapa anak tangga yang berliku kami sampai ke lantai paling atas. Di situ terlihat beberapa keterangan mengenai lapisan tanah tempat ditemukannya fosil purba. Dengan binokular, kami dapat meninjau hamparan sawah dan kawasan dataran rendah Sangiran dengan perbukitan di latar belakangnya.

Setelah turun, di lantai bawah yang berupa miniteater, kami disuguhi film tentang penemuan Eugene Dubois dan dokumentasi manusia purba yang ditemukan di Sangiran. Di sebelah barat atau bersebelahan dengan Menara Pandang ada Wisma Sangiran (Guest House Sangiran), berupa rumah joglo. Wisma Sangiran ini biasa digunakan sebagai penginapan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Sangiran dan peneliti yang melakukan riset di sana.

JEJAK PENEMUAN -62

Sugimin, Sugih, dan Fachroel Aziz di lokasi Tyler Site, Grogolan Wetan, Sangiran. Foto: Deni Sugandi.

Perjalanan langlang bumi selama tiga hari itu memang berakhir di titik awal kedatangan kami, yaitu di Sangiran. Dengan sedikit menyesal kami harus meninggalkan Sangiran dan kembali ke Bandung di akhir hari ketiga perjalanan. Sesal kami tiada lain karena tidak cukup waktu untuk mengunjungi “tambang” fosil lainnya yang penting terkait manusia purba dan vertebrata yang terserak di Jawa Tengah- Jawa Timur, seperti Ngandong, Kedungbrubus, Mojokerto, dan Wajak.

Banyak hal yang kami dapatkan selama melakukan perjalanan itu, terutama menyangkut perihal kekayaan fosil di Indonesia. Daerah Sangiran, Sambungmacan, Trinil, dan Widodaren menjadi bukti nyata bahwa Indonesia menjadi “tambang” penelitian paleontologi. Namun, sayangnya, perjalanan itu juga membuktikan tidak banyak yang peduli terhadap “tambang” itu. Banyak lokasi penemuan fosil yang tidak terawat dengan baik, bahkan banyak di antaranya yang tidak disertai keterangan apapun mengenai bermaknanya tempat tersebut.n Oman Abdurahman adalah Pemimpin Redaksi Geomagz Sinung Baskoro adalah Kepala Museum Geologi Atep Kurnia adalah penulis, peneliti literasi, bergiat di Pusat Studi Sunda (PSS).

Erick Setiyabudi adalah Peneliti Muda di Museum Geologi Iwan Kurniawan adalah Kepala Seksi Dokumentasi dan Konservasi, Museum Geologi
Deni Sugandi adalah dosen fotografi, Editor Foto Geomagz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>