Letusan G. Anakkrakatau 2 September 2012. Foto: Budi Brahmantyo.

Geowisata Krakatau Sejak Lampau

Untitled-8 copy

Restu Geologi untuk Pembangunan

27/09/2015 Comments (0) Esai Foto, Esai Foto, Uncategorized

Menahan Napas di Keindahan Rinjani

Kaldera dan puncak Rinjani di lihat dari Plawangan Senaru. Foto: Igan S. Sutawidjaj
Kaldera dan puncak Rinjani di lihat dari Plawangan Senaru. Foto: Igan S. Sutawidjaj

Kaldera dan puncak Rinjani di lihat dari Plawangan Senaru. Foto: Igan S. Sutawidjaj

Gunung Rinjani menjadi magnet yang menarik sekian banyak orang ke puncak dan sekitarnya. Setiap tahunnya ribuan orang baik yang berbondong-bondong datang sebagai pengunjung lokal maupun pendatang dari mancanegara ke gunung api di wilayah Nusa Tenggara Barat ini. Tapi, akhir-akhir ini ada yang membuat para pendaki yang peduli lingkungan menahan nafas sejenak di sepanjang jalur pendakian Rinjani yang indah itu.

Pada tahun 2014, jumlah pendaki Gunung Rinjani mencapai 50 ribu orang. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sekitar 200% dibanding tahun 2013 yang mencapai 24.114 orang. Rinciannya, selama April- Desember 2014, Rinjani dikunjungi 44 ribuan pendaki melalui Sembalun, Senaru, dan Timbenuh. Dengan demikian, rata-rata jumlah pendaki 5.000 orang per bulan.

Dari jumlah tersebut, pendaki mancanegara mencapai 14.463 orang, yang terdiri dari Prancis (1.179 orang), Jerman (731 orang), Belanda (630 orang), Inggris (583 orang), dan Kanada (402 orang). Tentu saja kebanyakannya adalah para pendaki yang berasal dari sekitar Rinjani dan daerah lain di Indonesia.

Rinjani dilihat dari Pos Pengamatan Gunung Api Sembalun. Foto: Heryadi Rachmat.

Rinjani dilihat dari Pos Pengamatan Gunung Api Sembalun. Foto: Heryadi Rachmat.

Ada banyak alasan di balik kunjungan yang terus berlipat ke gunung yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur dan Lombok Tengah ini. Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 m dpl adalah gunung api tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci yang berketinggian 3.800 m dpl.

Selain itu, gunung ini memiliki potensi geowisata yang sangat mumpuni, berupa panorama kaldera, danau, puncak, kawah, air terjun, mata air panas, gua, sejarah letusan, dan aliran lava baru.

Potensi-potensi itulah yang menyedot orang ke Rinjani. Tidak terkecuali para ahli gunung api yang terus tertarik dan mengulik mengenai aktivitas vulkanisme Rinjani. Kajian-kajian vulkanik Rinjani yang dilakukan sejak tahun 1999, 2002-2004 oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan ahli dari Indonesia, hingga penelitian 2012-2013 dari Universitas Sorbonne (Prancis) dan ahli dari Indonesia, membuktikan bahwa di sekitar Rinjani ditemukan bukti baru mengenai letusan yang terjadi pada abad ke-13.

Endapan piroklastik dengan lapisan batuapung di Tanahbeaq. Foto: Heryadi Rachmat.

Endapan piroklastik dengan lapisan batuapung di Tanahbeaq. Foto: Heryadi Rachmat.

Letusan yang diperkirakan terjadi pada tahun 1257 itu dikenal sebagai letusan Gunung Samalas yang terjadi di kompleks Gunung Rinjani. Menurut jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) edisi akhir September 2013, letusan Samalas berdampak global dan diduga memicu kelaparan dan kematian massal di Eropa setahun setelah letusan. Di Lombok sendiri, letusan tersebut terekam dalam naskah Jatiswara yang tersimpan
di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara.

Ketika wacana mengenai taman bumi (geopark) mulai bergulir, Rinjani menjadi pionirnya. Pada tahun 2013 akhirnya Rinjani mendapat predikat sebagai geopark nasional.

Membludaknya pendakian ke Rinjani berdampak pada serakan sampah sepanjang jalur pendakian. Sejak Januari 2015, jumlah pendaki yang masuk melalui pintu Sembalun dan Senaru mencapai lebih dari 7 ribu pendaki.

Penggalian pada endapan piroklastik Rinjani yang mengubah lahan untuk pesawahan di Tanahbeaq, sebelah timur Mataram. Foto: Heryadi Rachmat.

Penggalian pada endapan piroklastik Rinjani yang mengubah lahan untuk
pesawahan di Tanahbeaq, sebelah timur Mataram. Foto: Heryadi Rachmat.

Memang ada himbauan dan upaya dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) untuk menangani sampah, salah satu caranya memberikan kantong plastik kepada para pendaki sebagai tempat sampah dan selanjutnya membawanya kembali ke bawah. Namun, kebanyakan pendaki tidak membawanya lagi, melainkan dibuang saat perjalanan turun gunung. Jelaslah, pada benak kebanyakan para pendaki itu tidak tertanam kesadaran untuk bersih lingkungan. Sementara pendaki yang lain yang peduli terhadap kebersihan mengeluhkan kondisi tersebut, sehingga mengajukan gagasan penghentian penjualan tiket masuk ke Rinjani.

Sampai kapankah kita harus menahan napas di Rinjani, sementara sampah terus mengepung di sepanjang jalan pendakian? Mungkin suatu saat nanti, saat kita menyambangi lagi Rinjani, saat kesadaran orang terhadap kebersihan lingkungan Gunung Rinjani sudah terpatri dalam hati, pikir, dan tindakan. (Heryadi Rachmat dan Atep Kurnia)

Heryadi Rachmat adalah perekayasa utama di Museum Geologi, Badan Geologi.
Atep Kurnia adalah staf redaksi Majalah Geomagz.

Untitled-105 copy

Tebing Pantai Luk yang disusun oleh endapan piroklastik hasil letusan Rinjani 1257 yang mencirikan adanya proses pengendapan awan panas yang masuk ke laut. Foto: Heryadi Rachmat.

Untitled-106 copy

Limbah sampah yang dibuang oleh pengunjung. Foto: Heryadi Rachmat.

 

 


 

 

Untitled-107 copy

Area perkemahan di tepi danau kaldera Segaraanak yang kotor. Foto: Koleksi Heryadi Rachmat.

Untitled-108 copy

Pendaki bertanggung jawab membawa pulang sampah setelah pendakian saat dicek secara acak. Foto: Heryadi Rachmat


 

Untitled-110 copy

Wisatawan asing memungut sampah. Sumber: mybackpacker.com

Untitled-109 copy

Sampah yang dibawa turun kembali oleh pendaki. Foto: Heryadi Rachmat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>