Untitled-1

Indonesia dalam Lingkaran Api

imege

Geomagz Vol. 6 No. 1

27/01/2016 Comments (0) Esai Foto, Esai Foto, Uncategorized

Mempertalikan Barelang

Untitled-1
Jembatan Barelang. Foto: Gunawan.

Jembatan Barelang. Foto: Gunawan.

Meski berstatus kota industri, Batam dan sekitarnya, yaitu kawasan Batam-Rempang- Galang (Barelang), memiliki lokasi wisata seperti Pantai Mirota, Pantai Melayu, Pantai Sembulang, Camp Vietnam, dan Pantai Melur. Pemukiman dan aktivitas industri yang tak mengindahkan daya dukung lingkungan setempat, dapat mengancam keberlangsungan Barelang.

Pulau Batam dengan Singapura hanya dipisahkan selat selebar 15 km. Di sini ada lima pelabuhan yang dapat menghubungkan Pulau Batam dengan Johor dan Singapura. Jarak yang dekat dengan waktu tempuh yang singkat, menjadi daya tarik untuk melakukan perjalanan. Dan, tentu, perjalanan itu harusnya dilakukan dari Johor dan Singapura ke Pulau Batam, bukan sebaliknya.

Inilah ikon Kota Batam, Jembatan Barelang yang aslinya bernama Jembatan Fisabilillah, bagian dari enam jembatan penghubung di Kepulauan Riau. Foto: Ronald Agusta

Inilah ikon Kota Batam, Jembatan Barelang yang aslinya bernama Jembatan Fisabilillah, bagian dari enam jembatan penghubung di Kepulauan Riau. Foto: Ronald Agusta

Itulah tantangannya. Bagaimana membangun Kota Batam dan kawasan pendukungnya menjadi daya tarik tujuan wisata Asia? Bagaimana membangun kota yang ramah lingkungan, dinaungi pepohonan, yang suasananya, alamnya, budayanya, berbeda dengan yang ada di negara asalnya, sehingga wisatawan akan berdatangan dan merasa nyaman? Sebab, naluri dasar wisatawan adalah pergi ke suatu kawasan yang berbeda dengan apa yang ada di negaranya.

Itu tantangan utama pembangunan Batam, juga pulaupulau lainnya yang berdekatan seperti Rempang dan Galang – ketiganya kini populer disebut kawasan “Barelang” – bila kawasan ini dirancang menjadi tujuan wisata. Dengan suhu rata-rata 26,2° C – 28,4° C, tanpa penataan kawasan dengan pepohonan yang rindang, wisatawan ke kawasan ini hanya akan betah berada di dalam hotel yang suhunya dapat disesuaikan.

Gerbang jembatan Barelang. Foto: Priatna.

Gerbang jembatan Barelang. Foto: Priatna.

Dari sisi kebumian, pulau-pulau yang tersebar di Kepulauan Riau, seperti Barelang, merupakan bagian dari paparan kontinental yang telah mengalami erosi dari daratan Pra Tersier, membentuk pulau-pulau besar dan kecil yang kini dihubungkan dengan laut. Sementara keadaan permukaan tanah di Kota Batam pada umumnya datar dan bergelombang dengan bukit-bukit kecil berketinggian maksimum 160 m dpl. Sungai-sungai kecil mengalir pelan.

Oleh karena itu, pembangunan di pulau kecil seperti Barelang harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Bila pembangunan dilakukan seperti saat ini, masa depan kawasan ini sangat dipertaruhkan, terutama masalah air. Semula, kawasan ini terjaga keseimbangan ekologisnya karena perbandingan antara luas hutan dengan kawasan terbangun masih sangat baik, yaitu ketika perbukitan, lahan basah, rawa, dan kebun, keadaannya masih sangat terjaga.

Perahu melintas di bawah jembatan Barelang. Foto: Priatna.

Perahu melintas di bawah jembatan Barelang.
Foto: Priatna.

Namun, kenyataan berkata lain. Investasi yang pesat di Kota Batam berdampak besar terhadap melonjaknya harga tanah. Pabrik dan pertokoan berkembang sangat pesat, sehingga menjadi gula bagi penduduk di luar pulau ini untuk mengadu peruntungan di sini. Jumlah penduduknya pun terus melesat. Para pendatang baru itu banyak yang tidak mampu untuk menyewa atau membeli rumah, sehingga mereka menyerbu lereng-lereng bukit untuk mendirikan rumah-rumah sementara di sana.

Akibatnya, luasan hutan semakin menyusut. Hal ini berarti daerah tangkapan hujan pun semakin menyempit seiring dengan tingginya pertumbuhan kota. Untuk mendapatkan lahan, maka perbukitan pun diratakan, sehingga tanah pucuk di atas dijadikan tanah untuk mengurug lahan yang lebih rendah di bawahnya.

Keadaan inilah yang paling menghawatirkan, sebab air di alam mempunyai hukumnya sendiri. Bila tanpa usaha nyata untuk menata pulau-pulau kecil ini dengan ramah lingkungan, maka air bersih bagi warga kota dan wisatawan akan menjadi masalah.

Jembatan Barelang dari sisi yang lain. Foto: Ronald Agusta. Foto: Deni Sugandi

Jembatan Barelang dari sisi yang lain. Foto: Ronald Agusta. Foto: Deni Sugandi

Kerusakan karena pembangunan di sempadan pantai pun tak jauh berbeda dengan di darat. Ekosistem pantai dengan hutan bakau, rawa, kebun, hutan sekunder, dan hutan primer, menjadi terganggu, padahal sangat berarti bagi keseimbangan ekologis, dan menjadi habitat bagi satwa. Perairan lautnya, secara umum merupakan ekosistem perikanan yang dipengaruhi arus dari Samudera Hindia yang melewati Selat Malaka, dan arus dari Laut Cina Selatan. Kawasan ini merupakan daerah yang subur bagi macam-macam jenis ikan.

Kehancuran pantai yang secara sistemik berdampak menurunkan daya dukung lingkungan itu bukan hanya diakibatkan oleh para investor, tapi juga oleh kegiatan penduduk. Selain rumah-rumah liar yang terus merangsek ke atas perbukitan, pantai-pantai pun sudah mengalami tekanan ekologis yang berat.

Pemandangan perbukitan sampai ke laut lepas di kawasan Barelang. Foto: Deni Sugandi

Pemandangan perbukitan sampai ke laut lepas di kawasan Barelang. Foto: Deni Sugandi

Batu kapur atau batukarang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan bangunan. Di sisi lain, terumbu karang adalah tempat berkembang-biaknya ikan, juga salah satu daya tarik pariwisata. Dengan demikian, pembangunan wilayah pesisir dan laut kawasan Barelang harus sangat hati-hati, sebab pantai-pantai itu termasuk dalam kawasan yang rawan banjir, dan abrasi, pada musim-musim tertentu juga rawan gelombang pasang.

Selepas mentari berpamitan, kelap-kelip lampu berganti menghiasi jembatan Barelang. Foto: Gunawan

Selepas mentari berpamitan, kelap-kelip lampu berganti menghiasi jembatan Barelang. Foto: Gunawan

Pembangunan kawasan Barelang saat ini perlu penataan ulang, agar menjadi kawasan yang alamnya, suasananya, keteduhan dan kenyamanannya lebih baik dari negara asal wisatawan. Bila kekeliruan dalam pembangunan yang menghancurkan lingkungan itu dibiarkan, sesungguhnya perkembangan kota dan wilayah di ketiga pulau tersebut sedang menggali kuburnya sendiri. (T. Bachtiar dan Oman Abdurahman)

T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia (MGI) dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Oman Abdurahman adalah Kepala Museum Geologi, Badan Geologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>