jeju1

Bercermin ke Jeju

Kemilau Pagi-43

Kemilau Pagi di Tengger

28/01/2014 Comments (0) Langlang Bumi

Memburu Letusan Sinabung

Untitled-39
Untitled-39

Kepulan putih letusan Sinabung mengarah ke timur. Foto: Ronald Agusta.

Sinabung pada 2013 meletus lagi. Berdasarkan laporan dari petugas resmi di PVMBG, Badan Geologi, status Sinabung dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga pada 15 September 2013 yang sempat diturunkan kembali menjadi Waspada pada 29 September dan naik kembali menjadi Siaga pada 3 November 2013. Pada 24 November 2013 status Sinabung dinaikkan lagi dari Siaga menjadi Awas (level IV, tertinggi) hingga akhir Desember 2013. Beberapa letusan cukup besar yang ditandai dengan lama letusan lebih dari 10 menit atau tinggi kolom abu mencapai lebih dari 1000 meter, kadang disertai lontaran awan panas pada periode Awas ini terjadi pada 24, 25 dan 26 November 2013, dan 25, 30, dan 31 Desember 2013. Tulisan langlang bumi ini merupakan hasil liputan penulisnya pada 28 Oktober hingga 1 November 2013 saat status Sinabung masih Waspada. Selamat membaca!.

Gunung Sinabung meletus lagi akhir Oktober 2013. Inilah letusan kedua gunung api di Tanah Karo itu setelah letusan pertama pada tahun 2010 dan mengubah statusnya dari gunung api aktif tipe B menjadi tipe A. Tim Geomagz memburu Sinabung antara Senin-Jumat, 28 Oktober-1 November 2013. Perburuan tersebut bermaksud untuk menangkap momen letusan Sinabung melalui kamera dan berdiskusi dengan petugas pos Pengamatan Gunung Api (PGA) di seputar letusan yang terjadi. Sekelumit hasil perjalanan itu disajikan dalam “Langlang Bumi” kali ini.

Untitled-40

Petani menyaksikan letusan. Foto: Ronald Agusta.

Menuju Pos PGA Sinabung
Senin, 28 Oktober 2013, pukul tujuh malam yang dingin, dengan menggunakan angkutan pedesaan, saya dan ahli gunung api Syamsul Rizal Wittiri, mengunjungi pos PGA Sinabung di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpangempat, Kabupaten Karo. Saat di perjalanan, pengemudi sempat bercanda bahwa ingin rasanya Sinabung itu dibom, agar meletus sekali saja. “Tidak berulang-ulang, karena jika berulang-ulang dapat merusak mata pencaharian,”
ujarnya sambil tersenyum.

Kira-kira setelah dua puluh menit perjalanan dari Berastagi, kami berhenti di Simpangempat, dan selanjutnya dijemput menuju PGA. Hanya sekitar lima menit berkendara dari Simpangempat, kami tiba di pos PGA Sinabung. Di pos, selain tiga pengamat, ada lima anggota Tim Tanggap Darurat Gunung Sinabung yang dikirim PVMBG, Badan Geologi, dari Bandung. mTerhimpunlah data dan analisis tentang Sinabung untuk liputan esok harinya.

Esoknya, pukul delapan di pagi yang cerah, kami meluncur kembali ke PGA Sinabung. Di tengah perjalanan, kami sempat mengabadikan gunung dengan kepulan putih yang mengarah ke timur dengan latar depan kebun jeruk. Di pelataran lantai tiga PGA, Sinabung diabadikan dari kejauhan. Langit begitu biru saat itu. Petugas pos terlihat di depan komputer dan seismograf.

Rekahan di Lau Kawar
Ditemani Armen Putra, pengamat Gunung api Sinabung, Tim Geomagz meluncur ke Lau Kawar, danau di sisi barat laut Gunung Sinabung di Kecamatan Namanteran. Di sini ada rekahan yang cukup panjang di sisi gunung yang berhadapan langsung dengan Lau Kawar. Kawanan kerbau berlatar belakang Sinabung terlihat. Demikian pula rombongan anak sekolah yang diliburkan sedang menyusuri Lau Kawar.

Geomagz-V3N4 progress28Jan2014 hires spread 036Dari situ, kami menuju bukit di antara Lau Kawar dan Gunung Sinabung, untuk mengabadikan rekahan dan longsoran di lereng gunung. Tampak asap mengepul-epul. “Bila batuan dan tanah di lereng tak kuasa lagi menahan semburan uap panas dari dalam gunung, maka materialnya bisa menghambur ke arah danau,” ujar Armen.

Di bukit itu ada sebuah warung. Penunggu warung dan Almada Sitepu (35) yang menggendong anak terus memandang ke arah gunung. Almada, guru bahasa Inggris dan Jepang SMP Satu Atap yang sekolahnya diliburkan itu bertutur, Sabtu (26/10), menjelang matahari terbenam, ketika Sinabung meletus hingga mengepulkan abu sejauh lima kilometer ke atas, ia sedang menggendong anaknya di dalam rumah.

“Tiba-tiba terasa gempa, lalu aku segera ke luar rumah. Getarannya bukan main, gruduk-gruduk suaranya besar sekali. Lalu aku turun ke halaman, kujumpai nenek-nenek yang langsung memegang tangan aku. Gemetar dia!” ujarnya mengulang pengalamannya.

Kata Almada, “Menurutku, gara-gara gempa belakangan ini, gempa Aceh, terus gempa Nias. Gempa Nias itu, Pak, pas kami sedang duduk di kedai kopi. Cangkir sampai melompat setinggi ini. Itulah Pak, menurut kami yang memicu dia, bergeser lapisan tanah itu, membuat gunung ini aktif kembali,” sambungnya sambil merekahkan jempol dan telunjuk sekitar enam sentimeter, menceritakan mengapa Sinabung meletus.

Meletus Lagi
Baru sekitar sepuluh menit meninggalkan bukit di antara Lau Kawar dan Sinabung, di daerah Sigaranggarang, tiba-tiba Armen yang duduk di kursi belakang mengangkat ponselnya. Petugas pos di ujung telepon mengatakan ada letusan baru, di daerah barat. Kami menengok ke arah jendela kanan kendaraan, tapi letusan itu tak terlihat.

Untitled-42

Danau Lau Kawar, sisi barat laut Gunung Sinabung. Foto: Ronald Agusta.

Perjalanan dilanjutkan untuk mengejar letusan sampai ke Sukanalu. Tetapi masih tak terlihat. Armen menyarankan untuk berbelok ke kanan memotong jalan ke Simacem. Mengikuti jalan desa di lereng yang terdekat dengan puncak, dari arah utara ke selatan mengitari gunung, kami mengikuti saran Armen. Benar saja, sesampainya di daerah Bekrah, kepulan abu letusan terlihat jelas. Tengah hari itu, kami kemudian berhenti di depan sebuah gereja yang berornamen adat Karo. Kengerian berkecamuk, saat melihat letusan dari jarak yang cukup dekat.

Tim Geomagz kemudian mengitari lereng gunung di daerah Bekrah, hingga bertemu bukaan lahan yang cukup jelas untuk melihat letusan dari jarak yang lebih dekat. Banyak batuan berserakan di sekitar itu. Sekitar seratus meter dari situ, terlihat petani sedang menyaksikan letusan Sinabung.

Perburuan terus berlanjut ke arah selatan hingga menemui bekas longsoran lahar dingin, sisa letusan Sabtu lalu, yang sudah dibersihkan dari badan jalan di daerah Sukameriah, Kecamatan Payung. Tampak truk pengangkut material yang dimuntahkan Gunung Sinabung, masih bekerja di tengah letusan siang itu. Sekitar pukul satu siang, letusan terlihat berhenti, meninggalkan abu hitam di awan, yang tertiup angin ke arah barat daya.

Setelah makan siang di daerah Sukameriah, kami melanglang Desa Mardinding, yang terletak di barat daya lereng Sinabung, Kecamatan Payung. Rumahrumah panggung berdinding papan ala adat Karo terlihat banyak di desa ini. Di bawah dinding gunung, ada pula danau kecil, yang dipakai sebagai sumber air bagi warga desa. Desa ini begitu tenang, tak tampak kepanikan, walaupun Sinabung baru saja meletus. Rupanya debu letusan belum hinggap di sana.

Untitled-43

Menutup mulut dengan masker. Foto: Ronald Agusta.

Sejak di Mardinding, kami memutuskan untuk melalui Tiga Pancur, yaitu ketinggian di perbukitan, titik pandang yang jelas ke Sinabung. Dari ketinggian inilah saya melihat betapa suburnya Tanah Karo. Di puncak bukit itu ada sebuah warung di tepi lembah.

Pemiliknya bernama Anto, berasal dari Pulau Jawa. Ia menyajikan kopi khas tanah Karo.

Cukup lama kami bertiga di Tigapancur menikmati hembusan angin pegunungan sambil menyaksikan Sinabung yang berdiri kokoh. Sekitar pukul empat sore, barulah Tim Geomagz beranjak meluncur ke pos PGA Sinabung.

Menjelang matahari tenggelam, sekembali ke penginapan di Berastagi, Anto pemilik warung di Tigapancur, menelepon saya. Katanya, ada letusan baru. Karena hari sudah gelap, kami memutuskan kembali lagi ke sana esok pagi, untuk meliput desadesa yang yang dihujani abu vulkanik.

Reaksi Warga
Rabu, 30 Oktober 2013. Pagi-pagi benar, kami langsung meluncur ke Tigapancur. Sekitar pukul tujuh pagi, saya dan Syamsul telah berada di warung, pinggir lembah yang berhadapan langsung dengan Sinabung. Di puncak gunung tampak kepulan abu berwarna putih masih membubung ke langit. Langit cerah. Kata Anto, menjelang pukul empat dini hari, terjadi letusan yang cukup lama dan besar, sehingga abunya masih terlihat.

Anto melanjutkan, “Akibatnya, Desa Batukarang, di Kecamatan Payung, dihujani abu. Bila ingin ke sana, Bapak tinggal mengikuti jalan ini menuruni lembah. Saat ada persimpangan, ambil jalan yang ke kiri. Ikuti jalan itu terus, nanti bakal tiba di Desa Batukarang.”

Saya dan Syamsul memutuskan segera meluncur ke sana. Jalanan menurun, meliuk-liuk tajam, persimpangan jalan yang ditunjuk Anto terlihat. Setelah berbelok ke kiri, tiba-tiba di depan banyak orang berhamburan ke luar rumah, menghalangi jalan. Seorang di antaranya menunjuk-nunjuk ke langit. Kami pun mendongak, kepulan abu membubung ke langit. Ya, pagi itu sekitar pukul delapan lebih, Sinabung meletus lagi. Segera kendaraan saya hentikan dan mencari lahan parkir di jalanan yang sempit itu.

Untitled-44

Mengabadikan letusan dari jarak dekat. Foto: Ronald Agusta.

Dengan sedikit berlari untuk mendekat, kami mengabadikan reaksi warga desa terhadap letusan itu. Ada warga yang segera menutup mulutnya dengan masker. Ada pula yang menutup rambutnya dengan sarung. Sapi yang termangu seolah mencium bau kepulan abu vulkanik. Petani yang terpaku diam melihat kebunnya diselimuti abu. Seorang ibu segera mengeluarkan kedua anaknya dari rumah sambil mengacungkan lengan menunjuk langit. Dua perempuan segera keluar dari gudang penyimpanan hasil panen. Ada pula lelaki yang tetap mencuci kendaraan dari abu dini hari seolah tak peduli pada datangnya letusan baru.

Setelah itu, Geomagz kembali bergerak meluncur lurus di jalanan berdebu ke Desa Batukarang. Di sana pun beragam reaksi warga yang kami rekam, seperti petani yang tetap membajak tanah yang warnanya telah berubah bercampur abu vulkanik.

 Petani yang menunjukkan pada kami, tanaman cabai yang nyaris mati. Seorang ibu yang sedang menjemur bawang merah di tempat yang lebih teduh agar terlindungi dari abu. Seorang anak sedang membantu ibunya menyiram cabai. Juga petani yang tetap menyemprotkan antihama pada tanaman yang sudah kecoklatan.

Sampai tengah hari kami berada di Desa Batukarang, di barat daya Sinabung. Dari situ, kami pun beranjak ke dataran tinggi Tigapancur. Di tengah perjalanan ke selatan itu, terlihat pemandangan kontras dengan Desa Batukarang, yaitu hamparan huma dan kebun yang hijau bersih tergelar. Arah angin memang tidak dapat diduga, kadang berhembus ke barat daya, dan mungkin suatu ketika angin bisa berhembus ke sini, ke selatan, mengantarkan abu vulkanik.

Siang itu kami beristirahat di warung Anto dan tetap waspada. Menjelang sore, Geomagz mampir kembali ke PPGA. Di Desa Surbakti, kami melihat jejeran petani sedang memanen bawang daun. Mereka bersimpuh duduk di tanah, memilah-milah daun bawang, sambil bernaung di bawah payungpayung yang berwarna-warni. Mereka bekerja seakan berkejaran dengan waktu. Setelah mampir ke PPGA Sinabung, menjelang mentari tenggelam, kami kembali ke Berastagi.

Kembali ke Lau Kawar
Kamis pagi, 31 Oktober 2013, setelah dua hari meliput Sinabung, kami memutuskan untuk mengunjungi Gunung Sibayak, berjarak sekitar 20 kilometer ke arah timur Berastagi. Inginnya dapat melihat Sinabung dari ketinggian Sibayak. Tapi apa daya, kabut pagi itu cukup tebal sehingga pandangan tidak jelas. Kawah Sibayak hanya terekam di sela-sela kabut.

Geomagz-V3N4 progress28Jan2014 hires spread 039Dari Sibayak, kami mengunjungi Bukit Gundaling di Berastagi. Konon dari atas bukit yang banyak dihiasi bangunan bekas penjajah Belanda, dapat melihat Sinabung dengan jelas. Ternyata di sana pun kabut masih bersimaharajalela, sehingga Sinabung tidak terekam jelas dari sana.

Menjelang tengah hari, kami meluncur ke PPGA Sinabung. Di sana kami bertemu dengan ahli gunung api Indyo Pratomo, yang menyempatkan diri dari Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IAGI di Medan untuk mengunjungi pos pengamatan di Tanah Karo ini. Setelah makan siang, ditemani Indyo, kami mengunjungi Lau Kawar, untuk melihat lagi rekahan Sinabung yang cukup panjang menganga dan mengepulkan asap dari lerengnya. Namun, sayang, kabut belum menghilang, sehingga lereng gunung tak terlihat.

Hari hampir sore. Kami beranjak lagi meninggalkan Lau Kawar. Sekitar lima belas menit perjalanan, di pinggir jalan di Desa Naman, Kecamatan Namanteran, sekumpulan ibu-ibu berkerumun di depan kantor koperasi. Mereka adalah para pengungsi dari Desa Gurukenayan, Sukameriah, Bekrah, Simacem, Sukanalu, Sigaranggarang, Kutagugung, dan Desa Kutaraya.

“Kami disuruh mengungsi oleh pemerintah daerah, kadang malam kadang siang, karena kalau hujan lebat bisa longsor,” ujar seorang ibu di tempat pengungsian. “Jantung kami sudah lemah semua, tadi siang kami lari dari ladang jam dua belas, karena kami diberi kabar untuk waspada, untuk mengosongkan kampung,” sambungnya. Siang itu padi, kentang, jagung, tomat, cabe, kopi, dan jeruk milik mereka sudah rusak semua.

Pulang dan Harapan
Jumat, 1 November 2013, pukul enam pagi, kami meninggalkan Sinabung untuk kembali ke Bandung. Karena khawatir Sinabung meletus lagi lebih besar, kami menyusuri jalan antara Berastagi-Medan. Namun, hamparan tanah yang dipenuhi pepohonan hijau dan pemandangan yang indah di sepanjang perjalanan pulang ini kerap mengenyampingkan kekhawatiran itu dan memunculkan harapan.

Ya, harapan agar bencana segera berlalu. Semoga tidak terjadi letusan yang lebih hebat. Semoga tidak ada korban bila terjadi longsor atau banjir lahar dingin yang menerjang kampung dan ladang. Semoga pula abu vulkanik yang menghambur itu dapat lebih menyuburkan dataran tinggi yang indah ini. Semua harapan itu beralasan. Betapa tidak, di sebagian besar waktu yang kita alami, gunung api itu, meski ada kalanya mendatangkan bahaya, bahkan bencana, tetapi lebih banyak diam dan memberikan begitu banyak manfaat kepada kita. ( Ronald Agusta)

Penulis adalah fotografer dan trainer jurnalistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>