Ilustrasi gempa. Sumber: Internet.

Gempa Merusak di Indonesia 2015

Rumah Bambu Tahan
Gempa ( Rumbutampa)
yang diaplikasikan pada
bangunan Kantor Kepala
Desa Jayapura.Foto:
Supardiyono Sobirin/
DPKLTS, 2016

Rumbutampa Upaya Mitigasi Gempa

31/05/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Memantau Gempa Flores Tahun 1992

Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat.
Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat.

Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat.

Gempa bumi tektonik yang terjadi pada 12 Desember 1992 di Flores, Nusa Tenggara Timur, menimbulkan korban sekitar 2.000 orang meninggal dan kerugian harta benda yang cukup besar. Kejadian ini termasuk bencana nasional akibat gempa dan tsunami yang saat itu harus segera ditanggulangi dan dipantau, yang meliputi aspek sosial dan aspek teknis. Aspek sosial berhubungan langsung dengan tata kehidupan masyarakat, pemerintah daerah dan media massa. Adapun aspek teknis adalah kegiatan penanggulangan dan pemantauan bencana gempa bumi itu sendiri.

Atas dasar hal itu, maka pada 14 Desember 1992,penulis ditugaskan untuk melakukan pemantauan ke daerah yang dilanda gempa bumi yang waktu kitu merupakan bagian dari wilayah kerja Kanwil Departemen Pertambangan dan Energi Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokasi itu tepatnya adalah Maumere bagian utara mulai dari Nanga Muting-Wuring sampai Mage Panda; Maumere bagian tengah mulai dari Maumere-Nita sampai Lela; Maumere bagian selatan mulai dari Sikka- Hepang sampai Lekebai, dan Larantuka mulai dari Maumere-Konga-Larantuka- Riang, Kemie-Oka-Riang Kotek-Kawalewo-Lewo Rahang (Teluk Hading).

Secara khusus penulis diberi amanat untuk mengetahui hubungan kejadian gempa bumi dengan kondisi geologi daerah bencana, serta mengamati kerusakan pada permukaan tanah dan bangunan di daerah tersebut. Amanat lainnya adalah memberikan informasi kepada pemerintah daerah setempat dan instansi terkait, mengenai kondisi kegempaan maupun kaitannya dengan bencana tersebut sebagai bahan untuk penanggulannya dan antisipasi ke depan.

Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat

Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat

Sejarah Gempa di Nusa Tenggara
Daerah Nusa Tenggara dan sekitarnya adalah daerah gempa bumi aktif dan sampai saat ini telah tercatat lebih dari 24 gempa besar terjadi di sini. Aktivitas gempa yang tinggi ini terutama disebabkan oleh penyusupan lempeng (tektonik) Australia ke arah utara di bawah lempeng Asia. Gerakan ini diimbangi oleh terjadinya penyusupan lempeng ke arah selatan di utara Flores dan Pantar-Alor.

Salah satu akibat gerakan lempeng di daerah ini adalah terjadinya gempa Sumba, 19 Agustus 1977 dengan magnitudo 7,0. Gempa ini disusul oleh gempa besar berikutnya yang diikuti tsunami (gempa Sumbawa ) yang terjadi 7 Oktober 1977 dengan magnitudo 5,9 SR; kemudian gempa Pantar pada 26 November 1987 dengan besaran 5,9 SR; dan gempa Maumere pada 12 Desember 1992 pukul 13.29 (WITA) dengan besaran 6,8 SR, dan pusat gempa berada di utara Maumere pada kedalaman sekitar 36 km yang juga diikuti tsunami.

Distribusi daerah gempa Flores berada antara Ende– Maumere-Larantuka dan sekitarnya pada koordinat 121°BT-123°BT, vertikal utara – selatan. Tampak bahwa subduksi lempeng terkait di daerah ini sesuai dengan distribusi aktivitas gempa mempunyai sudut penunjaman rata-rata sebesar 63°. Secara waktu, distribusi gempa tersebut terjadi antara sekita 1900-1988. Untuk periode 5 tahun pada periode 1966-1970, terjadi peningkatan kegempaan. Pada periode ini terjadi banyak sekali gempa kecil. Sedangkan pada periode 1976-1980 terjadi peningkatan kegempaan yang tinggi disebabkan oleh gempa Sumbawa yang juga menimbulkan tsunami.

Dari Tsunami Hingga Likuifikasi
Hasil pemantauan di lapangan berdasarkan aspek teknis terkait kegempaan memperoleh beberapa fenomena dan akibat gempa berupa tsunami, retakan, gerakan tanah, dan likuifikasi. Di bawah ini uraian singkat fenomena tersebut.

Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat

Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat

Tsunami muncul akibat gempa Flores 1992. Gempa ini jenis gempa tektonik di bawah laut dengan magnitudo 6,8 SR yang berpusat di sebelah utara Maumere sekitar 122,1°BT dan 8° 7’LS. Tunami yang muncul menyebabkan bencana yang cukup besar di sepanjang pantai utara Pulau Flores termasuk pulaupulaunya, mulai sekitar Tanjung Palaboko (bagian barat) sampai Tanjung Bunga (bagian timur). Tsunami berupa gelombang air laut yang menyapu daratan yang terletak pada jarak lk 75-300 m dari garis pantai, menyebabkan kerusakan bangunan, kapal yang sedang berlayar terdampar ke darat, dan ponton bermuatan semen yang terdampar di dasar laut telah terangkat ke darat. Di samping kerusakan tersebut, telah terjadi pula amblesan (subsidence) di dua lokasi di sekitar Teluk Hading (Larantuka) dengan panjang kl. 1-1,2 km, lebar 100-150 m, dan tinggi 25-40 m. Kejadian tsunami ini juga telah menimbulkan korban jiwa paling banyak di Pulau Babi dan Tanjung Bunga.

Retakan dan nendatan terpantau muncul akibat gempa bumi Flores ini. Fenomena ini umum dijumpai terutama pada badan jalan yang terletak di atas batuan yang relatif kurang kompak (aluvium dan bahan rombakan), dan bangunan (rumah, jembatan) yang kontruksinya kurang memadai. Retakan pada batua  tanah dan badan jalan umumnya berarah 220-230°, yaitu searah dengan struktur umum Pulau Flores. Sebagaian kecil relatif berarah barat-timur. Retakan dan rubuhnya bangunan rumah umumnya terjadi pada bangunan yang sudah tua dan bangunan yang konstruksinya tidak tahan terhadap guncangan, dan jembatan yang retak atau terputus. Retakan pada jembatan umumnya terjadi pada bagian ujung. Penyebabnya adalah konstruksi yang tidak memenuhi standar (konsultasi lisan di lapangan dengan Dr. W. Merati dan Dr. J. Firmansyah dari lembaga penelitian ITB).

Gerakan tanah sebagai hasil dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa tanah dan batuan ke daerah yang lebih rendah terjadi pada gempa Flores 1992. Gerakan tanah (longsoran) ini terutama disebabkan oleh kondisi tanah/batuan dan topografi yang terjal. Longsoran umumnya terjadi di bagian selatan dan bagian tengah Maumere yang menyebabkan timbunan tanah/batuan di sepanjang badan jalan. Material longsoran berupa batuan vulkanik bersifat lepas, berukuran pasir sampai  lapilli, tebal lebih dari 30 m, menutupi perbukitan di sekitarnya. Lokasi longsoran tepatnya berada pada jalan menuju Ende antara Hepang-Lekebai-Koting sepanjang kl. 17 km pada sekitar 20 lokasi, dengan lebar 20-70 m, panjang 10-40 m, kemiringan lereng 30°- 70°. Jalan ini untuk sementara terputus. Lokasilainnya di jalan antara Maumere-Hepang-Lela-Sika- Wukur sepanjang 29 km pada 17 lokasi, dengan lebar 30-100 m, panjang 10-50 m, dan kemiringan lereng 30°-60°. Longsoran yang terjadi di bagian utara terbatas di beberapa tempat, umumnya berupa runtuhan batu yang menimpa badan jalan, namun masih dapat dilalui oleh kendaraan. Ke arah barat, sebelum desa Mange Panda, jalan terputus total karena jembatannya rusak berat. Lokasi runtuhan batu ini berada di sepanjang jalan antara MaumereWolomarang-Mangepanda pada km 22,200 – 22,300, dan jalan antara Maumere-Konga-Larantuka pada km 50-57.

Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat

Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat

Likuifikasi terjadi bila material di bawah tanah berupa pasir berukuran halus sampai kasar, yang rongga antarbutirnya terisi air, diguncang (shaking). Akibat guncangan, air yang terdapat pada rongga antar butir tersebut seolah-olah ‘dipompa’ dan ‘diisap’ sehingga setelah melampaui batas tertentu akan tersembur ke permukaan melalui bidang retakan berupa pasir bercampur air. Pada peristiwa gempa Flores 1992 terjadi gejala likuifaksi. Lokasinya berada di pantai utara berjarak sekitar 400 m dari garis pantai ke daratan. Likuifaksi ini menimbulkan runtuhnya bangunan berat. Semburan pasir ini di beberapa tempat muncul pada sumur gali sehingga penuh terisi pasir. Sumur pun menjadi kering.

Catatan Pembelajaran
Kegiatan penanggulangan dan pemantauan bencana Flores 1992 menorehkan catatan sebagai sebuah pembelajaran. Pertama, gempa Flores 1992 mengingatkan kembali bahwa daerah dan sekitarnya adalah daerah kegempaan yang aktif. Meskipun kita tidak tahu kapan persisnya gempa akan terjadi, namun masyarakat setempat perlu selalu waspada, tanpa harus panik, akan gempa yang mungkin terjadi di masa depan.

Kedua, dari hasil pemantauan, tampak bahwa “mesin pembunuh” yang menimbulkan banyak korban meninggal bukan hanya peristiwa gempanya itu sendiri, melainkan dampak ikutan akibat gempa, seperti tsunami, longsor atau gerakan tanah, dan likuifaksi. Untuk menghindari risiko akibat tsunami, maka dianjurkan agar masyarakat memahami proses terjadinya gempa dan tsunami dan dampaknya, serta cara menghindarinya saat muncul gempa hingga kejadian tsunami.

Ketiga, salah satu penyebab terjadinya korban adalah akibat runtuhnya bangunan. Maka dalam hal ini perlu menjadi perhatian agar dalam membangun ke depan, konstruksi bangunan harus diupayakan agar tahan terhadap guncangan akibat gempa yang mungkin terjadi lagi di daerah tersebut. Untuk rumah dan bangunan yang layak bagi masyarakat dan tahan terhadap goncangan, kearifan lokal setempat dapat digali kembali dan dikembangkan.

Keempat, penanggulangan dampak longsor pada saat itu sulit karena litologi dan kemiringan lahan yang tinggi. Maka, ke depan dianjurkan agar penduduk
tidak membuat rumah di daerah yang berpotensi longsoran. Untuk penduduk yang bermukim di daerah potensi longsor agar pindah ke daerah lain yang lebih aman. Untuk retakan yang terjadi akibat gempa, agar segera ditutup dengan tanah lempung untuk menghindari masuknya air yang dapat menimbulkan longsoran.

Kelima, kejadian gempa susulan dalam setiap peristiwa gempa harus terus dipantau untuk mengetahui perkembangan gempa dan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat. Apabila diyakini bahwa gempa atau pun tsunami tidak akan terjadi lagi dalam waktu dekat, maka dapat segera diinformasikan kepada masyarakat, terutama penduduk yang mengungsi. (Heryadi Rachmat)

Penulis adalah Perekayasa Utama pada Museum Geologi, Badan Geologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>