Pantai Pulang Sawal atau Pantai Indrayanti. Foto: Priatna

Sehari di Pantai Gunung Kidul

Untitled-9

Merintis Geowisata di Gunung Sewu

04/01/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Melacak Jejak Manusia Wajak

Untitled-18

Untitled-18Perbukitan kapur memanjang. Topografinya cukup terjal dengan hiasan pohon jati ranggas. Sebagaian besar penduduk di sini nyaris hanya menggantungkan pada musim penghujan untuk mengairi sawah dan ladang mereka. Asa dan peluh menjadi santapan turun-temurun. Mata air yang keluar dari sela-sela retakan batugamping yang sangat sulit diduga keberadaannya, seakan menjadi berkah. Berkah lainnya dari tempat ini adalah temuan fosil yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan.

Perbukitan kapur itu merupakan rangkaian Pegunungan Selatan Jawa (Gunung Sewu) yang berjajar dari daerah barat hingga ujung timur Pulau Jawa. Perbukitan ini menyimpan misteri masa lalu, karena keberadaan manusia purba yang pernah mendiami gua-gua maupun ceruk-ceruk tebing di sana.

Di wilayah Tulungagung Selatan, ada pegunungan kapur “Wajak” yang dikenal sebagai lokasi penambangan batu marmer sejak zaman Belanda. Perbukitan di Desa Gamping, Kecamatan Campur Darat, ini juga dikenal sebagai tempat penemuan manusia modern tertua di Jawa (Homo wajakensis) oleh B.D. Van Rietschoten dan Eugene Dubois pada akhir 1880-an.

Tengkorak manusia Wajak ditemukan oleh Van Rietschoten pada 1888 dan dipublikasikan pada pertemuan ilmiah Koninklijke Natuuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indie tahun 1889 (Aziz dan de Vos, 1989). Fosil yang dikenal sebagai Wajak 1 itu dikirimkan kepada Dubois yang masih berada di  Sumatra. Dubois sangat tertarik. Ia lalu mengganti arah penelitiannya ke Pulau Jawa. Dubois akhirnya melakukan penggalian di daerah Wajak berdekatan dengan lokasi penemuan Wajak 1. Ia menemukan berbagai tulang binatang dan tengkorak manusia lainnya (Wajak 2).

Lokasi temuan fosil Dubois, 1890 yang kini sedang dilakukan pembuatan parit uji oleh tim Museum Geologi.

Lokasi temuan fosil Dubois, 1890 yang kini sedang dilakukan
pembuatan parit uji oleh tim Museum Geologi.

Monumen Keliru Letak
Gua kapur yang merupakan bagian dari litologi  batugamping Formasi Campur Darat itu banyak yang rusak akibat penambangan marmer yang terus berlangsung hingga saat ini. Akibatnya, para ahli yang belakangan meneliti kembali lokasi penemuan tengkorak manusia Wajak kesulitan menentukan lokasinya. Warga Kecamatan Campur Darat pun tidak mengetahui tempat manusia Wajak itu ditemukan.

Untuk mengenang penemuan manusia Wajak, pemerintah daerah setempat membangun tugu/ monumen di dekat monumen Gubernur Jenderal Belanda C.F. Pahud yang mengunjungi lokasi Tambang Marmer pada 1850 (foto pada halaman 38). Padahal, tengkorak tersebut baru ditemukan 40 tahun kemudian (1888- 1890) dan bukan di lokasi monumen C.F. Pahud. Alhasil, monumen manusia Wajak dibangun bukan pada titik lokasi yang sebenarnya.

Akibatnya, generasi selanjutnya sangat sulit mengetahui lokasi penemuan penting tersebut. Oleh sebab itu, menemukan kembali titik lokasi penemuan manusia Wajak amatlah penting, karena bernilai sejarah. Untuk itu, dengan metode penelitian yang semakin canggih, para ahli dapat mengungkap seluk beluk maupun kondisi masa lalu saat manusia purba itu hidup di sana. Demikianlah, berdasarkan dokumentasi foto dan korespondensi, pada 1985, tim Puslitbang Geologi (Pusat Survei Geologi, sekarang) dan Museum Natural History, Leiden, melacak lokasi penemuan Rietschoten dan Dubois pada akhir
1880-an. Pelacakan ini di

Sketsa sistem grid lokasi penggalian Dubois 1890. Tengkorak manusia Wajak ditemukan pada grid no 21.

Sketsa sistem grid lokasi penggalian Dubois 1890. Tengkorak manusia Wajak ditemukan pada grid no 21.

pimpin oleh Fachroel Aziz and de Vos. Mereka berhasil menemukan kembali titik lokasi penemuan sekitar seabad yang lalu itu dan mengklarifikasinya (Aziz dan de Vos, 1989). Menurut Aziz dan de V

os, Dubois pada waktu itu mengobservasi dan menggali lima titik prospek pada bukit “Lowo” (Kelelawar) tetapi hanya pada dua lokasi yang berhasil ditemukan tulang belulang binatang dan tengkorak manusia. Lokasi tempat penemuan tengkorak Wajak 1 masih menyisakan tanah asli dan akan digali lagi pada 2016 oleh Tim Vertebrata dari Museum Geologi.

Untitled-21

Peta lokasi Desa Gamping berdasarkan peta Bakosurtanal skala 1 : 25.000 (atas),

Makna Penemuan
Penemuan kembali titik lokasi penemuan tengkorak manusia Wajak mengundang para ahli lain untuk mengungkap aspek penting lainnya yang patut untuk disebarluaskan bagi kemajuan dunia ilmu pengetahuan. Misalnya, Paul Storm seorang peneliti dari Museum Natural Histori Leiden, Belanda. Dalam disertasinya, ia m

engungkap tengkorak manusia Wajak, di antaranya dengan melakukan pengukuran menggunakan metode Uranium-series dating pada tengkorak dan fragmen tulang binatang dari Wajak. Umur minimumnya antara 37.4 and 28.5 ribu tahun lalu.

Untitled-22

paper de Bos dan Azis tahun 1985 yang menunjukkan lokasi gua-gua Dubois 1890.

Implikasinya, manusia Wajak termasuk Homo sapiens, sehingga penamaan Homo wajakensis sudah seharusnya tidak dipergunakan lagi untuk penamaan manusia Wajak. Karena mereka dengan segala bentuk peradabannya adalah manusia modern seperti halnya kita.

Selain itu, menurut Dubois, manusia Wajak lebih mirip dengan Papua daripada Melayu. Apakah manusia pertama yang menghuni perbukitan kapur di Tulungagung ini merupakan jenis Australoid daripada Mongoloid? Para ahli menjawabnya sebagai Australoid. Dengan demikian, kemungkinan gelombang kedatangan pertama jenis manusia modern yang menghuni tanah Jawa merupakan Australoid yang kemudian meneruskan perjalanan ke Indonesia Timur hingga menuju Australia.

Adapun tim penelitian Vertebrata dari Museum Geologi akan melakukan jejak telusur dari hasil penelitian sebelumnya (Aziz dan de Vos, 1989) dengan melakukan pembuatan parit uji (test pit). Tujuannya untuk mengetahui ketebalan endapan yang masih tersisa sejak  digali oleh Dubois yang diharapkan masih memberikan kemungkinan adanya sisa peninggalan masa lalu.

Untitled-23

Salah satu cuplikan dari thesis Paul Storm yang menggambarkan perbandingan manusia Wajak dengan manusia modern.

Berdasarkan peta penggalian yang dibuat oleh Dubois, bagian yang tersisa memberikan harapan bagi kita untuk mendapatkan data baru, mengingat semua hasil penggalian dari lokasi Dubois dikirimkan ke Museum Natural Histori. Selama 2 minggu tim bekerja mendapatkan kembali bukti kehidupan masa lampau di lokasi tersebut. Beberapa pecahan gigi dan tulang binatang telah didapatkan dari pecahan batugamping breksi yang cukup penting artinya, walaupun tengkorak manusia belum ditemukan. Pekerjaan besar ini masih akan terus dilanjutkan mengingat biaya dan waktu yang patut diperhitungkan.

Sosialisasi pada masyarakat setempat dan para guru mata pelajaran ilmu kebumian akan dilakukan untuk memberikan pembelajaran bagi siswa-siswa yang kelak meneruskan penelitian tentang manusia Wajak. Dengan demikian, pemahaman yang selama ini keliru dapat diperbaiki dan membangkitkan semangat untuk mempelajari kembali yang sudah didapat para peneliti pendahulu agar lebih menjadi bangsa yang besar karena menghargai sejarah bangsanya. (Erick Setiyabudi)

Penulis adalah peneliti pada Museum Geologi, Badan Geologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>