Untitled-1

Monadnok Granit Gunung Banitan

Untitled-2

Dari Langit Menangkap Kerucut Kars Balbulol

29/09/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Manusia Purba dari Cekungan So’a

Rekonstruksi wajah manusia purba Flores dari Liang Bua (Homo floresiensis) oleh Susan Hayes.
Manusia Cekungan So’a diduga merupakan leluhur dari Homo floresiensis.
Rekonstruksi wajah manusia purba Flores dari Liang Bua (Homo floresiensis) oleh Susan Hayes. Manusia Cekungan So’a diduga merupakan leluhur dari Homo floresiensis.

Rekonstruksi wajah manusia purba Flores dari Liang Bua (Homo floresiensis) oleh Susan Hayes.
Manusia Cekungan So’a diduga merupakan leluhur dari Homo floresiensis.

Hari itu 8 Oktober 2014, di Mata Menge, Flores, cuaca sangat terik. Penggalian fosil yang sangat melelahkan berlangsung seperti biasanya. Kondisi lahan yang sangat kering menambah parah dampak terbangnya debu-debu tuf dari pahatan palu para penggali fosil. Tiba-tiba, Andreas Boko, seorang di antara lebih dari 100 warga lokal yang membantu penggalian, datang menghampiri manajer penggalian nomor 32D pada hari itu, Mika Puspaningrum. Ia menggenggam sebuah fosil gigi kecil di tangannya.

Aha, gigi manusia purba! Ketika dia menunjukkan gigi kecil itu kepada para pemimpin survei, Gerrit D. van den Bergh dan Iwan Kurniawan, mereka tidak dapat menahan kegembiraan. Layaknya rintik hujan di tengah kemarau, penantian panjang selama lebih dari 10 tahun itu akhirnya mulai terjawab dengan temuan itu. Sebuah temuan yang akan menambah titik terang evolusi manusia purba dari Flores yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan para ahli di dunia.

Selang dua tahun dari penemuan itu, pada 8 Juni 2016, dunia pun dikejutkan dengan publikasi ilmiah oleh majalah Nature tentang penemuan fosil gigimanusia kerdil dari Mata Menge itu. Temuan ini mejadi titik terang nenek moyang Hobbit atau manusia purba kerdil yang selama ini masih menjadi bahan perdebatan dalam silsilah evolusi manusia.

Iwan Kurniawan dari Museum Geologi (atas) dan warga lokal Aloysius Gaba dan Frans Leo yang sedang berusaha membersihkan temuan fosil dari sedimen di lokasi penggalian Mata Menge, Cekungan So’a, Flores. Foto: Erick Setiyabudi, 2012

Iwan Kurniawan dari Museum Geologi (atas) dan warga lokal
Aloysius Gaba dan Frans Leo yang sedang berusaha membersihkan
temuan fosil dari sedimen di lokasi penggalian Mata Menge,
Cekungan So’a, Flores. Foto: Erick Setiyabudi, 2012

Lokasi Ekskavasi dan Fosil yang Ditemukan
Mata Menge, lokasi penggalian/ ekskavasi (excavation) fosil mamalia dan manusia itu, secara geografis terletak di Cekungan So’a dan secara administratif termasuk di perbatasan dua desa, yaitu Desa Piga dan Desa Mengeruda, Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada. Cekungan So’a merupakan lembah luas yang berbukitbukit dengan batas pandangan terjauh yang mencolok adalah Gunung Welas di sebelah barat laut, Gunung Inelika di barat, Gunung Ebulobo yang menjulang di selatan, dan Gunung Keli Lambo di timur.

Welas adalah gunung api purba yang produk letusannya diperkirakan sampai ke Mata Menge. Sedangkan Ebulobo dan Inelika adalah gunung api aktif. Pada cekungan ini mengalir sungai-sungai Lowo Lele, Wae Wutu, dan Wae Bha. Mata Menge terletak antara Sungai Lowo Lele dan Sungai Wae Wutu.

Batuan yang dijumpai di Cekungan So’a dari tua ke muda terdiri atas Formasi Ola Kile dan Formasi OIabula. Formasi Olabula merupakan batuan terpenting dalam kaitannya dengan temuan fosil hominin. Bagian bawah dari formasi ini terdiri atas Anggota Tuf, dan bagian tengahnya adalah Anggota Batupasir. Anggota Tuf didominasi oleh tuf, pasir, lanau tufan, dan kerikil batuapung, sedangkan Anggota Batupasir didominasi oleh perselingan batupasir fluvial dan batulanau tufan. Bagian atas terdiri atas anggota Gero, yang terdiri dari pergantian lapisan batu kapur dan lapisan tuf yang terendap dalam danau purba. Anggota tuf dan angota batupasir merupakan endapan lingkungan darat (sungai), yaitu endapan produk gunung api.

Untitled-10Batuan tempat ditemukannya fosil-fosil di Mata Menge adalah bagian tengah dari Formasi Olabula, yaitu Anggota Batupasir. Di lapisan inilah tempat ditemukannya semua fosil, baik artefak batu, fosil vertebrata (Stegodon, gajah purba yang punah, komodo, burung, buaya dan tikus), maupun fosil hominin. Bagian atas dari anggota batupasir ditutupi oleh lapisan abu gunung api yang diendapkan oleh lumpur (mud flow) di lingkungan sungai teranyam (braided stream). Tebalnya sekitar dua meter. Lapisan mud flow ini ditutupi oleh tanah penutup (top soil) tebal sekitar 30 cm.

Lahan penggalian di lapisan Anggota Batupasir pada lokasi fosil manusia disebut sebagai penggalian nomor 32, dan dibagi menjadi enam grid diberi kode A, B, C, D, E, dan F dengan ukuran masing-masing 5×5 m2. Temuan fosil hominin pada 2014 diperoleh pada grid A, B, C, D. Fosil yang ditemukan berupa gigi atas (premolar), gigi depan (incisor), pecahan rahang (mandible), dan taring atau gigi susu (canin). Selain fosil-fosil bagian dari hominin, pada lokasi yang sama ditemukan pula fosil fauna seperti gajah purba Stegodon, komodo, tikus, dan burung, godok dan keong dan fosil tumbuan; serta artefak.

Untitled-11

Konteks dan kronologi temuan fosil di Mata Menge, Cekungan So’a. a, b : Lokasi Cekungan So’a, Flores, c : Peta elevasi digital (digital elevation map) dari Cekungan So’a dengan lokasi Mata Menge dan lainnya; d : Stratigrafi dan urutan dari interval utama yang mengandung fossil dan kehadiran endapan Formasi Ola Bula di Mata Menge; e: gambar 3 dimensi (3D) menunjukkan stratigrafi yang terungkap oleh penggalian (trench) E-32A hingga E-34B dengan elips berwarna menyatakan posisi fosil hominin in situ yang digali dari unit batupasir, Lapisan II (kode fosil hominin yang ditemukan: SOA-MM1, 2 dan 4-6); dan f : gambaran 3D Mata Menge dan sekitarnya dengan parit-parit penggalian diberi garis merah dan tanda. Untuk keterangan lebih lengkap, pembaca dapat merujuk ke majalah ilmiah Nature edisi June, 2016.

Fosil yang sudah Lama Ditunggu
Sebelumnya, manusia purba kerdil Flores atau Homo floresiensis yang mendiami gua Liang Bua (74 km ke arah barat dari Mata Menge) itu telah diteliti. Mereka hidup pada sekitar 100.000 – 50.000 tahun yang lalu. Namun, penemuan fosil dari Mata Menge yang ditemukan oleh tim geologi dan paleontologi gabungan dari Museum Geologi (Pusat Survei Geologi) dengan tim paleontologi dan arkeologi dari University of Wollongong, Australia, memberikanpandangan baru tentang keberadaan manusia yang mirip dengan Homo floresiensis.

Homo floresiensis telah mengundang banyak perdebatan dan pertanyaan ilmiah di kalangan ahli paleoantropologi. Hipotesis pun bermunculan tentang siapa sebenarnya manusia tersebut. Ada yang menyatakan bahwa hominin ini adalah jenis spesies baru dari keluarga manusia (Homo) yang telah punah. Ada juga yang menyatakan bahwa hobbit itu mungkin tipe manusia modern yang mengalami kekerdilan karena penyakit (patologi). Pendapat lainnya mengatakan bahwa Homo floresiensis merupakan contoh kecil orang kerdil dari populasi manusia modern. Kini, fosil manusia dari Mata Menge yang ditemukan belakangan ini memberikan sedikit jawaban tentang asal-usul Hobbit Liang Bua itu.

Fosil hominin terbaru dari Flores pada 2014 ini ditemukan dari kotak galian (trench) nomor 32, di situs Mata Menge di Desa Mengeruda, Kecamatan So’a. Ini merupakan fosil yang telah lama ditunggu-tunggu sejak 2010 melalui proyek pencarian fosil nenek moyang Homo floresiensis dari Liang Bua. Penelitian terakhir ini berjudul “In Search of the First Hominins of Flores” atas kolaborasi para peneliti Indonesia dan Australia di Cekungan So’a Flores, dan dibantu oleh peneliti dari beberapa negara lain.

Penggalian selanjutnya di Mata Menge yang menemukan beberapa fosil lainnya serta bukti-bukti peradaban seperti alat batu, memperkuat dugaan bahwa manusia kerdil mirip Homo floresiensis itu sudah hadir mendiami Flores dalam kurun waktu yang jauh lebih tua dari yang diketahui selama ini, yaitu sekitar 700.000 tyl. Perkiraan umur ini didasarkan pada berbagai cara penentuan umur (dating), termasuk metode Argon-Argon terhadap mineral yang berasal dari lapisan tufa di bawah dan di atas lapisan yang mengandung fosil. Selain itu, digunakan pula penentuan umur metode ‘fission-track’ atas mineral zirkon yang berasal dari endapan tufa tersebut. Kemudian, fragmen gigi manusia dan gigi Stegodon dari kotak galian 32 juga dianalisis umurnya menggunakan metode Uranium dan Thorium yang terkandung di dalam fosil. Hasil semua cara penentuan umur tersebut bersesuaian satu dengan yang lainnya.

Rahang bawah (mandible) fosil SOA-MM4 dibandingkan dengan spismen dari H. floresiensis Liang Bua, a- d : kenampakkan dari, a : atas, b : samping, c : bawah, d : depan. MC : saluran rahang, aMF : lubang foramen. Foto e : kenampakkan samping dari tulang rahang bawah manusia Liang Bua, kode LB6/1, dengan M1 : geraham pertama, M2 geraham kedua, M3 geraham ketiga. Skala penggaris, 10 mm.

Rahang bawah (mandible) fosil SOA-MM4 dibandingkan dengan spismen dari H. floresiensis Liang Bua, a- d : kenampakkan dari, a : atas, b : samping, c : bawah, d : depan. MC : saluran rahang, aMF : lubang foramen. Foto e : kenampakkan samping dari tulang rahang bawah manusia Liang Bua, kode LB6/1, dengan M1 : geraham pertama, M2 geraham kedua, M3 geraham ketiga. Skala penggaris, 10 mm.

Posisi dalam Silsilah Evolusi Manusia
Spesimen manusia purba dari Mata Menge bukanlah temuan postur tulang lengkap, tetapi hanya sebuah pecahan rahang bawah dan enam buah gigi dengan beragam ukuran, orientasi dan titik lokasi penemuan. Material yang ditemukan memiliki tingkat fosilisasi dan preservasi yang cukup baik dan temuan gigi berukuran kurang dari satu sentimeter. Berdasarkan perhitungan jumlah individu minimal, manusia purba yang ditemukan di situs Mata Menge berjumlah tiga individu atau lebih. Pecahan rahang bawah memperlihatkan karakter seorang individu dewasa dan beberapa gigi taring (gigi susu) yang menunjukkan umur belum dewasa.

Karena karakteristiknya yang dapat mengungkap tren evolusi manusia, spesimen fosil yang ditemukan di Mata Menge dan kini disimpan di Museum Geologi itu telah diobservasi dengan hati-hati oleh para ahli paleontologi dan paleoantropologi. Hal ini antara lain pemeriksaan anatomi makro oleh peneliti dari Museum Geologi dan University of Wollongong, serta analisis morfologi mikro menggunakan metode pemindaian micro computed tomography (CT) di Museum of Nature and Science, Jepang.

Kompleksitas morfologi dari gigi manusia purba ini dibandingkan dengan beberapa fosil gigi manusia purba yang mewakili periode kronologi sejak dua juta tahun yang lalu hingga sekarang dan mewakili tiap regional kawasan yakni Afrika, Asia dan kepulauan Indonesia sendiri. Adapun spesies yang dibandingkannya di antaranya Australopithecus afarensis dan Homo habilis dari Afrika, serta Homo erectus, Homo sapiens dan bahkan spesies manusia purba yang masih jadi perdebatan yakni Homo floresiensis.

Diskusi tentang kejelasan posisi evolusi manusia purba dari Mata Menge sebagai sebuah spesies masih belum berakhir. Namun demikian, ada dua pemodelan (opsi) yang dapat menggambarkan alur proses evolusi manusia dari Mata Menge dari hominin pendahulunya. Opsi pertama berpendapat bahwa manusia Mata Menge bertransformasi dari hominin yang lebih besar yakni Homo erectus. Sedangkan, opsi kedua berpandangan bahwa nenek moyang manusia purba Mata Menge berasal dari Homo habilis yang berasal dari Afrika.

Berdasarkan morfologi dari fosil rahang bawah dan gigi geraham bawah yang ditemukan, karakteristik manusia purba Mata Menge lebih menunjukkan kemiripan dengan morfologi gigi geraham Homo erectus dengan versi yang lebih kecil. Rahang itu cenderung tipis dan vertikal dan tidak memiliki celah seperti yang biasa dijumpai pada spesies manusia purba lain, Australopithecus.

Gigi-gigi Manusia Purba dari Mata Menge, a : SOA-MM2 yaitu I1 (gigi seri pertama, atas), kiri; b : SOA-MM5 yaitu P3 (gigi premolar ketiga atas), kanan; c : SOA-MM1 yaitu M1 (gigi geraham pertama bawah), kiri; d : SOA-MM7 yaitu dc (gigis susu bawah), kiri; dan e : SOA-MM8 yaitu dc (gigi susu bawah) kanan. Untuk masing-masing baris dari kiri ke kanan, berturut-turut adalah kenampakkan dari: atas (occlusal), depan (buccal/labial), belakang (lingual), samping dekat (mesial), dan distal (samping jauh, kecuali untuk c). Skala penggaris, 10 mm.

Gigi-gigi Manusia Purba dari Mata Menge, a : SOA-MM2 yaitu I1 (gigi seri pertama, atas), kiri; b : SOA-MM5 yaitu P3 (gigi
premolar ketiga atas), kanan; c : SOA-MM1 yaitu M1 (gigi geraham pertama bawah), kiri; d : SOA-MM7 yaitu dc (gigis susu bawah), kiri; dan e : SOA-MM8 yaitu dc (gigi susu bawah) kanan. Untuk masing-masing baris dari kiri ke kanan, berturut-turut adalah kenampakkan dari: atas (occlusal), depan (buccal/labial), belakang (lingual), samping dekat (mesial), dan distal (samping jauh, kecuali untuk c). Skala penggaris, 10 mm.

Di sisi lain, sebagian ahli berpendapat bahwa manusia purba Mata Menge memiliki kaitan evolusi yang berasal dari Homo habilis atau bahkan Australopithecus, yakni golongan hominin yang paling primitif dan berkembang sejak dua juta tyl di Afrika. Pandangan ini muncul karena fitur tubuh yang kecil dan menyerupai hominin sangat purba yang paling tua di Afrika. Namun, hal ini agak terbantahkan karena sejauh ini belum terdapat bukti penemuan fosil hominin yang mirip dengan Homo habilis dan Australopithecus di kawasan Asia.

Titik Terang Nenek Moyang Hobbit Liang Bua
Berdasarkan karakter spesifik pecahan rahang bawahnya, manusia purba dari Mata Menge lebih memiliki karakteristik genus Homo daripada genus Australopithecus. Apabila dilihat secara lateral, rahangnya memiliki ukuran yang lebih kecil dan tipis
dibandingkan dengan Homo floresiensis dari Liang Bua. Secara umum, fosil-fosil gigi manusia purba yang ditemukan di Mata Menge memiliki kemiripan spesifik dengan Homo habilis, Homo erectus dan Homo floresiensis. Fitur dari gigi seri dan premolar menunjukkan ciri-ciri yang memiliki kesamaan dengan morfologi gigi pada Homo habilis fase lanjut.

Dua fosil gigi taring yang ditemukan menunjukkan ukuran yang lebih kecil dari Homo sapiens, Homo erectus dan Australopithecus. Adapun fosil gigi geraham SOA-MM1, yaitu fosil manusia purba yang pertama kali ditemukan di Mata Menge ini, memiliki kemiripan karakteristik yang kuat dengan fosil-fosil gigi geraham dari Homo erectus yang ditemukan di Jawa (Ngandong, Sambungmacan dan Ngawi). Tetapi, ciri-ciri dari fosil gigi geraham ini juga memiliki kemiripan dengan fosil gigi geraham dari Homo floresiensis.

Dengan demikian, manusia purba dari Mata Menge ini dapat dianggap sebagai nenek moyang hobbit atau manusia Liang Bua (Homo floresiensis). Manusia kerdil yang tingginya hanya sekitar satu meter dan diperkirakan usianya lebih tua setengah juta tahun dari Homo floresiensis dan hampir 600 ribu tahun lebih tua dari fosil hobbit dari Liang Bua yang ditemukan pada tahun 2004 silam.

Selanjutnya, hasil temuan yang dimuat dalam Nature ini menunjukkan besarnya kemungkinan terjadinya pembalikan dalam evolusi manusia, di mana tubuh manusia termasuk otaknya, mengalami pengerdilan. Proses pengerdilan itu kemungkinan disebabkan karena manusia purba itu terdampar ke pulau dengan ekosistem sederhana dan sedikit predator, sehingga mungkin mereka tidak memerlukan ukuran otak yang besar.

Dengan kata lain, fitur kekerdilan yang dimilikinya merupakan akibat dari efek Island dwarfism. Efek ini adalah proses adaptasi organisme yang terdapat di suatu ekosistem pulau yang mengalami kekurangan sumber makanan sehingga menyebabkan terjadinya pengurangan ukuran tubuh secara ekstrem pada suatu golongan organisme.

Tim penggalian fosil berskala besar di Mata Menge yang dibantu oleh lebih dari 100 warga lokal dari dua desa, Desa Mengeruda dan Desa Piga, Kecamatan So’a, Flores. Foto: Adam Brumm, 2007.

Tim penggalian fosil berskala besar di Mata Menge yang dibantu oleh lebih dari 100 warga lokal dari dua desa, Desa Mengeruda dan Desa
Piga, Kecamatan So’a, Flores. Foto: Adam Brumm, 2007.

Namun, efek proses kekerdilan yang terjadi di pulaupulau terisolasi bukan sesuatu yang luar biasa. Dampak dari proses ini dapat terlihat juga pada hewan lainnya seperti gajah atau rusa yang diketahui mengalami efek kekerdilan hanya dalam jangka waktu 6.000 tahun. Bahan perdebatan lainnya adalah alur geografis dari Homo erectus sebelum memasuki Pulau Flores. Kemungkinan alur migrasi berasal dari Jawa atau Sulawesi masih menjadi bahan penelitian berdasarkan bukti anatomi dan kemiripan peninggalan artefak.

Lebih jauh lagi, nenek moyang manusia purba Mata Menge diperkirakan sudah hidup berkembang di pulau dan di daerah yang sama yakni di Cekungan So’a. Karena tidak jauh dari situs Mata Menge, ada situs lain bernama Wolo Sege yang di dalamnya ditemukan banyak artefak berupa alat batu. Dengan temuan benda-benda budaya ini, diketahui bahwa situs Wolo Sege ini kemungkinan sudah ditempati oleh manusia purba, jauh lebih dahulu sebelum adanya manusia purba di Mata Menge.

Beberapa pertanyaan bermunculan, di antaranya, apakah manusia purba yang hidup di Wolo Sege memiliki postur kerdil sama seperti manusia purba di Mata Menge? Apabila tinggi manusia purba di Wolo Sege lebih besar, apakah memungkinkan selama durasi 300.000 tahun terjadi efek insular dwarfism ekstrem pada manusia purba? Hal ini masih menjadi bahan penelitian di kalangan para ahli paleoantropologi.

Ekskavasi paleontologi di Mata Menge akan terus berlanjut hingga tahun-tahun ke depan dengan fokus pada konsepsi holistik tentang kehidupan manusia purba Flores. Pemeriksaan lokasi-lokasi dan titik baru di sekitar temuan tahun 2014 akan terus dilakukan untuk mendukung aspek-aspek penelitian dari temuan berharga ini. Gua-gua di Flores yang memiliki kemungkinan menjadi tempat tinggal manusia purba juga akan menjadi tujuan studi selanjutnya. (Iwan Kurniawan, Halmi Insani, Yousuke Kaifu dan Gerrit D. van den Bergh)

Penulis, Iwan Kurniawan adalah Kepala Seksi Dokumentasi dan Konservasi, Museum Geologi; Halmi Insani adalah Staf Seksi Dokumentasi dan Konservasi, Museum Geologi, Badan Geologi, KESDM. Yousuke Kaifu adalah ahli paleoantropologi dari National Museum of Nature and Science, Japan; Gerrit D. van den Bergh adalah ahli paleontologi dari University of Wollongong, Australia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>