Sunset di Inaboi, dengan siluet
sasando, alat musik tradisional NTT.
Foto: Oki Oktariadi.

Kupang Kota di atas Kars

Pantai Pulang Sawal atau Pantai Indrayanti. Foto: Priatna

Sehari di Pantai Gunung Kidul

04/01/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Makna Ilmiah Warisan Bumi Gunung Sewu

Pantai Watukarung, Gunungsewu. Foto: Baskoro Setianto.
Pantai Watukarung, Gunungsewu. Foto: Baskoro Setianto.

Pantai Watukarung, Gunungsewu. Foto: Baskoro Setianto.

Tingginya nilai strategis kawasan Kars Gunung Sewu menyebabkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 6 Desember 2004 menetapkan daerah ini sebagai kawasan ekokars. Mulai tahun 2009, Kars Gunung Sewu selanjutnya dikelola secara berkelanjutan dalam kemasan geopark.

Pada 13 Mei 2013 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  menetapkan Geopark Gunung Sewu yang diusulkan oleh Forum Kerjasama PacitanWonogiri-Wonosari menjadi Geopark Nasional. Pengukuhannya dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada awal Juli 2013. Selanjutnya, Geopark Nasional Gunung Sewu dihantarkan ke tingkat global, yaitu menjadi  anggota Global Geoparks  Network UNESCO pada 2015.

Salah satu modal Kawasan Gunung Sewu adalah sejarah penelitian ilmiah yang secara sinambung dilakukan dari zaman ke zaman, paling tidak sejak abad ke-19. Dengan demikian, kawasan ini mengandung makna ilmiah yang berskala internasional, nasional, regional, dan lokal.

Makna Internasional Kawasan Gunung Sewu telah menarik minat para ilmuwan barat untuk  melakukan penelitian di daerah ini sejak pertengahan Abad ke-19. Junghuhn-seorang naturalis Jermanmengungkapkan keindahan alam PulauJawa yang sudah  dianggapnya sebagai rumah kedua di dalambukunya yang berjudul Java. Buku ini ditulis di Leiden, pada  November 1851.

Daerah Gunung Sewu ia kunjungi pada September 1851, dan kesaksiannya diilustrasikan melalui 2 lukisan yang sangat impresif. Pada permulaan Abad 20, Grund (1914), Danes (1915), dan Van Valkenburg & White (1923, dlm. Sartono, 1964) datang ke Gunung Sewu untuk meneliti morfogenesis kars tipe kerucut, yang mendasarkan pada konsep siklus kars. Kesimpulan mereka, Kars Gunung Sewu mewakili jenjang-akhir dari siklus perkembangan bentangalam kars. Pendapat klasik mereka masih digunakan hingga sekarang.

Untitled-7

Sadeng Gunung Kidul. Foto: Deni Sugandi.

Untuk keperluan kunjungan lapangan pada acara Pacific Science Congress IV yang diselenggarakan di Yogyakarta, Bothe (1929) menyusun buku panduan yang berjudul  Jiwo Hills and Southern Range. Di dalam buku tersebut ia mengusulkan nama-nama satuan stratigrafi seperti Kompleks Pratersier Jiwo, Formasi Kebo, Formasi Butak, Formasi Semilir, Formasi Nglanggran, Formasi Sampitu, Formasi Oyo dan Formasi Wonosari. Nama-nama tersebut masih dipakai hingga sekarang.

Periode penelitian sesudahnya dilakukan oleh Escher (1931), Lehmann (1936), dan Pannekoek (1941). Mereka mulai melibatkan pengaruh struktur geologi terhadap pembentukan bukit. Konfigurasi dolina di antara bukitbukit kerucut ditafsirkan menempati perpotongan retakan. Bentang alam yang sangat khas itu dinilainya sangat ideal, serupa dengan yang terdapat di Jamaika,  Filipina dan Dalmatia.

De Terra (1943) tertarik pada lapisan tuf di sekitar singkapan batugamping di daerah Punung (Pacitan). Ia berkesimpulan bahwa tuf yang ia anggap mengisi celah-celah batugamping itu mempunyai umur yang berbeda-beda. Keterdapatan lembah kering Giritontro yang disampaikan oleh Lehmann (1936) diulang di dalam buku van Bemmelen (The Geology of Indonesia) yang ditulis tahun 1949. Ia juga melengkapi satuan stratigrafi batugamping di Gunung Sewu dengan mengusulkan nama Formasi Kepek. Nama satuan batugamping termuda ini masih dipakai hingga sekarang.

Pada 1955, Van Heekeren tertarik pada situs arkeologi. Ia melakukan penggalian di Gua Tabuhan dan di sepanjang lembah Sungai Baksoka, Sungai Sunglar, Sungai Sirikan, dan Sungai Gedeh di daerah Pacitan. Dari penggalian tersebut ia berhasil mengumpulkan sejumlah peralatan batu dari Zaman Paleolitikum dan Neolitikum. Artefak dan serpihan tulang vertebrata yang ditemukan di dalam gua membimbingnya ke arah pendugaan bahwa gua itu pernah dihuni oleh manusia prasejarah. Karena spesifik, artefak batu yang dihasilkan oleh manusia prasejarah Paleolitikum itu ia beri nama Budaya Pacitanian.

Flathe & Pfeiffer (1965) dan Verstappen (1969) mencermati bentuk-bentuk bukit di Gunung Sewu sebagai bentangalam yang dihasilkan oleh proses geomorfologi. Proses ini melibatkan banyak faktor karstifikasi. Bukit berpuncak melengkung, sehingga bentuknya seperti setengah bola, oleh Flathe & Pfeiffer (1965) dinamakan sinukarst atau sinoid kars. Karena di Gunung Sewu bentuk bukit seperti ini sangat banyak, maka mereka mengidentikkan sinukarst dengan “Gunung Sewu type karst”.

Untuk melengkapi data disertasinya (The Miocene Wonosari Formation, Java, Indonesia: volcaniclastic influences on carbonate platform development), Lokier (2000) melakukan penelitian di hampir seluruh kawasan Gunung Sewu. Ia menyebutkan batugamping Neogen di Gunung Sewu adalah paparan karbonat yang terangkat dan tersesarkan. Ketika batugamping itu terbentuk di lingkungan laut dangkal yang mempunyai energi menengah-tinggi terjadi pengaruh sedimen klastik asal- gunung api. Pengaruh itu berlangsung secara periodik. Ketika pengaruh sedimen klastik asal-gunung api itu kecil maka jumlah spesies dan individu fauna yang menyusun batugamping jumlahnya relatif banyak. Sebaliknya, pada saat sedimen klastik yang masuk ke dalam cekungan banyak maka jumlah spesies akan berkurang, meskipun jumlah individunya cenderung bertambah. Keadaan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya kemampuan terumbu untuk tumbuh, bertambahnya nutrisi, dan perubahan kimiawi air laut.

Secara khusus, Robles (2007) melakukan penelitian palinologi yang terawetkan pada lapisan sedimen di dasar Telaga Guyangwarak, Pacitan. Proyek ini menjadi bagian dari tesis S2-nya di Museum National d’Histoire Naturelle de Paris. Judul tesisnya: Palynological investigation of a laminated sediment core from Lake Guyangwarak, Java, Indonesia.

Song Terus. Foto: Anton Wicaksono

Song Terus. Foto: Anton Wicaksono

Makna Nasional, Regional, dan Lokal
Untuk disertasinya, Stratigraphy and sedimentation of the easternmost part of Gunung Sewu, East Java, Sartono (1964) melakukan kajian geografi purba daerah Gunung Sewu bagian timur (Pacitan) dari aspek geologi. Ia berhasil merekonstruksi kedudukan garis pantai, proses sedimentasi, dan mengidentifikasi hubungan stratigrafi di antara satuan klastika dan batugamping di daerah Punung selama Zaman Neogen.

Kemudian, Kars Gunung Sewu sudah menjadi perhatian Badan Geologi sejak tahun 1992. Sebagai bagian dari proyek pemetaan geologi bersistem di Indonesia, geologi kawasan Gunung Sewu tercakup dalam 2 lembar peta geologi skala 1:100.000, yaitu Lembar Surakarta & Giritontro (Surono et al., 1992) dan Lembar Pacitan (Samodra et al., 1992).

Sistem tata air di kawasan Kars Gunung Sewu telah menarik perhatian banyak ahli hidrologi dan hidrogeologi. Kajian rinci sistem tata air di bawah permukaan yang menjadi bagian dari proyek disertasi doktor antara lain dilakukan oleh Soenarto (1999) dan Bahagiarti (2000), masing-masing dari aspek geometri fraktal dan cekungan.

Asal mula dan perkembangan segmen lembah kering Giritontro-Sadeng bagian selatan (Lembah Sadeng) diteliti oleh Samodra (2007) dengan menggunakan pola pikir deducto-hipotetico-verifikatif, yang didekati secara probabilistik. Pengujian dilakukan terhadap variabelvariabel terukur seperti arah kelurusan-struktur, arah kelurusan-lembah, serta lebar dan tinggi lembah yang terkait dengan pembentukan fenomena geomorfologi Lembah Sadeng. Hasilnya, pola kelurusan segmensegmen Lembah Sadeng terbukti mempunyai kaitan dengan kelurusan struktur geologi daerah di sekitarnya yang diakibatkan oleh tektonik. Uji regresi-korelasi menunjukkan 99% variasi kelurusan-lembah dapat dijelaskan oleh kelurusan struktur geologi.

Penelitian yang dilakukan oleh Tjia & Samodra (2011) di sepanjang kawasan pantai di segmen Gunung Sewu bagian timur (Pacitan) menghasilkan gambaran neotektonik yang ditunjukkan oleh lapisan berumur muda yang mengalami deformasi (recent crustal deformation).

Kawasan Geopark Gunung Sewu yang berupa hamparan bukit diselangi oleh lekuk-lekuk topografi kars, lembah kering, lembah buntu, torehan sungai permukaan di beberapa tempat, gua dan pantai sepanjang lebih dari 120 km, menyuguhkan sentuhan keindahan bentang alam yang unik dan langka. Selain itu, kawasan tersebut juga memberikan makna ilmiah yang kaya. (Cahyo Alkantana)

Penulis adalah seorang fotografer dan videografer bawah laut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>