Rumah Bambu Tahan
Gempa ( Rumbutampa)
yang diaplikasikan pada
bangunan Kantor Kepala
Desa Jayapura.Foto:
Supardiyono Sobirin/
DPKLTS, 2016

Rumbutampa Upaya Mitigasi Gempa

Danau Laguna. Foto: T. Bachtiar.

Wangi Cengkih Ternate

02/06/2016 Comments (0) Profil, Profil, Uncategorized

M.T. Zen Berbekal Pustaka Menjelajahi Alam

M.T. Zen di ruang baca. Foto: Deni Sugandi
M.T. Zen di ruang baca. Foto: Deni Sugandi

M.T. Zen di ruang baca. Foto: Deni Sugandi

Di atas meja kecil bertaplak putih, ada dua buku ukuran saku berjilid putih. Di tengah buku yang pertama, ada bingkai coklat yang berisi potret seseorang yang memakai topi pet seperti Sherlock Holmes. Buku ini bertajuk The Phenomenon of Man. Orang yang bertopi itu kemungkinan besar penulisnya, Pierre Teilhard de Chardin (1881- 1955). Di samping buku ini, buku bilingual 200 French and Englih Idioms (200 Idiotismes Francais et Anglais) susunan Francois Denoe.

Kedua buku tersebut terlihat sedang dibaca tuan rumah di bilangan Dago, Bandung, siang itu. Rumah yang diberi tajuk salah satu judul novel sastrawan Prancis Antoine de Saint-Exupéry (1900-1944), Terres de Hommes (1939), itu menjadi rumah bagi ribuan pustaka dari berbagai tema. Sejak memasuki ruang tamu, kita bisa melihat buku berderet rapi di rak-rak buku, sebagian bertumpuk di atas meja kerja.

Tuan rumah itu Prof. Dr. Mudaham Taufick Zen atau M.T. Zen. Ribuan pustaka dengan beragam tema itu mengisyaratkan sang pemiliknya terkait erat dengan dunia literasi, dunia baca dan tulis. Memang, selama ini, M.T. Zen dikenal sebagai ahli geologi, ahli geofisika, eksponen Angkatan 1966, intelektual publik, dan penjelajah alam. Dengan demikian, riwayat hidup dan intelektualitasnya tentu tidak terlepas dari dunia pustaka.

M.T. Zen. Foto: Deni Sugandi.

M.T. Zen. Foto: Deni Sugandi.

Antara Pustaka dan Cita-cita
M.T. Zen lahir pada 14 Agustus 1931, di Mentok, Pulau Bangka, dari pasangan Mochammad Zen (Wedana Mentok) dan Yang Huzaizah. Ayahnya dan lingkungan keluarganya memberi ruang perkenalan dengan pustaka sejak dini. “Waktu itu aku sudah di kelas 3 HCS di Mentok, Bangka. Sangat samarsamar mengenai impianku di masa itu. Yang jelas ayahku berlangganan majalah Pandji Pustaka. Ini sangat penting karena ada rubrik perang. Yang paling menarik perhatianku adalah Perang Atlantik antara kapal-kapal Perang Inggris dan Jerman,” kata Zen dalam tulisannya “Menjadi Penjelajah Alam” (dalam Guru-guru Keluhuran, 2010).

Padahal ayahnya hanya lulusan sekolah dasar. Kata Zen, “Ayah adalah seorang otodidak, praktis tidak bersekolah; hanya hingga SD. Aku beruntung sewaktu almarhum memasuki masa pensiun aku banyak bersamanya; yang lebih mengesankan hampir tiga kali seminggu aku diajak berjalan menelusuri pantai. Di sepanjang perjalanan inilah ayah bercerita tentang Newton (satu-satunya ilmuwan fisika yang dia ketahui), juga banyak cerita tentang petualang seperti Sven Hedin, Fritjhoff Nansen, Roald Amundsen …”

Lingkungan rumahnya juga sarat bernuansa literasi. Di rumahnya banyak sekali buku koleksi ayah dan saudaranya yang tertua, sehingga Zen punya banyak kesempatan untuk membaca biografi orang-orang terkemuka. Namun, katanya, “Yang paling menarik ialah perjalanan ke Kutub Selatan oleh Tim Inggris di bawah Kapten Robert Falcon Scott dan Tim Norwegia di bawah pimpinan Roald Amundsen”.

M.T. Zen dan Curtis Cate. Foto: Dok. Pribadi.

M.T. Zen dan Curtis Cate. Foto: Dok.
Pribadi.

Sejak sekolah dasar pula, timbul rasa keindonesiaan pada diri Zen. Ini berkat pelajaran geografi, terutama pengenalan peta, oleh seorang guru Belanda bernama Schmeid. Di masa itu Zen dan kawan-kawannya diajarkan mengenai peta Mentok, peta Indonesia, dan peta Belanda. Kata Zen, “Nah, di sinilah pentingnya ilmu geografi. Hal yang kuceritakan tadi diajarkan pada murid SD-Darurat di Mentok. Kesadaran kedua adalah Indonesia itu besar, tetapi dijajah negara kecil yang pintar. Jadi eksistensi kita dipengaruhi sekali oleh kecerdasan kita sendiri.”

Dengan bacaan dan pendidikan demikian, maka cita-cita Zen mulai terbentuk. Ia ingin menjadi penjelajah alam seperti Sven Hedin (1865-1952). Beruntung ia pindah ke Pangkalpinang sejak akhir 1947, untuk meneruskan sekolah di MULO. Periode di Pangkalpinang memberi Zen cakrawala pengetahuanyang lebih banyak. Pertama, ia menemukan perpustakaan Belanda berisi buku-buku sumbangan NIWIN, yang katanya “kutemukan harta karun yang membentuk kepribadianku secara drastis”.

Kedua, ia memperoleh bimbingan yang baik dari seorang perempuan insinyur sipil berbangsa Belanda, Nyonya Ir. Van Diemen de Jel. Menurut Zen, “Ibu guru van Diemen de Jel itulah yang lebih mengarahkan aku ke ilmu-ilmu apa yang dapat membawaku menjadi seorang penjelajah alam seperti Sven Hedin. Jadi mimpi berhenti pada lamunan atau ‘angan-angan’, tetapi berpikir, berikhtiar menelusuri jalan apa yang dapat membawa aku menjadi seorang seperti Sven Hedin.”. Oleh karena itu, ia merasa harus belajar ilmu geologi atau ilmu geografi fisik, ilmu meteorologi, ilmu iklim, zoologi. Dan pilihannya tinggal dua: “menjadi seorang ahli pengetahuan alam (fisika atau matematika) atau menjadi seorang natural explorer yang sekaligus seorang pengarang, pemikir”.

Di bawah pengaruh bacaan dan bimbingan Nyonya Ir. Van Diemen de Jel, menjelang akhir 1949, Zen banyak mendapat kemajuan dalam ilmu pasti, bahasa Jerman dan Inggris, sebagai persiapan untuk melanjutkan studinya ke SMA atau AMS. Berbekal pengetahuan bahasa serta minatnya yang beragam, pada akhir 1940- an itu, Zen banyak membaca sastra Indonesia, Inggris, dan mulai membaca puisi bahasa Jerman.

Tumbuh di Bandung
Pada Agustus 1950, Zen berangkat ke Bandung, untuk mewujudkan cita-citanya sebagai penjelajah alam, melalui jalur pendidikan yang lebih tinggi. Keputusan ini sudah diambilnya jauh-jauh hari sebagaimana didiskusikan Zen dengan keluarganya. Ia berketetapan ingin masuk jurusan geologi, bila nanti masuk ke perguruan tinggi.

“Pertama pergi ke Jalan Belitung. Namun, guru-guru di sana yang masih orang Belanda itu bilang, ‘sori kami sudah penuh’. Kemudian saya pergi ke Jalan Jawa, ke Jalan Sumatra. Cari sekolah. Akhirnya saya ke St. Aloysius. Dan di situlah mereka belum punya apa-apa sekali dan memutuskan mau bikin sekolah,” katanya. Ya, ia tidak diterima di SMA Belitung karena sudah penuh, tapi diterima di SMA Katolik St. Aloysius di Jl. Heetjans (Jl. Sultan Agung). Kata Zen, “Saya itu siswa pertama yang mengetuk pintu SMA St. Aloysius. Saya tanya, di sini ada sekolah, tidak? Saya cari sekolah. Kami sedang mau buka, katanya. Jadi, saya disuruh duduk. Diajak ngomong.”

(Bulletin Volcanologique, v28 n1, 1965), “The formation of various ash flows in Indonesia” (Bulletin Volcanologique, v29 n1, 1966), dan “Tsunamigenic Sumbawa Earthquake of August 19, 1977” (dalam Mitteilungen aus dem Geologisch-Pala¨ontologischen Institut der Universita¨t Hamburg, n70, 1992).

(Bulletin Volcanologique, v28 n1, 1965), “The
formation of various ash flows in Indonesia” (Bulletin
Volcanologique, v29 n1, 1966), dan “Tsunamigenic
Sumbawa Earthquake of August 19, 1977” (dalam
Mitteilungen aus dem Geologisch-Pala¨ontologischen
Institut der Universita¨t Hamburg, n70, 1992).

Bandung di waktu itu, sangat mengesankan bagi Zen. Karena begitu menginjakkan kaki di Bandung, ia menemukan perpustakaan di Jalan Wastu Kencana,
kini sudah tak ada lagi . Dari perpustakaan yang dikepalai seorang ibu-ibu Belanda ia mulai membaca lebih sistematis mengenai natural explorers, filsafat, dan geografi fisik.

Selama di St. Aloysius, Zen dibimbing oleh beberapa bruder Katolik. Beruntung keluarga Ir. Van Diemen de Jel pindah ke Jakarta, sehingga sesekali Zen bisa bertemu dengan pembimbingnya selama di Bangka itu. Nyonya itu bahkan menenangkan hati Zen mengenai prospeknya untuk belajar geologi. Bila Zen tidak bisa belajar geologi di Indonesia, ia berjanji untuk mengusahakan Zen bisa belajar di Belanda.

Melalui Klompe ke Haroun Tazieff
Selesai SMA, Zen melanjutkan studinya ke Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Universitas Indonesia cabang Bandung (ITB). Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa di fakultas itu ada Jurusan Geologi, dan juga Tambang. Dengan keadaan tersebut, kata Zen, “Ini membuatku tenang. Aku tahu pilihan studiku di perguruan tinggi untuk menjadi Sven Hedin. Jadi tidak aral melintang lagi begitu lulus SMA aku terusmendaftarkan diri ke Jurusan Geologi yang pada masa itu masih dipimpin pendirinya, Prof. Dr. Klompe.”

Ia mengakui, yang membuatnya jatuh cinta kepada geologi adalah dua buku, yaitu Gesprach mit der Erde (“Percakapan dengan Bumi”) karangan Hans Cloos (1885-1951) dan Symphony of the Earth oleh J.H.F. Umbgrove (1899-1954). Zen mendapati bahwa ilmu geologi itu mencakup banyak cabang-cabang dan anak cabang.

Sejak awal kuliah, Zen sudah diberi kepercayaan untuk menjadi asisten Klompe. Ia pun diberi kantor di ruang “museum” di samping kantor Klompe. Selama kuliah ini ia sangat terpikat dengan gunung api. Katanya, “Yang paling kuat menempel selama kuliah di geologi adalah vulkanologi, karena dosen saya Klompe semangatnya bukan main. Kalau dia berbicara tentang gunung api itu seperti Bung Karno saja. Saya itu setiap hari duduknya persis di depan dia. Untuk itu saya datang ke ruang kuliah pagi-pagi sekali, dia tahu saya datang pagi sekali. Kelasnya penuh, campur sebagian dengan anak tambang.” Selain itu, Zen menilai, “Dari sisi keilmuan, Klompe itu tidak terlalu pintar, tapi dia itu leader. He knows where to go, what to go. Dan berbicaranya bagus, seperti Bung Karno.”

Perkenalannya dengan ahli gunung api Haroun Tazieff pun difasilitasi oleh Klompe. Menurut Tazieff dalam HU. Kompas edisi 13 Agustus 1977 dan 16 Oktober 1985, itu terjadi pada 1956. Kata Tazieff kepada wartawan Kompas, “Waktu itu Zen masih seorang muda yang baru saja menyelesaikan studinya mengenai vulkanologi di ITB.”

Menurut Zen, pada suatu pagi, ia diberitahu Klompe bahwa Haroun Tazieff akan berkunjung ke Bandung. Zen merasa terkejut, karena ahli gunung api Prancis yang dikenal dari buku-bukunya, terutama Cratere en Feu (Kawah yang Bernyala-nyala) dan Cave de St. Martin (Gua di St. Martin), ternyata akan ditemuinya tidak usah jauh-jauh. Kepada temannya, Zen bahkan pernah berkelakar, bahwa bila ia bertemu dengan Tazieff, “Kuberikan lima tahun dari hidupku jika dapat bertemu dengan orang ini dan berbicara dengannya selama lima menit saja.”

Untuk pertemuan itu, diselenggarakan ekskursi kecil ke Tangkubanparahu. Selain Zen dan Tazieff, yang ikut ekskursi itu adalah Klompe, Soetaryo Sigit,
dan Sukendar Asikin. Menurut Zen, “Sebetulnya ekskursi itu dimaksudkan Tazieff untuk memilih siapa yang akan menjadi asistennya selama ekspedisi di Indonesia. Akhirnya, lebih dari satu bulan aku bersama Tazieff, dan diteruskan ke Filipina. Sesudah itu kami bersahabat. Di setiap konferensi internasional di luar negeri kami selalu bersama. Kalau ke Indonesia dia menyempatkan ke Bandung dan bermalam di rumahku, persis di kamar Devi (putraku) yang belajar dan bekerja di Perancis. Juga sebaliknya jika aku ke Prancis.”

Sebagai catatan, Tazieff pernah menjadi pakar gunung api UNESCO di Indonesia (1964-1965), sebagaimana yang terbaca dalam laporannya Indonesia Volcanological Report (Unesco, 1966). Disambung dengan perjalanan berkali-kali ke Gunung Merapi, Krakatau, dan lain-lain antara 1977, 1978, 1983, dan seterusnya.

Untitled-44

M.T. Zen dan Curtis Cate. Foto: Dok. Pribadi.

Berkarib dengan Gie
Selepas kuliah di ITB, Zen melanjutkan studi lanjutannya ke Universitas California, Berkeley, pada 1958. Di sana ia mendalami perihal geofisika. Di masa inilah Zen makin mendalami dan menggandrungi filsafat dan sains. Ia rajin membaca buku-buku karya Bertrand Russel, seperti Mathematical Philosophy, dan karya AN Whitehead seperti Science and the Modern World: the Adventures of Ideas. Di masa-masa ini pula ia menjalin persahabatan dengan para pendiri Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) UI, terutama dengan Soe Hok Gie dan Herman Lantang. Awal perkenalannya sebagaimana penuturannya, “Mula-mulanya saya berkenalan dengan anak-anak Mapala UI. Mereka melihat saya turunnaik Merapi. Anak Mapala ngejar saya, hendak bertanyatanya
tentang Merapi dan mau ikut. Mereka sudah berada di Selo. Ya, ‘sudah’, kata saya, ‘kamu boleh ikut, asal jangan macam-macam’. Karena memang waktu itu ada kecelakaan, ada yang jatuh. Setelah itu, saya tertarik dengan Soek Hok Gie. Terus terang, saya senang sama anak itu, anak itu sangat besar hatinya, anak itu sangat berasosiasi dengan manusia. Dia tidakterlalu pintar, tapi saya tertarik. Bila ke Bandung, ke rumah saya, dia suka tidur di halaman mendirikan tenda, bahkan pernah tidur di bawah meja. Bahkan bersama Soe Hok Gie saya pernah naik Merapi dan Semeru.”

Dengan Soe Hok Gie yang memiliki nomor keanggotaan Mapala M-007-UI, Zen sering melakukan korespondensi. Hal ini dapat dilihat dari catatan hariannya, Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran (1983). Di dalam catatan bertanggal Minggu, 13 Mei 1969, disebutkan bahwa dari Bandung, Soe bersama kawan-kawannya menginap di Bandung, di rumah Zen. Kata Soe, “Saya tidur di rumah Zen. Ia agak kesal dengan Thung yang katanya cerewet. Kita ngobrol sampai jam 01.00 malam, mulai dari Korps Pioneer Prabowo sampai soal-soal pribadi …”.

Kemudian, pada catatan Sabtu, 15 November 1969, Soe juga menyabit-nyabit Zen. Katanya, “Saya ke IR untuk menemui Zen. Herman kemudian menyusul. Ngobrolngobrol tentang gunung dan ia baik serta terbuka sebagaimana biasa. Zen mau ke Flores/Timor untuk survey geology. Saya minta peta daripadanya.”

Sementara dalam catatan Herman Lantang (M-016- UI), M.T. Zen disebut-sebut sebagai guru, penasihat dan motivator almarhum Soe Hok-gie (M-007-UI) dan dirinya untuk mendirikan Mapala UI pada 1964 (“He was also a teacher, advisor and motivator of the late Soe Hok-gie (M-007-UI) and myself to establish MAPALAUI in 1964”). Selain itu, secara khusus, pada ekspedisi pertama Mapala UI tahun 1972, Herman dihadiahi atau diberi pinjaman ice ax oleh Zen. Katanya, “A,I, terdapat ‘ice ax’ milik Prof. MT Zen tahun 1950- an yang saya pakai pada Expedisi Mapala UI yang pertama ke puncak Jaya tahun 1972.”

Selama berkuliah di Amerika Serikat Zen berkesempatan untuk mengunjungi daerah-daerahpetualangan alam serta pendakian ke gununggunung di negara-negara lain. Bila ditambah dengan petualangan pendakiannya bersama dengan Haroun Tazieff, maka pada 1960-an, sudah banyak tempat dan gunung yang telah dikunjungi dan didaki oleh M.T. Zen. Ini tampak dari suratnya yang ditujukan kepada anggota Mapala UI bertitimangsa Bandung, 29 Desember 1965, antara lain:

“Dalam hidupku memang beruntung. Aku telah dapat melihat dan mendaki kebanjakan puntjak jang bertaburan di Sierra Nevada, di Rocky Mountains, di Appalachians, di Alaska dan Alpen serta Pyrenean. Kutelah melihat dan mengundjungi daerah utara Kashmir dan Nepal, di Hokkaido dan daerah sekitar Djepang Tengah. Aku telah pula mendaki hampir semua puntjak jang menghias kepulauan Hawaii dan baru2 ini kudapat mengundjungi puntjak Tonggariro, Ngauroehoe dan Ruapehu di Selandia Baru dan aku telah berdjalan sepandjang kedua pulau jang membentuk Selandia Baru.”

Aktif Menulis, Mempopulerkan Geologi
Sejak 1960-an, Zen aktif mulai aktif menulis. Tema tulisannya pun beragam, dari politik, filsafat, sastra, hingga menulis ihwal kegeologian dalam tulisan yang bersifat populer.

Tulisan yang bernuansa politik berasal dari aktivitas politik Zen dalam menentang kebijakan Orde Lama. Saat itu, sebagaimana yang tertulis dalam buku Politik dan Mahasiswa Indonesia: Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974 (1984) karya Francois Raillon, para mahasiswa Bandung yang
mengambil sikap oposisi terhadap rezim Soekarno itu pandai pula melakukan “infiltrasi”. Sebuah kelompok yang terdiri dari Jahja Wullur, dosen Universitas Padjadjaran, Suripto, M.T. Zen, Rahman Tolleng, Ryandi dan Priasmoro menyelinap dalam program Komando Ganyang Malaysia (Kogam). Dan mereka memperoleh kepercayaan untuk merekrut dan sekaligus sebagai staf pengajar pada pendidikan/ latihan sukarelawan-sukarelawan tersebut (1984: 35).

M.T. Zen tercatat sebagai anggota redaksi mingguan Mahasiswa Indonesia, yang terbit di Bandung sejak 1966-1974. Di dalam Koran pergerakan mahasiswa ini, Zen antara lain, menulis “The Unfinished Revolution” (Mahasiswa Indonesia, No 1, Juni 1966), “Angin di atas Equator” (Mahasiswa Indonesia, No 19, Oktober 1966), Tulisan-tulisan sekitar filsafat dan sastranya dimuat dalam majalah sastra Horison. Misalnya, “Asal Usul Aliran Filsafat Existensialisme” (dalam Horison no 1 Tahun II, 1967), “Renungan tentang Perlawanan Metafisik” (Horison no 8 Tahun II, 1967), dan “Profil Seorang Humanis” (Horison no 12 Tahun II, 1967).

Untuk tulisan geologi populer, Zen mulai menulisnya dalam majalah Intisari. Antara lain, ia menulis mengenai “Benarkah Letusan Merapi Memusnahkan Peradaban Mataram-Hindu?” (Intisari, No 19 Tahun III, 1965), dan “Benarkah Bumi Bundar?” (Intisari, No 21 Tahun III, 1965). Sementara dalam HU. Kompas, tulisan-tulisan dalam rumpun geologi populer ini, antara lain, “Bentjana Sebagai Sumber Kemakmuran” (Kompas, 21-22 September 1966), “Minjak dan Gas Bumi sebagai Penggerak Penghijauan” (Kompas, 13 Juli 1968), “Gedjala Lahar di Indonesia dan Peletusan Sub- Glacial di Eslandia” (Kompas, 8-9 November 1968), “Dieng: Taman jang Dititipkan bagi Para Dewa dan Bidadari” (Kompas, 16 November 1968).

Aktivitas di Kompas nampak terus berlanjut. Beberapa tulisannya di harian ini antara lain, yang berjudul “Kenapa Gunung Tangkuban Perahu Berbentuk seperti Terbalik? Aktivitas Kawah2nja Menyebabkan Puntjak tidak Runtjing” (Kompas, 15 Oktober 1970), “Bandjir Dilihat dari Sudut Geologi” (Kompas, 10 April 1971), “Djakarta dapat Dilanda Gempa Tektonik? Beberapa Bagian tidak Benar” (Kompas, 15 April 1971), “Bentuk Kepulauan Seribu Dipengaruhi Djurus Angin” (Kompas, 25 Oktober 1971), dan “Bagaimana Terjadinja Taman Adjaib Danau Singkarak?” (Kompas,9 November 1971).

Pada Scientiae: Majalah Sains dan Teknologi Populer, yang terbit pertama kali pada 1969 dan beralamat di Jl. Sumatra No. 10, Bandung, Zen bersama-sama dengan Prof. Ir. Wiranto Arismunandar MSME dan Dr. Ir. Harijono Djojodihardjo bertindak sebagai Penasehat Teknologi. Zen juga pernah menjadi penulis tetap pada rubrik “Teleskop” di majalah berita mingguan TEMPO.

Tulisan-tulisan ilmiahnya banyak dimuat di berbagai penerbitan dalam dan luar negeri. Tulisan-tulisan tersebut, antara lain, The volcanic calamity in Bali in 1963 (dalam Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap, 1964), “Recent Changes In The Anak-Krakatau Volcano”(Bulletin Volcanologique, v27 n1, 1964), “The future danger of Mt. Kelut (Eastern Java — Indonesia)” (Bulletin Volcanologique, v28 n1, 1965), “The formation of various ash flows in Indonesia” (Bulletin Volcanologique, v29 n1, 1966), dan “Tsunamigenic Sumbawa Earthquake of August 19, 1977” (dalam Mitteilungen aus dem Geologisch-Pala¨ontologischen Institut der Universita¨t Hamburg, n70, 1992).

Buku-bukunya yang telah terbit, baik sebagai penulis maupun editor, adalah sebagai berikut: Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup (1980), Sains, Teknologi Dan Hari Depan Manusia (1981), Sumber Daya dan Industri Mineral (1984), Menuju Abad 21: Iptek Pemacu Pembangunan Bangsa (1993), DIALOG Teknologi dan Industri : Pemacuan Teknologi Menuju Terbentuknya Industri Nasional Yang Kuat Dan Berdaya Saing Tinggi (1993), M.T. Zen dan Pikiran-Pikirannya (2001), dan Mengelola Risiko Bencana di Negara Maritim Indonesia (2010). Namanya pun sering dicantumkan dalam buku hasil penelitian Tazief. Ini nampak misalnya dalam buku Forecasting Volcanic Events (1983) yang dieditori Haroun Tazieff, Jean-Christophe Sabroux. Di dalam buku ini, Zen menulis “Chapter 17 Mitigating Volcanic Disasters in Indonesia”.

Di samping itu, ia pun aktif dalam upaya untuk memperkenalkan buku-buku berkualitas ke Indonesia. Ini terbukti dari aktivitasnya di Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Pada yayasan yang didirikan pada 1978 oleh Jakob Oetama, Mochtar Lubis (1920-2004), dan P.K. Ojong (1920-1980) ini, bersama dengan Jakob Oetama dan Taufik Abdullah, Zen masuk jajaran Dewan Pembina Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Kemampuan membaca dan menulisnya ditunjang dengan penguasaan beberapa bahasa asing (poliglio). Zen menguasai bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, dan Jepang.

Mengabdi di Era Pembangunan
Pada masa Orde Baru, sebagai teknokrat, Zen ikut berperan dalam wacana pembangunan yang didengung-dengungkan oleh pemerintahan kala itu. Pada awal 1970-an, misalnya, Zen bersama-sama dengan Emil Salim, Fuad Hassan, dan lain-lain, merintis pendirian Lembaga Pembangunan. Tujuanutama pendirian lembaga ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, produksi, dan pendidikan, terutama di pedesaan.

Untitled-45Menurut catatan HU Kompas edisi 11 Agustus 1971, Lembaga Pembangunan perwakilan Bandung, di mana Zen berada, telah membantu usaha Kodam VI/Siliwangi dalam upgrading objek pariwisata, pembuatan maket serta konstruksi masjid, proyek ikan di Bojongloa, dan lain-lain, pada 1970. Sedangkan untuk 1971, lembaga tersebut membantu meningkatkan produksi sepatu di Desa Bojongloa.

Sementara pada 1972, Zen mengusulkan pendirian Institut Teknologi Mineral (ITM) di Bukitinggi. Hal ini dapat dibaca dari tajuk rencana yang ditulis Mochtar Lubis pada koran Indonesia Raya edisi 1 April 1972. Di situ disebutkan bahwa, “Kami meminta perhatian pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pada laporan M.T. Zen, ahli geologi ITB, yang mengusulkan agar di Bukitinggi segera dibina sebuah ITM. Alasan Zen adalah secara geologis Sumatra Barat merupakan laboratorium geologi yang paling kaya dengan contoh-contoh. Dengan mendirikan institut demikian di Sumatra Barat, maka kita akan dapat lebih mudah mendidik ahli-ahli geologi.”

Selain itu, di kampusnya, di ITB, selain mengajar, Zen dipercaya menjadi Ketua Lembaga Riset ITB (1971- 1981). Kariernya terus melesat. Antara 1973-1983, ia diangkat sebagai Asisten Menteri Riset dan Teknologi, Ketua Teknologi Maritim Nasional (1983-1997), dan terakhir sebagai Deputi BPPT Bidang Pengkajian Kekayaan Alam (1985-1997).

Di samping itu, ia diangkat sebagai guru besar teknik geofisika ITB, jurusan yang ikut dirintis dan dibesarkannya. Pada 1989, Zen merintis terbentuknya Program Studi Teknik Geofisika di bawah naungan Departemen Teknik Geologi. Alasan pendirian jurusan itu, “Karena, saya merasa geologi saja tidak kuat, tapi kalau dengan geofisika saya lebih dapat memegang karena ada angkanya. Orang geologi itu bisa merasakan apa pesan bumi, tetapi saya kurang. Saya harus menghitung dan membutuhkan tools.”

Bersama keluarga besar. Foto: Dok. Pribadi.

Bersama keluarga besar. Foto: Dok. Pribadi.

Dalam kapasitasnya di BPPT ia aktif menawarkan konsep pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Antara lain ia mengedepankan pemanfaatan panas bumi, yang mulai dirintis pada 1974. Zen ikut dalam penelitian geofisika dan geodinamika di lantai dasar Selat Sunda, 1985, yaitu Operasi Krakatau (OK). Ia juga menawarkan konsep Benua Maritim Indonesia (BMI) yang kemudian dideklarasikan oleh Pemerintah Indonesia melalui Presiden Republik Indonesia pada Konvensi Nasional BMI, 18-19 Desember 1996 di kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Selain itu, pada masa ini, Zen terus mengembangkan pemikirannya seputar sains. Menjelang masa purnabaktinya pada 1997, sebagaimana yang disampaikannya kepada Ninok Leksono (Kompas, 1 Juni 1997), Zen masih mempelajari mengenai fraktal dan ERE (Earth Resources and Environment). Menurut Zen, “Fraktal membuat kita mampu mendekati kebenaran. Coba lihat sebuah gunung. Pendekatan Euklidean membuat orang menggambarkan gunung sebagai sebuah segitiga. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Melalui fraktal, kita dapat mempelajari dinamika non-linear untuk membimbing kita memahami ketidakteraturan – atau iregularitas – alam”.

Sementara mengenai ERE dipahaminya sebagai, “satu wawasan atau falsafah dasar dari konsep kesinambungan (sustainability) yang bersifat holistik, sistemik, dan terpadu serta berpijak pada keterbatasan daya tampung bumi. Jadi ‘mengapa ERE?’ itu karena meski imajinasi manusia tidak terbatas, namun daya tampung bumi sangat terbatas. Padahal falsafah lingkungan mengatakan ‘barangsiapa menghancurkan lingkungannya, ia akan menghancurkan dirinya sendiri’”.

Tetap Membaca
Di rumahnya yang di asri dan banyak pepohonan di kawasan Bandung Utara, Zen tetap mengasah intelektualitasnya. Ia tetap membaca dan produktif menulis. Akhir-akhir ini dia tampak sedang bergulat dengan pemikiran Teilhard de Chardin, sebagaimana yang kami sua. Menurut Zen, “Teilhard de Chardin itu orangnya ruwet sekali. Saya mau mengerti dia. Karena Tazieff-lah yang mengatakan, ‘kamu harus berusaha memahami, mengenal dia.’ Karena Tazieff tahu bahwa saya orangnya keras. Sekali kita masuk ke pemikiran Teilhard de Chardin, kita sepertinya masuk ke dalam kabut yang sangat tebal. Dan bisa dikatakan, saya hampir tiap hari membaca buku Teilhard de Chardin.”

Selain membaca dan menulis, peraih Salam Awards 2008, penghargaan Kompas: Cendikiawan Berdedikasi 2010, pemegang gelar Chevalier de la Legion d’Honeur, dan penyandang Bintang Mahaputra ini bekerja di sebuah perusahaan asuransi di Jakarta. Zen mengepalai divisi Research, Development & Innovation. Tugasnya memperkirakan dampak gempa, letusan gunung api, dan banjir terhadap infrastruktur suatu kota. Dua minggu sekali akan ada petugas dari kantornya yang menyambangi Zen di rumahnya.

Bersama dengan istri yang dicintainya, Cinta Padmawijaya, yang dinikahinya pada 9 Maret 1959, Zen tetap bergiat melatih intelektualitasnya. Demikian pula anak keduanya, Andrea Jonathan Zen, ikut menemaninya. Sementara anak pertamanya, MT. Zen Jr (Devi), bekerja di Spanyol. Anak sulungnya ini mengikut jejak Zen, ia berhasil menyelesaikan studi disertasinya di Universite de Paris VII, dengan tajuk Deformation de Avant-Arc en Response: A Une Subduction a Convergence Oblique. Example de Sumatra. Dari kedua buah hatinya, mantan guru besar di International Institute for Applied System Analysis di Wina (Austria) dan Australian National University (Canberra) ini mempunyai lima orang cucu.

Satu hal yang masih menyala dalam dadanya, cita-citanya untuk menggapai Kutub Selatan. Ia menyatakan, “Sejauh ini, sebagai penjelajah alam saya belum merasa terpenuhi. Begini ya, sejak kecil saya memimpikan ke kutub selatan. Saya pernah ke Greenland, kutub utara, tapi saya tidak pernah ke kutub selatan.” Namun, sepanjang hayat dikandung badan, ia tetap menyalakan pelita untuk selalu dapat menjelajahi alam. Tidak dengan fisik lagi, memang, tapi dengan bekal pustaka, yang bisa membawanya masuk ke relung-relung salju kutub-kutub atau gurungurun.

Penulis: Atep Kurnia Pewawancara: Atep Kurnia, Oman Abdurahman, Priatna, Heryadi Rachmat Fotografer: Deni Sugandi, Gunawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>