Kars-Sawarna-72

Kars Sawarna yang Rentan di Kubah Bayah

Kaldera dan puncak Rinjani di lihat dari Plawangan Senaru. Foto: Igan S. Sutawidjaj

Menahan Napas di Keindahan Rinjani

13/08/2015 Comments (0) Esai Foto

Luka – Liku Merangin

Danau Gunungtujuh-68
Danau Gunungtujuh-68

Danau Gunungtujuh. Foto: Oki Oktariadi

Sungai Merangin. Inilah aktor utama di kawasan Geopark Nasional Merangin, Jambi, ikon baru yang dibanggakan masyarakat Merangin dan Jambi pada umumnya. Airnya bersumber dari Danau Kerinci dan salah satu sumber air danau ini adalah Danau Gunung Tujuh di ketinggian 2000 m dpl. Air yang begitu jernih di hulu, namun, mulai kecoklatan ke arah hilir karena aktivitas manusia di beberapa tempat yang dilaluinya, kini mencirikan Sungai Merangin. Saatnya keasrian Sungai Merangin dikembalikan dan dijaga kelestariannya.

Air jernih mengalir meliuk-liuk dan berbuih diantara bebatuan tua yang terhampar di sepanjang Sungai Merangin Jambi. Inilah sungai yang menjadi sarana para wisatawan untuk menjumpai fosil-fosil daun dan batang pohon berumur Permian (kl. 200 juta tahun yang lalu), yang tercetak di bebatuan, lava dan abu vulkanik gunung api purba, yang tersebar di pinggiran sungai. Itulah keunikan alam Merangin, salah satu warisan geologi yang telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional Merangin, Jambi pada tahun 2013 dan saat ini sedang diajukan menjadi Geopark Global UNESCO.

Memang warisan geologi yang berada di antara desa Airbatu dan Teluk Wangsakti ini semula belum banyak dikenal. Namun, secara perlahan keindahan dan keunikan alam ini mulai tercium ke seluruh Nusantara bahkan mancanegara. Hal ini terbukti dari kunjungan ke Merangin yang terus meningkat dari minggu ke minggu. Di antara para pengunjung dari mancanegara, yang berasal dari Eropa, Amerika, Malaysia hingga Jepang, banyak yang berprofesi sebagai geolog, Mereka menjadikan Merangin sebagai salah satu ladang penelitian.

Sungai Merangin, selain memiliki warisan geologi yang mendunia, di tingkat nasional juga dikenal sebagai tempat arung jeram. Tingkat (level) kesulitan arung jeram yang dimilikinya 3,5 sampai 4,5. Sudah dua kali kejuaran arung jeram nasional dilaksanakan di Sungai Merangin, yaitu tahun 2008 dan 2013. Bahkan pengarung jaram duniapun, seperti dari Amerika Serikat, Ru

Danau Gunungtujuh-69

Danau Gunungtujuh. Foto: Oki Oktariadi

sia, Jerman, Jepang, China, dan banyak lagi, sudah banyak yang menjajalnya.

Namun, perkembangan ini kini mulai menghadapi tantangan bahkan sedikit kendala dengan semakin
tingginya aktivitas pertambangan emas tanpa izin di Daerah Aliran Sungai (DAS) Merangin, terutama dibagian hulunya. Hal ini berdampak buruk bagi lingkungannya. Air sungai terlihat mulai keruh dan dikhawatirkan mengandung bahan kimia yang sering digunakan untuk mengekstrak emas, yang berbahaya. Masyarakat pun kini mulai was-was untuk memanfaatkannya. Budaya mandi air sungai di Sungai Merangin pun secara perlahan mulai ditinggalkan, bergeser ke anak sungai-anak sungainya. Memang, dampak penambangan liar ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, namun bukan berarti tidak ada. Dampak itu, suatu waktu dikhawatirkan akan berpengaruh pada keberlangsungan Geopark Nasional Merangin, Jambi.

Apakah kondisi ini akan dibiarkan bigitu saja, seperti rusaknya kawasan Sungai Manau, sungai yang tidak jauh letaknya dari Sungai Merangin dan sama-sama berada di Kabupaten Mer

Danau Gunungtujuh-70

Arung Jeram Batang Merangin. Foto: Oki Oktariadi.

angin? Kini kawasan DAS Manau yang selama ini di kenal sebagai lumbung padi dan salah satu ikon kepariwisataan Kabupaten Merangin, sudah meredup dan berubah menjadi lahan Pertambangan Emas Tanpa Izin.

Masih tersimpan dalam ingatan, ketika penulis pertama kali pada 2012 berkunjung ke kawasan Sungai Manau, lahan-lahan penambangan emas tersebut adalah sawahsawah produktif yang hijau dan elok serta unik dan khas dengan liuk-liuk sungai yang melaluinya bagaikan ular raksasa. Sudut-sudut sawah itu dihiasi ratusan kincir air yang merupakan sarana pengairan untuk sawah-sawah yang berada lebih tinggi. Beberapa dari kincir angin itu berumur ratusan tahun, sehingga menjadi daya tarik pariwisata tersendiri bagi para turis ekowisata. Tapi kini, semuanya telah musnah tertimbun tanah-tanah buangan dari penambangan yang terus beroperasi tanpa terkendali meluas ke kawasan hulu sungai. Penambangan itu juga telah menjadi penyebab utama terjadinya banjir bandang di delapan desa wilayah kecamatan Pangkalan dan Sungaimanau. Sungai Manau itu

Danau Gunungtujuh-71

Kawasan Sungai Manau, lumbung Padi Kabupaten Merangin. Foto: Oki Oktariadi

pun sering meluap secara tiba-tiba jika curah hujan meningkat.

Apabila permasalahan di atas tidak mampu diselesaikan, ada kemungkinan harapan menjadikan Geopark Nasional Merangin menjadi anggota geopark dunia (Global Geoparks Network, GGN, Unesco), bagaikan “Jauh Panggang dari Api”. Hal ini bukan suatu yang mengadangada. Contoh nyata dialami oleh Candi Muaro Jambi yang pada 2013 gagal mendapatkan pengakuan Unesco sebagai warisan dunia gara-gara masih ada stock pile (tempat penimbunan batu bara) dalam kawasan komplek candi. Padahal sebelumnya situs Candi Muaro Jambi itu telah mendapat pengakuaan sebagai candi terluas di Asia Tenggara sejak 2009 dengan nomor registrasi 5695.

Danau Gunungtujuh-72

Fosil Flora Jambi. Foto: Ronald Agusta.

Namun demikian, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan batu sandungan untuk meraih sukses. Semua rintangan untuk menjadikan Merangin sebagai warga geopark dunia harus dihadapi dan dipecahkan dengan bijak. Upaya pengurangan aktivitas penambangan emas liar seyogyanya seiring dan menjadi bagian dari perwujudan tujuan dikembangkannya geopark. Dalam hal ini, masyarakat penambang itu juga secara bertahap dapat dirangkul untuk bersama-sama membangun geopark hingga memperoleh manfaat dari kehadiran geopark.

Cita-cita ini bukanlah angan-angan. Mengingat masyarakat di pusat kegiatan inti geopark Merangin selama ini sangat kreatif. Secara mandiri masyarakat Desa Airbatu, desa inti di kawasan geopark tersebut, berusaha mengembangkan berbagai sarana prasarana seperti homestay, cendera mata, jalur geotrek darat untuk melengkapi jalur geotrek air (arung jeram) berikut beberapa selter, dan perkemahan (camping ground). Tentu mereka pun akan kreatif pula dalam menyelesaikan persoalan social budaya yang dihadapi lingkungan mereka secara bijak, demi terwujudnya tujuan geopark: memuliakan bumi, mensejahterakan masyarakat.

Selain masyarakat, unsur pemerintahan pun sangat mendukung. Bupati Merangin pilihan rakyat selama ini sangat peduli dengan perkembangan geopark Merangin.

Pada saatnya, Bupati dan segenap unsur Pemerintahan di Kabupaten Merangin pun akan bergerak guna melindungi DAS Sungai Merangin. Masyarakat pun akan mendukung semua upaya untuk melindungi kekayaan alam yang tak ternilai di kawasan geopark tersebut. Apalagi kini di kawasan Merangin telah dibangun Pusat Informasi Geopark Nasional Merangin. Pusat informasi itu berada di pertemuan anak sungai Batanghari, yaitu Sungai Masumai dan Sungai Merangin, dua buah sungai yang sangat elok jika keduanya berair jernih. Pusat Informasi tersebut telah menjadi salah satu kunjungan para pelajar di Kabupaten Merangin dan sekitarnya, walaupun sampai saat ini belum diresmikan. (Oki Oktariadi)

Penulis adalah Penyelidik Bumi Utama, Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi, KESDM

Danau Gunungtujuh-73

Kincir Angin Sungai Manau. Foto: Oki Oktariadi.

Danau Gunungtujuh-74

Kawasan Sungai Manau, lumbung Padi Kabupaten Merangin. Foto: Oki Oktariadi.

Danau Gunungtujuh-75

Penambangan Ilegal di Sungai Manau. Foto: Oki Oktariadi.

Danau Gunungtujuh-76

Arung Jeram. Foto: Ronald Agusta.

Danau Gunungtujuh-77

Geotrek Darat Geopark Merangin. Foto: Oki Oktariadi.

Danau Gunungtujuh-79

Leluhur Sapi dari Tinggang. Salah satu koleksi Museum Geologi, Bandung, ini adalah kepala banteng (Bos sondaicus). Dalam evolusinya, terutama sapi Bali, diduga berasal dari hasil domestikasi banteng. Menurut Williamson dan Payne (1993), banteng dan sapi Bali termasuk keluarga Bovidae, bergenus Bos, termasuk kelompok Taurinae, dan bernama spesies: Bos sondaicus. Sementara fosil sapi purba ini dikumpulkan oleh kaum kolonial Belanda dari daerah Kedung Kentang, Mendut, Tinggang, Jawa Timur. Menurut Dirk A. Hooijer & Bjorn Kurtén (1984), kemungkinan besar fosil banteng ini berumur Pleistosen Tengah hingga Akhir, dan ditemukan dalam Formasi Kabuh. Foto: Gunawan Teks: Atep Kurnia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>