Mineral Phillipsit diperbesar 250 X, difoto menggunakan alat
SEM (Scanning Electron Microscope) yang dapat memperbesar
kenampakkan 1000X hingga 2000X.
Foto: Koleksi Prof. Mimin

Penemuan Mineral Phillipsit

Pembagian Jenjang Neogen Pulau Jawa (Oostingh,1938)

Ladang Fosil Moluska Cijurey-Tonjong

13/10/2016 Comments (0) Langlang Bumi, Langlang Bumi, Uncategorized

Lima Hari Menjelajah Pulau Bunga

Cekungan So’a dengan latar belakang Gunung Welas.
Cekungan So’a dengan latar belakang Gunung Welas.

Cekungan So’a dengan latar belakang Gunung Welas.

Sudah lama Flores atau Pulau Bunga menjadi impian penjelajahan kami. Apalagi setelah ditemukannya fosil manusia purba di Mata Menge yang unik, niat berkunjung ke Flores semakin kuat. Persoalannya, waktu yang tersedia hanya lima hari sudah termasuk perjalanan. Sebuah jalur perjalanan yang tepat perlu disusun untuk dapat mengunjungi sebanyak mungkin destinasi geologi juga budaya di sana.

Setelah menimbang-nimbang, kami putuskan untuk melihat Mata Menge, Bena, Kelimutu,dan kota Ende. Kunjungan ke Mata Menge juga sekaligus untuk menengok kegiatan ekskavasi lanjutan di ladang fosil, tempat ditemukannya beberapa fosil bagian dari manusia purba (hominid) Flores. Dengan demikian, lokasi yang sudah terkenal seperti Labuhanbajo, Pulau Komodo, Pulau Padar juga Pantai Riung direlakan untuk tidak dikunjungi dalam kesempatan perjalanan kali ini.

Lembah dan perbukitan doi Cekungan So’a dengan Gunung api Ebulobo di batas selatan.

Lembah dan perbukitan doi Cekungan So’a dengan Gunung api Ebulobo di batas selatan.

Pesawat kami tiba di bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende, hampir pukul 17.00 WITA. Keluar dari bandara kami tak berlama-lama di Kota Ende, setelah makan siang yang sangat telat, segera saja kami berangkat ke Mata Menge melalui jalur darat sejauh 120 km dengan mobil sewaan. Tidak banyak yang dapat dilihat di sepanjang perjalanan, karena hari sudah malam. Sekitar pukul 22.00, kami tiba di tujuan dan langsung menuju markas (base camp) tim peneliti Mata Menge di pusat Desa Mengeruda, Kecamatan So’a. Kami disambut ketua tim peneliti, Gerrit D. van de Berg dari University of Wollongong, Australia, dengan asistennya dan beberapa peneliti dari Pusat Survei Geologi dan Museum Geologi.

Mata Air Panas Mengeruda.

Mata Air Panas Mengeruda.

Penggalian Fosil di Mata Menge
Penelitian di Cekungan So’a kali ini adalah tahap ketiga sejak pertama kali pada 1993. Karena ditemukan artefak pada 1993 dan 2004, penelitian ini selanjutnya difokuskan pada pencarian manusia purba. Benar, pada 2014 tim peneliti menemukan beberapa bagian fosil hominid yang telah dipublikasikan antara lain oleh majalah ilmiah dunia, Nature, edisi Juni 2016. Penelitian 2015 dan 2016 pun menemukan fosil manusia purba yang kini masih diteliti.

Oleh karena itu, malam itu juga, di markas segera terjadi diskusi tentang hasil penelitian di Mata Menge. Gerrit dengan sabar menjelaskannya mulai dari latar belakang hingga ke posisi terakhir temuan dari lokasi penggalian dan maknanya bagi ilmu pengetahuan. Anggota tim penelitian lainnya menambahkan informasi dari kekhususan bidang kajiannya di sana, seperti analisa flora, fauna dan lingkungan, metode penentuan umur, serta analisa artefak. Diskusi ini membuat tak sabar, ingin segera berkunjung ke tempat penggalian.

Gedung yang diperuntukkan untuk galeri/museum fosil dan benda purbakala dari Mata Menge dan sekitarnya

Gedung yang diperuntukkan untuk galeri/museum fosil dan benda
purbakala dari Mata Menge dan sekitarnya

Hari kedua di Flores, pagi-pagi sekali kami berangkat ke lokasi penggalian, sejauh tiga kilometer dengan berjalan kaki. Mata Menge, yang secara geografis terletak di Cekungan So’a dan secara administratif menempati wilayah dua desa, yaitu Desa Figa dan Desa Mengeruda, Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada. Bisa saja kami naik motor langsung, tapi di perjalanan ada rencana singgah di lokasi mata air panas dan bangunan yang telah dibuat Pemda setempat untuk semacam galeri temuan fosil.

Sekitar setengah jam dari markas, kami tiba di lapangan seukuran lapangan sepak bola. Di tepi utara lapangan ini ada bangunan gedung satu lantai berukuran 8 x 15 m2. Inilah gedung yang diperuntukkan sebagai galeri atau museum yang akan memperagakan hasil-hasil temuan fosil dan benda purbakala dari kawasan Mata Menge dan sekitarnya. Gedung tersebut dibangun dengan biaya dari skema kerja sama. Sayang, gedung ini masih dalam tahap finishing dengan pembiyaan berasal dari APBD Ngada.

Penggalian di Mata Menge, So’a

Penggalian di Mata Menge, So’a

Sesaat kemudian, kami tiba di mata air panas, “Mata Air Panas Mengeruda” namanya. Ini mata air panas yang luas biasa besar, debitnya sekitar 30 hingga 40 m3 /detik. Namun, airnya belum dimanfaatkan secara serius, kecuali untuk kolam pemandian air panas di dekatnya yang tampak sepi. Air panas besar ini mengalir begitu saja ke sungai yang berjarak sekitar sepuluh meter di hilirnya. Di wilayah Desa Mengeruda dan sekitarnya memang banyak mata air panas berdebit kecil seperti sebelumnya terlewati di kiri jalan.

Hampir tengah hari, akhirnya kami tiba di lokasi penggalian fosil setelah jalan kaki yang cukup melelahkan. Kawasan ini merupakan lembah diselingi perbukitan kecil dengan tutupan berupa padang rumput yang gersang, mungkin karena sedang
kemarau. Di beberapa tempat yang berupa ceruk bekas aliran air tampak perdu dan pepohonan cukup rimbun. Lokasi penggalian utama berada di sebuah lembah kecil yang diduga bekas alur sungai, berukuran 20 x 10 m2 dan kedalaman 20 – 30 cm. Lokasi penggalian kedua terletak di sebelah atasnya ke utara sekitar 100 meter dari lokasi penggalian utama.

Fosil yang sekan muncul dari dalam tanah, setelah dibersihkan

Fosil yang sekan muncul dari dalam tanah, setelah dibersihkan

Waktu tiba di penggalian utama, ekskavasi sedang berlangsung dipimpin oleh Gerrit. Terlihat beberapa pekerja yang direkrut dari penduduk setempat sedang membersihkan fosil yang sudah tampak seakan muncul dari dalam tanah, dengan sapu kecil secara teliti. Fosil-fosil tersebut antara lain berupa bagian geraham gajah purba, gading, tulang pinggul (pelpis), dan tulang belikat. Beberapa pekerja lainnya menyiapkan bahan (mollen) untuk melindungi fosil yang akan diangkat dan dibawa ke Museum Geologi Bandung untuk penelitian lebih lanjut.

Fosil hominid yang ditemukan pada 2014 berupa gigi atas (premolar), gigi depan (insicor), pecahan rahang (mandible), dan taring atau gigi susu (canin). Berdasarkan keterangan Gerrit yang diperkuat oleh Iwan Kurniawan di Bandung, diketahui bahwa fosil manusia purba yang ditemukan itu milik dari tiga individu yang berbeda, yaitu satu dewasa, dan dua lagi bayi. Siapakah ketiga manusia purba itu? Dari manakah asal-usulnya? Dan bagaimanakah hubungannya dengan Manusia Liang Bua (sekitar 75 km ke arah Barat dari Mata Menge)? Inilah topik yang menjadi bahan diskusi bersama Gerrit dan para peneliti lainnya.

Fosil tulang gajah purba Matamenge

Fosil tulang gajah purba Matamenge

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, baik Gerrit maupun Iwan menyimpulkan bahwa manusia purba yang ditemukan di Mata Menge ini secara morfologi dan umur (sekitar 700.000 tahun yang lalu), termasuk manusia (Homo erectus), mungkin keturunan dari Homo erectus asal Jawa (Java man). Sedangkan secara fisik, menunjukkan jenis hobit (Homo fluorensis). Ada dugaan kuat, manusia purba ini merupakan leluhur dari hobit (Homo fluorensis) dari Liang Bua yang berumur 50.000 hingga 100.000 tahun yang lalu.

Sore hari, sekitar pk 17.00, diantar oleh mobil tim peneliti, kami segera bergegas menuju Bajawa untuk menginap di sana. Setibanya di penginapan, sebelum istirahat, segera kami mengontak mobil sewaan yang kemarin untuk kembali kami gunakan esok hari.

Untitled-63

Rumah-rumah berarsitektur kuno di Bena.

Stone Heritage di Kampung Adat Bena
Pagi hari di hari ketiga, selepas sarapan, kami menuju Bena. Udara terasa sejuk, lebih sejuk dari Lembang di utara Bandung. Memang, karena letaknya cukup tinggi (kl. 1.100 m dpl.) dan dikelilingi pegunungan. Menjelang pukul 10.30, tibalah di perkampungan adat Bena yang terkenal karena budaya megalitik, rumah-rumah berarsitektur kuno, dan masyarakatadatnya. Lokasinya persis dilewati jalan raya Bajawa – Labuhan Bajo, sekitar 18 km ke arah selatan dari Bajawa dan secara administratif termasuk Desa Tiwuriwu, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada. Mobil diparkirkan di depan gerbang perkampungan, di sebelah utara yang tak dapat dilalui kendaraan. Di sebelah kanan, tampak Inerie dekat sekali, seolah menaungi kampung ini.

Untitled-64

Ngadhu dan Bhaga.

Kampung Bena menempati lahan sekitar setengah hektar, berarah utara – selatan, berupa lahan berundak dengan bagian rendah di sebelah utara dan titik tertinggi berada di selatan di puncak sebuah bukit berbatuan andesit. Bukit itu tingginya sekitar 75 meter dari titik terendah di perkampungan ini. Dinding selatan bukit sangat terjal menghadap ke sebuah lembah yang cukup dalam. Benar, kampung adat ini menyerupai sebuah perahu besar dengan panjang sekitar 200 meter dan jarak terlebarnya sekitar 75 meter. Bentuk perahu dipilih, konon, karena fungsi perahu dalam kepercayaan adat merupakan wahana arwah menuju ke tempat tinggalnya. Kepercayaan seperti ini ciri khas masyarakat megalitikum.

Untitled-65

Kampung Bena di kaki Inerie

Rumahnya dibuat dari bahan kayu, bambu dan ilalang di bagian atap. Bentuknya seperti joglo. Menurut adat, ada tiga jenis rumah, yaitu Sao Saka Puu (dapat disebut sebagai rumah perempuan), Sao Saka Lobo (rumah laki-laki), dan sao Wua Ghao. Sementara itu, di halaman rumah yang berbentuk segi empat (Kisanata) ada beberapa jenis bangunan rumah mini yang dua di antaranya menonjol dan disebut Ngadhu dan Bhaga. Karena merupakan masyarakat matrilineal, rumah-rumah yang berukuran paling besar adalah Sao Saka Puu yang ditandai ornamen miniatur Bhaga di atas atapnya. Sedangkan rumah laki-laki identik dengan Ngadhu yang berfungsi pula sebagai tempat menambatkan hewan kurban pada upcara adat.

Saat ini Kampung Bena terdiri atas 40 buah rumah adat dari sembilan suku yang merupakan bagian dari suku Bajawa. Rumah-rumah itu ditempatkan di kiri-kanan mengelilingi perkampungan yang berundak-undak, masing-masing menghadap ke Kisanata di bagian tengah. Urutan penempatan rumah berdasarkan asal-usul dan garis keturunan suku mereka yang dibedakan oleh undak-undak lahan,myakni setiap satu undak menunjukkan satu suku. Rumah suku Bena berada di tengah-tengah karena dianggap paling tua dan pendiri kampung adat itu, sehingga kampungnya bernama “Bena”. Penduduk umumnya berladang, ditambah bertenun bagi kalangan perempuan.

Untitled-66

Lanskap kampung adat Bena arah utara-selatan yang menyerupai bentuk perahu.

Salah satu yang menarik di Bena yang merupakan tinggalan dari masa megalitik adalah tegakan yang disusun dari batuan beku, umumnya andesit. Hampir setiap rumah di sana memiliki struktur tegakan batuan ini. Demikian pula tempat upacara adat, tersusun dari kombinasi batuan tersebut, kayu, bambu dan ijuk. Warisan batuan (stone heritage) ini khas untuk setiap perkampungan adat di Flores dan perlu terus dikonservasi. Dari manakah asal mula batuan di Bena ini? Kemungkina besar dari bukit yang dijadikan pemukiman yang memang tersusun oleh batuan andesit.

Budaya megalitik sangat berkaitan dengan ketersediaan batuan di sekitarnya, seperti di Pulau Nias. Selain batu, kehadiran gunung api aktif mempengaruhi pula adat istiadatnya. Hal ini sebagaimana pemilihan lokasi kampung Bena dan upacara adatnya yang menjadikan Gunung Inerie sebagai poros kehidupan mereka. Masyarakat Bena meyakini keberadaan Yeta, yaitu dewa yang bersinggasana di gunung ini dan melindungi kampung mereka. Demikian pula kayu, bambu, ijuk, dan ilalang untuk bahan bangunan rumah adat diambil dari hutan di sekitar gunung api yang indah itu. Kesemuanya, menandakan hubungan yang sangat erat dan harmonis antara alam dengan budaya Bena yang bertahan hingga sekarang.

Untitled-67

Penduduk lokal dengan pakaian khas batik setempat di tepi Kawah Kelimutu.

Berburu Sunrise di Kelimutu
Walau sangat menyenangkan di Bena, siang hari itu kami harus segera meninggalkannya untuk menuju Moni di sebelah timur Ende. Tiada lain karena jarak perjalanan yang cukup jauh yang harus kami tempuh, yaitu 123 km Bena – Ende, dan 66 km Ende – Moni. Kami tidak ingin kemalaman di jalan. Melalui jalur selatan, sekitar pukul 17.00, kami tiba di Moni, yakni desa di kaki Gunung Kelimutu. Para wisatawan yang hendak mendaki Kelimutu hampir selalu menginap di sini dan dini hari keesokannya, mereka mendaki dengan diantar mobil sampai tempat parkir di kawasan Kawah Kelimutu. Jaraknya sekitar 13 km.

Sekitar pukul 03.30, sudah bangun. Di luar sudah cukup ramai, yang sedang siap-siap mendaki. Beberapa di antaranya sudah begerak. Tak berapa lama, kami beranjak menembus dingin menuju kawah Kelimutu. Waktu subuh, kami tiba di pintu penjagaan dan membayar tiket masuk. Terbaca di tiket itu nama kawasan dalam bahasa Inggris: “Kelimutu National Park, Ende-Flores, East Nusa Tenggar”. Sejurus kemudian kami memasuki lapangan parkir kawasan Kelimutu yang cukup luas. Dari sinilah wisatawan harus berjalan kaki sekitar satu kilometer. Kondisi jalan mula-mula tanjakan ringan. Namun, tak lama kemudian harus menempuh jalan cukup terjal dan sempit sekitar 50 meter. Akhirnya, setelah berjalan sekitar setengah jam, ketika fajar hampir habis, tetapi matahari masih belum muncul, kami tiba di lokasi pandang berupa tugu berundak, “Tugu Soekarno”, di puncak Kelimutu. Penamaannya sangat layak, mengingat Bung Karno yang sempat diasingkan ke Ende.

Untitled-68

Pemandangan mentari terbit dari tugu Sukarno di puncak Kelimutu

Kelimutu, secara etimologi berarti gunung (keli) yang mendidih (mutu). Toponimi ini menyiratkan asal-usul terbentuknya gunung api aktif dan ketiga kawahnya tersebut, atau aktivitas ketiga kawah itu yang sering berubah-ubah warna. Ya, Gunung Kelimutu memiliki tiga kawah berair yang warnanya berbedabeda. Masyarakat menyebutnya “Danau Tiga Warna” karena berwarna putih, hijau, dan merah. Memang ini keunikan kawah yang terletak pada kl. 1.639 m dpl. dengan luas sekitar 1.000.000 m2 dan volume air sekitar 1.300 m3.

Pemburu matahari terbit (sunrise) di puncak Kelimutu pagi itu cukup padat, sehingga harus sabar menanti giliran. Sekitar satu jam lamanya di tengah sapaan angin puncak Kelimutu, terpaku di tugu itu, takjub dengan keindahan sekitar. Memandang ke arah timur agak menganan, tampak dua buah kawah berair berdampingan yang hanya dibatasi oleh selapis tipis dinding terjal, mungkin tidak sampai satu meter lebarnya. Kedalaman air kawah dari muka tanah setempat sekitar 50 meter. Kawah paling dekat ke tugu airnya berwarna hijau toska dan disebut Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (tiwu artinya kawah). Di sebelah kanannya, Tiwu Ata Polo yang berwarna merah gelap. Kawah satu lagi, Tiwu Ata Mbupu, agak terpisah dari kedua kawah ini, ada di barat tugu. Pagi itu air di Tiwu Ata Mbupu, nun jauh di bawah sekitar 150 meter dari tempat kami berdiri, sedang berwarna putih.

Untitled-69

Bunga Tururawa (Rhondodenron renschianum), flora khas kawasan Kelimutu.

Masyarakat setempat percaya, saat air Danau Kelimutu berubah warna, mereka harus memberikan sesajen bagi arwah orang-orang yang telah meninggal. Menurut mereka, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa mudamudi yang telah meninggal. Sedangkan Tiwu Ata Polo merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Yang ketiga, Tiwu Ata Mbupu menjadi tempat jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Demikian, dalam tradisi, gunung selalu dikaitkan dengan tempat kembalinya arwah yang secara halus juga menyiratkan bahwa gunung merupakan sumber kehidupan.

Mengapa air tiga kawah itu berubah-ubah warna? Inilah pertanyaan yang hampir pasti menghinggapi setiap pengunjung Kelimutu. Jawaban yang cukup memuaskan diperoleh dari papan penjelasan yang berada di depan Tugu Soekarno yang bersumber dari Direktorat Vulkanologi, Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, Tahun 1990. Singkatnya, perubahan warna air kawah erat kaitannya dengan aktivitas vulkanik dari Gunung Kelimutu, tetapi pola perubahannya belum diketahui dengan jelas, bergantung kepada kegiatan magmatiknya. Faktorfaktor penyebabnya adalah kandungan kimia berupa garam besi dan sulfat, mineral lainnya serta tekanan gas vulkanik dan sinar matahari.

Untitled-70

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai berwarna biru berdampingan dengan Tiwu Ata Polo yang merah

Keasyikan menikmati keindahan Kelimutu harus segera diakhiri karena siang hari ini kami harus sudah di Ende, kami pun harus segera kembali ke Moni. Di perjalanan menuju tempat parkir, burung garugiwa (Pachycephala mudigula) terdengar berkicauan, memanjakan telinga. Inilah ikon fauna kawasan yang telah ditetapkan menjadi “Kawasan Konservasi Alam Nasional” sejak 26 Februari 1992 itu. Burung arwah, demikian masyarakat setempat menyebutnya, ini unik karena konon memiliki 22 jenis kicauan dan berkicau hanya di pagi hari. Kami pun menemukan flora khas Kelimutu, yaitu Tururawa (Rhondodenron renschianum). Bunganya cantik, berwarna jingga kemerahan. Sebelum ke tempat parkir, kami tergoda untuk melihat tepian sebelah selatan Tiwu Ata Polo dari dekat.

Rumah Pengasingan dan Taman Renungan Bung Karno
Hari keempat, kami tiba di Ende sekitar tengah hari. Kami bergegas menuju rumah pengasingan Bung Karno di Jl. Perwira yang kini sudah menjadi museum. Siang itu, rumah bersejarah ini sepi pengunjung, sehingga bisa leluasa meresapi berbagai tinggalan Bung Karno selama diasingkan ke kota terbesar di Flores itu.

Untitled-71

Rumah pengasingan Bung Karno di Ende yang kini dijadikan museum.

Koleksi museum kecil ini, yakni benda-benda yang berkaitan dengan Bung Karno saat diasingkan ke Ende, 1934-1938, cukup terawat. Tampak lukisan Bung Karno tahun 1935 tentang upacara adat Bali. Ada surat-surat riwayat pernikahannya dengan Inggit Garnasih, dan naskah-naskah drama yang ditulis selama di Ende. Di bagian belakang, ada perigi (sumur) dan kamar mandi yang digunakan Bung Karno. Di sekitar dapur ini juga ada perpustakaan kecil. Sebelum keluar museum, kami membeli dua buku ukuran saku. Salah satunya berjudul Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara (Tim Nusa Indah,
2015).

Dari bacaan itu, “Taman Pancasila” atau “Taman Renungan Bung Karno” adalah sebuah taman di Kota Ende yang dikembangkan dari tempat Bung Karno merenung, di bawah sebuah pohon sukun. Buku itu juga mencatat, ”Di bumi Flores, tepatnya di Endelah Bung Karno menemukan penjelmaan konkret dari idenya tentang ‘dasar dan tujuan’ yang dapat berfungsi sebagai pemersatu bangsa Indonesia yang sedemikian majemuk”.

Untitled-72

Personifikasi Bung Karno yang sedang merenung semasa pembuangannya di Ende, ditempatkan di sebelah pohon sukun di Taman Renungan, Ende.

Kami bergegas memasuki taman itu, ingin segera melihat pohon sukun yang bersejarah. Dari arah pintu masuk di tepi jalan raya, terlihat papan nama bertuliskan “Taman Renungan Bung Karno”. Segera kami mencari-cari pohon sukun itu. Sejurus kemudian tampak kolam kecil yang ditinggikan dan di ujungnya ada patung orang berpakaian pantalon dan peci khas Indonesia sedang merenung. Tentu saja, patung itu adalah personifikasi Bung Karno yang sedang merenung.

Tak jauh dari patung tadi, pohon sukun itu tegak di tanah berpagar tembok setengah badan ukuran 3 x 3 m2. Pohon itu pendek saja, sekitar 10 meter. Entah pohon sukun generasi ke berapa. Di dinding tembok yang menghadap ke kolam ada tulisan, “Di Kota Ini Kutemukan Lima Butir Mutiara, Di Bawah Pohon Sukun Ini Pula Kurenungkan Nilai-nilai Luhur Pancasila”. Kiranya di sekitar inilah Bung Karno berkontempelasi memikirkan nasib bangsa Indonesia yang bermuara pada terumuskannya gagasan Pancasila. Maka, merentanglah sejarah Pancasila sejak mulai ia pikirkan di Bandung pada akhir dasawarsa 1920-an, dimatangkan di Flores pada 1934-1938, hingga dipidatokan di Jakarta pada 1 Juni 1945.

Untitled-73

Pohon Sukun yang bersejarah

Lebih dari itu, buku kecil itu menyebutkan, Bung Karno selama pengasingannya di Ende juga sering berekreasi melihat alam sekitar (ekowisata/geowisata). Dalam kegiatan ini ia biasanya mengunjungi pantai dan sungai-sungai di kota Ende, bahkan ke luar kota. Bung Karno pun ternyata pernah mendaki Kelimutu, bahkan dijadikannya nama grup tonil selama di Ende, Toneel Club Kelimutu. Bahkan nama Kelimutu (dalam versi lain ditulis “Gelimutu”), yang dijadikannya juga sebagai judul salah satu naskah tonil di masa-masa awal grup itu, menunjukkan betapa menginspirasinya alam bagi Bung Karno.

Pagi hari di hari kelima, di saat siap-siap kembali ke Bandung, perjuangan Bung Karno selama di Ende terbayang terus. Ia berhasil mengubah tekanan pengasingan menjadi energi positif dengan mengombinasikan antara perenungan dengan aksi nyata. Tak kehilangan akal dalam menyalurkan semangat perjuangan melawan penjajah, sarana budaya pun menjadi media. Melalui grup drama bentukannya yang secara teratur dipentaskan ke tengah masyarakat Ende itu, ia diam-diam terus menyebarkan semangat melawan penjajah. Agaknya, perpaduan antara suasana alam dan perenungan akan cita-cita luhur memang menjadi media yang efektif untuk menghasilkan gagasan besar dan strategi berjuang. Hal ini setidaknya dibuktikan Bung Karno selama pengasingannya di Ende. (Oman Abdurahman. Foto: Ronald Agusta)

Penulis adalah Kepala Museum Geologi juga Pemimpin Redaksi Geomagz, Badan Geologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>